Bagi yang jomblo atau manusia single harap tidak berharap banyak. Berharap menemukan tulisan pelipur lara pengocok perut sambil menanti sedekah kasih sayang dari gebetan. Tulisan kali ini tidak sedang ingin membicarakan ketidakberpihakan nasib baik perihal jodoh.

Pure hanya ingin menuliskan kegelisahan seputar sedekah. Kontroversi yang berseliweran di jagat pemikiran tentang sedekah. Kemudian semoga ada kompilasi kesimpulan yang menyejukkan seputar sedekah di akhir tulisan ini.

Berawal dari keprihatinan atas anatomi kritikan terhadap niat sedekah untuk mendapatkan balasan berlipat tulisan ini dibuat.

Kritikan itu berisi sedekah ya seharusnya ikhlas ingin membatu. Murni karena Tuhan. Memang harapan kedepannya memang seperti itu, sedekah itu yang ikhlash

Namun, ketika melihat kenyataan di lapangan, kritikan itu tidak bisa serta merta diaplikasikan. Perlu ditinjau juga dari sudut pandang lain. Intinya jangan kaku dalam menyikapi fenomena yang terjadi di lapangan.

Pas lagi tune in merenung saya ketemu beberapa sudut pandang dalam bersedekah. Berikut ini penjabarannya…

1. Sedekah Dengan Ikhlas

Sudut pandang ini yaa mengajarkan untuk bersedekah dengan ikhlas. Ikhlas tanpa mengharapkan balasan. Bahkan tanpa mengharapkan balasan pahala.

Sebagian orang menganggap niat ini sebagai maqom tertinggi dalam bersedekah. Yaa ada benernya juga sih. Sedekah memang selaiknya pure tanpa ada udang di balik batu terhadap Tuhan.

2. Sedekah Demi Kepantasan

Jadi ada yang berpendapat jika bersedekah sebesar x, maka akan dipantaskan Tuhan untuk bersedekah yang lebih besar lagi senilai 2x bahakan lebih. Dengan kata lain untuk memperbesar kapasitas sedekah selanjutnya.

Analoginya, dengan amanah rezeki sebesar 10x seseorang mampu dan mau bersedekah senilai x. Maka jika diperbesar oleh Tuhan amanah rezekinya sebesar 20x maka dimungkinkan orang tersebut untuk bersedekah 2x, bahkan lebih.

3. Sedekah Demi Keajaiban

Istilah keajaiban sedekah ini dipopulerkan oleh Ustadz Yusuf Mansur. Dalam beberapa kesempatan, beliau sering kali menyampaikan kisah mengenai keajaiban sedekah.

Saya sendiri termasuk menggemari mendengarkan kisah-kisah menakjubkan yang beliau sampaikan pada banyak kesempatan. Kisah-kisah untuk mengajak bersedekah.

Perihal ini, jika keajaiban sedekah sudah pernah dirasakan, maka diharapkan keyakinan akan janji-janji Tuhan semakin menguat. Keyakinan balasan kebaikan dan keburukan semakin menghunjam di dalam hati. Jangan lantas terhenti pada keajaiban-keajaiban.

Jika keajaiban tiada lagi di dapat maka terhentilah sedekah.

4. Sedekah Demi Terlepas Dari Kesempitan

Poin nomer 4 ini sebenarnya turunan dari poin nomer 3. Dalam beberapa kisah saya sering mendengar orang yang berada dalam kesempitan malah dianjurkan untuk sedekah.

Kesempitan itu bisa berupa hutang tak kunjung terbayar, penyakit menahun, usaha sepi, jodoh tak hadir menghampiri dan sebagainya. Lantas apakah bisa disalahkan jika bersedekah demi mengharapkan keterlepasan dari kesempitan..? Lantas menganjurkan untuk hanya ikhlas karena Tuhan.

Saya kira tak bijak jika ujug-ujug menyalah-nyalahkan terhadap sudut pandang ini. Apakah yang menyalah-nyalahkan itu mau membantu meringankan beban yang sedang dalam kesempitan atau mungkin memiliki solusi yang lebih tokcer untuk meringankan..?

Lebih baik bersedekah kan daripada datang ke dukun melakukan hal-hal yang tak terpuji atau bahkan melakukan tindakan kriminal.

5. Sedekah kasih sayang

Naah ini yang sesuai judul. Berbagi dalam berbagai bentuknya baik itu zakat, qurban, infak, sedekah, wakaf dan hadiah pada hakikatnya adalah meneruskan sambungan kasih sayang.

Maksudnya begini, Tuhan kan Maha Kasih. Kasih sayang-Nya tak terhingga kepada semua makhluk. Nah rezeki yang kita terima itu kan sebenarnya adalah sebentuk limpahan kasih sayang Tuhan.

Jika dirasa berlebih, sepantasnyalah menyalurkan juga sebentuk kasih sayang itu kepada manusia atau makhluk lain yang membutuhkan.

Biasanya, ketika melakukan kegiatan berbagi sering kali timbul rasa welas asih. Ketika rasa welas asih itu ‘mak bleng’ terasa dihati, ada rasa ‘nyeess’ menyelusup dalam sanubari.

Rasanya di hati kadang adeem atau angeet bisa juga ringan. Yaah macam-macamlah sensasinya, berbeda antar orang. Mungkin inilah yang disebut dengan kebahagiaan.


Okaay, dari 5 poin yang bisa saya himpunkan harapannya sederhana. Sesederhana menghirup dan menghembuskan nafas.

Harapan sederhana itu adalah belajar untuk memaklumi pendapat-pendapat orang dalam berniat untuk sedekah.

Lapisan-lapisan pemahaman seseorang dalam memahami sesuatu tentu berbeda. Selama dalam ranah kebaikan tak perlulah dicela.

Bisa jadi orang yang bersedekah karena berharap balasan di dunia adalah orang yang baru ‘kembali’. Bila ujug-ujug disalah-salahkan kan bisa saja orang tersebut mogok bersedekah.

Akhir kata buah tulisan-tulisan dalam blog ini semoga bisa dipetik hikmahnya. Ada buah yang pahit, manis, hambar, masam, sepah dan rasa-rasa yang lainnya. Semoga dihimpunkan dalam sedekah nasihat dalam kebaikan.

Semoga yang jomblo segera mendapatkan kasih sayang dalam naungan rumah tangga.

salam…

source gambar dari sini yaa… givingtuesday.ca


anyway, karena tulisan ini bertemakan sedekah maka ada hadiah menarik untuk komentar paling menarik berupa buku yang berjudul “Dahsyatnya Sedekah” dan “Dahsyatnya Sedekah 2“. Jadi ada 2 buku yang dijadikan hadiah untuk dua orang. Tiap pemenang mendapatkan satu buku. Kedua buku tersebut berisi kisah-kisah tentang sedekah yang dihimpun oleh tim PPPA. Harap menggunakan e-mail yang sering digunakan untuk keperluan korespondensi. Jika berkenan dan dirasa baik isinya boleh kiranya tulisan ini disebarkan. Terima Kasih

Leave a Comment