Bahjat Al-Nufus

Selain Al-Hikam, ada satu kitab lagi karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari yang kerap saya baca. Kadang saya baca menjelang tidur ataupun di waktu-waktu senggang.

Saya sampai membeli kitab ini dua kali. Karena kitab yang pertama saya beli diminta oleh Ibu sahabat saya ketika saya berkunjung ke rumahnya di Bangil, Jawa Timur. Ternyata Ibu dari sahabat saya ini juga menggemari karya-karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari.

Kitab karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari itu berjudul Bahjat Al-Nufus. Secara bebas jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, maka akan berarti Nasehat Penerang Jiwa. Ada beberapa bab di dalam kitab ini, namun hingga saat ini saya baru menyelesaikan 3 bab untuk dituangkan ke dalam media blog ini.

Isi kitab ini benar-benar menyentuh hati dengan gaya bahasa yang indah yang merupakan ciri khas Ibnu ‘Athaillah. Seperti halnya dalam kitab Al-Hikam, kitab ini ditujukan untuk membersihkan hati atau tazkiyatun nufus memerangi potensi sifat-sifat tercela di dalam diri.

Mengingat kitab ini sudah agak susah ditemui di pasaran, maka saya berinisiatif menuliskannya di blog ini. Motivasi lainnya adalah saya tak ingin menikmati seorang diri tentang keindahan-keindahan bahasa yang disampaikan oleh Ibnu ‘Athaillah ini. Melalui media sederhana ini saya ingin berbagi keindahan tutur nasehat Ibnu ‘Athaillah. Tutur nasehat indah yang sudah berusia ratusan tahun, namun tetap relevan hingga saat ini.

Berikut daftar tautan bab-bab dalam kitab Bahjat Al-Nufus yang sudah saya tuliskan ulang di blog ini:

  1. Cinta Rasul
  2. Tobat
  3. Mendekati Allah

Nasehat lain di bab-bab selanjutnya yang terangkum di dalam kitab ini, akan saya tambahkan di waktu mendatang.

Salam..
DiPtra

Ketika Hujan Menyapa Manusia

Notifikasi handphone saya berdenting, ada pesan masuk dari salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti. Rupanya sebuah pesan broadcast dari salah satu anggota grup.

Pesan broadcast biasanya lumayan panjang. Seringnya sih kalo ada broadcast, langsung saya skip broadcast tersebut.

Namun caritanya agak lain kali ini, ndilalah saya membaca broadcast itu sampai habis. Sebuah broadcast yang menghikmahi tentang hujan. Yaa saya lumayan trenyuh membacanya.

Sering kali ketika hujan turun, suasana hati mejadi melankolis. Tak jarang juga menjadi sebal karena hujan yang turun karena menghambat aktivitas yang ingin dilakukan.

Jemuran pakaian yang tak kunjung kering, begitu juga dengan kerupuk yang tak mengembang sempurna ketika digoreng karena kurang mendapat sinar matahari di musim penghujan.

Saat ini hampir setiap hari hujan mengguyur Jakarta, tempat saya tinggal sementara ini. Lebih sering saya muram ketika hujan turun tepat saat jam pulang kantor. Hmm bakal ndekem di kantor lebih lama, karena payung kerap ketinggalan di kosan. Antara kosan dengan kantor yang berjarak lebih kurang 1 km, saya tempuh dengan berjalan kaki. Tinggal ngesot saja dari kosan udah bisa sampai kantor.

Seperti kebanyakan bahasa pesan teks yang disingkat-singkat penulisannya, maka pada tulisan kali ini saya sudah mengedit penulisan broadcast tersebut. Broadcast tentang hujan yang dihikmahi secara mendalam oleh seorang loper koran.

Baiklah, agar tak berpanjang lebar, berikut pesan broadcast yang saya maksud. Selamat membaca..


SANG TELADAN ITU SEORANG PENJUAL KORAN

Pagi itu seorang penjual koran berteduh di tepi sebuah warung. Sejak subuh hujan turun lebat sekali. Seakan menghalanginya melakukan aktivitas untuk berjualan koran seperti biasa.

Terbayang di pikiranku, tidak ada satu rupiah pun uang yang akan diperoleh seandainya hujan tidak berhenti. Namun, kegalauan yang kurasakan ternyata tidak nampak sedikit pun di wajah penjual koran itu.

Hujan masih terus turun. Si penjual koran masih tetap duduk di tepi warung itu sambil tangannya memegang sesuatu. Tampaknya seperti sebuah buku. Kuperhatikan dari jauh, lembar demi lembar dia baca.

Awalnya aku tidak tahu apa yang sedang dibacanya. Namun perlahan-lahan aku dekati. Ternyata kitab suci Al-Quran yg dibacanya. Kemudian aku menyapanya.

“Assalamu’alaikum” sapaku kepadanya. “Wa’alaikumussalam” dia menjawab salamku dengan perlahan. “Bagaimana jualan korannya mas ?” tanyaku lebih lanjut kepadanya. “Alhamdulillah, sudah terjual satu.” sahutnya sambil menutup mushaf yang dari tadi dia baca.

“Susah juga ya, kalau hujan begini” sambungku sambil menatap rinai hujan dari langit. Dengan tersenyum simpul tukang koran itu menjawab, “Inshaa Allah sdh diatur rezekinya, mas..”

“Terus, kalau hujannya sampai siang bagaimana?” sergahku lebih lanjut. “Itu berarti rezeki saya bukan jualan koran, tapi banyak berdo’a.” jawabnya penuh semangat. “Kenapa mas berpikiran seperti itu?” tanyaku lagi. Sambil menarik nafas perlahan dia menjawab, “Bukankah Rasulullah SAW pernah besabda, ketika hujan adalah saat yang mustajab untuk berdoa. Maka, kesempatan berdo’a itu adalah rezeki juga.”

“Lantas, kalau tidak dapat uang, bagaimana mas?” rasa penasaranku kepadanya semakin menjadi-jadi. “Berarti, rezeki saya adalah bersabar mas” jawabnya dengan tenang. “Kalau begitu tidak ada yang bisa dimakan dong mas?” tanyaku. “Hmm.. berarti rezeki saya hari ini berpuasa” jawabnya dengan santai.

“Hmm kenapa mas bisa berfikir seperti itu?” tanyaku keheranan. “Allah-lah yang memberi kita rezeki, apa saja rezeki yang Allah SWT berikan saya syukuri.” Jawabnya mantap. Kemudian dia melanjutkan, “Selama berjualan koran, walaupun tidak laku, dan harus berpuasa, saya tidak pernah kelaparan” ucapnya dengan wajah penuh keikhlasan menutup pembicaraan.

Hujan pun akhirnya berhenti. Si penjual koran bersiap-siap untuk terus menjajakan korannya. Ia pergi sambil memasukkan Al-Quran ke dalam tasnya.

Aku termenung, tanpa kusadari cermin mataku menjadi gelap, karena cucuran tangisku. Aku tersadar setelah merenungi setiap kalimat nasehat yang diucapkan penjual koran tadi.

Ada penyesalan di dalam hati, mengapa kalau hujan aku menjadi resah-gelisah. Khawatir tidak mendapat uang. Risau rumah akan terendam banjir. Bimbang tidak bisa datang ke kantor. Keluh kesah tidak bisa bertemu dengan rekan bisnis.

Baru aku sadari, rezeki bukan saja uang. Tetapi bisa dlm bentuk hidayah, kesabaran, berpuasa, berdoa, beribadah, rasa syukur dan perasaan aman.

Semuanya merupakan amal sholeh yang perlu kita syukuri. Hal yang juga merupakan rezeki dari Allah SWT.


Sekian, semoga dengan datangnya hujan di hari-hari mendatang bisa dihikmahi dengan lebih arif lagi.

Salam..
dia yang sedang ketar-ketir karena hujan

Ayo Makan Buah

Sudah 3 pekan rupanya saya tidak sempat mengisi blog ini. Lebih tepatnya bukan karena tidak sempat atau tidak ada waktu, tapi lebih karena urutan prioritas menulis di blog ini tiba-tiba terjun bebas, tergusur dari prioritas utama.

Maka dari itu saya harus membeberkan alibi atas merosotnya prioritas ngeblog. Alasan pertama, badan saya ambruk setelah menjalani aktifitas beruntun sehingga mengurangi jatah waktu istrahat tanggal 20 hingga 21 Januari 2017 lalu. Sampai-sampai saya menurunkan tulisan Time to Rest beberapa waktu lalu, saya butuh istirahat. Lebih kurang saya sakit selama sepekan.

Badan meriang dan sakit mata melanda. Mata pedih sekali rasanya ketika harus menatap monitor laptop cukup lama. Setelah konsultasi ke dokter di klinik kantor, ternyata bukan iritasi karena kurang tidur yang saya derita, namun sakit mata kerena serangan virus atau bakteri. Alhamdulillah dengan obat tetes mata yang diresepkan dokter, dalam 3 hari kondisi mata yang memerah dan berair berangsur membaik.

Ketika sakit dengan indikasi badan meriang, indera pengecap saya terasa pahit jika memakan suatu makanan. Lauk teriyaki daging made in kantin kantor yang biasanya terasa nikmat jadi terasa pahit. Bahkan, makanan kelas restoran pun terasa pahit ketika saya menghadiri acara makan malam perpisahan bos besar di bisnis unit kerja saya.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah lidah terasa pahit ketika sakit adalah sebuah sinyal dari tubuh untuk mengurangi konsumsi makanan berat..? Makanan berat yang saya maksud adalah makanan yang sudah mengalami rantai pengolahan panjang. Makanan berbasis karbohidrat, protein dan lemak.

Saya kembali teringat akan filosofi food combining yang pernah saya pelajari dan praktikkan beberapa waktu yang lalu. Filosofi tentang sarapan buah yang menyesuaikan dengan sistem sirkadian tubuh.

Ketika pagi hari tubuh membutuhkan energi yang cukup untuk membuang sisa-sisa pencernaan makanan di hari sebelumnya. Maka buah-buahan dipilih sebagai asupan energi siap pakai di pagi hari, daripada memakan makanan berat dimana tubuh membutuhkan energi lagi untuk mengolahnya.1

Dengan kata lain, memakan buah-buahan di pagi hari meringankan kerja sistem pencernaan tubuh.2

Nah, sejalan dengan filosofi sarapan buah food combining, maka saya menganalogikan ketika sakit, tubuh membutuhkan pasokan energi yang siap pakai. Nah, konsumsi buah menjadi solusi pasokan energi siap pakai ketika sakit. Ketika sakit, cadangan energi tubuh dialokasikan untuk melawan penyakit. Maka sangat masuk akal ketika sakit, tubuh membutuhkan istirahat yang cukup untuk menghemat energi.

Tak heran, terasa segar sekali dan tak terasa pahit ketika memakan buah-buahan waktu sakit 3 pekan lalu. Bahkan saya memperbanyak konsumsi buah-buahan saat itu. Mungkin jika tak mendapati buah, maka bisa mengkonsumsi madu sebagai pengganti supply energi.

Well atas kejadian lidah pahit ketika sakit 3 pekan lalu itulah, saya membuat kesimpulan bahwa ketika sakit sebaiknya memperbanyak makan buah. Kurangi konsumsi makanan yang sudah mengalami rantai proses pengolahan yang lumayan panjang. Karena memakan makanan berat akan memberatkan tubuh yang sedang sakit.

Lalu alibi selanjutnya mengapa saya tak kunjung menulis di blog ini selama 3 pekan adalah adanya urusan pekerjaan di site Surabaya. Pressure pekerjaan di site lumayan tinggi ternyata. Ketika balik ke penginapan cadangan energi untuk ngeblog sudah habis, bahkan untuk sekedar mandi lelah bener rasanya. Biasanya langsung tepar begitu sampai di pembaringan. Lebih kurang 10 hari saya merasai kerja di site.

sarapan buah
Sarapan buah babak kedua ketika di penginapan selama di site

Selepas menyelesaikan pekerjaan di site saya mengambil cuti dan pulang ke Malang. Muas-muasin untuk main bersama Raffii yang sedang lucu-lucunya. Praktis prioritas kegiatan ngeblog tergeser jauuuuuuh.

😁 #nocaption

A post shared by DiPtra (@diptra) on

Naah itu dia penampakan bocah 2,5 tahun yang sedang tercadel-cadel belajar bicara. Sudah mulai banyak gaya dan sadar kamera.

Selanjutnya saya berencana untuk memulai lagi food combining di waktu mendatang sebagai pola makan sehari-hari.

Salam…
dia yang sedang kangen ngeblog

Time to Rest

Harus istirahat juga akhirnya. Kecapekan habis perjalanan jauh dilanjut dengan begadang semalaman di TIM dari hari Jum’at malam hingga Sabtu pagi.

Belum sempat istirahat tuntas, harus melanjutkan acara workshop videography di Aston Rasuna Said. Nah di hari Ahad capek-capeknya ngumpul semua. Badan pegel-pegel disertai sedikit pilek.

Pijat refleksi 1,5 jam lumayan mengurangi kelelahan di badan. Paling tidak otot-otot yang kaku menjadi lemas. Cermin tak bisa berbohong, mata gatel seharian ternyata iritasi.

Mata memerah macam ingin mengeluarkan sharingan keluarga Uchiha di kisah Naruto hihi.. Obat tetes mata insto lumayan mengurangi iritasi mata yang saya alami.

Rupanya saya sudah zalim kepada badan saya sendiri. Lalai memberikan hak istirahat kepada badan. Terlalu memaksakan diri menjalani kegiatan yang sudah direncanakan.

Oke, waktunya bedrest seharian, semoga lekas membaik. Mengenali batas-batas diri agar tidak zalim kepada diri sendiri adalah sebuah keniscayaan yang harus saya patuhi.

salam..
dia yang terlalu memaksakan diri..

Kematian Perlahan Media Sosial

Gambar di atas adalah ilustrasi metafora perjalanan media sosial karya Brad Colbow.1 Awalnya media sosial adalah tempat berkumpul di dunia maya yang seru. Tak lama berselang, tempat berkumpul itu menjadi semakin ramai.

Hukum pasar pun berlaku, di mana ada keramaian di situ ada peluang untuk mendulang uang. Sebenarnya ini suatu hal yang wajar, namun jika pasar menjadi terlalu ramai, maka setiap orang saling berebut mencari perhatian agar lapaknya laku.

Maka terjadilah penawaran untuk beriklan dari pengelola media sosial agar dagangan di lapak bisa menarik perhatian banyak uang. Seperti yang sudah diketahui bersama, bahwa untuk berinteraksi menggunakan media sosial, tak perlu mengeluarkan biaya. Mungkin hanya perlu keluar biaya listrik dan pulsa internet.

Produk yang dijual oleh media sosial adalah database penggunanya. Dengan sasaran audiens yang lebih tertarget, maka pengguna media sosial adalah sasaran empuk bagi para pengiklan produk. Yaa, tanpa sadar data kita dijual oleh media sosial. Sebagian orang ada yang nyaman-nyaman saja ketika data mereka diperjualbelikan, sebagiannya lagi merasa risih.

Bahkan Path yang sebelumnya tidak menampilkan iklan di timeline-nya, kini mulai ikut-ikutan menampilkan iklan.

Saya termasuk golongan yang risih melihat gempuran iklan yang membanjiri media sosial. Apalagi tampilan iklan model pop up di website yang menutupi konten yang saya butuhkan. Atau mungkin kebanyakan orang tidak menyukai iklan..? Hmm entahlah.

Beberapa tahun yang lalu, Facebook masih belum mendominasi pasar media sosial. Saat itu, media sosial masih dikuasai oleh Friendster dan Myspace. Kemudian Friendster diserang oleh pasukan alay.

Akhirnya, banyak teman saya yang berpindah menggunakan Facebook dan Twitter. Kala itu Facebook dan Twitter masih belum menampilkan iklan. Tampilan newsfeed atau timeline kala itu masih mode sekuensial berurut waktu.

facebook 2008
Tampilan Facebook tahun 2008

Sekarang, hampir semua media sosial menggunakan mode algoritma engagement dalam menampilkan feed-nya. Jadi status update yang muncul di timeline kita yaa orangnya yang itu-itu saja.

Menilik beberapa media sosial yang sudah ditinggalkan penggunanya seperti MySpace, Friendster atau Plurk. Bahkan ada media sosial yang sudah tutup seperti Multiply. Maka dari itu, kurangnya hak pengelolaan penuh atas konten di media sosial, mendorong beberapa orang, termasuk saya, untuk menggulirkan blog.

Tidak menutup kemungkinan media sosial yang kini sedang berjaya akan menghentikan layanannya di waktu mendatang. Beberapa waktu yang lalu, Twitter menghentikan layanan video sharing miliknya, Vine.2

Jadi sudah waktunya untuk membangun blog sendiri.