Mungkin ini posting terakhir di bulan Agustus 2016. Esok sudah memasuki tanggal 29 di hari Senin. Biasanya hanya menyempatkan diri ngeblog di akhir pekan. Mumpung masih belum area waktu i hate monday maka ada baiknya saya nulis. Padahal bulan Ramadhan kemarin rutin nulis tiap hari hihi…

Berawal dari telpon tanggal 5 Agustus yang saya terima, infomasi yang kurang jelas terdengar dari pembicara di ujung sambungan. Tidak pakai memperkenalkan diri langsung main nyerocos saja.

Mungkin dikiranya caller id di layar telepon meja saya bakalan langsung keluar. Padahal yaa perangkat yang saya gunakan masih model lama. Caller id nya tidak keluar. Memang salah satu adab telepon adalah memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada orang di seberang sambungan.

Karena kurang jelas dan sedang fokus menggambar, saya tidak mengkonfirmasi ulang apa yang dia sampaikan. Asal he’eh saja untuk mengirim ulang pas foto untuk keperluan visa.

Alhasil di hari Senin tanggal 8 Agustus, jam 10-an saya mendapat sms. Isi sms itu menanyakan lokasi saya sedang ada dimana. Saat itu saya sedang ditunggu di kedutaan untuk pengurusan visa. Alaaamaaak ternyata telpon blukuthug hari Jum’at itu informasi yang penting. Info macam ini biasanya disampaikan melalui tim assistant.

Oke fix saya pontang-panting naik Grab-Car menuju kedutaan di dekat bundaran HI. Sampai di sana, saya telat 1,5 jam. Telatnya terlalu lama, sehingga tidak bisa dilanjutkan pengurusan visa hari itu. Toleransi telat hanya 30 menit, begitu info yang saya terima dari agen pengurus visa dari kantor.

Masalahnya, bukan saya doang yang akhirnya telat ngurus visa, teman saya yang seharusnya berangkat bareng ikutan telat ngurus visa. Gara-gara saya ngasal nerima telpon jadi lah telat semua.

Dari info agen yang ngurusin visa ini, kedutaan yang ngurusin visa ini agak rewel dan susah untuk reschedule. Susah karena permohonan visa di bulan ini begitu padat. Waduh makin ketar-ketir mengingat jadwal keberangkatan yang semakin dekat.

Esoknya, hari selasa tanggal 9 Agustus, kali ini diakbarkan melalui e-mail bahwa jadwal pengurusan visa baru bisa dilakukan tanggal 18 Agustus. Hmm alhamdulillah wes, kali ini ga boleh telat lagi, informasinya beneran clear kali ini.

Agenda pembuatan visa pukul 13.00. Berangkat dari kantor jam 11.00. Lebih kurang 30 menit sudah sampai di sekitaran kedutaan. Langsung meluncur mencari makan siang.

Jebret, setelah melewati pos-pos pemeriksaan untuk masuk kedutaan yang menurut saya agak parno, saya mendapati kejutan. Nama saya dan teman saya tidak terdaftar di sistem pembuatan visa. Padahal di daftar yang dipegang oleh petugas di pintu gerbang nama saya terdaftar.

Akhirnya agen pengurus visa dari kantor melakukan lobi-lobi kepada petugas kedutaan. Dan tetap tidak bisa masuk untuk mengurus visa. Breess seketika lunglai tubuh saya, apalagi ketika mendengar informasi bahwa baru ada slot kosong untuk wawancara di atas tanggal 30. Sedangkan jadwal keberangkatan saya sebelum tanggal 30 Agustus. Bisa ga jadi berangkat ini kalo gini jadinya hiks hiks..

Di situlah saya merasa menjadi seorang biangkerok. Kesalahan awal ada di saya. Berawal dari keengganan mengkonfirmasi perihal kepengurusan visa di tanggal 8 Agustus. Masalah telat mengurus visa ini sampai tereskalasi di grup whatsapp kantor.

Assem, saya jadi dapat reminder dari bos yang semua orang tau. Untungnya saya ga ikutan grup whatsapp itu. Ceritanya saya keluar dari grup kantor karena sering ga sengaja salah kirim konten, apalagi yang saya kirim konten yang tak senonoh.

Alhamdulillah di sore harinya, dapat informasi dadakan wawancara di kedutaan bisa dilakukan lagi tanggal 19 Agustus. Nama saya dan teman saya tidak ada dalam sistem pembuatan visa tanggal 18 itu karena dihapus. Alasan dihapus karena Pak Agen Visa me-register nama saya dan teman saya terlalu banyak.

Yess mantap satu sama. Ke-error-an tidak hanya terjadi pada saya. Senang rasanya mendapati teman yang sama-sama error. Macam Iblis saja yang mencari teman masuk neraka.

Pengurusan visa lancar hari itu. Visa jadi sepekan kemudian. Sekarang saya mengalami apa yang disebut dengan jetlag karena perbedaan waktu 5 jam dari Jakarta. Pukul 20.58 waktu setempat, sedangkan waktu di Jakarta menunjukkan jam 2 pagi.

Oke saatnya tidur..

 Salam dari München.. 🙂

Leave a Comment