#RAMADHANOTES 1437 HIJRIAH

Ramadhanotes
Ramadhanotes

Tak sampai sebulan lagi sudah memasuki bulan Ramadhan tahun 1437 Hijriah. Tepatnya sudah tanggal 8 Sya’ban. Begitu cepat jalannya waktu, bukan berjalan mungkin dia berlari. Rasanya baru kemarin usai kesyahduan bulan Ramadhan 1436 Hijriah.

Belum ada persiapan khusus demi menyambut bulan puasa tahun ini. Maklum muslim mediocre. Jiah ngaku muslim mediocre kok malah bangga. Ehm enggak bangga sih malah sebenernya malu. Hidup sudah mencapai separuh usia harapan hidup rerata manusia, hitungan amal ibadah masih memprihatinkan. Oke cukup kisanak atas kalimat-kalimat apologisme tak tahu malu untuk mengasihani diri sendiri.

Beberapa kali saya sudah membaca blog posting, status update facebook ataupun BC di whatsapp guna mempersiapkan diri memasuki bulan Ramadhan. Himbauan yang baik sekali tentunya. Himbauan untuk siap secara fisik, mental dan finansial.

Persiapan saya sejauh ini adalah mereset waktu tidur. Tujuannya membiasakan bangun di waktu makan sahur, biar gak kelewatan sahurnya, nasib anak kost. Puasa sunnah bulan Sya’ban pun belum digonjreng. Berkenaan dengan waktu tidur ini, sekarang saya sudah mulai ngantuk dan tertidur jam 22.00. Jika berangkat berlayar ke pembaringan pukul 22.00-an maka biasanya akan terbangun jam 03.00 dini hari. Jam 03.00 adalah waktu yang sip markosip untuk dugem makan sahur.

Yaah pokoknya sebisa mungkin puasa Ramadhan tahun ini dipersiapkan. Walau dipersiapkan ala kadarnya masih mending daripada tiada dipersiapkan sama sekali. Jiah ngeles lagi heuheuheu…

Tadi saya membaca sebuah posting di suatu blog wordpress (saya lupa url-nya) mengenai tantangan #MaretMenulis. Aiiih telat taunya, tau gitu saya ikutan, ini udah bulan Mei bro!! Akan tetapi, walau event-nya sudah terlewat masih bisalah dicontoh polanya.

Jadi pada tantangan #MaretMenulis itu berupa tantangan menulis selama sebulan setiap hari. Jadi setiap hari harus menelurkan satu tulisan. Karena bulan Maret ada 31 hari, maka harus lahir 31 tulisan yang diposting di blog masing-masing. Beuh berat ini, hmm tapi bisa diusahakan.

Nah kebetulan bulan Ramadhan beberapa hari lagi sudah menyapa mesra. Saya berancana untuk menulis catatan setiap hari selama Ramadhan tahun ini. Ini merupakan sebuah tantangan tersendiri. Tantangan kali ini saya beri nama sesuai judul tulisan ini, yaitu #Ramadhanotes. Berminat untuk ikutan..? Yaak monggo saja kalo mau ikutan hihi..

Maaf agak melompat sedikit, saya mau laporan terkait tulisan saya sebelumnya. Tulisan Learn to Walk yang saya terbitkan kemarin Sabtu. Laporannya adalah saya tidak mencatat jarak tempuh dan waktu jalan kaki pada hari Sabtu dan Ahad. Namun saya masih ingat lokasi jalan kaki yang saya tempuh.

Hari Sabtu jalan dari kosan menuju jalan raya untuk mencari taksi. Nyari taksi biar bisa sampai ke Mall. Dari kosan menuju jalan raya lebih kurang 800 meter. Jalan-jalan di Mall ada mungkin tercapai jarak tempuh 1 kilometer. Ke Mall Artha Gading dengan tujuan nonton Civil War jam 18.55 WIB. Jala ceritanya mirip sama Batman vs Superman, namun seri dari Marvel lebih bagus daripada DC Comic. Mungkin karena dari Marvel ada tokoh Spiderman dan Ironman sebagai tokoh yang menghidupkan cerita. Memberikan bumbu humor di jalan cerita. Batman vs Superman tegang dari awal sampai akhir. Baru kali ini Batman menjadi orang tak bijak, cih. Jadinya saya gak ngefans lagi sama Batman. Memang karakter Bale sebagai Batman di trilogi The Dark Knight sangat susah dilewati. Hidup Wonder Woman, halah.

Sepulang dari nonton Civil War entah kenapa otot di belakang mata kaki terasa pegal hingga hari Ahad. Jadinya di hari Ahad ini saya bawa ke pijat refleksi langganan dekat kosan agar enakan. Nah aktifitas jalan kaki hari ini, Ahad 15 Mei, sudah terwakili kala jalan menuju tempat pijat refleksi. Lebih kurang jarak jalan kaki yang ditempuh hari ini adalah 1 kilo meter. Selepas pijat refeleksi, saya nemu rute untuk jalan kaki maupun lari yang lumayan oke. Rute yang saya maksud ada di dekat perempatan sevel Cempaka Putih arah menuju Rumah Sakit Islam. Semoga tidak ada anjing liar berkeliaran di rute itu. Cukup sekian dulu laporannya. Lanjut ke tujuan utama tulisan ini.

Kembali ke #Ramadhanotes, saya baru ingat jika tahun lalu juga melakukan catatan selama bulan Ramadhan. Catatan itu saya tuliskan pada medium Evernote, jadi sifatnya begitu privat. Nah, pada tahun ini semoga kesampaian untuk membuat #Ramadhanotes di blog diptra.com ini.

Aturannya sederhana, yaitu menulis dengan tema bebas selama Ramadhan tahun 1437 Hijriah dengan hashtag #Ramadhanotes. Menulis aktifitas seharian selama puasa boleh. Menulis puisi juga baik. Menulis tausiyah juga oke. Curhat juga monggo. Bikin cerpen juga tidak dilarang. Menulis tulisan yang bermanfaat, itu pointnya. Jadi apakah kamu mau ikutan #Ramadhanotes tahun ini..?

salam..

Empty Blog

empty blog
empty blog

Adalah sebuah pilihan melakukan hal-hal yang menjadi prioritas dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang memiliki hak menentukan hal apa saja yang menjadi prioritas. Juga, tiap-tiap orang tentu memiliki prioritas yang berbeda. Tapi banyak juga yang menjalani hidupnya mengalir saja, tanpa menentukan prioritas. Itu juga hal yang patut dihormati. Mungkin saja tanpa melakukan prioritas dan rencana yang terlalu mendetail, maka “kejutan” yang terjadi kemudian lebih terasa.

Ketika blogwalking, saya cukup merasa awkward moment mendapati blog yang sudah lama tiada di-update. Ahh sayang sekali saya membatin. Pasti ada hal lain yang lebih penting daripada sekedar meng-update konten blog. Beberapa blog yang saya singgahi ada yang terakhir di-update tahun kemarin. Bahakan, ada yang tahun 2014. Prediksi saya, jika lebih dari setahun apalagi sampai dua tahun konten blog tiada di-update, bisa jadi yang punya blog sudah lupa dengan blognya. Username dan password nya pun mungkin lupa.

Bagaimana dengan blog yang sebulan atau dua bulan tiada di-update? hmm yaa masih wajar lah, semoga tidak sampai setahun lupa meng-update. Rasa malas menulis dan buntu ide mungkin menjadi salah satu penyebab juga. Hal ini pun kerap menggrayangi semangat saya untuk terus ngeblog.

Akankah blog ini nantinya terbengkalai tiada pernah lagi di-update? Pertanyaan ini cukup menghantui saya. Masa depan tiada pernah diketahui secara jelas. Selalu menjadi misteri. Jadi mumpung masih ada kemauan dan tergerak untuk menulis, maka menulislah.

Namun, dengan menuliskan kegelisahan seperti ini, maka semacam menjadi pengingat untuk terus menulis. Berproses, dan entah akan menjadi seperti apa bentuk tulisan-tulisan di blog ini di masa mendatang. Kegelisahan dan harapan semoga blog ini tidak menjadi the empty blog.

Ahh badan sudah pegal-pegal karena seharian duduk dan gluntungan di lantai kamar kosan. Waktunya keluar dari sarang menggerakkan sendi-sendi tulang dan otot pembungkusnya. Mata juga sudah pegel menatap layar monitor laptop seharian. Biar seger, kayanya lebih enak jika mandi dulu. Badan udah bau kecut ini sedari pagi belum mandi.

Sekian dulu deh curcolnya menyuarakan kegelisahan :p

salam..

Learn To Walk

learn to walk
learn to walk

Terlalu lelah dan badan rasanya seperti mendapat serangan flu. Sebelumnya ditambah dengan masuknya 3 potong pizza meat lover mayo cheese mayo ke dalam perut dengan kunyahan seadanya. Beneran ga sehat nih makan malam dengan makanan bekolesterol. Semalem kejadiannya dan berakibat ngantuk berat menjelang jam 22.00 WIB.

Dugaan saya, kelelahan ini adalah sebuah akumulasi. Dari hari Selasa tanggal 10 Mei melakukan perjalanan. Bertolak dari Malang menuju Jakarta pada pagi hari. Malang – Jakarta ditempuh dalam waktu 1,5 jam dengan maskapai Citilink. Kemudian sore harinya harus berangkat ke Makassar. Rabunya, separuh hari dihabiskan di dalam mobil. Berputar-putar tiada jelas setelah selesai meeting. Walaupun tiada jelas, yang jelas saya mendapatkan 2 bungkus kopi Toraja di toko oleh-oleh. Sebungkus kopi jenis Aabica dan sebungkusnya lagi kopi Robusta. Saya belum tahu mana yang lebih nikmat. Pseudo coffee lover.

Kamisnya mruput pagi-pagi jam 06.00 WITA menuju bandara. Weew jam 06.00 di Makassar itu sama dengan jam 05.00 waktu Jakarta. Tapi saya bersyukur sekali langsung kembali ke Jakarta. Karena sebelumnya ada rencana ikut juga ke Kendari untuk melakukan survey. Hmm melakukan survey sih bukan masalah, yang menjadi masalah adalah rekan yang menyertai dalam survey.

Kelelahan fisik jika disertai dengan mental yang mendapat asupan gizi, maka kelelahan fisik itu akan lebih terasa ringan. Namun, jika mental mendapat asupan racun berupa keluahan-keluhan negatif, maka kelelahan fisik akan semakin terasa berlipat ganda. Mungkin inilah salah satu alasan saya lebih memilih sebagai solo traveler. Alasan lainnya sih ada, mengingat saya bergolongan darah B.

Pendek kata saya mendapat rekan perjalanan yang enggak asik selama di Makassar. Alah mak jang kok malah jadi saya mengeluh di sini hehe. Maaf yaak. Jadi kembali ke Jakarta pada hari Kamis tanggal 12 adalah sebuah pilihan yang sangat tepat. Lebih baik travelling sendirian daripada bareng-bareng dengan orang yang enggak asik.

Tak hanya efek lelah fisik dan mental karena perjalanan, rupanya badan saya menjadi cepat lelah karena kurangnya olah raga. Belakangan ini saya mendapati ketiadaan jadwal olah raga dari rutinitas sehari-hari. Kemudian jika mengingat pola dan rutinitas pekerjaan, maka pekerjaan saya termasuk pekerjaan yang tidak sehat untuk kondisi fisik. Seharian dihabiskan dengan terduduk di belakang meja menghadap komputer. Benar-benar sebuah aktifitas fisik yang pasif dan tidak sehat.

Apatah lagi jika kegiatan itu terjadi dalam waktu yang cukup lama, maka akan semakin tidak sehat. Menjadi akumulasi ketidaksehatan. Saya membutuhkan olah raga. Olah raga paling simple yang terpikirkan yang bisa saya lakukan adalah lari. Tapi saya tahu, otot-otot di tubuh saya sudah lembam terhadap kepasifan aktifitas sehari-hari.

Tentu akan menjadi sangat berat bagi otot-otot di tubuh saya untuk menyesuaikan jika tiba-tiba diajak berlari. Wong dah lama enggak olah raga kok mau langsung diajakin lari, ntar bisa-bisa kaget tubuhnya lalu kolaps diih semoga tidak kejadian. Maka dari itu, saya putuskan untuk membiasakan diri berjalan kaki dahulu.

Aktifitas jalan kaki ini saya mulai sejak Jum’at pagi kemarin. Sebagai pemanasan sebelum menjadikan lari sebagai kebiasaan baru. Latihan jalan dulu dengan rute yang agak jauh. Sebagai bantuan saya menggunakan aplikasi nike run untuk men-track rute, waktu, pace dan jarak yang saya tempuh. Lumayan membantu sebagai pencatat perkembangan dari hari ke hari.

Ternyata ada pepatah berbahasa inggris yang bebunyi “learn to walk before you run” yaa kok pas ternyata dengan kondisi saya yang jarang olah raga. Saya memang sudah bisa berjalan, tetapi learn to walk  di sini saya maksdukan sebagai pembiasaan. Selain itu dari aktifitas jalan kaki ini ada agenda tersembunyi, yaitu memantau lokasi yang enak dijadikan sebagai rute berlari nantinya.

Sebelumnya saya termasuk orang yang enggak suka membicarakan apa yang ingin saya lakukan di waktu yang akan datang. Seringnya saya lakukan dulu baru dibicarakan. Nah pada kesempatan kali ini saya ingin agak sedikit keluar dari pakem dengan melaporkan hal yang ingin saya lakukan. Salah satu alasannya adalah rasa malu jika memungkiri rencana yang sudah dibuat.

Saya rasa cukup sekian dulu laporannya. Esok saya akan laporan di sini mengenai perkembangan aktifitas menjaga kesehatan badan yang sudah diamanahkan ini.

salam..

Sewindu

SWINDU
sewindu

Blog ini belum berumur sewindu, hingga sekarang hanya setahun lebih beberapa bulan. Tulisan kali ini pun tak membahas blog ini, tapi sebuah buku.

Enggak ada rencana sama sekali untuk membeli buku, sepekan lalu. Tujuan utama adalah membeli roti prata kuah kare di foodcourt lantai 2 MaToS (Malang Town Square). Apalah daya untuk menuju foodcourt lantai dua harus menggunakan tangga berjalan, iya namanya eskalator. Ketika menuju eskalator ada obral buku dari Gramedia.

Celingak-celinguk tergoda untuk melihat buku yang diobral. Label obral ada dua macam, pertama menyatakan buku diobral mulai harga 10.ooo rupiah. Kedua buku diskon 10%. Iseng-iseng berhadiah pikir saya sambil menanti perut agak lapar untuk diisi roti prata kuah kare, hmmm…

Mata saya tertarik oleh buku bertuliskan L’Arc-en-Ciel. Bahasa Prancis yang berarti pelangi. Benar tebakan saya sebelumnya ketika melihat sinopsis buku tersebut. Buku bertuliskan L’Arc-en-Ciel itu membahas band terkenal asal Jepang. Iya band itu bernama L’Arc-en-Ciel. Memori saya langsung menerawang pada lagu-lagu favorit milik L’Arc-en-Ciel yang sudah lama tiada saya dengar. Maklum sedang program puasa mendengarkan musik.

Saya putuskan untuk tak membelinya karena saya memperkirakan informasi di dalamnya sudah banyak yang saya ketahui. Selain itu pola dalam menggemari sesuatu yang saya anut sudah berubah. Dulu segala informasi mengenai band favorit bakal saya buru. Saat ini saya lebih pada menikmati sebuah karya dan bersikap sewajarnya terhadap penggubahnya.

Akhirnya saya putuskan membeli 2 buku. Buku Saya [cinta] Indonesia dan Kumpulan Cerpen Murjangkung. Lalu saya berjalan menuju kasir tapi mata tergoda oleh sebuah buku. Buku dengan cover hijau muda berbingkai putih. Nama penulisnya tertulis lebih besar daripada judul buku. Tasaro GK tertulis jelas sebagai penulis.

Anggapan saya, nama penulis sudah cukup sebagai jaminan kualitas isinya. Pikir saya karena sedang diskon dan buku berjudul Sewindu ini lumayan tebal. Harga normal tertera 56.000 rupiah, namun hanya perlu saya bayar 35.000 rupiah. Tak ayal tiga buku langsung saya angkat untuk dibawa pulang.

Memboyong tiga buku bagus seharga 68.500 rupiah itu membahagiakan bagi saya sebagai pembeli. Mungkin tidak bagi penerbit dan penulisnya.Entahlah, semoga buku-buku yang saya boyong ini sudah laku keras di tahun-tahun sebelumnya.

Hajat utama jalan-jalan ke mall bisa ditunaikan. Segara naik ke lantai dua untuk membeli roti prata. Memuaskan nafsu kuliner sembari menanti waktu menjemput istri tercinta dari kantor.

Belum beruntung, adonan roti pratanya belum jadi. Hanya adonan roti tisu yang masih tersedia. Mungkin karena masih pagi dan kedainya baru buka. Bisa jadi saya terlalu bernafsu untuk mengunyah kelembutan dan kekenyalan roti prata berbalut kuah kare. Malah buku yang bukan menjadi tujuan utama didapat.

Di Malang, saya tak bisa sebebas di Jakarta dalam hal melangsungkan hobi membaca buku. Ada jiwa-jiwa lain yang lebih membutuhkan perhatian daripada larik-larik kata pada sebuah buku. Jiwa yang terkurung dalam tubuh manusia itu menorehkan larik-larik kebahagiaan lain yang tak bisa diserupakan dengan tumpukan buku.

Jiwa-jiwa itu menuliskan sesuatu kepada saya dan saya pun menuliskan sesuatu kepada mereka. Serupa cahaya tapi tidak memancarkan sinar, namun menerangi kalbu tuk saling mencinta.

Oleh karena itu, buku-buku yang  baru saja terbeli tak langsung saya baca. Hanya membuka pembungkus plastik dan melakukan sedikit ritual tarhadap buku baru. Melihat-lihat isinya sekilas lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong plastik untuk dibawa menemani selama di Jakarta.

Saya mempercayai jodoh tak hanya sebatas pertemuan dua anak manusia berbeda gender. Diperjumpakan dengan sebuah buku juga merupakan sebuah jodoh tersendiri. Bahkan dalam hal blogging pun pertemuan secara virtual juga sebuah perjodohan dalam ruang-ruang gagasan dan pengalaman.

Seperti halnya dengan buku Sewindu ini, saya merasa berjodoh dengannya. Saya tak memiliki gambaran apapun terhadap buku ini. Entah novel entah buku non fiksi. Saya tak tahu menahu. Anggap saja blind date dengan sesosok buku. Meskipun tak jarang saya mengalami kekecewaan ketika  blind date dengan buku. Tak mengapa, melalui kekecewaan kita jadi lebih bisa menghargai sebuah kebahagiaan dari hal-hal sederhana, seperti ketika bertukar pikiran dengan medium buku.

Bertanya kepada rekan sejawat di ruang whatsapp apakah buku Sewindu karya Tasaro GK ini mantap. Rekan sejawat yang sudah pernah membaca buku Sewindu mengutarakan rasa sukanya terhadap buku ini.

Kebiasaan membaca kata pengantar penerbit dan penulis tak pernah saya lewatkan saat membaca buku. Melalui kata pengantar itulah saya menjadi paham bahwa buku Sewindu ini menuturkan kisah perjalanan pernikahan. Sebuah catatan naik turun biduk pernikahan.

Ditulis pada tahun pertama pernikahan Tasaro. Tasaro berusia 32 waktu buku Sewindu terbit, jadi torehannya dimulai ketika dia berusia 25.

Pada kata pengantar, Tasaro berniat merombak habis-habisan tulisan di masa awal pernikahan. Untunglah niat itu tak sampai mewujud menjadi kenyataan. Ada kata-kata yang apik yang Tasaro suguhkan saat mengurungkan niat perombakan itu.

Kata-kata apik itu membuat saya sedikit menyesal. Menyesal telah membakar buku-buku harian di masa lalu. Buku-buku harian yang saya serahkan kepada istri beberapa pekan sebelum menikah. Buku harian itu dibaca oleh istri saya.

Pikiran saya sederhana waktu itu. Buku harian adalah salah satu hal paling private yang saya miliki.Tapi waktu itu sebenarnya saya cukup tengil, enggan menjelaskan lebih detail apa dan bagaimana saya. Cukuplah membaca buku-buku harian itu untuk mengenal saya lebih jauh. Apalagi jarak waktu lamaran hingga akad tak terlalu lama, waktu yang tak lama untuk saling mengenal.

Bisa jadi cara yang saya pakai ini sebagai langkah jenius juga sih. Tak perlu terlalu banyak memakai topeng dan bermanis-manis lidah menjelaskan. Yaa untungnya istri berkenan membaca.

Perihal pembakaran buku itu sebenarnya lebih pada sentimental saja. Sebagai perlambang dan kesungguhan memaafkan kekelaman masa lalu.

Baru sekarang menyesal kenapa dibakar, gara-gara kata pengantar di buku Sewindu. Aiiih, yang sudah tejadi tak perlu lah disesali terlalu lama. Ambil hikmahnya saja, bahwa segulita-gulitanya masa lalu yang kemudian dituliskan, hal itu adalah suatu masa sebagai pengingat.

Jadikan sebagai pijakan agar tiada terjerumus kedalam kondisi yang sama. Sebagai monumen bahwa kita pernah melalui masa-masa itu, masa-masa yang membentuk diri kita saat ini. Terkadang dari situ kita dapat melihat jalinan keindahan benang-benang takdir. Jalinan yang membentuk kehidupan yang menyelimuti kita saat ini.

Saya utarakan sekali lagi bahwa saya merasa berjodoh dengan buku ini. Seperti semalam saya membaca acak salah satu chapter-nya. Sebuah bagian yang begitu memikat.

Sepenggal kisah mengenai proses kelahiran anak kedua Tasaro. Proses pemberian nama anak kedua. Kisah tentang  firasat yang begitu tajam. Jalinan kata yang bertutur dengan indah. Aaah aku jatuh cinta lagi.

Bagian terbaik dari chapter yang saya baca semalam ada pada tulisan yang pernah tayang di Facebook. Tulisan untuk para wanita yang ikhlas membersamai setiap langakah suaminya. Menghirup harumnya cinta dalam jatuh bangun kehidupan.

Alamaak sebagai lelaki beranak satu, air mata mulai membercak di sudut-sudut mata. Tapi saya tahan untuk turun menjadi gerimis tangis. Ternyata tangis yang ditahan membuat dada menjadi lebih sesak. Tak heran banyak lelaki yang meninggalkan dunia fana karena serangan jantung, mungkin karena jantungnya jarang diajak menumpahkan tangis.

Penceritaan proses kelahiran anak kedua Tasaro menerbangkan ingatan ke sudut-sudut membran jaringan otak. Ingatan yang begitu kuat tentang proses kelahiran Raffi. Proses kelahiran yang dilingkari manusia-manusia penuh kasih sayang. Karena hal itulah nama Abdurrahman tersemat di awal nama Raffi.

Saya bingung, beberapa buku terakhir yang sudah dibeli bergenre memoar. Mungkin pikiran bawah sadar saya sedang menginformasikan untuk menambah referensi cara bertutur. Haruki Murakami, A.S Laksana, Tasaro Gk dan beberapa komika menjadi penulis-penulis yang secara tak sengaja menjadi referensi untuk menulis.

Tadinya saya berharap menemukan kejutan-kejutan lain dari buku Sewindu. Namun, harapan itu kemudian saya tangguhkan sebisa mungkin. Rasanya  lebih nikmat membaca buku tanpa berharap lebih. Menerima apa adanya kisah-kisah yang dituturkan Tasaro. Kejutan tak akan menjadi kejutan ketika diharapkan. Semoga semakin penasaran dengan buku Sewindu bagi yang belum membacanya.

Sepanjang membaca kisah persalinan anak kedua Tasaro, saya beimajinasi. Berimajinasi menuliskan proses kelahiran Raffi. Sebelum menguap karena terlalu lama mengendap. Khawatir dibersihkan secara otomatis oleh mekanisme pikiran bawah sadar.

Ingatkan saya untuk menuliskan kisah kelahiran Raffi yaa. Tak semengharukan kisah yang dituturkan Tasaro, namun cukup kiranya sebagai hadiah perayaan cinta kami bertiga. Amiin.

Sewindu, Cinta Itu Tentang Waktu

salam..

Wingardium Leviosa

Sesekali nulis dulu tanpa dikasih judul. Biasanya ngasih judul artikel baru kemudian lanjut menuliskan apa saja yang terlintas di benak. Sesederhana itu proses penulisan yang sering saya lakukan. Sesekali juga menulis di luar kebiasaan. Namun yang jelas saya butuh ketenangan dan fokus saat menulis.

Tulisan ini mungkin tidak sekali jadi. Biasanya kalo nulis di blog ini, dalam sekali momen add new post, tulisan langsung di-publish. Hanya melakukan cek sekilas sebelum menekan tombol publish. Alasan mengapa tidak sekali jadi adalah saya sedang di rumah Malang. Ketika di rumah Malang tak bisa sekonyong-konyong nulis dan mengabaikan interupsi dari keluarga. Jadi harus jeli memanfaatkan waktu.

Saat ini tanggal 5 Mei 2016 pukul 20:58 WIB. Duduk selonjoran memangku laptop 11,6 inchi. Lenovo Thinkpad E120 Core i3 yang sudah setia selama hampir lima tahun ini menemani. Keyboard-nya masih terasa empuk dan nyaman untuk mengetik. Cukup handal melayani kecepatan jemari saya dalam mengetik huruf demi huruf sehingga menjadi kata lalu terangkai menjadi kalimat.

Hanya tombol huruf “r” yang agak sedikit macet. Jadi mohon permaklumannya jika sering menemukan kata yang typo kekurangan huruf “r”. Semoga tetap bisa dipahami. Kecepatan mengetik di keyboard ini tidak diimbangi dengan kecepatan mata untuk mengoreksi susunan kata yang kurang lengkap.

Perihal kecepatan dalam mengetik, saya bisa mengetik 10 jari dengan lumyan cepat. Tanpa selalu melihat tuts keyboard, hanya sesekali melirik saja. Dahulu alasan saya mempelajari kemampuan mengetik cepat di atas keyboard tipe QWERTY adalah ingin menjadi seorang programmer. Tapi kemudian saya menyerah menjadi progammer. Lebih tepatnya menyerah sebelum bertempur.

Ketika mempelajari algoritma pemrograman saya merasa enggak tune in. Berbeda halnya ketika mempelajari fisika mekanikal Newton ataupun kalkulus. Sekarang sih, teori-teori mekanikal Newton atau pun kalkulus sudah lenyap dari benang-benang syaraf otak. Hanya menyisakan remah-remahnya saja.

Hal lain yang membuat saya menyerah mempelajari pemrograman adalah ketika mencoba serangkaian kode yang termaktub dalam buku. Serangkaian kode itu sudah saya tulis persis seperti yang tecantum, namun ketika program dijalankan masih ada bug atau kesalahan. Kesalahan ini membuat program tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Yaa sudahlah saya insyaf atas kelamahan saya dalam hal pemrograman. Alhamdulillah kemampuan mengetik yang cukup cepat masih tersisa hingga sekarang. Lumayan bermanfaat saat memutuskan menjadi seorang blogger. Walo tulisan masih pendek-pendek dan analisa tak terlalu mendalam saya merasa bahagia menjadi seorang blogger.

Belajar mengetik dengan 10 jari saya pelajari melalui sebuah game. Saat itu sedang marak game bebasis Macromedia Flash. Sebuah bahasa pemrograman yang lumayan ringan untuk membuat game. Saya lupa nama game-nya. Seingat saya game yang saya mainkan mengandung kata typing. Sekarang pun entah ada dimana aplikasi game tersebut. Mungkin jika dicari di mesin pencari masih ada yang menyediakan untuk diunduh.

Dasar untuk belajar mengetik dengan 10 jari adalah mempertajam indra sentuhan di ujung jari telunjuk. Coba perhatikan keyboard yang sering digunakan. Pada huruf “f” dan “j” akan didapati tonjolan berupa garis lurus pendek. Garis itu sebagai bantuan untuk menghafal letak home key yang disematkan pada huruf “f” dan “j”. Hmm saya agak kesusahan menjelaskannya secara detail. Jika tertarik mungkin bisa di-googling cara mengetik dengan 10 jari. Selain itu, dalam tulisan ini tidak saya tujukan untuk memberikan tutorial mengetik dengan 10 jari.

Yak jam sudah menunjukkan pukul 21.25 WIB. Hingga paragraf di atas sudah mencapai 505 kata. Jadi dalam waktu 27 menit saya berhasil menulis 505 kata. Hmm beneran menulis lepas tidak pakai mikir terlalu dalam yang filosofis. pure mengalair saja apa adanya.

Seperti sudah saya katakan di awal saya menulis di rumah Malang. Interupsi yang membutuhkan perhatian lebih daripada ngeblog sudah hadir. Apalagi ini hari Kamis malam.

Pause dulu, paragraf setelah kalimat ini dituliskan pada kesempatan selanjutnya. Oh iya kebetulan saya sedang membaca buku karya Haruki Murakami. Novelis kawakan dari Jepang. Buku yang saya baca bukan novel, tetapi sebuah memoar tentang menulis dan lari.

Angin sumriwing berhembus di belakang kepala. Berderu membisik di telinga. Masih seperti kemarin, terduduk selonjor dengan memangku laptop hitam berukuran sedang. Perpaduan antara netbook dan notebook. Sudah mulai menurun performa batereinya. Sekarang hanya mampu bertahan 2 jam pemakaian dari kondisi baterei terisi penuh 100%.

Rupanya waktu mulai menunjukkan taringnya memakan sel-sel penjara yang memerangkap energi muatan pada elektron. Indikasinya sudah merah, hanya tersisa 26% menunjukkan sebentar lagi dia sudah kehabisan energi. Inilah salah satu kelemahan media elektronik yang bergantung pada energi baterai. Untuk menyambungkannya pada stop kontak jala-jala 220 volt PLN saya rasa belum perlu. Nanti saja menunggu dia teriak.

Hingga saat ini, laptop yang sudah menemani selama hampir 5 tahun ini belum saya kasih nama. Dulu barang-barang yang saya miliki hampir semuanya saya beri nama. Entahlah masih belum kepikiran nama yang cocok untuk laptop berlayar 11,6 inchi ini. Selain itu saya juga malas memberinya nama.

Saat ini waktu sedang menunjukkan pukul 09.31 WIB dalam format waktu 24 jam. Tetapi mulai menulis di pagi ini sejak pukul 09.20. Tadinya ingin menulis lebih pagi, ternyata tidak memungkinkan. Si anak yang lahir 20 bulan lalu minta diajak main. Jadi prioritas menulis, melanjutkan tulisan lebih tepatnya, harus dikesampingkan dulu. Adalah sebuah kemewahan langka menemani anak yang belum genap dua tahun bermain.

Interupsi berjalan seharian. Jadinya hanya sempat menulis 4 alinea. Itu pun dalam waktu yang sangat singkat. Berlanjut hari ini, Sabtu jam 05.50 WIB. Masih pagi sekali dan dingin yang menyegarkan udara di luar sana. Saat ini saya sudah pindah lokasi menulis, berbeda dari dua hari yang lalu.

Duduk di kursi dekat meja makan. Posisi duduk yang lumayan ergonomis untuk mengetik. Lebih baik daripada posisi duduk selonjor memangku laptop. Dapat saya ceritakan bahwa meja makan yang saya gunakan untuk mengetik tidak terlalu rapi kondisinya.

Ada stoples kosong bekas rempeyek udang. Stoples yang terbuat dari beling dengan tutup plastik warna merah terbuat dari plastik. Kondisinya agak sedikit berminyak. Di sebelahnya nangkring tissue dan sebungkus kue mari yang diikat dengan karet agar tidak melempem. Rupanya kedua barang itu diapit oleh dua stoples. Stoples satunya  berukuran separoh dari stoples bertutup merah yang saya sebut sebelumnya.

Saya perkirakan stoples kedua bervolume sepruh dari stoples yang pertama. Stoples kedua juga bertutup merah. Isinya susu bubuk merek Enfagrow produksi dari Nestle. Ada juga tiga kotak susu bubuk berjajar rapi. Masih ada juga barang-barang lain yang rasanya percuma jika saya sebut satu persatu.

Menulis sambil ngemil sebungkus kecil kacang tanah Dua Kelinci. Sudah dibuka kemarin sore. Berukuran 22 gram. Lumayan enak untuk menemani mengetik. Salah satu merek kacang legendaris yang ada di Indonesia. Merek produsen kacayng yang lain adalah kacang Garuda. Sama-sama kacang tanah yang pas untuk menemani segala aktifitas. Apakah kacang tanah menyebabkan kegamukan..? mari kita tinggalkan pertanyaan random ini.

Dua hari ini sebenarnya agak kurang bagus mood saya untuk menulis. Lantas, jika tidak mood menulis ngapain masih saja menulis blog..? Hmm bahkan samapi hari ini pun mood untuk menulis belum terbangun dengan baik. Pagi ini yaa menulis karena mumpung masih pagi, masih ada waktu sedikit. Karena ketika liburan dan sedang pulang ke Malang amat sangat sedikit waktu yang tersisa untuk menulis. Yaa memang sampai saat ini ngeblog masih menggunakan waktu-waktu sisa. Momen paling produktif untuk ngeblog adalah ketika weekend dan sedang ada di Jakarta.

Haruki Murakami pernah berbincang dengan sesama novelis, saya lupa nama novelisnya. Murakami bertanya mengenai bagaimana cara untuk menjaga fokus untuk menulis. Rekan Murakami tersebut menjawab bahwa dia memaksa dirinya sendiri untuk duduk di meja kerjanya. Duduk selama beberapa jam. Bahkan dia menambahkan jika tidak ada sesuatu untuk ditulis atau boleh dibilang sedang macet ide, tetap melakukan ritual duduk di depan meja kerjanya. Demi menjaga fokus dan kebiasaan.

Selama tiga hari ini, saya paksakan membuka laptop untuk menulis, sesingkat apapun waktu yang bisa saya manfaatkan. Setelah memutuskan untuk menjadi blogger setahun yang lalu, saya rasa tips dari novelis rekan Haruki Murakami tersebut bisa saya contoh. Untuk menjaga fokus ngeblog.

Tidak perlu menelurkan tulisan setiap hari, tak perlu mem-publish tulisan setiap hari. Momentum dalam menjaga fokus dengan menulis apapun setiap hari bisa dilakukan. Rasanya untuk terus menjaga semangat sebagai seorang blogger hal ini perlu saya lakukan. Bahkan ketika nge-blank pun hal minimal yang bisa dilakukan adalah membuka laptop atau membuka notes journal front tanpa menuliskan apapun. Hanya menjaga momentum.

Hmmm nampaknya endingnya gak sesuai bayangan. Memang kadang kenyataan tak seindah ilusi. Tapi karena sudah selesai dan ada hal penting lain yang seharusnya saya lakukan waktunya menekan tombol publish. Waktunya menyelamatkan dunia.

hiihii tulisan sudah mau di-publish judulnya masih belum kepikiran. Hmmm wingardium leviosa hehehe gak nyambunglah judulnya.

salam..

Chitato Rasa Indomie Goreng Bukan Hoax

Chitato Indomie Goreng
Chitato Indomie Goreng

Isu Chitato rasa Indomie goreng berawal dari foto yang beredar di whatsapp. Saya kerap kali mengunjungi minimarket-minimarket di sekitaran kosan hanya untuk mencari Chitato rasa baru ini. Tak kunjung ketemu juga. Demi Chitato rasa Indomie goreng.

Hingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa Chitato rasa Indomie goreng ini adalah hoax. Hanya sebuah manipulasi  photoshop yang canggih. Sebuah penipuan licik.

Tenyata Chitato rasa Indomie goreng bukan isapan jempol belaka. Malam ini saya ditakdirkan bertemu dengannya di Indomart. Indomart yang berdekatan dengan warung Upnormal. Warung Indomie yang lagi happening di dekat kosan.

Berawal dari keinginan yang ujug-ujug hadir malam ini. Keinginan untuk makan Indomie goreng di warkop sebelah kosan. Apalah daya, ternyata warkopnya lagi penuh. Kemudian saya melengos menuju warung Upnormal. Alamaak jam setengah sembilan masih saja antri untuk memesan meja.

Benar-benar dah Warung Upnormal ini sedang trending topic di sepanjang jalan Cempaka Putih. Keramaiannya sudah menyaingi Bebek Kaleyo yang hanya buka praktek sampai Sabtu.

Di sebelah ada Indomaret Fresh. Yaa udahlah sekalian nyari Chitato Indomie Goreng. Begitu masuk langsung menyasar rak makanan ringan. Liat ragam Chitato hanya rasa-rasa standart yang sudah pernah ta makan sebelumnya. Emmh saya lagi ga minat. Jadi keinginan membeli Chitato rasa Indomie Goreng pupus sudah. Pasrah.

Akhirnya menuju kulkas pendingin minuman. Ambil sekotak dingin Buavita rasa jeruk. Hihih kali ini agak nakal. Sudah mulai kendor Sweetless Challengenya. Kayaknya perlu diset lagi nih untuk mulai sweetless challengenya. This month.

Ngeloyor pergi deh ke kasir untuk bayar sekotak Buavita ini. Keluarin Mandiri E-money sebagai medium pembayaran. Lagi males pake duit cash. Digital money. Suka nakal kepikiran gimana cara nambah saldo E-money secara ilegal.

Lagi menanti proses pembayaran, mbak kasirnya ngoceh sama temen di kasir sebelah. Mungkin tadi dia makan malam dengan buah pepaya. Entahlah. Tiba-tiba mata saya tertuju pada bungkusan putih di depan kasir. Bungkusan putih dengan motif design yang tak asing lagi.

Yaaak tak lain dan tak bukan bungkusan putih itu adalah Chitato rasa Indomie Goreng. Girang bukan kepalang. Misal mbaknya ga merhatiin pasti saya udah lari-lari keliling rak-rak dagangan minimaket bak Ronaldo habis masukin gol ke gawang Kurnia Meiga. Oke saya megurungkan imajinasi absurd ala Ally Mcbeal tersebut.

Pulang ke kosan dengan wajah sumringah. Pas banget bungkusan putih itu tersisa cuman satu. Mungkin barang itu selain langka juga laku keras. Mungkin ini salah satu langkah uji coba jenius dari Indofood. Menggabungkan rasa legendaris indomie goreng dengan kerenyahan jos gandos Chitato.

Sampe di kamar, saya berbagi kebahagiaan Chitato Indomie Goreng ini bareng Dion. Temen sekosan, anak Pertamina. Dia lagi galau. Galau mau nikah sama pacarnya. Galau bukan karena ceweknya mirip Mak Lampir pengguna ilmu hitam. Ceweknya cantik kok, enggak ganteng. Dion galau karena sebentar lagi dia nikah, tapi lokasi dinasnya bakalan pindah ke Cilegon. Ketika jarak membuat galau. Resiko kerja di instansi plat merah.

Semoga Chitato langka ini bisa menghibur kegalauannya huehuheuheuhue. Oke Chitato indomie goreng, laksanakan tugasmu. Hmmm setelah bungkusan putih dibuka, aroma khas indomie goreng langsung menyeruak. Kraus.. kraus .. kraus sepotong demi sepotong Indomie goreng langsung berpindah ke mulut. Enaaak enaaak. Pedes-pedses asin dan gurih. Sekejap saja langsung habis tuh Chitato rasa Indomie Goreng.

Alhamdulillah bisa ngerasain snack langka ini hehe. Kali ini membuktikan kembali perihal kepasrahan. Force dan Power istilah ndakik-ndakiknya hehe. Pas udah ikhlas pasrah, malah dapet tuh hal yang dicari sebelumnya. Karena sudah gak penasaran lagi dengan Chitato bumbu Indomie Goreng yaa sekarang dah biasa ajah.

Wiiisss batre laptopnya mau habis belum nemu receptacle 220 volt. Yaa weslah dipublish ajah. Tulisan ini dah ngendon di draft hampir sebulan hhehe…

Dua pekan lalu pas mau liburan ke Batu, mampir lagi ke Indomaret Jalan Soekarno Hatta Malang deket jembatan untuk beli cemilan. Daaan waaw ketemu lagi dengan bungkusan putih langka itu hehehe, langsung ambil 3 bungkus. Pas sampe mobil, Fachri ponakan saya bilang kalo Chitato Indomie Goreng itu harus dimasak dulu sebelum dimakan. Ini baru hoax.

salam..

 

Layar Lebar

wide size
wide size

Kepikiran untuk beli monitor dengan ukuran lumayan gede. Minimal ukuran diagonal 20 inch. Alasan yang melatarbelakangi niat ini adalah kelegaan pengoperasian laptop yang ada di kosan.

Lenovo thinkpad Edge 120 keluaran tahun 2011 dengan layar 11,6 inch. Mau dijual yaa kok sayang karena performanya masih top notch untuk laptop keluaran tahun 2011.

Prosessor intel core i3 dengan RAM 4GB. Berasa high end jika dibandingkan dengan komputer desktop yang pernah dibelikan ayah tahun 2004. Tahun 2004 komputer dengan spesifikasi pentium 4 1.8GHz dengan RAM 128MB itu sudah lumayan oke. Harddisk hanya 40GB. Jaman multimedia belum serakus sekarang.

Awalnya ambil laptop dengan layar kecil dengan pemikiran bakal sering mobile bawa-bawa laptop. Ternyata beberapa tahun berselang, laptopnya lebih sering ngendon di kamar heuhue.

Cuman enaknya pakai laptop kalo mau pindah posisi ngelesot di lantai enak hehe. Mudah diangkat-angkat. Kalo dulu misal beli komputer desktop bakalan ribet dah.

Kepikiran juga biar enak pas pulang ke Malang laptop bisa dibawa. Jadi kalo butuh hiburan dari laptop bisa langsung digonjreng. Nah, realisasinya sih enggak juga. Malahan laptopnya jarang dibawa pas pulang ke Malang. Sebenarnya lebih pas beli hardisk external untuk menyimpan file mutimedia.

Bagaimana lalu dengan hidup minimalis..? apakah penambahan monitor ini sejalan dengan prinsip hidup minimalis..? Rasanya kok malah semacam kontradiktif.

Diskusi absurd pun terjadi. Diskusi self talk semacam di tulisan Mlebu Suwargo yang sudah terbit sebelumnya. Bla bla bli bli blu blu pun terjadi. Dialog imajiner dalam kepala hehe.

Kemudian mengingat juga kalo internet di kantor sudah jalan lancar. Walau masih ada restriksi ga masalah. Buka dashboard wordpress masih bisa. Apalagi udah ada monitor dua biji dan layarnya lebar. 21 inch dan 23 inch yang sehari-hari saya pake. Semakin menyurutkan langkah untuk membeli monitor besar hehe.

Belum lagi urusan nenteng monitor dari toko ke kosan. Itu juga bikin males untuk menambah monitor. Jadi ini sekedar pengen, bukan ke butuhan. Oke noted.

Ngomong-ngomong soal layar besar jadi inget sama trend membesarnya layar smartphone akhir-akhir ini. Kalo android beuh susah nyari layar yang di bawah 5 inch dengan spesifikasi yang mumpuni. Rata-rata android dengan layar kecil pada bapuk. Menyedihkan.

Dari pengalaman menggunakan smartphone selama ini, layar 5 inch itu rasanya kegedean banget. Bahkan punya Nokia Lumia 730 dengan layar 4.7 inch saja rasanya gede banget. Dimasukin kantong enggak enak. Hihihi…

Mau layar besar atau layar kecil, aplikasi yang digunakan ga berbeda jauh. Mungkin ada semacam kepuasan terselubung saat menggunakan layar yang lebih besar. Semacam ada kelegaan tersendiri. Ilusi layar besar.

Jadii ini kesimpulan yang sangat subyektif. Semakin besar layar smartphone maupun komputer tidak menjamin kebahagiaan penggunanya. Karena letak kebahagiaan sesungguhnya pada penggunaan smartphone terletak pada koneksi internetnya hehe.

Hmmm malah jadi ingat sama tulisan tentang spiritualitas Google. Hmm hmm hmm… next article maybeee…

salam..