DIMUDAHKAN KE JALAN KEMUDAHAN

Beberapa waktu lalu ketika Seminar Spiritual Kemakmuran di Jogjakarta anak saya Hissi Billaura Fasyarizan ngompol di kamar hotel. Banyak minum dan capai jalan-jalan jadikan dia ngompol.

Tahu anak ngompol di spring bed hotel, hati saya tenang saja, hanya ada sedikit rasa berdosa, hehehe. Andai dia ngompolnya di kasur rumah orang dalam posisi bertamu, seperti apa rasa berdosa saya?

Pernah di rumah kakak saya, Hissi mengompol, pagi-pagi pun saya harus gotong kasur untuk menjemur. Kebetulan di rumah kakak belum ada mesin cuci, mau tidak mau saya merendam sprai, lalu mencucinya.

Saya melakukan beres-beres akibat ompolan anak tentu diam-diam, kalau woro-woro dulu, tentu kena stop kakak.

Perkaranya sama-sama ngompol, tetapi ngompol di hotel, saya tidak begitu risi dan berdosa, namun di rumah kakak, saya merasa risi dan berdosa?

Masalahnya di hotel saya merasa “membayar”, sehingga merasa tidak terikat etika tinggi, sementara di rumah kakak, saya tidak bayar apa-apa, kecuali sekedar oleh-oleh bertamu, sehingga saya merasa terikat etika tinggi.

Dengan logika ini, ketidaknyamanan hidup itu sederhana sekali pengurai sebab musababnya. Sebabnya “kita terlalu banyak tidak membayar”.

Membayar di sini artinya mengeluarkan sesuatu dari diri kita kepada orang lain. Maka ini cek kembali diri kita, ketika kehidupan kita terasa ruwet, kehidupan di batin terasa sumpek, terasa jauh dari rasa harmoni.

Gaji 10 juta ternyata hanya bisa menikmati 500 ribu tiap bulan sebab banyaknya tagihan kreditan dan cicilan hutang. Kerja sudah mapan, tetapi duitnya terus-terusan habis sampai merasa kurang duit. Bisnis dan usaha sudah puluhan juta modalnya, tetapi hasilnya kecil. Kerja pokok sudah sangat disiplin ditambah kerja sampingan ini dan itu banyak sekali, tetapi tidak juga mengubah nasib rezeki. Ilmu sudah tinggi, tetapi tidak juga mendongkrak perubahan hidup.

Sudah menjadi tokoh ternama, tetapi kerap dicaci-maki dan digunjing masyarakat. Ibadah ritual dari yang fardhu sampai sunah sudah dilakukan dengan disiplin tinggi, tetapi rezeki tetap saja seret. Sudah menjadi ahli

Tahajud dan ngaji, tetapi musuh makin banyak. Di dalam keluarga ruwet dan penuh masalah, dan lain-lainnya. Segala hal yang tidak harmoni sepertinya sangat gemar mendatangi.

Chek kembali diri kita ke dalam, tentu kita terlalu banyak “menarik dari luar diri kita ke dalam ego kita”, kita terlalu banyak menarik bayaran daripada membayar kepada orang lain.

Kebiasaan bertamu namun enggan bawa oleh-oleh. Kebiasaan menerima tamu yang bawa oleh-oleh tetapi tidak memikirkan memberi oleh-oleh balik.

Kebiasaan menawar barang tinggi-tinggi tanpa peduli memikirkan kebahagiaan penjual. Kebiasan mendelegasikan tugas dan kerja pada teman sekantor tanpa memikirkan imbal baliknya.

Kebiasaan menyakiti perasaan orang lain. Kebiasaan malak harga saat jual beli kepada pembeli. Kebiasaan numpang gratis. Kebiasaan ngincar discount. Kebiasan minta traktir. Kebiasan egois dan menang sendiri.

Kebiasaan serakah dan sombong hati. Kebiasaan cukup ucapkan terima kasih. Dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang ujung urainya adalah “kita menarik keberlimpahan orang lain untuk kenyamanan kepentingan kita.”

Jadi itu masalahnya, kenapa hidup kita tidak kunjung membaik tetapi kunjung ruwet? Tarikan kita yang terlalu kencang dari luar diri kita ke dalam ego kita.

Nah bila pengurai sebab musabab keruwetan hidup kita adalah kezaliman kita menarik dari luar ke dalam ego kita, artinya kita lebih banyak dibayar daripada membayar, maka jalan pengurainya dengan langkah sebaliknya, ialah kita harus banyak-banyak memberi, banyak memberlimpahi orang lain.

Karena ini di Q.S. Al-Lail ayat 18 bahwa orang-orang yang diselamatkan dari keruwetan neraka adalah:
الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى ﴿١٨﴾
Artinya: ”
memberikankan hartanya untuk membersihkannya.” (Q.S. Al-Lail : 28)

Sehingga
ampah-sampah ego kita untuk memanggil keharmonisan hidup tidak lain adalah “memberi” alias berlatih melepas.

Dan di Q
da ayat sebelumnya sudah diurai jelas jalan bagaimana agar “dimudahkan menemukan jalan kemudahan”.
Jalan dimu
emukan kemudahan ada 3:

1). A’th
tinya membayar, mengeluarkan dari dalam ego ke luar diri kita.

2). Atqâ
Anda bertakwa kepada Tuhan, siapa yang dinilai berkarakter baik? Apa Tuhan menjadi tampak makin mulia dengan sumbangan karakter takwa Anda? Tidak. Tuhan tidak terpengaruh apapun dengan kebejatan ataupun ketakwaan Anda pada-Nya. Itu artinya ketika Anda bertakwa justru Anda sedang membangun karakter diri. Maka ini, takwa tidak lebih dari karakter Anda menghargai diri Anda sendiri. Jadi takwa adalah charater building Anda.

3). Shad
mengakui kebaikan. Ini adalah konsep penerimaan diri, berdamai dengan dirinya di dalam. Efek dari orang yang telah berdamai dengan dirinya di dalam, dia mudah sekali mengakui kebaikan yang muncul di luar dirinya.

Anda ser
orang-orang yang dengan enteng hati menyanggah satus fb Anda, padahal status fb Anda isinya bukan fitnah ataupun provokasi. Itu contoh orang yang tidak mengakui kebaikan. Orangnya suka nyinyir, suka ngeyel, suka membantah, suka memperbesar hoax dan lain-lain, termasuk yang masih menggemari pertengkaran dalam rumah tangga masuk dalam kategori ini.

Tiga hal
ditabrak, ya sudah mending modar saja, karena dijamin jalan yang ditemukan bukan “dimudahkan menemukan jalan mudah”, tapi “dimudahkan menemukan jalan ruwet”.

فَأَمَّا مَنْ<
5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْ
6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10)

Artinya: “Adapun orang yang memberi dan bertakwa, dan mengakui kebaikan, m
br>akan memudahkan baginya jalan kemudahan. Dan adapun orang-orang yang bakhil
menyombongkan kecukupannya, serta mendustakan kebaikan, maka kelak Kami akan meruwetkan baginya jalan keruwetan.” (Q.S. Al-Lail : 5 – 10). []


Yang akan segera hadir minggu ini:
Seminar Sp
u
kmuran Semarang, @Hom Hotel, Jln. Pandanaran Semarang. Mi
ember 2017.Hub
Saeful Richy Segara atau Tri Yulianto

0 Comments +

Comments are closed.