d i p t r a

s h o r t . n o t e s

menuju ruang hampa

Engkau dan aku, menuju ruang hampa. Mirip lirik lagunya Efek Rumah Kaca yaa. Ingat banget, akhir 2015 hinggak pertengahan 2016 lagu yang sehari-hari diputer yaa lagunya Efek RUmah Kaca ini.

Terkesima banget dengan barisan lagu-lagu yang terangkai dalam album Sinestesia. Rangkaian album paling aneh yang pernah saya dengarkan. Satu lagu termaktub bisa mencapai 10 menit.

Lah malah asik dengerin lagu-lagunya ERK di Spotify. Hening sih. Kebangun jam setengah dua. Puter lagu. Semoga enggak menggangu teman-teman sekosan yang lagi tidur.

Kemudian di antara jam setengah dua hingga saat ini, berbincang dengan kawan yang sedang transit di Ethiophia. Aah, edan mengadu nasib hingga meloncati benua-benua.

Katanya sih 13 jam perjalanan udara dari Ethiophia menuju bandara Soekarno Hatta. Eheeeuuum, saya sih dah biasa perjalanan 15-an jam dalam kereta PP Jakarta-Malang.

Jakarta-Malang yang kadang berisi kehampaan. Dan kali ini, tepat detik ini. Atau bisa jadi beberapa jam sebelum ini kehampaan itu begitu terasa. Tulisan ini, entah ada yang membacanya ataupun enggak, sebagai pengisi kehampaan itu.

Toh, kita semua pada akhirnya akan sama-sama menujua ruang hampa. Seperti tiadanya kesadaran sebelum terlahir menuju bumi, hingga beberapa tahun setelahnya. Berjalan tertatih menuju kehampaan. Memudar dalam kesuwungan.

Retro style cassette by

Sedari Selasa, 12 Maret 2019 ini, saya getol banget deh mengunggah pengajian Gus Baha' di platform Anchor.fm. Sumber pengajian Gus Baha' saya peroleh dari kanal Telegram Gus Baha'.

Kemudian saya publikasikan podcast yang sudah terupload di Anchor.fm ke media sosial. Demi mempublikasikan podcast Ngaji Gus Baha' ini, saya mengaktivasi lagi akun-akun media sosial.

Akhirnya, saya punya alasan kembali menggunakan media sosial. Kali ini dengan semangat menggebu, menyebarkan pengajian yang diampu oleh Gus Baha'.

Mem-podcast-kan pengajian Gus Baha' ini, terinspirasi dari diskusi serius dengan Mas Dion. Tentang perlunya pengajian yang membawa kesejukan seperti kajian Gus Baha' ini terdistribusi lebih baik di media digital.

Read more...

Calendar

Sudah mendekati sebulan tidak utak-atik media sosial. Tidak login. Hanya sesekali mendapat tautan menuju media sosial dari sejawat.

Tahun-tahun lalu juga sudah menerapkan detox media sosial. Tapi selalu terjadi relaps. Kembali lagi bermain media sosial setelah fase detox selesai.

Bahkan, dosis bermainnya ketika relaps malah meningkat. Well untuk mengatasi kecanduan saja sudah menghabiskan energi sendiri.

Lebih kurang dua pekan lalu, dorongan untuk membuka media sosial melalui browser menguat. Tak ada aplikasi di handphone, otak mencari jalan untuk meredakan efek candunya.

Nekat. Saya buka Facebook dan Instagram. Kemudian masuk ke menu settings untuk deaktivasi akun Facebook dan Instagram.

Tersisa Twitter. Twitter saya tetap aktif akunnya. Soalnya akun Twitter jika di-deaktivasi lebih dari 30 hari, maka akun akan dihapus secara permanen. Semacam masih ada kaitan hati dengan Twitter.

Dan sekarang, setelah proses menghapus aplikasi dan deaktivasi akun, dorongan untuk mengativasi akun media sosial kembali menguat.

Untunglah selama proses detox ini, saya mendapat alternatif kegiatan lain. kegiatan yang jauuuh lebih bermanfaat dan menyenangkan daripada sekedar scrolling layar handphone. Scrolling Feeds Instagram, Facebook dan Twitter.

Selama detox media sosial kali ini, saya menjadi rutin mendengarkan pengajian dari Gus Baha'. Kegiatan mendengarkan rekaman pengajian dari Gus Baha' layaknya oase yang selama ini saya cari. Oase dalam beragama dengan hati yang gembira.

Selama mendengarkan rekaman pengajian Gus Baha' saya malah mendapat banyak inspirasi. Salah satunya inspirasi untuk tak muncul ke permukaan. Khususnya dalam mencari ketenaran di media sosial.

Insight lainnya. Tak mengetahui kabar orang lain di media sosial ternyata jauh membuat hati dan hidup lebih tenang. Apalagi mendekati masa-masa pemilu, haaadddeeeeehhhh.

Pikiran juga menjadi lebih jenak. Ketika masih aktif bermedia sosial, pikiran ini rasanya selalu terdorong untuk membuat status update, instagram story, cuitan di twitter dari waktu ke waktu. Rasanya apa yang dipikirkan, dilihat, didengar, dialami harus tumpah di media sosial. Sekarang tak lagi seperti itu.

Bahkan, hasrat untuk menulis blog pun terjun bebas. Ini pun rasanya enggan untuk menulis di blog ini. Tapi yaa sudah kadung tertulis. Lagian, rasanya seru juga kok memindahkan pikiran yang akan ditulis di status update di blog ini.

Teruuuus, kalo enggak bermain media sosial artinya memutus silaturahmi dong? hiyaa hiyaa hiyaaa konyol sekali jika sampai ada pemikiran “tidak menggunakan media sosial sama dengan memutus silaturahmi”.

Faktanya adalah iri, dengki, hasud dan percek-cokan yang berujung pada pemutusan silaturahmi sering kali bermula dari status update di media sosial kok. Apalagi di Twitter.

Karena salah satu slogan anak Twitter adalah “Kami suka keributan”.

Salam, DiPtra

detox

Beberapa pekan lalu, merasa kelempoken media sosial. Mulai sadar.

Apalagi sejak muncul model story macem Snapchat di semua platform media sosial asuhan Facebook. Makin menggila saja penggunaan media sosial.

Media Social Detox (MSD) yang dilakukan kali ini enggak sampai menghapus atau deaktivasi akun. Cukup menghapus aplikasinya saja di handphone.

Enggak sampai overwhelmed dengan media sosial sih. Hanya saja kok ini banyak banget hal-hal enggak penting yang saya konsumsi di media sosial.

Oke, MSD kali ini mencakup WhatsApp story. Latihan enggak melihat dan memposting WhatsApp story.

Yaa udah gitu aja. Misal ndak liat saya aktif lagi di media sosial dalam segala bentuknya, bukan berarti saya menarik diri dari dunia sosial internet. Hanya mengambil jeda saja.

Ada banyak hal menarik untuk dipelajari di luar aktivitas mantengin media sosial. adios

#experiment

source

Flickr emang gila. Memberikan servis storage 1 TB kepada penggunannya. Termasuk pengguna gratisan. Tapi itu dulu.

Tahun lalu Flickr mulai berubah. Mengurangi layanan yang diberikan. Dari servis storage free 1 TB, menjadi terbatas 1000 foto saja.

Saya sih menggunakan Flickr. Saya gunakan untuk membackup foto-foto. Terutama foto-foto yang saya ambil menggunakan kamera hape.

Bisa dipastikan, goyangnya Yahoo menjadi penyebab. Google yang lebih superior saja, hanya memberikan free storage di Google Drive 15 GB. Lah ini Yahoo melalui Flickr ngasih storage 1 TB. Nekad.

Perubahan layanan Flickr ini tak terlalu bermasalah untuk saya. Karena saya hanya menggunakan Flickr untuk membackup foto-foto saja. Oh, iya Flickr membackup foto-foto pada ukuran byte file aslinya.

Berbeda dengan metode backup layanan Google Photo. Google Photo membackup foto-foto dengan mengurangi ukuran file. Namun tetap mempertahankan resolusi foto yang dibackup. Entah bagaimana algoritmanya, saya juga gak gitu paham.

Menariknya, Google Photo memberikan akses unlimited untuk foto-foto yang dibackup dengan metode pengurangan ukuran file. Namun tetap memberikan limitasi 15 GB jika membackup foto ukuran byte file aslinya.

Tenang, foto-foto yang terbackup di Google Photo bisa kita tentukan privasinya. Bisa kita setting hanya bisa dilihat sendiri. Bisa juga kita share untuk orang lain, bahkan untuk publik.

Cara Memanfaatkan Google Photo untuk Hosting Gambar di Web atau Blog

Teman saya, Fachri namanya, pusing. Dia pusing karena selama ini menggunakan Flickr. Dia menggunakan Flickr untuk meng-hosting foto-foto makanan yang ditampilkan di blognya. Blognya Fachri seputar kuliner, myeatandtravelstory.

Saya pun akhirnya kepikiran sesuatu. Seandainya saja foto-foto yang ada di Google Photo bisa digunakan untuk nge-hosting gambar di Web atau Blog kita.

Setelah mendapat ide “Hosting Image with Google Photo” ini saya coba-coba cari metodenya. Kali saja sudah ada yang bisa. Iseng-iseng sih pake cara manual “View Page Source” bisaaalah yaa. Tapi yaa kok rasanya menderita kalo harus mantengin source code tiap mau upload gambar.

Setelah kulik-kulik, akhirnya saya nemu juga metodenya. Metode “Hosting Image with Google Photo”. Caranya sederhana banget.

Pertama, kita generate link foto yang ingin kita share yang ada di Google Photo.

Kedua, copy-paste link yang sudah kita generate di layanan ini. Lalu klik Generate Code.

Ketiga, gunakan kode yang kita dapat di blog atau web kita. Nantinya kita akan mendapat dua macem kode. Kode direct link dan kode html.

Nah, gambar yang saya gunakan di bawah ini, adalah hasil eksperimen dengan “Hosting Image atau Gambar dengan Google Photo”.

Hosting Image atau Gambar dengan Google Photo

anyway Flickr masih belum tutup yaa. Hanya saja layanannya berkurang. Entah bakal bertahan sampai kapan.

#eksperimen

microphone

Kemarin, saya menginstall aplikasi Anchor. Aplikasi ajaib untuk membuat podcast.

Awalnya saya bingung gimana makenya tuh aplikasi Anchor.

update 22 Januari 2019

Setelah beberapa kali eksperimen menggunakan aplikasi Anchor akhirnya terbiasa juga.

Dan saya sudah sukses bikin channel podcast Monolog 5 Menit. Tapi akhirnya saya ganti nama channelnya Podcast 5 Menit. Soalnya kalo monolog kesannya kayak terlalu serius.

Salam, DiPtra

#experiment #podcast

Smile

Beberapa malam lalu, saya membaca sebuah buku. Karya Desi Anwar. Buku berjudul Hidup Sederhana.

Semcam buku bergenre kumpulan artikel refleksi hidup. Menarik untuk memperluas sudut pandang.

Pada satu chapter yang saya baca, ada beberapa hal menarik yang sempat saya catat. Berkaitan dengan kebahagiaan.

Read more...

aeroplane

Kemarin, saya kena jatah pesawat delay. Penerbangan Malang – Jakarta. Ada RI 1 mendarat di bandara Abdul Rahman Saleh. Semua penerbangan jadi delay.

Saya yaa sebel awalnya. Sebel karena delay. Terus jadi bingung ini kenapa saya kok jadi sebel.

Sebel karena bakal terlambat banget sampai di Jakarta. Kalo terlambat sampai di Jakarta, alamat enggak masuk kantor lagi.

Jelas merasa bersalah karena enggak masuk kantor. Dikulik lagi pattern berpikirnya. Maksudnya urutan pemikiran yang membuat sebel. Lebih kurang, seperti ini runutan pemikiran untuk mereduksi rasa sebal akibat kena jatah delay pesawat.

Read more...

Tilik Bayi

Ada tulisan bagus. Bukan tulisan saya sih. Tulisannya Gus Ulil Abshar Abdalla di FB.

Tulisan tentang budaya “Tilik Bayi”. Budaya menjenguk bayi yang baru lahir.

Ceritanya Gus Ulil lagi menjenguk anak ketiga dari Kyai Moqsith. Kemudian lahirlah tulisan pendek yang menarik.

Saya cuplik saja dua paragraf pertama. Karena titik beratnya ada di situ.

Kelahiran manusia adalah momen yang spesial. Setiap manusia yang lahir menandakan bahwa Tuhan sedang “tajalli” atau “menampakkan diri” di dunia. Karena itu, yang patut dirayakan bukan saja kelahiran Yesus dan Nabi Muhammad, melainkan kelahiran setiap manusia.

Itulah sebabnya, tradisi “tilik bayi” muncul dan berkembang di hampir semua masyarakat manusia di manapun. Ketika seorang bayi lahir, para kerabat dan sahabat nenengok dan merayakan momen kegembiraan itu, ditandai dengan sebuah simbol, yaitu “kado”.`

Kebetulan, beberapa pekan yang lalu dua rekan kerja saya juga mendapat anggota keluarga baru. Satu bayi perempuan dengan nomor urut anak keempat. Satu lagi bayi lelaki dengan nomor urut anak ketiga.

Sayangnya si bayi lelaki lahir mendekati jadwal libur panjang akhir tahun. Belom sempat di-“tilik bayi” rame-rame.

Salam, DiPtra

#repost

toilet

Baru tau. Untuk mengunggah gambar atau foto di unsplash membutuhkan approval.

Foto buku Filosofi Teras yang saya unggah kemarin, ternyata tidak diapprove oleh pihak Unsplash.

Tapi, entah gimana, gambarnya masih keluar di postingan kemarin itu.

Gambar featured boleh tidak di-approve, tapi link harus tetap hidup hehe.

Kedepan, misale wes jatuh hati bangeet sama write.as, bakal order yang pro subscription.

Sebelum itu, eksperimen dulu dengan Google Photo sebagai image hosting.

Google Photo

Salam, DiPtra

#experiment