Time to Rest

Harus istirahat juga akhirnya. Kecapekan habis perjalanan jauh dilanjut dengan begadang semalaman di TIM dari hari Jum’at malam hingga Sabtu pagi.

Belum sempat istirahat tuntas, harus melanjutkan acara workshop videography di Aston Rasuna Said. Nah di hari Ahad capek-capeknya ngumpul semua. Badan pegel-pegel disertai sedikit pilek.

Pijat refleksi 1,5 jam lumayan mengurangi kelelahan di badan. Paling tidak otot-otot yang kaku menjadi lemas. Cermin tak bisa berbohong, mata gatel seharian ternyata iritasi.

Mata memerah macam ingin mengeluarkan sharingan keluarga Uchiha di kisah Naruto hihi.. Obat tetes mata insto lumayan mengurangi iritasi mata yang saya alami.

Rupanya saya sudah zalim kepada badan saya sendiri. Lalai memberikan hak istirahat kepada badan. Terlalu memaksakan diri menjalani kegiatan yang sudah direncanakan.

Oke, waktunya bedrest seharian, semoga lekas membaik. Mengenali batas-batas diri agar tidak zalim kepada diri sendiri adalah sebuah keniscayaan yang harus saya patuhi.

salam..
dia yang terlalu memaksakan diri..

Kematian Perlahan Media Sosial

Gambar di atas adalah ilustrasi metafora perjalanan media sosial karya Brad Colbow.1 Awalnya media sosial adalah tempat berkumpul di dunia maya yang seru. Tak lama berselang, tempat berkumpul itu menjadi semakin ramai.

Hukum pasar pun berlaku, di mana ada keramaian di situ ada peluang untuk mendulang uang. Sebenarnya ini suatu hal yang wajar, namun jika pasar menjadi terlalu ramai, maka setiap orang saling berebut mencari perhatian agar lapaknya laku.

Maka terjadilah penawaran untuk beriklan dari pengelola media sosial agar dagangan di lapak bisa menarik perhatian banyak uang. Seperti yang sudah diketahui bersama, bahwa untuk berinteraksi menggunakan media sosial, tak perlu mengeluarkan biaya. Mungkin hanya perlu keluar biaya listrik dan pulsa internet.

Produk yang dijual oleh media sosial adalah database penggunanya. Dengan sasaran audiens yang lebih tertarget, maka pengguna media sosial adalah sasaran empuk bagi para pengiklan produk. Yaa, tanpa sadar data kita dijual oleh media sosial. Sebagian orang ada yang nyaman-nyaman saja ketika data mereka diperjualbelikan, sebagiannya lagi merasa risih.

Bahkan Path yang sebelumnya tidak menampilkan iklan di timeline-nya, kini mulai ikut-ikutan menampilkan iklan.

Saya termasuk golongan yang risih melihat gempuran iklan yang membanjiri media sosial. Apalagi tampilan iklan model pop up di website yang menutupi konten yang saya butuhkan. Atau mungkin kebanyakan orang tidak menyukai iklan..? Hmm entahlah.

Beberapa tahun yang lalu, Facebook masih belum mendominasi pasar media sosial. Saat itu, media sosial masih dikuasai oleh Friendster dan Myspace. Kemudian Friendster diserang oleh pasukan alay.

Akhirnya, banyak teman saya yang berpindah menggunakan Facebook dan Twitter. Kala itu Facebook dan Twitter masih belum menampilkan iklan. Tampilan newsfeed atau timeline kala itu masih mode sekuensial berurut waktu.

facebook 2008
Tampilan Facebook tahun 2008
Sekarang, hampir semua media sosial menggunakan mode algoritma engagement dalam menampilkan feed-nya. Jadi status update yang muncul di timeline kita yaa orangnya yang itu-itu saja.

Menilik beberapa media sosial yang sudah ditinggalkan penggunanya seperti MySpace, Friendster atau Plurk. Bahkan ada media sosial yang sudah tutup seperti Multiply. Maka dari itu, kurangnya hak pengelolaan penuh atas konten di media sosial, mendorong beberapa orang, termasuk saya, untuk menggulirkan blog.

Tidak menutup kemungkinan media sosial yang kini sedang berjaya akan menghentikan layanannya di waktu mendatang. Beberapa waktu yang lalu, Twitter menghentikan layanan video sharing miliknya, Vine.2

Jadi sudah waktunya untuk membangun blog sendiri.

Cara Mengirim File .Zip Melalui Whatsapp

Kali pertama diluncurkan, Whatsapp hanya memiliki fitur berkirim pesan seperti SMS menggunakan paket data internet. Boleh dibilang, Whatsapp saat itu head to head dengan BBM yang sedang merajai aplikasi instant messaging. Saat itu BBM hanya tersedia khusus untuk perangkat Blackberry.

Ceruk pasar selain pengguna perangkat Blackberry-lah yang disasar oleh Whatsapp saat itu. Whatsapp mem-branding dirinya sebagai aplikasi instant messaging multi platform. Bahkan Whatsapp juga tersedia pada perangkat Blackberry.

Symbian, Android, iOS dan Blackberry adalah sistem operasi yang didukung oleh Whatsapp di awal kemunculannya. Kini, setelah berhasil menumbangkan dominasi BBM, Whatsapp malah menarik diri dari sistem operasi Symbian dan Blackberry. Bahkan teman saya pengguna Blackberry mendadak heboh ketika Whatsapp mulai tidak bisa digunakan nanti bulan Juli 2017 pada perangkat dengan sistem operasi Blackberry.

Semejak Whatsapp diakuisisi oleh Facebook pada 19 Februari 2014 1, Layanan yang dimiliki Whatsapp berkembang dengan pesat hingga saat ini. Selain berkirim pesan dalam bentuk teks sebagai basis layanan, Whatsapp juga sudah memiliki fasilitas voice call dan video call. Praktis Whatsapp melibas aplikasi instant messaging sejenis.

Dalam hal bebagi file, Whatsapp juga sudah mendukung file berupa gambar, audio, video, lokasi GPS, Dokumen, dan daftar kontak. Berdasarkan pemakaian selama ini, tipe file Dokumen yang bisa dikirim melalui Whatsapp berupa file berekstensi .pdf, .doc, .xls dan .ppt.

Tadi siang, saya iseng percobaan mengirimkan file archive berekstensi .zip melalui Whatsapp. Ternyata Whatsapp tidak mendukung file dengan ekstensi .zip. Berbekal penasaran dan iseng, ternyata file dengan ekstensi .zip bisa dikirimkan melalui Whatsapp dengan trik khusus.

Mengubah Ekstensi File .zip

Untuk mengirimkan file archive .zip, cara yang saya lakukan adalah dengan  mengubah ekstensi .zip menjadi .pdf. Kemudian file tersebut saya kirim melalui Whatsapp. Alhamdulillah file tersebut berhasil sampai kepada teman saya di sisi penerima.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah file yang saya kirimkan berhasil dibuka atau tidak oleh teman saya. Berdasarkan info dari teman saya di sisi penerima, file yang sudah berubah ekstensi tersebut, file tidak bisa dibuka. Hmm jelaslah tak bisa dibuka karena ekstensi file yang diterima bukanlah ekstensi file yang seharusnya.

Download File .pdf

Agar file .zip bisa diekstrak, maka file berekstensi .pdf tersebut haruslah di-download terlebih dahulu. Sayangnya pada perangkat Android file .pdf yang diterima tidak dikenali dan tidak bisa disimpan di memori handphone. Sedangkan pada perangkat iOS, file .pdf yang diterima walaupun tidak dikenali namun tetap bisa disimpan ke memori handphone. Saya menggunakan aplikasi Documents 5 untuk menyimpan file .pdf tadi.2

Untuk menyiasati hal ini, maka aplikasi Whatsapp harus diakses melalui browser komputer atau laptop.3 Dengan mengakses Whatsapp melalui komputer, maka file .zip yang sudah berubah menjadi .pdf tersebut bisa di-download.

download file .pdf di whatsapp
klik tanda panah ke bawah dalam lingkaran untuk mendownload file .pdf di Whatsapp

Simpan File .pdf

Selanjutnya, simpan file tersebut di folder sembarang dalam komputer.

save file
Simpan file .pdf

Rename ekstensi file menjadi .zip dan ekstrak file

Kemudian rename atau ganti ekstensi file .pdf menjadi .zip

rename file .pdf
file yang akan di-rename adalah file 2017-ultimate-blog-planner-kit.pdf

Nanti akan ada konfirmasi perubahan ekstensi file seperti gambar berikut ini, tekan tombol “yes”..

konfirmasi perubahan
Konfirmasi perubahan ekstensi

Maka file akan berubah ekstensi menjadi .zip

berekstensi .zip
ekstensi file berubah menjadi .zip

Langkah terakhir adalah mengekstrak file berekstensi .zip tersebut..

ekstrak file .zip
Hasil ekstrak file .zip

Lebih kurang begitulah cara mengirimkan file berekstensi .zip melalui Whatsapp. Mungkin cara ini agak sedikit lebih ribet bila dibandingkan dengan meng-upload file ke cloud seperti Google Drive. Namun pada saat-saat tertentu, cara ini bisa digunakan untuk bertukar file yang tidak didukung oleh Whatsapp secara langsung.

Dari percobaan ini ada dua kesimpulan yang bisa saya diambil. Pertama, walaupun file berubah ekstensi, namun kode biner file yang dikirimkan melalui whatsapp tidak berubah. Sehingga ketika ekstensi file diubah, file asli tetap bisa dibaca.

Kedua, saya belum mengetahui ukuran maksimal file yang bisa dikirimkan melalui Whatsapp. Mungkin ada di antara kamu yang tahu berapa ukuran maksimal file yang bisa dikirimkan melalui Whatsapp.

Sekian semoga tips singkat ini bermanfaat

salam..
dia si raja ndangdut..

Mengikhlaskan Itu

Tulisan lama saya yang berjudul “Mengikhlaskan Itu” entah hilang kemana jejaknya. Seingat saya sudah berubah menjadi mode page ketika menggunakan platform Ghost bulan lalu. Padahal ingin saya posting ulang di blog ini.

Hmmm… akhirnya tulisan itu benar-benar harus diikhlaskan juga. Sebenarnya saya suka dengan alur tulisan itu. Apalagi ketika sampai pada punch line eek kotoran yang enggan masuk ke dalam saluran pembuangan akhir. Kemudian kotoran itu bisa ngomong “belum ikhlas yaa kakaaaak…” Ahh itu kenangan manis yang bikin geli-geli nyoi hehe..

Tapi saya harus move on dan ikhlas merelakan tulisan itu hilang. Jadi bukan sekedar dalam ucapan atau tulisan, namun juga langsung “didudukkan” untuk merasai ikhlas ketika tulisan hilang.

Anyway saya kemarin juga kembali dipaksa “didudukkan” dalam kondisi ikhlas menerima. Pasalnya, tripod yang hendak saya gunakan untuk merekam time lapse lalu lintas udara di Bandara Ngurah Rai, tidak bisa masuk ke dalam kabin pesawat.

Petugas bandara melarang saya membawa tripod. Mau tidak mau harus dititipkan melalui bagasi. Air muka saya langsung berubah ketika petugas bandara melarang saya membawa tripod masuk ke dalam kabin pesawat. Iya saya langsung bete.

Padahal penerbangan keberangkatan dari bandara Soekarno-Hatta ke bandara Ngurah Rai, tripod tetap bisa dibawa ke kabin pesawat. Mungkin pada kesempatan kali ini saya kurang beruntung.

Sebenarnya saya tak perlu bete, tapi seperti biasa, bete itu terjadi karena kenyataan tak sesuai dengan perkiraan. Ada tiga hal yang membuat saya bete saat itu.

Pertama saya berharap bisa merekam time lapse lalu lintas pesawat di bandara Ngurah Rai, akhirnya gagal. Padahal view dari ruang tunggu bandara bagus sekali untuk diabadikan dalam mode time lapse. Sebenarnya bisa disiasati dengan merekam manual tanpa tripod. Tapi karena sudah terlanjur bete yaa sudahlah, kesempatan merekamnya harus diikhalskan.

Kedua, saya paling malas jika harus menitipkan barang di bagasi ketika check in di bandara. Alasannya sederhana, proses antri ambil bagasi di bandara sering kali lama. Padahal penerbangan saya sekitar maghrib. Agak kurang nyaman jika harus sampai di kosan kemalaman hanya karena antri ambil bagasi.

Alasan ketiga adalah triod yang saya bawa cukup ringkih, karena didesain dari aluminium ringan khusus untuk smartphone. Saya khawatir tripod saya rusak jika dititipkan kedalam bagasi.

Selama di ruang tunggu, saya mencoba mengikhlas-ikhlaskan jika tripod di dalam bagasi nantinya mengalami cacat. Juga mengikhlaskan waktu yang terbuang untuk antri mengambil bagasi, sehingga sampai di kosan kemalaman.

Alhamdulillah, dengan mengurai pikiran mengenai hal-hal yang membuat saya bete, bisa mengurangi rasa bete itu sendiri. Ketiga hal di ataslah yang ternyata membuat saya bete. Tak bisa mengambil video time lapse lalu lintas bandara, tripod yang kemungkinan rusak, dan antri mengambil bagasi.

Setelah itu saya malah mengejek diri saya sendiri, “Halah hanya karena hal sepele mengenai tripod saja bete, cupu banget dah lu..” yak lebih kurang begitu bunyi ejekan terhadap diri sendiri. Dengan melakukan candaan terhadap diri sendiri ternyata bisa membuat rasa bete mereda. Dengan menertawakan keadaan dan kenyataan bisa meredakan rasa jengkel di hati.

Secara sederhana penyebab utama bete adalah kenyataan yang tak sesuai harapan dan kekhawatiran-kekhawatiran di masa mendatang. Padahal kekhawatiran itu belum tentu terjadi. Sering kali kita tertipu oleh ilusi yang dihadirkan oleh pikiran kita sendiri. Pikiran bukanlah kenyataan.

Dan benar, ternyata kekhawatiran yang saya perkirakan tidak terjadi. Tripod yang saya titipkan di bagasi sampai di tangan saya tanpa cacat dan tak sampai 5 menit antri mengambil bagasi. Saat itu hati saya sudah pasrah.

Saya cukup beruntung hari itu, karena tak sampai menunggu terlalu lama bus Damri arah Rawamangun yang menjadi bus tumpangan saya menuju kosan datang. Lebih kurang hanya menunggu selama 7 menit. Lalu lintas tol dari bandara menuju Rawamangun juga sangat lancar, alhamdulillah

Ternyata ketika hati dalam kondisi ikhlas dan nerimo, kenyataan yang terjadi di sekitar bisa disikapi dengan lebih bijak.

Oh iya mengenai kegagalan mengambil video time lapse lalu lintas bandara terobati dengan melihat video time lapse yang saya ambil ketika saya nongkrong sejenak di pantai Seminyak. Dan kali ini saya harus mengikhlaskan untuk tidak melihat bule-bule berbikini berkeliaran di sekitaran pantai seminyak. halah palsuuu

Hasil rekaman video time lapse pantai Seminyak menjelang matahari terbenam yang saya rekam, bisa disimak pada video di bawah ini…

Nah kalau video di bawah ini adalah video time lapse ketika anak saya sedang sarapan  di bibir pantai. Sarapan sambil main-main payung. Video ini sangat pendek sekali 😀

salam..
dia yang belum move on dari liburan.. :-p

Lingkaran Kecil

3 hari perjalanan. Tak intens terkoneksi dengan internet. Sesekali tiada terkoneksi dengan internet rupanya bisa menghadirkan rasa menyenangkan juga.

Hal lainnya adalah ketika dunia offline menawarkan pengalaman yang lebih menarik. Lebih membutuhkan perhatian.

Masih tetap hidup kok meskipun tak intens terkoneksi dengan internet. Kemudian timbullah sebuah kesadaran baru bahwa manusia yang mencoba eksis di internet-mencoba mencari panggung dunia maya-hanyalah sebuah lingkaran kecil dari kenyataan hidup.

Tak perlu menjadi prioritas utama. Apalagi sampai merenggut porsi besar waktu dalam keseharian.

#ORANGMAIYAH

Harus dimulai dari manakah jika harus membahas tetang orang Maiyah..? Apakah dari Cak Nun ataukah dari acara-acara Maiyah yang diadakan, baik yang bersifat rutin maupun insidental..?

Jika harus dimulai dari Cak Nun, maka Cak Nun sendiri kerap berujar jama’ah Maiyah bukanlah jama’ah miliknya. Bukan pula bahan baku dalam rangka meracik kue kekuasaan politik. Jika mau kekuasaan politik, maka Cak Nun sudah memetiknya di awal-awal reformasi.

Namun bila pembahasan harus dimulai dari acara rutin maupun insidental yang diadakan oleh simpul-simpul Maiyah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, maka Maiyah bukan semata kongkow-kongkow fisik dalam satu ruang dan waktu terbatas. “Cahaya” yang berpendar di ubun-ubun orang Maiyah melintasi dimensi ruang dan waktu.

Lebih kurang hampir dua tahun saya mengikuti acara Majelis Masyarakat Maiyah Kenduri Cinta. Sebuah simpul jama’ah Maiyah di Jakarta. Rasanya masih belum pantas bicara banyak tentang apa itu Maiyah dan bagaimana itu orang Maiyah.

Dalam salah satu tulisannya Cak Nun pernah menyebutkan bahwa ilmu adalah sebentuk energi. Dalam hal ini saya menfsiri energi dan ilmu memiliki persamaan-persamaan. Salah satu persamaannya adalah sama-sama meminta untuk dibagikan. Jika tidak dibagikan, maka ia akan menekan. Kini tekanan energi yang mewujud dalam pengalaman-pengalaman selama bermaiyah seolah-olah meluber, meminta dituangkan dan diceritakan.

Makna dan Asal Kata Maiyah

Jika jama’ah Maiyah ditanyai satu-satu apa itu Maiyah niscaya akan didapati jawaban yang beragam. Setiap orang Maiyah berdaulat dalam mendefinisikan apa itu Maiyah karena setiap jama’ah memiliki persinggungan yang berbeda-beda terhadap Maiyah itu sendiri.

Dari selentingan-selentingan ketika Maiyahan ataupun dari artikel-artikel tentang Maiyah, asal kata Maiyah berasal dari kata Maiyatullah yang berarti bersama Allah. Maiyah sendiri lebih merupakan sebuah komitmen terhadap nilai-nilai daripada terhadap bentuk. Maka Maiyah tidak pernah bisa disejajarkan dengan bentuk organisasi formal kemsyarakatan yang kita kenal.

Bolehlah kiranya disimpulkan secara sederhana bahwa orang Maiyah adalah orang-orang yang menghadiri pengajian berkomitmen terhadap nilai-nilai Maiyah. Lantas apa dan bagaimana itu nilai-nilai Maiyah..? Waduh, saya sendiri masih meraba-raba tentang nilai-nilai Maiyah itu seperti apa.

Namun jika disaripatikan dalam satu kata, maka saya mendefiniskan nilai-nilai Maiyah terangkum dalam kata ihsan. Ihsan sebagai sebuah terminologi yang sudah melingkupi nilai tentang islam dan iman.

Masyhur diketahui dalam riwayat ketika Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan bertanya tentang islam, iman dan ihsan. Ihsan sebagai sebentuk rasa dalam beribadah seolah-olah melihat Allah, namun jika tak mampu melihat maka yakini saja Allah selalu melihat kita. Dengan kata lain, ihsan adalah sebentuk rasa selalu membersamai atau dibersamai oleh Allah.

Mohon maaf sebelumnya atas kekurangtepatan dalam menarik benang merah antara nilai Maiyah dengan kata ihsan. Mungkin saya terlalu lancang, padahal Cak Nun sendiri ketika ditanya apa itu Maiyah, maka beliau pelit dalam jawaban karena tiga hal. Kata Cak Nun, sebab pertama adalah lebih baik saya *nyolokin *lombok rawit ke mulut orang Maiyah daripada duduk menerangkan dan mengurai panjang lebar tentang makna lombok kepada mereka.

Dengan kata lain, Cak Nun ingin menyampaikan bahwa daripada menjelaskan panjang lebar tentang Maiyah maka lebih baik datang dan merasai sendiri sensasi bermaiyah. Sensasi beragam rasa ketika menghadiri pengajian Maiyah. Dalam hal ini Maiyahan sebagai sarana mengasah rasa.

Sedangkan sebab kedua dan ketiga mengapa Cak Nun pelit dalam menjawab pertanyaan apa itu Maiyah, silahkan ditelusuri sendiri di buku yang berjudul Orang Maiyah tebitan Bentang Pustaka. Biar lebih *sreg * gitu bacanya. Daripada saya menjelaskan panjang lebar.

Karena menjadi asbab hidayah bagi satu orang saja lebih baik daripada dunia seisinya sak-telek-telek’e.
-Cak Nun-

Sejarah Singkat Maiyah

Sejarah singkat Maiyah sendiri berakar dari pengajian Padhang Mbulan di Jombang. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2001, pengajian Padhang Mbulan bermetamorfosis menjadi Maiyah. Sedangkan Pengajian Padhang Mbulan dimulai sejak tahun 1993.

Kemudian, dari pengajian Padhang Mbulan menyebar ke daerah-daerah lain dengan nama yang berbeda. Ada Bangbang Wetan, Kenduri Cinta, Juguran Syafaat, Mocopat Syafaat dan simpul-simpul Maiyah yang lainnya.

Kebetulan saya tinggal di Jakarta, maka simpul Maiyah yang kerap saya hadiri adalak Kenduri Cinta. Dari beberapa kesempatan Maiyahan, saya mendapati Kenduri Cinta adalah sebagai bentuk penghiburan yang dilakukan olah Cak Nun dan Kiai Kanjeng pasca raformasi 98.

Dimana saat itu, Jakarta adalah wilayah yang paling muram dalam menyaksikan detik-detik reformasi. Maka dari gang ke gang di Jakarta, Cak Nun bersama Kiai Kanjeng mengajak masyarakat Jakarta yang bermuram durja untuk bershalawat. Beshalawat untuk menyalakan lagi pijar-pijar semangat hidup.

Terang dalam kegelapan, kaya dalam kemiskinan.
-Cak Nun-

Pengalaman Maiyahan

Karena Cak Nun sudah beberapa kali nyolokin lombok ke mulut saya untuk merasai makna lombok di Kenduri Cinta, maka berilah saya ijin menceritakan sedikit pengalaman selama Maiyahan.

Awalnya saya mengira Jama’ah Maiyah adalah jama’ah pengajian ibu-ibu yang diayomi oleh Cak Nun. Lebih kurang saya memiliki gambaran Maiyah itu seperti jama’ah curhat dong mama yang rutin muncul pagi-pagi di salah satu TV swasta. Yaa saya #nomention lah yaaa tentang jama’ah curhat dong mama ini.

Lebih dari itu, karena selentingan kanan-kiri-atas-bawah-depan-belakang bahwa Cak Nun adalah seorang tokoh kontroversial. Kiai Mbeling orang bilang. Bahkan sampai ada yang melabeli Cak Nun sesat. Haduh-haduh saya menyesal pernah menelan mentah-mentah tentang hal ini.

Dulu, masa-masa SMA saya begitu membenci Gus Dur, sebabnya sederhana yaitu saya membaca tentang Gus Dur hanya dari media-media yang membenci beliau juga. Ketika Gus Dur meninggal, saya mulai membaca sepak terjang Gus Dur ketika masih hidup. Makbedunduk saya merasa *trenyuh *karena pernah membenci Gus Dur. Nah, untuk selentingan-selentingan tentang Cak Nun, saya tidak ingin kecolongan lagi kali ini.

Kebetulan saat itu saya sedang ngefans sama Presiden Jancukers Mbah Sudjiwo Tedjo. Pas lihat youtube, saya nemu rekaman Mbah Sudjiwo Tedjo sedang ledek-ledekan dengan Cak Nun di Kenduri Cinta. Maka kemudian saya menjadi penasaran dan mempertanyakan acara macam apa sih Kenduri Cinta itu. Ada apa saja di dalamnya.

Adalah Mustofa, teman kerja saya yang sering kali membahas Cak Nun dan Maiyahan Bangbang Wetan yang sering dia ikuti semasa “nyantri” di ITS Surabaya. Sambung menyambung itulah Indonesia, sambung menyambung dikusi antara saya dan Mustofa, maka di hari Jum’at pekan ke dua bulan April 2015, saya berkongsi dengan Mustofa menghadiri Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki.

Maiyahan pertama saya bertanya-tanya, ini acara apaan..? Di dalamnya orang bicara ngalor-ngidul beratraksi yang saya ga mudheng. Ada juga yang mbanyol saling bercanda. Ada juga pembacaan puisi yang saya juga ga mudheng dan hal yang paling membuat saya ga mudheng *adalah hadirnya Mas Beben yang menampilkan musik *jazz. Oke, kepala saya pening dan bintang-bintang imajiner di pelupuk mata mulai berpendar-pendar mendefinisikan acara macam apa ini Kenduri Cinta.

Kenduri Cinta ini pengajian atau acara penampilan orkes..? Beberapa kali hadir mengikuti Kenduri Cinta saya mulai paham bahwa beragamnya hal yang dihadirkan di Kenduri Cinta adalah sebuah usaha untuk mewadahi individu-individu yang berbeda dan saling menghormati perbedaan itu.

Suatu ketika dalam sesi diskusi di Kenduri Cinta, ada seorang jama’ah dengan “berapi-api” membahas terminologi syariat-tariqat-hakikat-makrifat. Terus terang dari apa yang saya pahami, jama’ah yang “berapi-api” tersebut ngawur dalam menyampaikan terminologi tersebut. Saya sampai bertatap mata, mengakat alis dan melempar senyum kepada salah satu jama’ah yang duduk di sebelah saya.

Namun anehnya, tak ada respon ejekan dari seluruh jama’ah yang hadir. Bahkan memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi. Begitu besarnya apresiasi di dalam Maiyah terhadap perbedaan, tak pernah saya menemukan gontok-gontokan selama Maiyahan. Karena kalau *gontok-gontokan *bukan Maiyah namanya..?

Hal yang ada hanyalah kehangatan kebersamaan, kuat duduk bersama dari jam 20.00 hingga jam 03.00 dini hari. Bersama-sama menikmati canda tawa. Bersama-sama menikmati diskusi yang berobot dan mencerahkan. Bersama-sama menikmati syahdunya kerinduan kepada Kanjeng Nabi dalam bait-bait shalawat. Aaah suasana seperti inilah yang saya rindukan setiap bulan. Ketika tak bisa hadir ada rasa gelo di dalam hati, yaa walaupun saat ini streaming audio Maiyahan sudah bisa dinikmati atau bisa juga disimak rekamannya di youtube. Namun tetap kehadiran secara fisik terasa lebih afdhal.

Merawat Pohon-Pohon Maiyah

Waktu membaca agenda acara Cak Nun menghadiri simpul-simpul Maiyah di seluruh Indonesia, saya bertanya-tanya, Cak Nun ini ngapain sih mau-maunya keliling Indonesia hanya untuk Maiyahan. Macam kurang kerjaan saja. Lantas bagaimana dengan keluarganya di Jogja yang hampir setiap hari ditinggal, apa enggak protes..? Hmm pertanyaan-pertanyaan nakal saya itu dijawab oleh Cak Nun di buku Istriku Seribu

Kemudian, saat membaca timeline Twitter pada tanggal 4 November 2016 lalu, saya mulai faham tentang analogi merawat pohon. Saat itu saya ingin membaca update perkembangan aksi saudara-saudara saya di sekitaran Monas terkait Ahok. Namun, saya mendapati anomali timeline *Twitter yang dibanjiri oleh *hashtag *#CakNun dan #OrangMaiyah. Bahkan *hashtag #CakNun menjadi *trending topic *hari itu.

Saya mencoba menafsir-nafsirkan anomali ini adalah sebentuk upaya dari #ORANGMAIYAH untuk “mendinginkan” konstelasi perdebatan tentang Ahok di social media. Awalnya saya mengira *timeline *Twitter akan memanas, ternyata malah adem ayem tentrem kerto rahardjo. Mungkin ini salah satu hasil keteduhan rimbunan daun “pohon-pohon” yang rutin disambangi oleh Cak Nun.

Yaa, saya menganalogikan indvidu-individu yang hadir di Maiyahan sebagai pohon. Cak Nun dalam hal ini sebagai orang yang ditokohkan tapi tak dikultuskan berperan sebagai Pak Tani yang merawat Pepohonan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pohon-pohon yang diharapkan memiliki akar tauhid yang menghunjam kuat kedalam tanah. Memilki batang mental yang kuat bersungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai Maiyah dan menghadirkan keteduhan dari rimbunan daun akhlak. Syukur-syukur menyuguhkan buah manfaat yang manis kepada orang yang berteduh di bawahnya.

Sebenarnya masih ada hal-hal lain yang ingin saya sampaikan perihal #ORANGMaiyah ini, tapi jika diterus-teruskan saya khawatir tak ada habisnya.

Akhirul kalam semoga tulisan ini bisa sedikit memberikan gambaran tentang apa itu Maiyah dan Orang Maiyah.

Hidup orang Maiyah tidak tergantung kekayaan dan atau kemiskinan, tetapi tergantung pada proses pembelajaran menggunakan akal dan nuraninya untuk menyutradarai hidup menuju yang pantas dituju.
-Cak Nun-

Penonton

Cepat sekali waktu berlalu, pekan kedua di awal tahun 2017 sudah memasuki akhir. Semarak kembang api dan acara tahun baru sudah ditelan oleh keriuhan debat Pilkada Jakarta yang berlangsung Jum’at malam kemarin.

Saya sih tak terlalu mengikuti lagi perkembangan seputar Pilkada Jakarta 2017. Namun saya jadi ingat ketika menjadi saksi pemungutan suara Pilkada Jakarta 2012. Saya ingat, di tahun 2012 itulah momen-momen mulai memanasnya perpolitikan Indonesia di media sosial.

Seorang teman saya yang menjadi simpatisan salah satu partai pendukung Cagub waktu itu, meminta saya menjadi saksi pemungutan suara di TPS di lingkungan sekitar kosan saya. Saya terima saja tawaran dari teman saya waktu itu, dengan dasar mencari pengalaman. Yeah ini pengalaman pertama saya bersentuhan dengan dunia perpolitikan walau hanya menjadi saksi dari salah satu Cagub.

Saya juga sudah lupa menjadi saksi dari pihak Cagub yang mana waktu itu. Saya hanya ingat, saat itu sedang semarak majunya Jokowi menjadi Cagub Jakarta.

Cukuplah Facebook, Twitter dan media-media online mainstream yang membahas intrik politik yang terjadi dewasa ini. Saya lebih tertarik mengamati perilaku para pendukung masing-masing Cagub.

Tadi pagi saya mengintip sejenak timeline Twitter. Hmm sudah mulai memanas. Saling bully antar sesama pendukung mulai dilancarkan.

Saya enggak ikutan lagi deh kalo bully-bully-an. Masih banyak hal penting lainnya daripada ikut mikirin urusan politik. Politik dan tetek bengek-nya yang menjadi turunan. Bahkan menjadi penambah keruwetan.

Saya membayangakan diskusi dan saling ledek antar pendukung Cagub Pilkada kali ini tak lebih dari obrolan di warung kopi. Obrolan santai sambil menenggak segelas kopi ditemani satu dua pisang goreng hangat.

Hanya saja berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Satunya di warung kopi yang terbatas dalam hal ruang dan waktu. Sedangkan warung kopi dunia internet ruang dan waktunya tak terbatas.

Sewaktu-waktu dan di mana pun celoteh warung kopi tentang pilkada bisa diakses.

Baik di internet maupun di warung kopi, kayaknya mendingan jadi penonton saja. Menonton pertandingan politik layaknya menonton pertandingan sepak bola.

Lagian saya tidak punya hak pilih. Semacam ndangdut jika harus menguras perhatian, waktu, tenaga dan emosi.

Lebih baik melakan hal lain yang bermanfaat dan menyenangkan. Well, have a nice weekend

Salam
dia yang sedang menonton ehem ehem…