Mengotori Kolam Ikan

Cukup menyesal saya pernah mengotori “lapak” kolam ikan orang lain satu setengah tahun yang lalu. Tak sadar karena disulut oleh rasa tidak suka atas ketidakadilan yang terjadi. Padahal batas-batas keadilan dan perihal standart baik-buruk setiap orang berbeda-beda. Apalagi ketidakadilan yang saya permasalahkan berada pada areal yang boleh dibilang abu-abu.

Beberapa bulan yang lalu hampir saja terulang hal yang sama. Merusuhi “lapak” kolam ikan orang lain. Jika ditelisik lebih jauh kedalam puing-puing pikiran, tak ada gunanya juga mengganggu ekosistem “lapak” kolam ikan orang lain. Walau niatan awalnya adalah memberikan remang-remang peringatan kepada personal-personal penghuni kolam ikan.

Kemudian saya khawatir niatan itu berubah menjadi ayat kelima surat Al-Falaq. Atau dengan kata lain saya menjadi pelaku dengki dan hasud yang dimaksud oleh ayat kelima surat Al-Falaq. Sehingga saya menjadi obyek yang kejahatannya harus ditangkal dengan memohon pertolongan kepada Tuhan. Astaghfirullahal’adziiim..

Untunglah waktu jalan-jalan di Instagaram, saya membaca quotes yang berbunyi..

Semoga jika belum mampu memberi bunga untuk orang lain, kita tak berniat mengotori tamannya. – Adjie Santosoputro

Pesan singkat itu cukup meredam keruwetan pikiran. Quote itu juga senada dengan pemahaman kolam ikan yang saya reka-reka. Secara sederhana saya simpulkan, jangan rese’ dengan hal-hal yang “mubah” walaupun tak sejalan dengan nilai-nilai keadilan versi diri sendiri.

Sejalan dengan itu, saya membaca ulang tulisan lama saya yang berjudul membiru, kala pikiran dan hati sedang sengit. Diam dan mengurai kekusutan pikiran lebih saya dahulukan.

Kembali kepada surat Al-Falaq, di ayat kedua disebutkan permohonan perlindungan terhadap kejahatan makhluk-Nya. Selama ini frasa “makhluk-Nya” kerap saya tudingkan kepada individu di luar saya. Padahal, saya juga termasuk makhluk Tuhan.

I’m my own worst enemy – Linkin Park

Jadi dengan perenungan mendalam saya menghikmahi bahwa diri sendiri adalah makhluk Tuhan yang paling sering berlaku jahat kepada dirinya sendiri. Terlebih ketika kegelapan menyelimuti hati dan pikiran. Kegelapan yang juga berhembus dari gosip-gosip picisan. Kegelapan yang melingkupi rasa iri dan dengki.

Pantaslah Nabi Adam AS bermunajat kepada Tuhan selama bertahun-tahun yang diabadikan dalam surat Al-A’raf ayat 23,

Rabbana dzalamnaa anfusana wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanakunanna minal khasirin.

Kemudian hening menyelimuti hati.

salam..
dia yang sedang membiru

Advertisements

6 thoughts on “Mengotori Kolam Ikan

  1. Konsep keadilan untuk setiap orang memang berbeda-beda ya, jadi karena perbedaan itu juga kadang terjadi kesalah pahaman. Mungkin mentoleransi bisa menjadi solusi juga 🙂
    Btw blog nya baru lagii yaa?? kok post lamanya engga ada hehehe. kalau yang artpid.wordpress.com memang tidak aktif atau gimanaa?

    Like

    1. Iya Mas Fahri, saya cukup menyesal hingga saat ini. jadi misalkan bisikan kekampretan itu muncul saya tahan sebisa mungkin tidak bersuara.

      blognya masih alamat lama sih. Kemarin sempat pindahan ke plaform Ghost. Tapi balik kucing pake wordpress lagi hihihi. Post lamanya masih ada kok. Cuman tahun 2017 pengen fresh start ajah sih hihi..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s