#ORANGMAIYAH

Harus dimulai dari manakah jika harus membahas tetang orang Maiyah..? Apakah dari Cak Nun ataukah dari acara-acara Maiyah yang diadakan, baik yang bersifat rutin maupun insidental..?

Jika harus dimulai dari Cak Nun, maka Cak Nun sendiri kerap berujar jama’ah Maiyah bukanlah jama’ah miliknya. Bukan pula bahan baku dalam rangka meracik kue kekuasaan politik. Jika mau kekuasaan politik, maka Cak Nun sudah memetiknya di awal-awal reformasi.

Namun bila pembahasan harus dimulai dari acara rutin maupun insidental yang diadakan oleh simpul-simpul Maiyah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, maka Maiyah bukan semata kongkow-kongkow fisik dalam satu ruang dan waktu terbatas. “Cahaya” yang berpendar di ubun-ubun orang Maiyah melintasi dimensi ruang dan waktu.

Lebih kurang hampir dua tahun saya mengikuti acara Majelis Masyarakat Maiyah Kenduri Cinta. Sebuah simpul jama’ah Maiyah di Jakarta. Rasanya masih belum pantas bicara banyak tentang apa itu Maiyah dan bagaimana itu orang Maiyah.

Dalam salah satu tulisannya Cak Nun pernah menyebutkan bahwa ilmu adalah sebentuk energi. Dalam hal ini saya menfsiri energi dan ilmu memiliki persamaan-persamaan. Salah satu persamaannya adalah sama-sama meminta untuk dibagikan. Jika tidak dibagikan, maka ia akan menekan. Kini tekanan energi yang mewujud dalam pengalaman-pengalaman selama bermaiyah seolah-olah meluber, meminta dituangkan dan diceritakan.

Makna dan Asal Kata Maiyah

Jika jama’ah Maiyah ditanyai satu-satu apa itu Maiyah niscaya akan didapati jawaban yang beragam. Setiap orang Maiyah berdaulat dalam mendefinisikan apa itu Maiyah karena setiap jama’ah memiliki persinggungan yang berbeda-beda terhadap Maiyah itu sendiri.

Dari selentingan-selentingan ketika Maiyahan ataupun dari artikel-artikel tentang Maiyah, asal kata Maiyah berasal dari kata Maiyatullah yang berarti bersama Allah. Maiyah sendiri lebih merupakan sebuah komitmen terhadap nilai-nilai daripada terhadap bentuk. Maka Maiyah tidak pernah bisa disejajarkan dengan bentuk organisasi formal kemsyarakatan yang kita kenal.

Bolehlah kiranya disimpulkan secara sederhana bahwa orang Maiyah adalah orang-orang yang menghadiri pengajian berkomitmen terhadap nilai-nilai Maiyah. Lantas apa dan bagaimana itu nilai-nilai Maiyah..? Waduh, saya sendiri masih meraba-raba tentang nilai-nilai Maiyah itu seperti apa.

Namun jika disaripatikan dalam satu kata, maka saya mendefiniskan nilai-nilai Maiyah terangkum dalam kata ihsan. Ihsan sebagai sebuah terminologi yang sudah melingkupi nilai tentang islam dan iman.

Masyhur diketahui dalam riwayat ketika Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah dan bertanya tentang islam, iman dan ihsan. Ihsan sebagai sebentuk rasa dalam beribadah seolah-olah melihat Allah, namun jika tak mampu melihat maka yakini saja Allah selalu melihat kita. Dengan kata lain, ihsan adalah sebentuk rasa selalu membersamai atau dibersamai oleh Allah.

Mohon maaf sebelumnya atas kekurangtepatan dalam menarik benang merah antara nilai Maiyah dengan kata ihsan. Mungkin saya terlalu lancang, padahal Cak Nun sendiri ketika ditanya apa itu Maiyah, maka beliau pelit dalam jawaban karena tiga hal. Kata Cak Nun, sebab pertama adalah lebih baik saya *nyolokin *lombok rawit ke mulut orang Maiyah daripada duduk menerangkan dan mengurai panjang lebar tentang makna lombok kepada mereka.

Dengan kata lain, Cak Nun ingin menyampaikan bahwa daripada menjelaskan panjang lebar tentang Maiyah maka lebih baik datang dan merasai sendiri sensasi bermaiyah. Sensasi beragam rasa ketika menghadiri pengajian Maiyah. Dalam hal ini Maiyahan sebagai sarana mengasah rasa.

Sedangkan sebab kedua dan ketiga mengapa Cak Nun pelit dalam menjawab pertanyaan apa itu Maiyah, silahkan ditelusuri sendiri di buku yang berjudul Orang Maiyah tebitan Bentang Pustaka. Biar lebih *sreg * gitu bacanya. Daripada saya menjelaskan panjang lebar.

Karena menjadi asbab hidayah bagi satu orang saja lebih baik daripada dunia seisinya sak-telek-telek’e.
-Cak Nun-

Sejarah Singkat Maiyah

Sejarah singkat Maiyah sendiri berakar dari pengajian Padhang Mbulan di Jombang. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2001, pengajian Padhang Mbulan bermetamorfosis menjadi Maiyah. Sedangkan Pengajian Padhang Mbulan dimulai sejak tahun 1993.

Kemudian, dari pengajian Padhang Mbulan menyebar ke daerah-daerah lain dengan nama yang berbeda. Ada Bangbang Wetan, Kenduri Cinta, Juguran Syafaat, Mocopat Syafaat dan simpul-simpul Maiyah yang lainnya.

Kebetulan saya tinggal di Jakarta, maka simpul Maiyah yang kerap saya hadiri adalak Kenduri Cinta. Dari beberapa kesempatan Maiyahan, saya mendapati Kenduri Cinta adalah sebagai bentuk penghiburan yang dilakukan olah Cak Nun dan Kiai Kanjeng pasca raformasi 98.

Dimana saat itu, Jakarta adalah wilayah yang paling muram dalam menyaksikan detik-detik reformasi. Maka dari gang ke gang di Jakarta, Cak Nun bersama Kiai Kanjeng mengajak masyarakat Jakarta yang bermuram durja untuk bershalawat. Beshalawat untuk menyalakan lagi pijar-pijar semangat hidup.

Terang dalam kegelapan, kaya dalam kemiskinan.
-Cak Nun-

Pengalaman Maiyahan

Karena Cak Nun sudah beberapa kali nyolokin lombok ke mulut saya untuk merasai makna lombok di Kenduri Cinta, maka berilah saya ijin menceritakan sedikit pengalaman selama Maiyahan.

Awalnya saya mengira Jama’ah Maiyah adalah jama’ah pengajian ibu-ibu yang diayomi oleh Cak Nun. Lebih kurang saya memiliki gambaran Maiyah itu seperti jama’ah curhat dong mama yang rutin muncul pagi-pagi di salah satu TV swasta. Yaa saya #nomention lah yaaa tentang jama’ah curhat dong mama ini.

Lebih dari itu, karena selentingan kanan-kiri-atas-bawah-depan-belakang bahwa Cak Nun adalah seorang tokoh kontroversial. Kiai Mbeling orang bilang. Bahkan sampai ada yang melabeli Cak Nun sesat. Haduh-haduh saya menyesal pernah menelan mentah-mentah tentang hal ini.

Dulu, masa-masa SMA saya begitu membenci Gus Dur, sebabnya sederhana yaitu saya membaca tentang Gus Dur hanya dari media-media yang membenci beliau juga. Ketika Gus Dur meninggal, saya mulai membaca sepak terjang Gus Dur ketika masih hidup. Makbedunduk saya merasa *trenyuh *karena pernah membenci Gus Dur. Nah, untuk selentingan-selentingan tentang Cak Nun, saya tidak ingin kecolongan lagi kali ini.

Kebetulan saat itu saya sedang ngefans sama Presiden Jancukers Mbah Sudjiwo Tedjo. Pas lihat youtube, saya nemu rekaman Mbah Sudjiwo Tedjo sedang ledek-ledekan dengan Cak Nun di Kenduri Cinta. Maka kemudian saya menjadi penasaran dan mempertanyakan acara macam apa sih Kenduri Cinta itu. Ada apa saja di dalamnya.

Adalah Mustofa, teman kerja saya yang sering kali membahas Cak Nun dan Maiyahan Bangbang Wetan yang sering dia ikuti semasa “nyantri” di ITS Surabaya. Sambung menyambung itulah Indonesia, sambung menyambung dikusi antara saya dan Mustofa, maka di hari Jum’at pekan ke dua bulan April 2015, saya berkongsi dengan Mustofa menghadiri Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki.

Maiyahan pertama saya bertanya-tanya, ini acara apaan..? Di dalamnya orang bicara ngalor-ngidul beratraksi yang saya ga mudheng. Ada juga yang mbanyol saling bercanda. Ada juga pembacaan puisi yang saya juga ga mudheng dan hal yang paling membuat saya ga mudheng *adalah hadirnya Mas Beben yang menampilkan musik *jazz. Oke, kepala saya pening dan bintang-bintang imajiner di pelupuk mata mulai berpendar-pendar mendefinisikan acara macam apa ini Kenduri Cinta.

Kenduri Cinta ini pengajian atau acara penampilan orkes..? Beberapa kali hadir mengikuti Kenduri Cinta saya mulai paham bahwa beragamnya hal yang dihadirkan di Kenduri Cinta adalah sebuah usaha untuk mewadahi individu-individu yang berbeda dan saling menghormati perbedaan itu.

Suatu ketika dalam sesi diskusi di Kenduri Cinta, ada seorang jama’ah dengan “berapi-api” membahas terminologi syariat-tariqat-hakikat-makrifat. Terus terang dari apa yang saya pahami, jama’ah yang “berapi-api” tersebut ngawur dalam menyampaikan terminologi tersebut. Saya sampai bertatap mata, mengakat alis dan melempar senyum kepada salah satu jama’ah yang duduk di sebelah saya.

Namun anehnya, tak ada respon ejekan dari seluruh jama’ah yang hadir. Bahkan memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi. Begitu besarnya apresiasi di dalam Maiyah terhadap perbedaan, tak pernah saya menemukan gontok-gontokan selama Maiyahan. Karena kalau *gontok-gontokan *bukan Maiyah namanya..?

Hal yang ada hanyalah kehangatan kebersamaan, kuat duduk bersama dari jam 20.00 hingga jam 03.00 dini hari. Bersama-sama menikmati canda tawa. Bersama-sama menikmati diskusi yang berobot dan mencerahkan. Bersama-sama menikmati syahdunya kerinduan kepada Kanjeng Nabi dalam bait-bait shalawat. Aaah suasana seperti inilah yang saya rindukan setiap bulan. Ketika tak bisa hadir ada rasa gelo di dalam hati, yaa walaupun saat ini streaming audio Maiyahan sudah bisa dinikmati atau bisa juga disimak rekamannya di youtube. Namun tetap kehadiran secara fisik terasa lebih afdhal.

Merawat Pohon-Pohon Maiyah

Waktu membaca agenda acara Cak Nun menghadiri simpul-simpul Maiyah di seluruh Indonesia, saya bertanya-tanya, Cak Nun ini ngapain sih mau-maunya keliling Indonesia hanya untuk Maiyahan. Macam kurang kerjaan saja. Lantas bagaimana dengan keluarganya di Jogja yang hampir setiap hari ditinggal, apa enggak protes..? Hmm pertanyaan-pertanyaan nakal saya itu dijawab oleh Cak Nun di buku Istriku Seribu

Kemudian, saat membaca timeline Twitter pada tanggal 4 November 2016 lalu, saya mulai faham tentang analogi merawat pohon. Saat itu saya ingin membaca update perkembangan aksi saudara-saudara saya di sekitaran Monas terkait Ahok. Namun, saya mendapati anomali timeline *Twitter yang dibanjiri oleh *hashtag *#CakNun dan #OrangMaiyah. Bahkan *hashtag #CakNun menjadi *trending topic *hari itu.

Saya mencoba menafsir-nafsirkan anomali ini adalah sebentuk upaya dari #ORANGMAIYAH untuk “mendinginkan” konstelasi perdebatan tentang Ahok di social media. Awalnya saya mengira *timeline *Twitter akan memanas, ternyata malah adem ayem tentrem kerto rahardjo. Mungkin ini salah satu hasil keteduhan rimbunan daun “pohon-pohon” yang rutin disambangi oleh Cak Nun.

Yaa, saya menganalogikan indvidu-individu yang hadir di Maiyahan sebagai pohon. Cak Nun dalam hal ini sebagai orang yang ditokohkan tapi tak dikultuskan berperan sebagai Pak Tani yang merawat Pepohonan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Pohon-pohon yang diharapkan memiliki akar tauhid yang menghunjam kuat kedalam tanah. Memilki batang mental yang kuat bersungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai Maiyah dan menghadirkan keteduhan dari rimbunan daun akhlak. Syukur-syukur menyuguhkan buah manfaat yang manis kepada orang yang berteduh di bawahnya.

Sebenarnya masih ada hal-hal lain yang ingin saya sampaikan perihal #ORANGMaiyah ini, tapi jika diterus-teruskan saya khawatir tak ada habisnya.

Akhirul kalam semoga tulisan ini bisa sedikit memberikan gambaran tentang apa itu Maiyah dan Orang Maiyah.

Hidup orang Maiyah tidak tergantung kekayaan dan atau kemiskinan, tetapi tergantung pada proses pembelajaran menggunakan akal dan nuraninya untuk menyutradarai hidup menuju yang pantas dituju.
-Cak Nun-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s