Kematian Perlahan Media Sosial

death-of-twitter-1death-of-twitter-2

Gambar di atas adalah ilustrasi metafora perjalanan media sosial karya Brad Colbow.1 Awalnya media sosial adalah tempat berkumpul di dunia maya yang seru. Tak lama berselang, tempat berkumpul itu menjadi semakin ramai.

Hukum pasar pun berlaku, di mana ada keramaian di situ ada peluang untuk mendulang uang. Sebenarnya ini suatu hal yang wajar, namun jika pasar menjadi terlalu ramai, maka setiap orang saling berebut mencari perhatian agar lapaknya laku.

Maka terjadilah penawaran untuk beriklan dari pengelola media sosial agar dagangan di lapak bisa menarik perhatian banyak uang. Seperti yang sudah diketahui bersama, bahwa untuk berinteraksi menggunakan media sosial, tak perlu mengeluarkan biaya. Mungkin hanya perlu keluar biaya listrik dan pulsa internet.

Produk yang dijual oleh media sosial adalah database penggunanya. Dengan sasaran audiens yang lebih tertarget, maka pengguna media sosial adalah sasaran empuk bagi para pengiklan produk. Yaa, tanpa sadar data kita dijual oleh media sosial. Sebagian orang ada yang nyaman-nyaman saja ketika data mereka diperjualbelikan, sebagiannya lagi merasa risih.

Bahkan Path yang sebelumnya tidak menampilkan iklan di timeline-nya, kini mulai ikut-ikutan menampilkan iklan.

Saya termasuk golongan yang risih melihat gempuran iklan yang membanjiri media sosial. Apalagi tampilan iklan model pop up di website yang menutupi konten yang saya butuhkan. Atau mungkin kebanyakan orang tidak menyukai iklan..? Hmm entahlah.

Beberapa tahun yang lalu, Facebook masih belum mendominasi pasar media sosial. Saat itu, media sosial masih dikuasai oleh Friendster dan Myspace. Kemudian Friendster diserang oleh pasukan alay.

Akhirnya, banyak teman saya yang berpindah menggunakan Facebook dan Twitter. Kala itu Facebook dan Twitter masih belum menampilkan iklan. Tampilan newsfeed atau timeline kala itu masih mode sekuensial berurut waktu.

fb_2008
Tampilan Facebook tahun 2008 via telegraph.co.uk

Sekarang, hampir semua media sosial menggunakan mode algoritma engagement dalam menampilkan feed-nya. Jadi status update yang muncul di timeline kita yaa orangnya yang itu-itu saja.

Menilik beberapa media sosial yang sudah ditinggalkan penggunanya seperti MySpace, Friendster atau Plurk. Bahkan ada media sosial yang sudah tutup seperti Multiply. Maka dari itu, kurangnya hak pengelolaan penuh atas konten di media sosial, mendorong beberapa orang, termasuk saya, untuk menggulirkan blog.

Tidak menutup kemungkinan media sosial yang kini sedang berjaya akan menghentikan layanannya di waktu mendatang. Beberapa waktu yang lalu, Twitter menghentikan layanan video sharing miliknya, Vine.2

Jadi sudah waktunya untuk membangun blog sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “Kematian Perlahan Media Sosial

    1. wooh iyaa bener juga sudah merambah dunia advertising juga. Lumayan sebagai pesaing Google ads. Tapi yaaa begitu mas karena terlalu banyak iklan berterbangan di halamannya, sebagian orang mulai meninggalkan Facebook. Meskipun hingga hari ini Facebook masih ramai. Tapi entah bakal bertahan sampai kapan. Selama Mark Zuckerberg dan timnya tak henti berinovasi, saya rasa Facebook akan tetap survive.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s