Ilusi Terkait Makan

Dengan mengamati pertumbuhan Raffii saya mulai menyadari bahwa makan adalah sebuah kebiasaan. Hal ini saya sadari ketika Raffii mulai makan bubur sebagai asupan gizi selain ASI.

Kali pertama makan bubur, ada penyesuaian yang dialami Raffii. Belum terbiasa mengunyah bubur. Lidahnya masih terbiasa oleh rasa dan tekstur ASI yang berupa cairan. Kini dia sudah terbiasa makan nasi dan lauk pauk seperti halnya orang dewasa. 2,5 tahun sudah usianya, mulai doyan makan yang manis-manis semacam permen.

Lalu saya perhatikan lagi, Raffii mulai dibiasakan makan tiga kali sehari di rumah. Sarapan, makan siang lalu makan malam. Padahal ketika hanya minum ASI, dia bakal nangis kalo merasa haus atau lapar. Momen nangisnya enggak peduli pagi, siang atau malam. JIka merasa lapar, dia langsung ajah teriak, menangis dengan kencang.

Ketika sudah merasa kenyang oleh ASI, Raffii yaa berhenti sendiri. Hmm saya kepikiran kok bayi ini nyunnah banget ya, mengikuti sunnah Nabi Muhammad. Makan hanya ketika lapar, berhenti sebelum kenyang. Nah poin berhenti minum ASI sebelum kenyang ini saya belom menanyakan langsung kepada Raffii. Tapi percuma juga sih kalo ditanyain, dia pasti lupa.

Dari pengamatan terhadap perkembangan pola makan Raffii, saya mulai mengelaborasi dengan pengamatan pola makan ketika puasa dan pola makan sehari-hari yang tiga kali sehari. Saya mulai mafhum bahwa interkoneksi otak dan perut itu terbentuk karena kebiasaan. Kebiasaan yang terbentuk sedari kecil.

Karena rutin makan tiga kali sehari, maka akan menjadi heran ketika mendapati orang-orang yang kuat makan satu kali sehari dan sehat-sehat saja. Kisah ini pernah saya dengar dari seorang teman tentang orang yang hanya makan satu kali sehari. Menurut teman saya pokok persoalannya ada pada mindset.

Saya pernah melanggar kaidah keumuman tentang makan 3 kali sehari, kaidah yang entah dari mana asalnya. Alhamdulillah tidak ada keluhan sakit maag hingga saat ini.

Semenjak itu saya sangat yakin bahwa sinyal lapar yang kerap dikirimkan perut (lambung) ke otak adalah sebentuk ilusi. Metode puasa, seperti puasa pada bulan Ramadhan, adalah sebuah metode untuk mengenali lapar karena ingin yang merupakan sebuah ilusi dan lapar yang merupakan kebutuhan tubuh.

salam..
DiPtra

Minimalism, Sebuah Perjalanan Kedalam Diri

Padahal kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Tak bisa disamakan antara satu dengan yang lainnya. Lebih kurang kalimat-kalimat seperti itulah yang terlintas di benak saya ketika berjalan menuju kantor, melihat lalu-lalang kendaraan.

Selftalk yang saya lakukan tadi, menjadi semacam pengingat terhadap diri sendiri. Pengingat bahwa dalam menjalani hidup minimalis tak perlu melihat keluar diri, melihat orang lain.

Aseliii laah ini saya alami, ketika mulai menerapkan ide-ide tentang hidup minimalis yang sudah dipelajari, ada gelitikan nakal untuk memberikan penilaian terhadap hidup orang lain. Penilaian bahwa seseorang masih terlalu berlebihan dalam menjalani hidupnya. Padahal yaa belum tentu juga karena kebutuhan tiap orang berbeda-beda.

Penilaian-penilaian terhadap apa-apa yang berada di luar diri, ternyata malah mengaburkan suara-suara untuk mengoreksi apa-apa yang berada di dalam diri. Lupa bahwa mempraktekkan hidup minimalis adalah sebuah cara untuk menggali kebahagiaan dari dalam diri.

Continue reading “Minimalism, Sebuah Perjalanan Kedalam Diri”

Sedikit Tentang Keseimbangan

Saya percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu mencari titik keseimbangannya. Bumi berputar pada porosnya adalah sebentuk usaha mencapai keseimbangan akibat gaya gravitasi antara bumi dan matahari. Bahkan gunung meletus pun termasuk sebentuk penjagaan alam terhadap keseimbangan ekosistem bumi.

Begitu juga halnya dengan perilaku dan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam proses ekonomi, setiap waktu selalu terjadi proses pencarian keseimbangan antara kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi. Tiga hal yang merupakan aktivitas utama perekonomian.

Sejak era revolusi industri bergulir, barang hasil produksi jadi melimpah. Dengan berlimpahnya kapasitas produksi suatu produk, mendorong peningkatan proses distribusi kepada konsumen. Salah satu unsur distribusi barang hasil produksi kepada konsumen adalah advertising atau pariwara.

Sayangnya sering saya dapati pariwara yang mencitrakan sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan menjadi seolah-olah sesuatu yang urgent. Contohnya iklan pemutih wajah, karena sawo matang itu lebih eksotis, halah.

Proses produksi yang  melimpah dan ekspansi aktivitas distribusi yang masif ternyata mampu merubah perilaku masyarakat menjadi konsumtif, konsumsi berlebihan.

Seperti obrolan Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus dalam teaser film Minimalism: A Documentary About the Important Things,

Tak ada yang salah dalam hal mengkonsumsi suatu produk, yang menjadi masalah adalah konsumsi berlebih tidak sesuai kebutuhan.

Gerakan minimalism yang mulai banyak dianut masyarakat di Amerika adalah sebentuk kesadaran akan perilaku konsumsi berlebih. Kesadaran akan muslihat advertising memikat pada suatu produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Sebuah kesadaran untuk menyeimbangkan kehidupan. Sebuah gerakan melawan kehidupan konsumtif tanpa makna.

Jadi, boleh dibilang gerakan “minimalism” adalah sebentuk tindakan untuk mencapai keseimbangan atas gaya hidup konsumtif.

Salam…
DiPtra

Terpaku SEO

Kebiasaan nembak keyword ala-ala SEO tetap saya lakukan pada tulisan-tulisan lama di blog ini sejak dua tahun lalu. Jumlah kata dalam tiap artikel pun tetap saya pertahankan, minimal 350 kata dalam satu artikel. Memang sih teknik-teknik SEO yang saya terapkan ada hasilnya, beberapa tulisan saya tentang hidup minimalis sempat nangkring di halaman satu pencarian. Tapi saya merasa ada sesuatu yang hilang ketika menulis.

Memang, model tulisan yang sesuai kriteria algoritma mesin pencari bakal cepat ter-index dan berpeluang besar nangkring di halaman satu pencarian. Namun jika personal blog macam ini terlalu terpaku pada aturan standart tulisan SEO, rasanya seperti memburamkan keotentikan karakter dari penulisnya.

Kemudian sejak awal tahun ini, saya bereksperimen menulis dengan lebih santai dan lepas, tidak terlalu memikirkan kaidah-kaidah SEO. Ada rasa bahagia yang hadir ketika menyelesaikan sebuah tulisan. Inilah salah satu alasan saya menggunakan tagline happiness factory, menggantikan tagline enjoying the less dan hidup minimalis yang saya gunakan sebelumnya.

Sarana berbagi dalam bentuk tulisan adalah salah satu usaha untuk memproduksi unsur kebahagiaan. Tentang mindset mematuhi kaidah algoritma mesin pencari, ada satu hal yang ingin saya robohkan, yaitu tentang aturan jumlah minimal kata sebanyak 350 per-artikel.

Jika memang sedang ingin menulis panjang, maka tulis saja sepanjang ide tulisan masih mengalir. Namun jika sedang tidak mood dan hanya ingin menulis pendek, maka tidak perlu dipanjang-panjangkan. Tulis senatural mungkin.

Lagian, dunia ini sudah penuh dengan aturan. Ngapain juga membebani diri dengan aturan-aturan lain yang dirasa memberatkan. Maka bebaskanlah jiwamu sesuai dengan fitrahmu. Begitu juga halnya jiwa dalam sebuah tulisan.

Sangat mungkin sekali isi tulisan ini mengandung kebenaran, tapi kemungkinan kandungan kesalahannya bisa jadi lebih besar. Jika ada typo mohon dimaafkan.

salam…
dia yang sedang menulis 273 kata.

Tentang Televisi

Jedeeer suara petir memecah keheningan waktu menjelang shubuh. Memecah keterelenaan saya dari tidur pulas. Saya terbangun dan mulai masuk lagi ke alam kesadaran dunia. Ahh saya masih hidup ternyata, masih dipercaya untuk menghirup udara hari ini, alhamdulillah.

Terjaga karena suara petir yang begitu menggelegar, membawa ingatan saya melayang menuju peristiwa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Dulu, ketika masih hidup bersama orang tua, jika hujan deras disertai petir yang bersahut-sahutan turun dari langit, maka satu hal yang kerap diperintahkan oleh Ayah adalah melepas koneksi televisi dengan antena yang terpasang di atap rumah. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi jika antena tersambar petir tidak akan merusak televisi.

Kini, kegiatan melepas koneksi antena dengan televisi ketika hujan-petir tak lagi saya lakukan. Karena sejak beberapa tahun yang lalu saya sudah hidup tanpa televisi. Tepatnya ketika saya mulai tinggal di Jakarta 6,5 tahun yang lalu.

Sebelum era internet mejadi candu seperti sekarang, saya adalah mantan pecandu televisi. Pulang sekolah, aktivitas pertama yang dilakukan adalah menonton televisi. Hingga mencapai masa kuliah, kebiasaan ini belum hilang juga. Malah semakin menjadi-jadi karena waktu kuliah yang lebih fleksibel. Merasa bebas.
Continue reading “Tentang Televisi”

Bahjat Al-Nufus

Selain Al-Hikam, ada satu kitab lagi karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari yang kerap saya baca. Kadang saya baca menjelang tidur ataupun di waktu-waktu senggang.

Saya sampai membeli kitab ini dua kali. Karena kitab yang pertama saya beli diminta oleh Ibu sahabat saya ketika saya berkunjung ke rumahnya di Bangil, Jawa Timur. Ternyata Ibu dari sahabat saya ini juga menggemari karya-karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari.

Kitab karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari itu berjudul Bahjat Al-Nufus. Secara bebas jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, maka akan berarti Nasehat Penerang Jiwa. Ada beberapa bab di dalam kitab ini, namun hingga saat ini saya baru menyelesaikan 3 bab untuk dituangkan ke dalam media blog ini.

Isi kitab ini benar-benar menyentuh hati dengan gaya bahasa yang indah yang merupakan ciri khas Ibnu ‘Athaillah. Seperti halnya dalam kitab Al-Hikam, kitab ini ditujukan untuk membersihkan hati atau tazkiyatun nufus memerangi potensi sifat-sifat tercela di dalam diri.

Mengingat kitab ini sudah agak susah ditemui di pasaran, maka saya berinisiatif menuliskannya di blog ini. Motivasi lainnya adalah saya tak ingin menikmati seorang diri tentang keindahan-keindahan bahasa yang disampaikan oleh Ibnu ‘Athaillah ini. Melalui media sederhana ini saya ingin berbagi keindahan tutur nasehat Ibnu ‘Athaillah. Tutur nasehat indah yang sudah berusia ratusan tahun, namun tetap relevan hingga saat ini.

Berikut daftar tautan bab-bab dalam kitab Bahjat Al-Nufus yang sudah saya tuliskan ulang di blog ini:

  1. Cinta Rasul
  2. Tobat
  3. Mendekati Allah

Nasehat lain di bab-bab selanjutnya yang terangkum di dalam kitab ini, akan saya tambahkan di waktu mendatang.

Salam..
DiPtra

Ketika Hujan Menyapa Manusia

Notifikasi handphone saya berdenting, ada pesan masuk dari salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti. Rupanya sebuah pesan broadcast dari salah satu anggota grup.

Pesan broadcast biasanya lumayan panjang. Seringnya sih kalo ada broadcast, langsung saya skip broadcast tersebut.

Namun caritanya agak lain kali ini, ndilalah saya membaca broadcast itu sampai habis. Sebuah broadcast yang menghikmahi tentang hujan. Yaa saya lumayan trenyuh membacanya.

Sering kali ketika hujan turun, suasana hati mejadi melankolis. Tak jarang juga menjadi sebal karena hujan yang turun karena menghambat aktivitas yang ingin dilakukan.

Jemuran pakaian yang tak kunjung kering, begitu juga dengan kerupuk yang tak mengembang sempurna ketika digoreng karena kurang mendapat sinar matahari di musim penghujan.

Saat ini hampir setiap hari hujan mengguyur Jakarta, tempat saya tinggal sementara ini. Lebih sering saya muram ketika hujan turun tepat saat jam pulang kantor. Hmm bakal ndekem di kantor lebih lama, karena payung kerap ketinggalan di kosan. Antara kosan dengan kantor yang berjarak lebih kurang 1 km, saya tempuh dengan berjalan kaki. Tinggal ngesot saja dari kosan udah bisa sampai kantor.

Seperti kebanyakan bahasa pesan teks yang disingkat-singkat penulisannya, maka pada tulisan kali ini saya sudah mengedit penulisan broadcast tersebut. Broadcast tentang hujan yang dihikmahi secara mendalam oleh seorang loper koran.

Baiklah, agar tak berpanjang lebar, berikut pesan broadcast yang saya maksud. Selamat membaca..


SANG TELADAN ITU SEORANG PENJUAL KORAN

Pagi itu seorang penjual koran berteduh di tepi sebuah warung. Sejak subuh hujan turun lebat sekali. Seakan menghalanginya melakukan aktivitas untuk berjualan koran seperti biasa.

Terbayang di pikiranku, tidak ada satu rupiah pun uang yang akan diperoleh seandainya hujan tidak berhenti. Namun, kegalauan yang kurasakan ternyata tidak nampak sedikit pun di wajah penjual koran itu.

Hujan masih terus turun. Si penjual koran masih tetap duduk di tepi warung itu sambil tangannya memegang sesuatu. Tampaknya seperti sebuah buku. Kuperhatikan dari jauh, lembar demi lembar dia baca.

Awalnya aku tidak tahu apa yang sedang dibacanya. Namun perlahan-lahan aku dekati. Ternyata kitab suci Al-Quran yg dibacanya. Kemudian aku menyapanya.

“Assalamu’alaikum” sapaku kepadanya. “Wa’alaikumussalam” dia menjawab salamku dengan perlahan. “Bagaimana jualan korannya mas ?” tanyaku lebih lanjut kepadanya. “Alhamdulillah, sudah terjual satu.” sahutnya sambil menutup mushaf yang dari tadi dia baca.

“Susah juga ya, kalau hujan begini” sambungku sambil menatap rinai hujan dari langit. Dengan tersenyum simpul tukang koran itu menjawab, “Inshaa Allah sdh diatur rezekinya, mas..”

“Terus, kalau hujannya sampai siang bagaimana?” sergahku lebih lanjut. “Itu berarti rezeki saya bukan jualan koran, tapi banyak berdo’a.” jawabnya penuh semangat. “Kenapa mas berpikiran seperti itu?” tanyaku lagi. Sambil menarik nafas perlahan dia menjawab, “Bukankah Rasulullah SAW pernah besabda, ketika hujan adalah saat yang mustajab untuk berdoa. Maka, kesempatan berdo’a itu adalah rezeki juga.”

“Lantas, kalau tidak dapat uang, bagaimana mas?” rasa penasaranku kepadanya semakin menjadi-jadi. “Berarti, rezeki saya adalah bersabar mas” jawabnya dengan tenang. “Kalau begitu tidak ada yang bisa dimakan dong mas?” tanyaku. “Hmm.. berarti rezeki saya hari ini berpuasa” jawabnya dengan santai.

“Hmm kenapa mas bisa berfikir seperti itu?” tanyaku keheranan. “Allah-lah yang memberi kita rezeki, apa saja rezeki yang Allah SWT berikan saya syukuri.” Jawabnya mantap. Kemudian dia melanjutkan, “Selama berjualan koran, walaupun tidak laku, dan harus berpuasa, saya tidak pernah kelaparan” ucapnya dengan wajah penuh keikhlasan menutup pembicaraan.

Hujan pun akhirnya berhenti. Si penjual koran bersiap-siap untuk terus menjajakan korannya. Ia pergi sambil memasukkan Al-Quran ke dalam tasnya.

Aku termenung, tanpa kusadari cermin mataku menjadi gelap, karena cucuran tangisku. Aku tersadar setelah merenungi setiap kalimat nasehat yang diucapkan penjual koran tadi.

Ada penyesalan di dalam hati, mengapa kalau hujan aku menjadi resah-gelisah. Khawatir tidak mendapat uang. Risau rumah akan terendam banjir. Bimbang tidak bisa datang ke kantor. Keluh kesah tidak bisa bertemu dengan rekan bisnis.

Baru aku sadari, rezeki bukan saja uang. Tetapi bisa dlm bentuk hidayah, kesabaran, berpuasa, berdoa, beribadah, rasa syukur dan perasaan aman.

Semuanya merupakan amal sholeh yang perlu kita syukuri. Hal yang juga merupakan rezeki dari Allah SWT.


Sekian, semoga dengan datangnya hujan di hari-hari mendatang bisa dihikmahi dengan lebih arif lagi.

Salam..
dia yang sedang ketar-ketir karena hujan