Ketika Hujan Menyapa Manusia

Notifikasi handphone saya berdenting, ada pesan masuk dari salah satu grup Whatsapp yang saya ikuti. Rupanya sebuah pesan broadcast dari salah satu anggota grup.

Pesan broadcast biasanya lumayan panjang. Seringnya sih kalo ada broadcast, langsung saya skip broadcast tersebut.

Namun caritanya agak lain kali ini, ndilalah saya membaca broadcast itu sampai habis. Sebuah broadcast yang menghikmahi tentang hujan. Yaa saya lumayan trenyuh membacanya.

Sering kali ketika hujan turun, suasana hati mejadi melankolis. Tak jarang juga menjadi sebal karena hujan yang turun karena menghambat aktivitas yang ingin dilakukan.

Jemuran pakaian yang tak kunjung kering, begitu juga dengan kerupuk yang tak mengembang sempurna ketika digoreng karena kurang mendapat sinar matahari di musim penghujan.

Saat ini hampir setiap hari hujan mengguyur Jakarta, tempat saya tinggal sementara ini. Lebih sering saya muram ketika hujan turun tepat saat jam pulang kantor. Hmm bakal ndekem di kantor lebih lama, karena payung kerap ketinggalan di kosan. Antara kosan dengan kantor yang berjarak lebih kurang 1 km, saya tempuh dengan berjalan kaki. Tinggal ngesot saja dari kosan udah bisa sampai kantor.

Seperti kebanyakan bahasa pesan teks yang disingkat-singkat penulisannya, maka pada tulisan kali ini saya sudah mengedit penulisan broadcast tersebut. Broadcast tentang hujan yang dihikmahi secara mendalam oleh seorang loper koran.

Baiklah, agar tak berpanjang lebar, berikut pesan broadcast yang saya maksud. Selamat membaca..


SANG TELADAN ITU SEORANG PENJUAL KORAN

Pagi itu seorang penjual koran berteduh di tepi sebuah warung. Sejak subuh hujan turun lebat sekali. Seakan menghalanginya melakukan aktivitas untuk berjualan koran seperti biasa.

Terbayang di pikiranku, tidak ada satu rupiah pun uang yang akan diperoleh seandainya hujan tidak berhenti. Namun, kegalauan yang kurasakan ternyata tidak nampak sedikit pun di wajah penjual koran itu.

Hujan masih terus turun. Si penjual koran masih tetap duduk di tepi warung itu sambil tangannya memegang sesuatu. Tampaknya seperti sebuah buku. Kuperhatikan dari jauh, lembar demi lembar dia baca.

Awalnya aku tidak tahu apa yang sedang dibacanya. Namun perlahan-lahan aku dekati. Ternyata kitab suci Al-Quran yg dibacanya. Kemudian aku menyapanya.

“Assalamu’alaikum” sapaku kepadanya. “Wa’alaikumussalam” dia menjawab salamku dengan perlahan. “Bagaimana jualan korannya mas ?” tanyaku lebih lanjut kepadanya. “Alhamdulillah, sudah terjual satu.” sahutnya sambil menutup mushaf yang dari tadi dia baca.

“Susah juga ya, kalau hujan begini” sambungku sambil menatap rinai hujan dari langit. Dengan tersenyum simpul tukang koran itu menjawab, “Inshaa Allah sdh diatur rezekinya, mas..”

“Terus, kalau hujannya sampai siang bagaimana?” sergahku lebih lanjut. “Itu berarti rezeki saya bukan jualan koran, tapi banyak berdo’a.” jawabnya penuh semangat. “Kenapa mas berpikiran seperti itu?” tanyaku lagi. Sambil menarik nafas perlahan dia menjawab, “Bukankah Rasulullah SAW pernah besabda, ketika hujan adalah saat yang mustajab untuk berdoa. Maka, kesempatan berdo’a itu adalah rezeki juga.”

“Lantas, kalau tidak dapat uang, bagaimana mas?” rasa penasaranku kepadanya semakin menjadi-jadi. “Berarti, rezeki saya adalah bersabar mas” jawabnya dengan tenang. “Kalau begitu tidak ada yang bisa dimakan dong mas?” tanyaku. “Hmm.. berarti rezeki saya hari ini berpuasa” jawabnya dengan santai.

“Hmm kenapa mas bisa berfikir seperti itu?” tanyaku keheranan. “Allah-lah yang memberi kita rezeki, apa saja rezeki yang Allah SWT berikan saya syukuri.” Jawabnya mantap. Kemudian dia melanjutkan, “Selama berjualan koran, walaupun tidak laku, dan harus berpuasa, saya tidak pernah kelaparan” ucapnya dengan wajah penuh keikhlasan menutup pembicaraan.

Hujan pun akhirnya berhenti. Si penjual koran bersiap-siap untuk terus menjajakan korannya. Ia pergi sambil memasukkan Al-Quran ke dalam tasnya.

Aku termenung, tanpa kusadari cermin mataku menjadi gelap, karena cucuran tangisku. Aku tersadar setelah merenungi setiap kalimat nasehat yang diucapkan penjual koran tadi.

Ada penyesalan di dalam hati, mengapa kalau hujan aku menjadi resah-gelisah. Khawatir tidak mendapat uang. Risau rumah akan terendam banjir. Bimbang tidak bisa datang ke kantor. Keluh kesah tidak bisa bertemu dengan rekan bisnis.

Baru aku sadari, rezeki bukan saja uang. Tetapi bisa dlm bentuk hidayah, kesabaran, berpuasa, berdoa, beribadah, rasa syukur dan perasaan aman.

Semuanya merupakan amal sholeh yang perlu kita syukuri. Hal yang juga merupakan rezeki dari Allah SWT.


Sekian, semoga dengan datangnya hujan di hari-hari mendatang bisa dihikmahi dengan lebih arif lagi.

Salam..
dia yang sedang ketar-ketir karena hujan

Advertisements

6 thoughts on “Ketika Hujan Menyapa Manusia

  1. Entahlah, menurut saya manusia pengeluh itu akan mengeluh dalam situasi apapun (ini saya -_-)

    Kota Sorong juga hujan… Dan godaan mengeluh sangat besar. Alhamdulillah, bisa belajar bersyukur dari tulisan ini. semoga Allah memberkahi tulisan ini, dan penulisnya, dan orang yang membaginya aamiin.

  2. Terenyuh bacanya, soalnya kalo hujan terus jd males ngapa2in, cucian baju ga kering, mo kemana2 juga males. Tp giliran musim panas juga mengeluh krn kepanasan. Betapa dunia ini dipenuhi dengan org2 yang kurang pandai bersyukur.

  3. Wahh salut banget penjual korannya, kadang kita bisa dapet banyak pelajaran dari orang lain ya.. rezeki memang sudah ada yang mengatur, yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan terus berdoa ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s