Tentang Televisi

Jedeeer suara petir memecah keheningan waktu menjelang shubuh. Memecah keterelenaan saya dari tidur pulas. Saya terbangun dan mulai masuk lagi ke alam kesadaran dunia. Ahh saya masih hidup ternyata, masih dipercaya untuk menghirup udara hari ini, alhamdulillah.

Terjaga karena suara petir yang begitu menggelegar, membawa ingatan saya melayang menuju peristiwa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu. Dulu, ketika masih hidup bersama orang tua, jika hujan deras disertai petir yang bersahut-sahutan turun dari langit, maka satu hal yang kerap diperintahkan oleh Ayah adalah melepas koneksi televisi dengan antena yang terpasang di atap rumah. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi jika antena tersambar petir tidak akan merusak televisi.

Kini, kegiatan melepas koneksi antena dengan televisi ketika hujan-petir tak lagi saya lakukan. Karena sejak beberapa tahun yang lalu saya sudah hidup tanpa televisi. Tepatnya ketika saya mulai tinggal di Jakarta 6,5 tahun yang lalu.

Sebelum era internet mejadi candu seperti sekarang, saya adalah mantan pecandu televisi. Pulang sekolah, aktivitas pertama yang dilakukan adalah menonton televisi. Hingga mencapai masa kuliah, kebiasaan ini belum hilang juga. Malah semakin menjadi-jadi karena waktu kuliah yang lebih fleksibel. Merasa bebas.

Saat itu beberapa kali sudah menyadari adanya rasa bosan menonton televisi, namun entah kenapa selalu kembali lagi khusyu’ menatap layar kaca. Tak jarang hingga begadang dan tertidur di depan televisi. Serasa ada yang hilang jika lama tidak menonton televisi.

Jadi, secara tidak sengaja dan terpaksa, saya sembuh dari kecanduan menonton televisi. Bahkan saat ini saya sudah tidak tertarik lagi untuk menonton televisi.

Ahad lalu, selepas makan siang di warung sebelah kosan, saya memperhatikan tayangan televisi di warung tersebut. Saat itu sedang diputar acara FTV bergenre asmara ala-ala remaja. Saya tak begitu memperhatikan isi ceritanya. Perhatian saya lebih tertuju pada jeda iklan yang ditayangkan.

Saat itu saya baru sadar bahwa durasi iklan yang tampil menghiasi televisi memiliki durasi kelipatan 15 detik. Hal ini saya sadari secara tidak sengaja karena tepat di sebelah televisi bertengger jam dinding.

Iklan produk A berdurasi 15 detik, iklan produk B berdurasi 30 detik, iklan produk C berdurasi 45 detik. Ada juga iklan produk A yang berudrasi 30 detik. Jadi satu produk iklan bisa memiliki versi durasi yang berbeda. Sangat jarang saya dapati durasi iklan yang mencapai 1 menit.

Parahnya durasi total iklan yang menjeda satu acara di televisi bisa mencapai waktu 5 hingga 10 menit. Padahal dalam satu acara televisi, jeda iklan terjadi lebih dari satu kali. Jadi sebenarnya kita sedang menonton acara televisi dengan jeda iklan atau menonton iklan dengan jeda acara televisi..? Tak heran jika satu acara televisi dijeda iklan kita buru-buru memindahkan channel televisi, tapi ternyata channel yang lain juga sedang jeda iklah, saya curiga antar stasiun televisi sedang melakukan pengaturan waktu iklah haha.

Saya perhatikan, perlahan industri televisi mengalami nasib seperti industri radio saat ini. Pangsa pasar masih ada, namun mulai tergerus oleh media-media lain yang berkembang seiring perkembanga teknologi.

Ada televisi kabel, ada Youtube, ada Netflix, ada iflix, dan flix-flix lainnya, hmm ada apa lagi yaa entahlah mungkin masih banyak lagi yang jauh dari jangkauan pengetahun saya. Saat ini mulai marak layanan berbasis subscription, baik itu layanan multimedia maupun layanan software. Layanan berbasis sewa, dan kemudian sayup-sayup mulai terdengar lagu lama Dido berjudul Life for Rent. Kalau belum pernah dengar lagu Dido tersbut, berikut saya tampilkan video klipnya dari Youtube.

Terlepas dari kecanduan televisi, saya malah beralih kecanduan internet. Belakangan, informasi ataupun konten yang ditayangkan oleh televisi pun mulai mengambil sumber dari internet.

Generasi mendatang mungkin tak lagi tertarik untuk menonton televisi. Hal ini saya simpulkan dari banyaknya fenomena balita yang sudah akrab dengan Youtube. Memang, secara konten Youtube lebih menarik daripada televisi, karena kita bisa menonton sesuai kebutuhan dengan melakukan pencarian di mesin pencari.

Tantangan kedepan sebagai orang tua terhadap interaksi anak dengan internet adalah memfilter konten yang sesuai umur anak. Mendampingi dan memberikan masukan atas informasi atau tayangan dari internet.

Ahh saya rasa cukup sekian cuap-cuap tentang televisi di pagi hari ini. Di luar hujan masih setia mengapeli bumi, menyampaikan pesan cinta sederhana dari awan yang tak sempat terucap, tsaaaah..

Salam..
dia yang mulai mengeja hujan..

Advertisements

3 thoughts on “Tentang Televisi

  1. Besok-besok, media masyarakat akan pindah ke media buku. nggak mustahil, disebagian lembarnya bisa dijeda iklan, haha… dan bisa jadi pertanyaan sama. Mereka sedang membaca buku dengan jeda iklan, atau sedang baca iklan dengan jeda cerita atau isi buku. Awawa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s