Thursday, 20 April 2017

Megakrabi Keheningan

Pilkada DKI sudah selesai, tapi residu pembakarannya masih ada. Residu berupa caci maki, kebencian, ejekan yang kesemuanya sudah memasuki tahap berlebihan. Terlalu hitam-putih ketika menyikapi politik. Bukankah lebih enak jika memandang politik merupakan gabungan rentang warna yang tiada hingga. Keriuhan politik yang peluit kick-off nya dimulai sejak 2014 atau mungkin sebelum itu.

Beneran berat banget menahan diri untuk tidak berkomentar mengenai Pilkada DKI di media sosial. Gempuran broadcast dari di Whatsapp pun sudah membuah pikiran saya kenyang tentang Pilkada DKI ini.

Setelah tanggal 19 April, semoga ketegangannya mereda. Kembali lagi kerja. Kembali lagi produktif. Tidak kembali lagi nyinyir. Bahkan nyinyir dalam balutan kesantunan malah semakin nampak memuakkan. Apakah ini sebentuk kesantunan yang dibuat-buat..? Emboh.

Entah klimaks atau antiklimaks putaran kedua Pilkada DKI periode ini. Semoga Jakarta tetap aman, pembangunan manusia dan fasilitas umumnya tetap berjalan. Cukup lah yaa menyuarakan unek-uneknya atas keriuhan selama beberapa bulan ini.

Karena menahan diri untuk tidak melontarkan komentar di media internet sepanjang Pilkada DKI ini, saya berlatih untuk diam. Diam untuk lebih memaknai keheningan. Berusaha memasukkan hati dan pikiran dalam area-area keheningan. Mengurangi interaksi di media sosial adalah salah satu hal yang saya lakukan1. Mengurangi gempuran berita-berita seputar pilkada DKI yang bersumber dari media sosial.

Ternyata dalam keheningan saya menemukan ketenangan. Sesuatu yang adem di dalam hati. Ya, mengakrabi keheningan untuk mendengarkan kejelasan suara hati.

Mengakrabi keheningan juga berarti memperbanyak diam. Saya teringat akan kisah seoarang arifin yang semakin memperbanyak diam di usia senjanya. Murid beliau entah sudah ribuan atau bahkan sudah berbilang jutaan. Tiap orang yang sowan ke kediaman beliau tak banyak diberi nasihat. Beliau malah lebih banyak mendengarkan keluh kesah para tamunya. Hanya membalas sepatah dua patah kalimat. Bagaikan lautan teduh yang mampu menerima segala apa yang dilemparkan kepadanya dan mengembalikan kepada pelemparnya berupa mutiara.

Padahal di masa mudanya, beliau terkenal alim dan zuhud. Pandai dan fasih dalam berorasi dengan alur logika yang jernih. Namun di usia senjanya, dengan ilmu yang mumpuni beliau malah lebih banyak memilih diam. Diam dalam dzikir-dzikirnya yang daim.

Tak seperti saya yang baru tau sedikit sudah banyak omong dan sering lupa berdzikir. Sudah kemrungsung tergesa-gesa memberikan nasihat. Ilmu baru serupa zarah sudah ingin menerjemahkan luasnya lautan. Pemikiran inilah yang sesekali menerbitkan ketakutan untuk menulis dan berbagi melalu blog sederhana ini2.

Apalagi semenjak mendapat 3 reminder berturut-turut dalam sepekan yang menguji keikhlasan. Khususnya keikhlasan dalam menyampaikan pemahaman dan apa yang diketahui. Seolah-olah ingin menyingkir saja, memendam pemahaman untuk diri sendiri.

Mengakrabi keheningan untuk lebih memahami lagi apa-apa yang harus dibagikan dan apa-apa yang harus disimpan untuk diri sendiri. Lebih memilah dan memilih lagi hal-hal yang esensial untuk disampaikan.

Berikut ini ada kutipan menarik dari Syekh Abdul Qodir Al-Jailani…

Pandai berkata-kata tanpa disertai amalan kalbu tak akan berarti apa-apa. Perjalanan sejati adalah perjalanan kalbu dan perbuatan hakiki adalah perbuatan yang punya arti. Hal ini harus dilakukan dengan jiwa raga tetap memerhatikan batas-batas hukum Allah seraya kalbu tetap merendah di hadapan-Nya.

Barangsiapa membuat timbangan bagi dirinya sendiri, ia tidaklah memiliki timbangan. Memperlihatkan amal di hadapan orang lain sama saja dengan tidak beramal apa-apa. Sebaiknya, kebaikan disembunyikan. Jangan perlihatkan kecuali amal wajib yang harus terlihat orang banyak.

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

Sekian nasihat untuk diri sendiri ini, semoga bermanfaat untuk semuanya…

Salam..
DiPtra

Wednesday, 19 April 2017

High and Dry

Mendengarkan High and Dry, sebuah lagu lawas milik Radiohead, telinga saya terhenti pada kalimat “You’re turning into something you are not“. Sebuah kalimat sederhana yang begitu menohok.

Mengingatkan tentang terlalu seringnya diri ini berpura-pura menjadi orang lain. Mencoba mencontoh apa-apa yang ada di luar diri. Film, sinetron, novel, drama, media sosial, iklan, buku memberikan sugesti-sugesti untuk mencontoh apa yang mereka tayangkan. Malah semakin mengubur kesejatian diri.

Saya sendiri tidak tahu apa maksud sebenarnya lagu High and Dry ditulis oleh Thom Yorke. Namun justru di situlah letak keindahan sebuah lirik yang dinyanyikan dalam sebuah lagu. Para penikmat musik bebas menginterpretasikan lagu yang didengarnya. Setiap kalimat dalam bait lagu memiliki interpretasi sendiri.

Dan beberapa pekan ini saya sedang menggilai musik karya Radiohead. Gara-gara lagu Let Down di album OK Computer hampir setiap hari mendengarkan lagu Radiohead. Nah, sekarang malah bahas lagu High and Dry karena lagu ini banyak banget dimainkan oleh musisi lainnya, istilah lainnya di-cover.

Berikut ini beberapa cover lagu High and Dry yang dengan apik dimainkan oleh musisi lain. Sumbernya tentu saja dari Youtube hihi. Selamat menikmati…

1. Cover by Musikimia

1. Cover by Musikimia
2. Cover by Ariel Noah
3. Cover by Redah
4. Cover by Jon Gomm
5. Cover by Phyllotaxismusic
6. Cover by David Cook
7. Cover by Sarah Lenore
8. Cover by Jacksoul
9. Live by Radiohead
10. Cover by Rig the Jig
11. Cover by Jamie Cullum
12. Cover by Fabian von Wegan
13. Cover by Fre Monti
14. Let Down Live by Radiohead

Tuesday, 18 April 2017

Getting Old

Menua adalah keniscayaan.  Tak ada manusia atau makhluk hidup yang kuasa melawan fenomena biologis ini. Semua makhluk adalah fana, tanpa terkecuali.

Pikiran ini tiba-tiba menyeruak ketika menanti penerbangan ke Jakarta. Dari ruang tunggu bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, saya menanti sambil merenung dalam kesendirian.

Menatap manusia berlalu-lalang. Pemikiran tentang menua berkelindan terseok-seok dalam bayangan langkah-langkah calon penumpang. Pemikiran bahwa hidup terdiri dari langkah-langkah menuju tua. Menjadi tua adalah sesuatu yang menakutkan.

Mau tidak mau saya pun akan menua. Kadang timbul kekhawatiran ketika menua, sehingga bayangan bagaimana kelak ketika menua selalu disingkirkan. Tak mau memikirkan masa depan ketika diberi kesempatan untuk menjadi tua. Tua dalam hal organ-organ tubuh yang mulai mengalami keausan.

Sebenarnya bukanlah perihal menua yang ditakutkan, namun efek sampingnya lah yang dikhawatirkan. Kulit yang mulai mengendur. Gigi yang mulai goyang dan kemudian gugut. Uban yang mulai bertabur. Pandangan mata yang mulai kabur. Empat hal itulah pertanda semakin dekatnya dengan alam kubur.

Tetapi menua bukanlah ketakutan yang perlu dirisaukan. Lebih daripada itu, menua dengan kondisi pikiran dan hati masih melekat kuat kepada dunialah yang patut dirisaukan. Perilaku kemelekatan terhadap dunia yang nampak dari perilaku pada diri yang semakin menua. Saya benar-benar khawatir jika hal ini sampai terjadi pada diri sendiri, na’udzubillah.

Empat pertanda semakin dekatnya dengan alam kubur adalah sebuah pertanda untuk semakin mawas diri melepaskan. Sebuah kenyataan bahwa tubuh ini pun dipanggil kembali oleh tempat muasalnya, tanah.

Salam..
DiPtra

Monday, 17 April 2017

Flavo

Pemilihan warna adalah hal yang cukup urgent dalam hal branding. Warna yang menjadi ciri khas suatu produk. Seperti halnya Whatsapp dengan warna hijaunya, Facebook dengan warna birunya, ataupun Gojek dan Grab yang sama-sama memiliki ciri khas warna hijau.

Berangkat dari dasar pemikiran itu, saya bereksperimen dalam pemilihan warna untuk blog ini. Saya menggunakan aksen merah untuk link dan title website. Sedangkan untuk featured image masih suka random dalam pemilihan warnanya. Begitu juga desainnya masih ngacak suka-suka hati.

Kali pertama membuat featured image saya menggunakan Canva1, tahun lalu. Canva adalah sebuah aplikasi berbasis web, sehingga kita tidak perlu meng-install aplikasi kedalam komputer. Cukup mengedit featured image melalu brower yang sudah ter-install di komputer. Aplikasi Canva sudah tersedia di Apps Store untuk Ipad2. Walaupun bisa di-install iPhone, penggunaannya agak sedikit rikuh.

Namun saat ini, saya menggunakan aplikasi Typorama3 untuk membuat featured image. Aplikasi yang menyediakan desain beragam. Tersedia beragam fitur yang sangat memanjakan penggunanya.

Adapun fitur dari Typorama yang sering saya gunakan adalah stock photo, filter untuk gambar, design font, transparency dan shadow. Sebenarnya masih banyak fitur ampuh lainnya yang disediakan, namun untuk pembuatan featured image kebutuhan blog, fitur-fitur dasar itu sudah lebih dari cukup.

Pemilihan warna pun saya menemukan warna kuning yang saya sukai dari color pallete yang disediakan oleh Typorama. Hampir semua design featured image dalam tulisan di blog ini menggunakan design beraksen warna kuning.

Karena sudah terlanjur suka dengan warna kuning yang digunakan, saya sampai mencari kode heksa4 untuk warna kuning ini. Dalam hal design, komposisi warna sangatlah penting sehingga enak untuk dilihat. Maka saya memadukan warna kuning dari design featured image dengan filter grayscalenamun intensitas grayscale-nya tidak sampai 100%. Diatur sedemikian rupa hingga terasa ngeblend dengan warna kuning.

Alasan saya memilih warna kuning sebagai warna khas feature image blog ini karena secara psikologis, warna kuning menandakan keceriaan5. Ketika saya telisik lebih mendalam makna warna kuning secara psikologis berarti juga warna untuk kecerdasan pikiran, rasa optimis dan keceriaan. Namun daripada itu, warna kuning secara psikologis juga memiliki makna ketaksabaran, kritik dan pengecut. Hihihi kampreeeet juga yaak ternyata. Tak apalah kan sesekali saya juga menuliskan kekampretan-kekampretan pemikiran saya di blog ini.

Salam..
Dia si lelaki kampret

note: flavo dalam bahasa latin berarti kuning


  1. https://www.canva.com/ 
  2. https://about.canva.com/ipad/ 
  3. http://www.apperto.com/typorama/ 
  4. Kode heksa warna kuning untuk design featured image blog ini adalah #ffd459  
  5. http://www.empower-yourself-with-color-psychology.com/color-yellow.html 

Sunday, 16 April 2017

Hakikat Berkumpulnya Awan

Berkumpulnya awan membentuk mendung bukanlah semata-mata untuk menghadirkan hujan. Lebih daripada itu, berkumpulnya gumpalan awan, salah satunya bertujuan menumbuhkan tanaman di muka bumi.

Tanaman yang nantinya menghasilkan produk untuk dikonsumsi makhluk hidup lainnya, termasuk manusia. Baik itu berupa buah-buahan, dedauan, bahkan pokok batangnya.

Dari perumpamaan itu, dapatlah dipahami bahwa suatu kejadian bukan semata-mata terjadi untuk tujuan yang kasat mata. Ada tujuan lain yang kadang di luar jangkauan akal.

Seperti halnya kisah klasik perjumpaan Nabi Musa dengan Nabi Khidir. Perilaku aneh yang dilakukan oleh Nabi Khidir bukanlah dimaksudkan untuk ditelan mentah-mentah. Tapi ada tujuan mulia di balik perilaku aneh itu.

Begitu juga dengan kesehatan yang merupakan komoditas jualan yang evergreen. Kesehatan seperti halnya hujan, hanya merupakan wasilah. Jika hujan merupakan wasilah tumbuhnya tanaman, maka apakah kiranya tujuan hakiki di balik hadirnya kesehatan..?

Pernikahan juga tak jauh berbeda. Jika pernikahan dilihat semata-mata untuk kenikmatan hasrat biologis, maka tiada bedalah dengan makhluk hidup lain di bumi selain manusia.

Maka, dalam hal ibadah mahdhoh juga sama adanya. Hadirnya kekhusyukan, ketenangan, kebahagiaan ataupun ahwal hati bukanlah tujuan. Seperti halnya hujan yang menjadi wasilah tumbuhnya buah-buahan. Apakah kiranya buah dari kekhusuyukan, ketenangan dan kebahagiaan yang hadir dalam ibadah.

Kemudian saya terhanti di sini. Pada sebuah pemikiran atas sebuah pertanyaan yang saya begitu khawatir untuk mengutarakannya. Lantas untuk apakah hadirnya pertanyaan-pertanyaan..?

Sama halnya dengan hakikat berkumpulnya awan yang menghadirkan hujan.

Salam..
dia yang sedang takut bertanya…

Saturday, 15 April 2017

Mengurangi Interaksi Media Sosial

Lebih kurang sebulan sudah interaksi saya dengan media sosial berkurang secara drastis. Bukannya dikejar-kejar penagih hutang ataupun penggemar, tapi tindakan saya ini dipengaruhi oleh pemikiran Cal Newport1 tentang media sosial.

Dalam banyak kesempatan, baik itu dalam bentuk tulisan maupun kuliahnya, Cal Newport memberikan saran untuk berhenti menggunakan Media Sosial.

Cal Newport adalah seorang penulis buku dan scientist di MIT. Hingga saat ini dia mengaku belum pernah memiliki akun media sosial.

Seperti tayangan Youtube Cal Newport pada acara TED di akhir tulisan ini, dia memaparkan berbagai argumen untuk berhenti menggunakana media sosial.

Akan tetapi, saya tidak menelan mentah-mentah saran dari Cal Newport. Tidak serta merta saya menghapus semua akun media sosial yang saya miliki. Saya hanya mengurangi interaksi dengan media sosial.

Menghapus aplikasi media sosial di handphone adalah langkah paling sederhana yang dapat saya lakukan untuk mengurangi interaksi di media sosial.

Lalu apakah dampak yang saya rasakan selama mengurangi interaksi denga media sosial?

Lebih kurang ada tiga hal yang saya rasakan ketika mengurangi interaksi dengan media sosial.
Hal yang pertama adalah, saya merasa lebih tenang. Selama ini secara langsung ataupun tidak, kegalauan kerap dipicu oleh informasi yang saya dapatkan dari media sosial.

Kedua, serasa ada waktu tambahan untuk mengerjakan hal lain. Alokasi waktu yang sebelumnya habis untuk bermain media sosial kini dapat saya isi dengan aktivitas lain.

Kudet atau kurang update terhadap informasi adalah hal ketiga yang saya rasakan. Saya jadi telat tahu mengenai berita apa yang sedang hangat dibahas oleh masyarakat.

Tapi walaupun telat mendapatkan update informasi, saya merasa biasa saja. Tak ada lagi FOMO yaitu, kekhawatiran ketinggalan berita.

Dan lagi, informasi yang sedang menjadi trending topic sering kali dibagikan dengan senang hati oleh teman-teman. Baik dibagikan dalam obrolan biasa maupun melalui aplikasi chatting.

Sekian pengalaman saya selama sebulan mengurangi penggunaan media sosial. Apakah kamu ingin mencoba mengurangi penggunaan media sosial, atau kamu merasakan banyak waktu terbuang sia-sia karena media sosial? Bisa deh kamu coba tips yang saya lakukan dalam tulisan ini.

Friday, 14 April 2017

Mereduksi Kemalasan

Desidiam recesseras, adalah bahasa Latin yang bermakna kemalasan. Tulisan kali ini masih setali tiga uang dengan tulisan sebelumnya. Masih membahas penyebab kemalasan.

Seperti pembahasan sebelumnya, penyebab pertama kemalasan adalah distraksi oleh hal remeh temeh yang lebih mudah dilakukan daripada hal utama. Hal utama yang menjadi tujuan.

Kali ini masuk pada pembahasan penyebab kedua kemalasan. Pada artikel sebelumnya, jika dibaca dengan lebih jeli, saya sudah sedikit menyinggung penyebab kedua dari kemalasan ini.

Penyebab kedua rasa malas yang saya maksud adalah rasa takut. Nantinya rasa takut inilah yang akan menghalangi seseorang untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan. Terjadilah penundaan.

Semasa kuliah dulu, saya memiliki ketakutan berlebihan terhadap monster bernama skripsi. Sehingga menunda-nunda pengerjaannya. Belum lagi ketika berjodoh dengan dosen pembimbing yang terkenal sangar, makin ciutlah nyali ini menghadapi monster skripsi.

Tapi untunglah saya berhasil melewati monster skripsi itu. Berhasil mengalahkannya layaknya Ultraman yang sudah berkedipan alarm di dada tanda kehabisan waktu ketika melawan monster. Setelah dihadapi, apa yang ditakutkan tidak semenyeramkan kenyataannya.

Paling tidak saya bersyukur sekali pernah mengalami masa-masa kritis itu, hmm lebay banget sih yaak, cuman skripsi ini hihi. Eeehh tapi jangan salah, sekali dua kali mimpi buruk ketika ujian skripsi hadir dalam tidur saya. Entahlah mungkin ada emosi yang belum release.

Mengerjakan skripsi adalah salah satu pengalaman paling berkesan dalam menghadapi rasa takut yang pernah saya alami.

Dari pengalaman itu, saya mengambil pelajaran bahwa rasa takut sering kali menjadi muslihat. Muslihat yang menghalangi dari tindakan yang seharusnya dilakukan.

Padahal sering kali ketakutan-ketakutan dalam pikiran yang terlintas, tak semengerikan kenyataan yang terjadi.

Lalu bagaimanakah metode untuk mengatasi rasa takut berlebihan sehingga berujung pada kemalasan..? 

Kali ini saya tak akan bersikap nggapleki. Saya akan memberitahu apa yang saya lakukan dalam mengatasi rasa takut.

Untuk mengatasi rasa takut yang kerap saya alami maka saya perlahan-lahan belajar tentang mindfulness. Tak hanya belajar, tapi juga harus dipraktikkan agar mendapatkan hasil maksimal.

Apakah itu mindfulness dan bagaimanakah cara melatihnya..? 

hmmm, untuk perkara penjelasan tentang mindfulness in, saya akan kembali bersikap nggapleki. Karena sedang maleeees bangeeeet. Bihihihi…

Capek juga yaa ternyata ngeblog melalui aplikasi di handphone.

Salam
dia yang sedang beradaptasi dengan aplikasi wordpress di handphone.

Thursday, 13 April 2017

Membedah Kemalasan

Dicuplik dari Kamus Besar Bahasa Indoneisa (KBBI), malas memiliki arti tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Sedangkan kemalasan adalah kata benda yang bermakna perihal malas atau berada pada keadaan malas1.

Masih bertalian dengan tulisan sebelum ini2, kali ini saya gemes banget ingin membahas alasan-alasan mendasar yang menimbulkan kemalasan. Memberantas rasa malas yang menghalangi kemauan untuk menulis.

well, setelah menimbang-nimbang ada dua alasan mendasar yang melatarbelakangi rasa malas. Khususnya kemalasan yang sedang saya alami saat ini. Kemalasan yang berhasil mengeluarkan aktivitas menulis dari keseharian saya.

Alasan pertama yang melatarbelakangi rasa malas adalah adanya hal yang lebih menarik dan lebih mudah dilakukan daripada aktivitas yang seharusnya dilakukan. Alasan ini berlaku umum di setiap jenjang usia.

Menonton televisi tentu lebih menarik daripada mengerjakan PR dari Sekolah. Apalagi kalau serial Upin dan Ipin mulai mengudara. Hal ini umum terjadi kepada anak atau remaja di usia sekolah.

Nongkrong ngobrol ngalor-ngidul di kafe atau sekedar bermain game online tentu lebih menarik daripada mengulang kembali pemahaman atas penjelasan dosen di ruang kuliah. Lebih kurang godaan ini kerap terjadi kepada mahasiswa.

Mengerjakan skripsi amatlah sangat tidak menarik jika dibandingkan dengan pacaran atau keluyuran tak jelas di mall. Ini sudah pasti dirasakan oleh mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung beranjak dari bab latar belakang skripsinya. Apalagi ketika mengingat kumis tebal nan sangar milik dosen pembimbing yang terkenal galak, kemalasan makin membesar porsinya.

Pacaran memang terasa lebih nikmat daripada memberanikan diri melamar sang pujaan hati guna melanjutkan ke jenjang pernikahan. Kekhawatiran akan masa-masa setelah menikah kerap kali menghantui sepasang kekasih, sehingga terjadilah penundaan untuk menikah. Apakah mau menunggu “kecelakaan” haaah..? hah..? haaah..? 

Begitu juga yang terjadi pada pekerja nine-to-five macam saya ini. Rasanya lebih enak kerja dibarengi berselancar di internet dan chatting di media sosial daripada fokus menyelesaikan tugas-tugas. Padahal pekerjaan yang kurang fokus dikerjakan, biasanya menghasilkan kualitas pekerjaan yang kurang baik. Akibat lainnya adalah beberapa tugas meleset dari target waktu yang sudah ditetapkan.

Beberapa contoh yang saya kemukakan di atas adalah jenis-jenis distraksi yang sering dialami oleh kebanyakan orang. Televisi, bermain game, ngobrol ngalor-ngidul, pacaran, berselancar internet, bermain sosial media, chatting dan sebagainya kerap menjadi penyebab timbulnya kemalasan.

Dengan kata lain, distraksi lebih mudah dilakukan dan dirasa lebih asyik daripada mengerjakan pekerjaan utama.

Maka dari itu, salah satu langkah untuk membedah kemalasan adalah dengan menyadari distraksi-distraksi yang berpotensi terjadi. Kemudian menyingkirkan penyebab distraksi yang dialami.

Contoh sederhana yang saya lakukan agar fokus dalam bekerja adalah dengan mematikan notifikasi di handphone dan meletakkannya di meja dengan posisi layar menghadap bawah. Hal ini saya lakukan karena menyadari handphone merupakan salah satu sumber distraksi dalam bekerja. 

Tapi bukan berarti kalau pacarnya yang menjadi sumber distraksi kemudian menggunakan solusi yang sama lho yaa. Bukan dengan menelungkupkan pacarnya di meja, kan enggak asik banget hihi.

hmm solusi untuk menyingkirkan distraksi yang bersumber dari pacar adalah mengajak sang pacar plesiran ke KUA dengan membawa bekal berupa persyaratan lengkap untuk ijab qobul.

Lalu alasan kedua yang menimbulkan rasa malas apaan dong..?

Kalo itu sih saya sedang malas membahasnya kali ini, di tulisan selanjutnya saja lah yaa. Distraksi perut lapar ini agak susah untuk dinegosiasi. Hahahahahalesaaan…!!!

Salaaam…
dia lelaki pemalas yang tak kunjung rajin

Wednesday, 12 April 2017

Memaknai Kembali Prioritas

Begitulah manusia, dari hari ke hari semakin pandai mencari alasan untuk pembenaran. Pembenaran atas tindakan kurang tepat yang dilakukan. Pembenaran atas hal-hal yang berada di gray area. Seperti yang saya lakukan atas kosong melompongnya blog ini dari pertengahan Maret 2017.

Tidak tanggung-tanggung hampir sebulan lamanya saya enggak menulis di blog ini. Kemudian saya mencari-cari alasan pembenaran atas tindakan ini. Alasan klasiknya sih  ingin menghabiskan jatah males. Tuh kan, alasan pembenarannya terlalu dibuat-buat dan nggapleki1.

Alasan pembenaran lainnya adalah terlalu sibuk. Padatnya kuantitas pekerjaan sehari-hari yang harus diselesaikan seolah-olah menjadi pembenaran atas sikap malas menulis ini. Ahh lemah sekali, terkalahkan telak oleh tembakan-tembakan pekerjaan yang mendera setiap hari.

Kemudian saya teringat akan Cak Nun yang rutin menulis di rubrik Daur2 di website beliau. Hei, coba bayangkan kepadatan aktivitas Cak Nun yang berkeliling dari simpul-simpul Maiyah di seluruh Indonesia masih sempat-sempatnya menulis untuk jama’ah Maiyah.

Rasanya runutan pekerjaan saya tak sepadat aktivitas yang dijalani oleh Cak Nun. Tapi beliau mampu menulis setiap hari dengan kategori tulisan yang dalam dan sarat makna. Bila melihat kapasitas Cak Nun, wajar saja jika beliau mampu menulis setiap hari. Puluhan buku sudah beliau tuliskan. Rasanya bukan perbandingan yang apple to apple jika membandingkan diri dengan Cak Nun. Tapi rasanya tiada salah jika ingin meniru jejak beliau dalam hal konsistensi menulis.

Senada dengan Cak Nun, marketeer terkenal asal Amerika, Seth Godin, juga rutin menulis di blognya3 setiap hari. Dalam salah satu rekaman podcast-nya di situs unmistakablecreative.com4, Seth Godin menganjurkan untuk ngeblog setiap hari. Padahal sebagai marketeer terkanal, tentu jadwal Seth Godin padat merayap.

Everyone should write a blog, every day, even if no one reads it. There’s countless reasons why it’s a good idea and I can’t think of one reason it’s a bad idea. – Seth Godin

Quote dari Seth Godin di atas mungkin terdengar sedikit gila, tapi gagasan itu sudah dilakukan dengan konsisten oleh Seth Godin sendiri. CJ Chlivers menjelaskan lebih detail tentang pemikiran Seth Godin ini dalam tulisan di blognya5.

Dari dua contoh tokoh yang saya ketengahkan tentang konsistensi Cak Nun dan Seth Godin, rasanya alasan sibuk tidak dapat dijadikan pembenaran atas keengganan menulis, khususnya menulis di blog ini.

Setelah saya telusuri kedalam diri sendiri, permasalahannya bukan ada atau tiadanya waktu untuk menulis. Namun masalah yang sedang saya hadapi lebih kepada hilangnya prioritas menulis dalam keseharian. Jika aktivitas menulis saya masukkan dalam prioritas sehari-hari layaknya makan dan minum, maka sempat tak sempat saya akan meluangkan waktu untuk menulis. Apapun itu bentuk tulisannya.

Permasalahan selanjutnya adalah mencari tahu penyebab menulis tiada lagi masuk mejadi prioritas dalam keseharian. Saya rasa, keluarnya aktivitas menulis dari prioritas kembali pada term di awal tulisan ini, yaitu menghabiskan jatah malas. Ini benar-benar sebuah alasan pencarian pembenaran paling menyebalkan yang pernah saya timbulkan untuk diri sendiri. Hmm Menyebalkan sekali.

Ahhh mungkin ada baiknya penyebab rasa malas ini saya uraikan di tulisan selanjutnya esok hari. Biar ada alasan untuk menulis setiap hari gitu lho hehe. Untuk saat ini, biarlah tulisan ini menjadi pendobrak tembok untuk memulai rutinitas menulis agar kembali masuk kedalam prioritas aktivitas harian. Kembali lagi memaknai prioritas.

Kemudian saya mulai mengalami dejavu…

Salam…
DiPtra lelaki berwajah ndangdut


  1. sesuatu yang menjengkelkan; menjengkelkan sekali; membuat emosi. 
  2. Daur 
  3. Seth Godin 
  4. What to do When It’s Your Turn with Seth Godin 
  5.  Seth Godin Explains Why You Should Blog Daily