Wednesday, 23 August 2017

Ketika Dingin Menyapamu, Berlagaklah Sebagai Abang Ojeg

Kamu tahu, jika hipotermia tak segera ditangani, maka perlahan-lahan akan menghantarkan penderitanya pada gerbang kematian. Aku sendiri sudah lama tahu akan hal ini, khususnya ketika menonton film Vertical Limit.

Tapi memang aku sendiri sedang merasa kurang kerjaan menulis hal-hal semacam ini, walau sebenarnya pekerjaan sedang menumpuk di sudut meja. Biarlah, biarakan mereka -tumpukan pekerjaan itu- merasa diabaikan sejenak. Aku tahu mereka itu layaknya perempuan puber, jinak-jinak tahi ayam. Ketika dicuekin malah semakin meminta perhatian, menjadi semakin ganjen.

Bersyukur sekali aku tak sampai mengalami hipotermia dalam ruangan. Rupanya bertahun-tahun hidup di Jakarta yang terkenal sangar akan suasana gerahnya telah merubah presepsi ujung syaraf Rufini dan Krause di permukaan kulitku.

Ujung syaraf Krause menjadi lebih sensitif terhadap dingin. Sedangkan ujung syaraf Rufini menjadi lebih kebas terhadap panas. Ketika pulang ke Malang, aku merasa begitu kedinginan. Padahal dulu sebelum hijrah ke Jakarta, aku merasa nyaman-nyaman saja terhadap kondisi temperatur kota tercinta itu. Tapi asal kamu tahu saja, nilai pelajaran Biologiku pas-pasan.

Hipotermia? hmmm yaa tepat di atas kepalaku semanjak hari Senin lalu, menyembur udara yang sudah mengalami proses perpindahan kalor melalui kondesor. Udara itu menjadi terlalu dingin menerpa pori-pori kulit kepalaku.

Coba perhatikan foto di bawah ini, suram sekali rasanya ketika melihat muara pendingin ruangan sampai mengembun. Ditambah dengan dislokasi perilaku ujung syaraf Rufini dan Krause di sekujur permukaan kulitku, maka menggigillah tubuh berusia tiga puluh tahunan ini. hmmm yaa aku tak lagi muda-muda banget, sudah mulai memasuki area usia Oom-Oom. Lebih tepatnya Oom-Oom rasa Mas-Mas. Mohon hentikan niatanmu untuk berunjuk rasa atas statement nggaphleki ini.

Ketika keluar ruangan demi menyerap hangat mentari, aku merasakan tubuh ini menghangat. Bahkan cenderung panas. Jadi tak salah rasanya jika istriku menyebutku hot Oom-Oom of the year. Damn, satu rahasia kampretku terkuak lagi.

WhatsApp Image 2017-08-22 at 18.39.01
Udara mengembun di sekitar muara pendingin ruangan

Kenyamanan kerja tentu berbanding lurus dengan kondisi badan. Ini memang tampak manja sekali, tapi beginilah kenyataannya.

Coba saja kamu ingat-ingat ketika tubuhmu sedang menderita influenza, kemudian dipaksa oleh Ibu Guru Cantik pengajar Matematika di SMA mengerjakan persoalan kalkulus integral pangkat tiga pada angka-angka imajiner.

Yaaak belum selesai mengerjakan kerja rodi kalkulus itu, pasti kamu pingsan dan digotong kawan-kawan sekelasmu ke UKS. Kamu pingsan bukan karena tak bisa mengerjakan soal itu, tapi lebih karena kamu nervous berada di dekat Ibu Guru Cantik yang diam-diam kamu taksir itu. Lagu lama anak SMA.

Sama halnya dengan dunia kerja, tempat kerja yang membuat badan meriang tentu akan menghadirkan ketidaknyamanan saat berkarya. Temperatur dingin yang berlebihan bagiku cukup menyiksa.

Apalah daya, jaket bertudung warna kelabu yang kumiliki sedang berteduh di laundry langganan. Sudah lebih dari tiga hari, harusnya sudah selesai. Hanya saja aku malas untuk mengambilnya.

Aku kedinginan. Mau berpelukan dengan teman sekantor rasanya kok aneh. Kami bukan sekumpulan Teletubbies. Minum kopi pahit ternyata tak bisa menghangatkan badan. Mamang penjual bandrek tidak beroperasi di sekitar tempat kerjaku.

Tak kurang akal, aku bertanya kepada Ronaldo, rekan kerjaku yang ginjur-ginjur itu. Seingatku dia punya spare helm yang ia taruh di dalam lemarinya di kantor. Lemari itu tepat di belakangnya.

“Do, pinjem helm lu dong. Masih ada di sini gak..?” tanyaku tanpa pikir panjang kepada Ronaldo. Aku kedinginan, harus berpikir tan bertindak cepat sebelum kutu-kutu dirambutku hijrah ke hutan tropis yang lebih hangat di lapangan depan kantor.

“Ada bang, nih pake aja,” sahut Ronaldo sambil menyerahkan helm hijau full face mirip helm yang biasanya dibawa oleh abang-abang ojeg online. There you goo beginilah kira-kira penampakanku ketika tak kuat menahan dingin di dalam ruangan kerja. Aku berlagak seperti abang ojeg

Abaikan tempat kerjaku yang semrawut. Fokuslah pada kakiku yang tanpa alas kaki

Semoga tulisan singkat ini sedikit menghibur hatimu. Beginilah diriku, ketika sedang butuh hiburan, aku malah berindak sedikit absurd.

Salam,
DiPtra


Featured Image by Noah Silliman on Unsplash
Originally posted on diptra.id

Tuesday, 22 August 2017

Follower Banyak Itu Mengerikan

 

Hal yang patut digarisbawahi adalah follower banyak tak selalu menguntungkan. Memang sih pada era segala hal bisa dikapitalisasi, memiliki jumlah follower banyak merupakan sebuah anugerah tersendiri.

Kita tengok saja selebgram yang banyak bermunculan belakangan ini. Dengan mengambil sampel secara random, saya dapati akun-akun selebgram memiliki pengikut puluhan hingga ratusan ribu. Pada level artis beken yang sering muncul di acara tivi, film atau pun video klip maka jumlah follower bisa mencapai angka fantastis, jutaan.

Maka jangan heran bila online shop berdatangan untuk menggunakan jasa selebgram untuk mempromosikan produknya. Lantas, apakah hal ini salah? Entahlah, jika pertanyaan ini dilontarkan kepada peserta acara cerdas cermat yang dipandu oleh Helmy Yahya pun saya yakin mereka akan menjawab secara normatif, yaitu relatif.

Hubungan online shop dengan selebgram ini boleh lah dikategorikan sebagai hubungan simbiosis mutualisme. Online shop-nya untung karena produknya dipromosikan, dengan harapan omset penjualan produk atau jasa meningkat. Sedangkan bagi selebgram sendiri, keuntungan materi yang cukup lumayan bisa diraih.

Bukan hanya selebgram ya, selebtwit pun dengan jumlah follower mencapai puluhan ribu menjadi endorser beberapa produk. Namun belakangan ini saya melihat di Twitter jasa endorser mulai tergantikan oleh buzzer. Buzzer ini secara beramai-ramai melakukan promosi atas suatu produk yang ingin diperkenalkan.


Promosi Produk, Jasa, Kelakuan dan Pemikiran di Media Sosial

Di lain sisi, saya melihat jika produk yang dipromosikan oleh seorang selebgram, selebtwit, ataupun buzzer bertentangan dengan kenyataan, maka sejatinya terjadi semacam ke-tak-elokan moral di dalamnya. Maksudnya suatu produk A dipromosikan secara positif, padahal di dapurnya dirasani kalau produk A itu jelek.

Ambil contoh sederhana, ketika launching suatu produk kuliner XYZ, maka mau tak mau si selebgram, selebtwit, dan buzzer tentu akan bilang produk kuliner XYZ itu enak gak kalah dengan produk sejenis. Bahkan kadang sedikit lebay. Semacam kehilangan obyektifitas atas produk yang sedang dipromosikan. Mana ada kecap nomer dua.

Itu baru dari segi produk yang sedang dipasarkan atau dipromosikan. Bagaimana jika suatu pendapat, tindakan, pemikiran, narasi yang sedang disampaikan oleh selebgram, selebtwit, dan buzzer? Menurut saya, nilai pertanggungjawabannya lebih berat daripada mempromosikan suatu produk.

Jika selebgram atau selebtwit dengan ratusan ribu follower setia bahkan fanatik melakukan suatu tindakan tidak terpuji kemudian disebarkan di media sosialnya, bisa jadi follower setianya akan mengikuti apa yang dilakukan. Contohnya? hmm buanyaaaak. Karena follower setia dan fanatik itu menganggap apa yang dilakukan oleh idolanya itu keren. Benar atau salah, bermoral atau tidak itu urusan nanti, yang penting keren dulu.

Suatu tindakan buruk yang kemudian ditiru oleh orang lain, maka karma akibat keburukannya akan kembali kepada si pelaku mula. Lebih kurang seperti itu alur sebab akibat yang saya pahami.

Kehidupan bermedia sosial memiliki potensi interaksi dengan manusia-manusia lain yang tidak bisa kita prediksi persebarannya. Maka dari itu adalah bijaksana jika kita menebarkan kebaikan-kebaikan saja di akun-akun media sosial yang kita miliki. Ini menurut saya bukan sebuah pencitraan. Menjadi pencitraan jika kebaikan atau inspirasi yang disampaikan bertentangan dengan keseharian.


Mawas Diri Dalam Berkelakuan di Media Sosial

Lantas apakah tulisan ini semacam wujud keirian saya karena gagal menjadi selebgram? Hmmm bisa jadi iya, namun justru karena saya menyadari benih-benih yang tidak baik bersemi dalam hati maka secepat mungkin saya harus bisa meredamnya. Maka menuliskan tentang keresahan hati ini merupakan cara paling sederhana untuk meredamnya. Menetralkannya.

Bahkan semenjak saya dirasuki oleh pemikiran bahwa memiliki follower banyak itu mengerikan, jadinya semakin tidak tertarik menjadi seleb media sosial. Walaupun menjadi seleb media sosial ataupun tidak sama-sama memiliki potensi penyebaran kebaikan dan keburukan, menjadi sosok yang berada pada spotlight banyak orang itu untuk saya tidak mengenakkan. Semacam ada kebebasan yang terenggut.

Tapi entahlah, ini hanya perasaan saya saja. Pada titik tertentu, saya malah ingin menghilang dari peredaran media sosial kebanyakan yang kerap saya gunakan seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan Path.

Bersepi-sepi saja menulis, menuangkan pemikiran. Seperti halnya menulis dan membaca konten-konten menarik dan bergizi di Medium ini, merupakan sebentuk pelarian dari kejenuhan media sosial kebanyakan.

Paling tidak saya ingin menyeleksi apa-apa yang akan dikonsumsi oleh pikiran saya. Bukan hal-hal random tak terkendali yang memenuhi beranda media sosial.

Sekian, semoga ada manfaat yang bisa dipetik.

Salam,
DiPtra


Photo by Camila Damásio on Unsplash
Originally posted on diptra.id

Tuesday, 15 August 2017

Kerjakan yang Di Depan Mata, Lupakan Keinginan

Sebelum tulisan bagus ini menguap dan terlupakan, maka saya harus iseng untuk mengabadikannya di dalam blog ini. Memang ini terasa tidak orisinal. Paling tidak saya masih orisinal dalam memberikan kata pengantar walau hanya beberapa kalimat.

Jadi, inti hikmah yang bisa saya tangkap dari tulisan berikut ini adalah ketika punya impian atau keinginan, jangan ambisius banget laah yaa. Selow ajah. Begitu yang saya tangkap dari cerita Gus Banan ini.

Selama membacanya saya manggut-manggut menyetujui dan merefleksikannya terhadap kehidupan yang sudah saya lalui. Yaa memang leres sekali apa yang beliau sampaikan.

Ruh tulisan ini, terangkum dalam quote yang beberapa kali di ulang oleh Gus Banan seperti di bawah ini:

Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini


SEBAIK-BAIK IKHTIYAR USAHA ADALAH YANG PEROLEH KESADARAN

#SebuahCerpen

“Sesudah memasuki usia balig, aku jatuh cinta dengan teman sekelasku, di mana ia juga jatuh cinta padaku. Ia cinta pertamaku, bahkan ihtilām (mimpi basah) pertamaku juga dirinya yang ada dalam mimpi. Kami sama-sama jatuh cinta ja”laran seka kulina” (karena terbiasa bersama).”

“Sejak SD kami berdua bersaing ketat dalam prestasi, kompak dan sinergi. Setelah di SMP di mana usia kami mulai pubertas, kami jadi saling jatuh cinta. Waktu sekolah SMP baru 3 bulan, aku disuruh orang tua pindah sekolah, orang tua ingin sekolahku sambil mondok. Karena aku enggan pisah dengan cinta pertamaku, aku tidak mau pindah sekolah. Orang tuaku akhirnya mengalah. Ternyata di belakang hari, walau kami berdua tau sama-sama cinta, tapi kami tidak bisa menyatu. Cinta kami masih ukuran cinta monyet, miss komunikasi terjadi, sehingga kami bertahan dengan ego kami masing-masing. Kami seperti Tom and Jarry. Tujuanku bertahan satu sekolah untuk bisa dekat dengannya, justru aku malah jadi jauh.”

“Baru setelah kami tidak lagi satu sekolah, kami saling mencari, karena kami saling mencintai sangat mendalam. Namun tetap tidak bisa pacaran, entah mengapa setelah jarak kami jauh, kami sangat sulit berkomunikasi. Dan hingga kami dewasa, kami berdua tidak bisa pacaran. Apalagi waktu itu belum zaman handphone, komunikasi kami sangat terbatas. Setelah handphone ramai, aku terhubung dengan ia, ternyata ia sudah menikah. Cinta pun hingga saat ini hanya menjadi rasa yang perlahan terlepas tanpa bisa memiliki.”

“Sisi lain dari hidupku, setelah SMA dan perguruan tinggi, aku di pondok pesantren. Aku anak yang gemilang di urusan leader dan akademis, karena dari SD pun aku sudah menonjol. Ambisiku besar, jika aku tidak bisa punya pengaruh di publik, aku kesal dan tidak tahan menahan rasa terpinggirkan. Tapi aku malah mengalami keadaan sebaliknya, semua ambisi-ambisiku sangat susah aku capai. Ingin jadi ketua OSIS gagal, hingga di kampus aku ingin jadi presiden BEM juga gagal total.”

“Di SMA dan kampus kuliah, aku kebetulan bareng seorang pesaing, bahkan di pondok pesantren kami juga bareng, leader dan kecerdasannya seimbang denganku, tapi semua karir publik ia yang dapatkan. Ia jadi selebritis, pacar pun berdatangan melamarnya. Baik ketua OSIS, presiden BEM, hingga jabatan bergengsi di pesantren, termasuk menjadi Lurah Pondok, ia yang meraih. Aku cuma jadi kutu mati. Potensiku hancur, aku yang leader-nya kuat di organisasi publik paling di posisi departemen kebersihan, paling banter departemen pendidikan. Entah apa jalan yang dikehendaki Tuhan sehingga menyiksaku seperti ini.”
“Seperti apa rasa hatiku hidup seperti itu? Semua yang aku hasrati justru dijauhkan dariku? Mulai dari wanita yang kucintai sampai karir publik yang kuminati dijauhkan sejauh-jauhnya dariku. Tentu nangis batin yang kuperoleh. Yang ingin kupegang malah lepas.”

“Akhirnya aku hanya dapat mengerjakan apa yang ada di depan mata. Yang kupegang tidak pernah lepas hanya buku dan kitab pelajaran. Itu yang akhirnya menjadi pelampiasan emosi terpendamku. Siang malam aku hanya fokus di pelajaran, hingga bertahun-tahun. Hingga aku lupa sendiri dengan kegiatan BEM dan organisasi publik di pesantren. Dan ternyata, aku lulus dengan IP tertinggi, aku menjadi satu-satunya santri dan mahasiswa yang dapat bea siswa S2 ke Universitas Al-Azhār Mesir.”

“Mulai saat itu namaku meroket di kampus dan pesantren. Sana-sini mengenalku. Aku jadi paham kalau pola hidupku, “Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini.” Karena dari urusan cinta sampai karir, semua yang kuingini malah kabur.”

“Aku peminat bujang tua, karena memang minat besarku pada akademis dan ilmu. Minat di dunia publik sudah musnah terkubur. Ketika sudah di Mesir, ketika aku yang sudah kenyang dijejali gagal memperoleh jabatan publik, di sana pun aku langsung konsentrasi pada pelajaran, namun kali ini di Mesir aku sambil kerja, karena biaya kuliah dari pemerintah, tapi biaya hidup aku harus nanggung sendiri. Dan ketika aku telah lupa dengan jabatan publik mahasiswa, kini di Mesir justru jabatan itu mengejar diriku. Tapi aku sudah tidak minat. Cuma karena ditarik-tarik jadi mau tidak mau harus kumakan.”

“Pulang ke Indonesia pun, aku yang vokal ceramah tidak laku-laku ceramah. Santri juga waktu itu belum punya. Aku yang lulusan S2 A-Al-Azhār fakultas sastra Arab boro-boro jadi penceramah kondang dan kyai besar. Aku melamar jadi dosen kesana-kemari, akhirnya diterima jadi dosen di perguruan tinggi swasta. Di kampung aku yang punya ambisi jadi penceramah tidak laku-laku. Paham dengan pola hidupku, “Kerjakan yang di depan mata, lupakan yang diingini,” aku mulai ngajar ngaji anak-anak kampung. Dan aku tekuni benar. Rasa ingin jadi kyai besar aku endapkan. Terus aku tekuni, dan 2 tahun kemudian mulai ada santri minta jadi santriku. Lagi-lagi, aku sudah nikmat ngajar di internal pesantrenku dan di kampus, undangan ceramah berdatangan padaku.”

“Dan sebenarnya, selama aku digerus-gerus tidak pernah ketemu dengan yang kuingini, di sana egoku hancur dan buram, yang akhirnya lamat-lamat kutemukan Tuhan. Dan saat sekarang ketika orang-orang menyaksikanku mapan dan sukses, aku sendiri sudah hanya di dalam Tuhan. Dunia-dunia gemilang di sekitarku hanya tinja pupuk hidupku. Tinja tapi kumanfaatkan untuk pupuk.”

“Dan ternyata, informasi yang kuterima, temanku yang dulu di kampus dan pesantren jadi leader hebat, kini malah ia terpuruk, hidup jadi orang biasa, tidak punya pengaruh apa-apa, aku dengar ia sekarang di Arab Saudi jadi TKI karena harus menanggung sulitnya penghidupan. Padahal ia dulu aku kira akan jadi tokoh hebat di antero Indonesia. Alhasil, hidup itu hanya Tuhan yang bisa eksis, ditemukannya Tuhan bila ego keinginan remuk. Ketika keinginan ego kita dituruti oleh Tuhan, hakikatnya kita digelapkan dari Zat-Nya. Karena itu sebaik-baik ikhtiyar usaha ialah yang peroleh kesadaran atau hikmah, peroleh hasil bukanlah perolehan utama.”

“Teman pesaingku itu ternyata ketika berjaya tidaklah sewaspada diriku. Ketika aku takut pacaran karena takut keinginanku tidak terijabah, justru ia gonta-ganti pacar karena merasa maksiat tidak ngaruh untuk karir dan ilmunya. Jadi begitulah Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia jauhkan keinginan si hamba, agar si hamba memakan yang tidak ia hasrati, ketika si hamba memakan yang tidak ia hasrati, itu hakikatnya si hamba hanya menikmati Tuhan.” []


Dicerpenkan dari tutur seorang tamu spiritualis, ia seorang dosen muda di beberapa kampus, juga kyai muda pemangku pesantren. #RepostCerpen


Oke, saya tahu beberapa hari ini menjelang hari kemerdekaan Indonesia, tapi kok saya tak kunjung menelorkan tulisan berkaitan dengan kemerdekaan. Malah me-repost tulisan orang lain di blog ini. Hmmm iya siih memang sudah lama juga saya ndak nulis di sini, menyapa kawan-kawan wordpress.

Begitulah, kali ini saya memaknai kemerdekaan sebagai kemerdekaan untuk tidak menulis ataupun menulis di blog ini. Bahkan saya merasa merdeka untuk mengisi atau tidak mengisi kemerdekaan. Ahhh dasar lelaki egois.

Salam..
dia si Lelaki Egois Berwajah Ndangdut


Featured image by Shane Rounce on Unsplash