Butuh Berapa Banyak Nasihat?

Saya pernah kepikiran suatu pertanyaan berkaitan dengan nasihat. Kira-kira, kita ini butuh berapa banyak nasihat untuk menjadi orang baik, orang sukses, orang berhasil? Pertanyaan ini  terlontar ketika saya mendapati diri saya begitu bosan waktu membaca quote ataupun artikel-artikel yang berisi nasihat atau motivasi.

Hingga bertanya-tanya apakah saya sudah menjadi orang yang keras kepala sehingga merasa bosan dengan motivasi. Jangan-jangan kerak pada cermin hati saya sudah sedemikian tebalnya sehingga mental saja ketika membaca tulisan bermuatan nasihat. Atau lebih menyeramkan lagi jika saya tergolong kedalam makhluk berwatak sombong yang tak tersentuh dengan nasihat.

Sampai-sampai, saya mengajukan pertanyaan ini kepada teman-teman saya. Untuk menjadi baik kita butuh berapa banyak nasihat?

Ternyata ribuan nasihat pun tidak akan berguna jika tidak ada keinginan untuk berubah. Tak hanya ribuan, bahkan jutaan nasihat pun tak mampu menggerakkan orang yang memang tidak mau berubah.

Jika melihat banyaknya nasihat yang berterbangan di jagat literasi analog maupun digital, rasanya nasihat itu tak ada habisnya. Ada saja yang menuliskan nasihat agar dibaca orang lain, ada juga yang membagikannya ulang. Sebagian sekedar mencuplik kata-kata bijak yang ada dalam suatu tulisan genre nasihat.

Buku-buku genre nasihat pun tak pernah habis di rak-rak toko buku. Selalu ada saja buku yang berisi nasihat baru ataupun buku nasihat lama dengan kemasan baru.

Bisa jadi nasihat yang terus bermunculan hadir ini sebagai salah satu indikasi banyak manusia yang tak ingin berubah. Berkali-kali membaca dan mendenagar nasihat tapi tak kunjung ada perubahan dalam hidup.

Atau bisa jadi seperti yang sedang saya alami, terlalu bosan membaca tulisan ber-genre nasihat. Sehingga menjadi kebas terhadap nasihat yang didapatkan.

Bisa juga otak saya kacanduan oleh nasihat, sehingga ketagihan mencari nasihat-nasihat baru yang memuaskan dahaga kebijaksanaan sesaat. Setiap mendapat nasihat baru, ada suntikan dopamine menjalar di dalam otak.

Tapi tidak menutup kemungkinan kebutuhan akan nasihat ini sebagai sebentuk usaha untuk menjaga konsistensi dalam berlaku baik. Mengkondisikan diri dalam aura kebaikan agar tidak terperosok ke lubang keburukan.

Memang tabiatnya manusia sih ya yang selalu membutuhkan alarm berupa nasihat. Karena tabiat dasar manusia memang pelupa.

Dari jaman dahulu Tuhan selalu mengutus nabi dan rasul kepada umat manusia. Salah satu tujuan pengutusan nabi dan rasul adalah untuk memberikan nasihat kepada manusia. Memang kebanyakan manusia suka nggandhemi, isuk dele sore tempe.

Terus terang, saya menulis ini untuk menasihati diri sendiri yang sedang merasa kebas terhadap nasihat. Waleh terhadap nasihat. Agak gemes juga terhadap diri sendiri yang kerap mbalelo terbujuk oleh rayuan iblis setelah mendengar nasihat.

Pada sisi yang lainnya, saya juga merasa gemes dengan orang-orang yang kerap membagikan nasihat untuk pencitraan. Tak ada perubahan signifikan dalam kehidupannya setelah membagikan nasihat. Bahkan yang paling parah adalah ketika saya mendapati orang yang dulunya begitu galak menyampaikan nasihat, memberikan judgement atas perilaku orang lain, eh ndilalah di kemudian hari, dia sendiri melanggar nasihat yang dia sampaikan sendiri.

Ini kan namanya nggaphlek’i kuadarat. Iyaaa, macem saya ini tipikal manusia nggaphlek’i kuadrat. Suka sekali mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan. Apa kamu juga merasakan unsur-unsur nggaphlek’i kuadrat bersemayam dalam dirimu? Bahahaha saya bukan bermaksud mennyindir lhoo yaa. Tapi yaa kalo merasa tersindir saya mohon maaf mumpung aroma suasana lebaran masih terendus.

Yak dari tulisan singkat ini, saya ingin menarik satu kesimpulan. Sebenarnya bukan perkara ketagihan nasihat atau kebas terhadap nasihat, tapi sepemahaman saya saat ini, salah satu sifat nasihat layaknya seperti obat. Dibutuhkan resep dan dosis tertentu pada nasihat agar kemanjurannya dapat dirasakan olah penerima nasihat.

Maka dari itu, temukan resep dan dosis nasihat yang tepat untuk dirimu sendiri. Jangan sok-sokan membagikan nasihat tentang parenting padahal dirimu sendiri masih kebingungan menentukan pasangan hidup.

Oh iya, tulisan ini juga saya maksudkan sebagai perwujudan ayat ketiga surat Al-Ashr. Semoga bermanfaat.

Salaaaa….mmm,
DiPtra.


Featured Photo by Ben White on Unsplash

3 thoughts on “Butuh Berapa Banyak Nasihat?

  1. betul aku setuju sama perumpamaannya, nasihat seperti obat. kadang tiap nasihat yang kita dapat itu gak mempan karena emang obatnya gak mempan. perlu ada obat-obat lainnya dari orang berbeda, kali.

    1. Iyaa Koh Ded, dibutuhkan momentum, dosis, dan metode yang tepat dalam menyampaikan nasihat. Kalo kebanyakan jadinya malah kebas terhadap nasihat hiks.
      .
      Makasih yaa sudah meninggalkan jejak 👣

  2. nasihat sebetulnya sama sekali nggak efektif,kalau yang dinasehati tdk dalam kondisi “terbuka akan ide baru”. kondisi itu terjadi karena bnyk faktor, biasanya faktor mood. bukan berarti saat kita kebas itu ndableg. ya lagi ga mood, bosan, jenuh aja..makanya dibutuhkan variasi lebih.

Share Your Thought