Berkas Cahaya

Bintang di langit telah lenyap, namun cahayanya baru sampai ke mata kita. Jarak jutaan tahun cahaya dari bintang menuju bumi membuat hal itu mungkin terjadi. Penampakan bintang di langit malam bisa jadi hanyalah berkas-berkas cahaya dari bintang yang telah mati.

Sama halnya dengan manusia. Leluhur kita yang mewariskan kebijakan kepada anak cucunya bagaikan bintang di langit. Mereka telah lama tiada, namun nasehatnya, petuahnya, kebijaksanaannya menetes lembut dalam keseharian kita.

Sama halnya dengan hal baik yang kita alami saat ini, bisa jadi merupakan sebentuk pengabulan doa dari para pendahulu kita. Mereka, menyisakan berkas-berkas cahaya walau telah tiada.

Bisa jadi kebaikan-kebaikan yang kita tanam hari ini, menyebar, memadati dan menembus relung-relung kegelapan hati seseorang pada tempat dan momen yang  tepat. Bisa jadi persebaran kebaikan yang kita lakukan menjadi penerang jalan kita di kehidupan nanti.

Malas berbuat kebaikan di saat ini lebih karena begitu tebalnya hijab materialisme mengungkung keseharian. Bahkan sering kali tidak menyadari keterhijaban ini. Dari buaian, dunia pendidikan, berkawan, bekerja, bersosialisasi penuh dengan nuansa kebendaan.

Tidak. Saya tidak mengajak untuk membenci materi, toh dalam menjalani kehidupan di dunia ini mau tidak mau jasad kita masih mebutuhkan sokongan materi. Hanya ingin menyampaikan kegelisahan atas diri sendiri yang semakin lama semakin hanyut dalam pusaran materi hingga terlupa jalan pulang.

Setiap kita telah terlahir di muka bumi dan kelak juga akan meninggalkannya. Baik sebagai orang yang dikenang oleh kebanyakan atau bahkan tidak dikenang sama sekali. Sebagian kecil orang mungkin akan mengenang kita, namun sebagian besar melupakan.

Sebenarnya tak menjadi masalah bakal dikenang atau tidak, hal yang paling penting adalah kita meninggalkan berkas-berkas cahaya kepada manusia pewaris bumi setelah kita. Seperti halnya para pendahulu kita, mewarisi cahaya-cahaya kebaikan yang kini kita rasakan.

Semoga potensi “kefir’aunan” yang bersemayam dalam tiap diri kita tidak terlalu dominan. Sebuah potensi yang bakal mewarisi kegelapan kepada generasi setelah kita tiada. Ahhh bisa jadi sering munculnya kisah Fir’aun dalam kitab suci sebagai sindiran Tuhan kepada tiap manusia atas potensi “kefir’aunan”, potensi mengenakan selendang kesombongan.

Fir’aun bukannya tidak mengenali berkas cahaya yang dibawa oleh Nabi Musa, tapi terlalu silau akan cahaya, hingga akhirnya menutup mata. Entahlah ini hanya perandaian, wallahu’alam.

Sekiranya tulisan ini menebarkan berkas kegelapan, semoga ada yang berkenan menegur saya dengan kelembutan hati jika perumpamaan tentang Fir’aun ini kurang tepat.

There are two ways of spreading light: to be the candle or the mirror that reflects it.
– Edith Wharton

Salam..
DiPtra


p.s latihan mindfulness hari ini agak sedikit melenceng dari jadwal yang telah ditentukan di pagi hari. Sebelas menit durasi yang saya tempuh. Highlight evaluasi latihan mindfulness di hari ke sepuluh adalah perkara kedisiplinan mematuhi jadwal latihan.

Share Your Thought