Friday, 12 May 2017

Pulang

Seharian ini eksperimen manajemen waktu menggunakan Microsoft Outlook Calendar. Kali ini saya mencoba metode Time Blocking1 temuan Cal Newport.

Prinsip metode Time Blocking cukup sederhana. Pertama, menentukan durasi waktu tiap poin pekerjaan. Kedua, mengesampingkan distraksi. Dan yang terakhir, evaluasi efisiensi dan efektifitas penentuan durasi waktu.

Oh iya, penentuan target boleh juga dimasukkan dalam prinsip manajemen waktu ala Time Blocking. Target hari ini sih, pekerjaan yang sempat tertunda beberapa waktu lalu kelar sebelum jam lima sore. Karena saya harus ke stasion Pasar Senen untuk pulang kampung ke Malang.

Alhamdulillah, walau ada satu dua distraksi, target pekerjaan yang direncanakan selesai. Saya berpendapat, bahwa dengan menentukan target, fokus akan lebih terjaga walaupun ada distraksi dari sekitar.

Akhirnya, mau tidak mau saya nulis blog ini di dalam kereta Majapahit dari stasion Pasar Senen menuju Malang. Lumayan lama juga, lima belas jam lima puluh menit durasi perjalanan dari Jakarta ke Malang.

Perjalanan kali ini dapat nomor kursi 18B di gerbong 6. Di depan saya duduk seorang bapak dengan kisaran usia enam puluh tahun. Di sebelahnya ada mbak-mbak berjilbab kuning berjaket hitam.

Si bapak turun di Cirebon. Si mbaknya turun di Solo. Di sebelah saya juga ada seorang bapak dengan kepala plontos berkaos polo merah.

Perjalanan kereta api enam belas jam. Sebagian teman saya berujar lama banget perjalanannya. Tapi karena sudah terbiasa, jangka waktu enam belas jam tidaklah terlalu lama.

Hal yang paling susah untuk diatasi dalam menempuh perjalanan dengan durasi waktu cukup lama adalah perkara kebosanan. Dulu awal-awal naik kereta api jurusan Jakarta – Malang bosan sekali rasanya berada di dalam kereta.

Tapi dengan menikmati suasana di dalam kereta. Lalu-lalang petugas kereta maupun penumpang lainnya. Goyangan-goyangan kereta ketika bermanuver dan sebagainya cukup menarik ketika diperhatikan dengan seksama.

Menikmati saat ini di segala tempat yang disinggahi adalah salah satu kunci menikmati hidup. Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa berlatih mindfulness merupakan salah satu cara untuk menikmati hidup. Karena dalam mindfulness ditekankan untuk hadir secara utuh di saat ini. Being present.

Salam..
DiPtra

p.s seperti kemarin, hari ini cuma latihan mindfulness sebelas menit. Itupun di ruang tunggu kereta di Stasion. Latihan hening di tempat ramai menjadi tantangan tersendiri.

Tuesday, 9 May 2017

Pain is Inevitable

img_5484

Pain is inevitable, suffering is optional
– Haruki Murakami

Quote di atas berasal dari di buku What I Talk About When I Talk About Running karya Haruki Murakami. Sebuah memoar tentang perjuangan Murakami dalam membentuk kebiasaan berlari. Rasa tidak nyaman yang dihadirkan ketika berlari, akan terasa semakin menyakitkan jika kita menganggapnya sebagai sebuah penderitaan. Lebih kurang seperti itulah tafsiran quote dari Murakami.

Sama halnya seperti putus cinta, putus cinta itu menyakitkan. Namun ketika kita menganggapnya sebagai sebuah penderitaan dan malah mendramatisirnya, maka semakin terasa menyakitkan putus cinta yang dirasa. Sayangnya sebagian orang malah menikmati momen-momen dramatisasi patah hati. Mungkin ini sebentuk adiksi patah hati1.

Begitu juga ketika awal-awal berlatih mindfulness, durasi latihan lima menit terasa begitu lama. Karena sebelumnya terbiasa dengan ketergesaan. Jadi, untuk duduk sejenak mengheningkan pikiran pun terasa susah. Pikiran yang terbiasa dalam ketergesaan akan mengalami kesakitan ketika diajak untuk bersabar dalam berlatih mindfulness.

Berlatih mindfulness adalah sebuah usaha untuk menjernihkan pikiran yang kalut dan kusut. Pikiran kalut ibarat keruhnya air dalam wadah yang diaduk dengan campuran tanah. Untuk mejernihkan air dalam wadah tersebut cukup dengan mendiamkan air dalam wadah tersebut. Lebih kurang seperti itulah ilustrasi berlatih mindfulness.

Di bawah ini ada video dari Youtube yang menggambarkan dengan apik ilustrasi tentang mindfulness.

Bagaimana pun juga, ketergesaan dan perburuan kecepatan dalam era millenial ini tak dapat dihindari, namun keputusan untuk bersabar adalah sebuah pilihan.

Hari ini saya berlatih mindfulness sebelas menit sebelum berangkat bekerja. Satu menit terakhir sebelum sesi latihan berkahir saya manfaatkan betul-betul untuk memperdalam rasa syukur atas nafas hari ini.

Salam..
DiPtra

Tuesday, 2 May 2017

Mensyukuri Nafas

10 menit di pagi hari. Menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan. Duduk dengan posisi apa pun. Kadang diawali dengan bersila, berakhir dengan selonjoran. Duduk dengan menegakkan tulang punggung, kadang bersandar di dinding, sesekali tidak. Kemudian mulai berlarianlah pikiran kesana-kemari dengan liarnya. Jangan lupa menyiapkan timer dengan alarm suara sebagai penanda waktu mulai dan akhir latihan. Lebih kurang seperti itulah proses latihan mindfulness yang sedang saya lakukan.

Pagi ini, latihan mindfulness dimulai pukul 5:53 WIB. Mulai menyadari tarikan dan hembusan nafas. Dengan rasa kantuk yang masih tersisa di pelupuk mata. Nafas, hal terdekat pada diri kita yang sering kali terlupakan. Berlatih menyadari nafas dalam mindfulness merupakan sebentuk kebersyukuran terhadap nafas.

Selama mengingati tarikan dan hembusan nafas, pikiran selalu ingin terbang kesana-kemari. Entah ada berapa macam lintasan pikiran yang tadi hadir selama latihan. Mungkin lebih dari sepuluh macam lintasan pikiran.

Salah satunya, perut ini tiba-tiba terasa lapar. Padahal tadi malam sudah menghabiskan 3/4 loyang pizza tipis di warung sebelah. Hadeeeh, selama ini rasa lapar jarang hadir di pagi hari, karena sudah terbiasa tidak sarapan. Mengamati pikiran konyol ini jadi senyum-senyum sendiri.

Tuuuung, alarm berbunyi, pertanda latihan usai.

Alhamdulillah. Selepas latihan istri saya masuk ke kamar membawakan sepiring pepaya yang sudah dipotong kecil-kecil. Hmm mensyukuri keberadaan nafas yang begitu sederhana, mampu membuat diri ini meletakkan rasa syukur yang lebih besar pada nikmat-nikmat lainnya.

Salam
DiPtra

Sunday, 30 April 2017

Don’t Give Up

“…if you really look closely, most overnight successes took a long time.” — Steve Jobs

Dalam penelitiannya, Dr. Angela Duckworth menemukan bahwa, keteguhan dan passion atas tujuan jangka panjang adalah kunci terpenting untuk meraih keberhasilan. 1

Menjadi masuk akal, orang yang tidak gampang menyerah sering kali mendapatkan tujuan yang diinginkan.

Namun sayangnya, kebanyakan dari kita begitu gampang menyerah ketika menghadapi tantangan yang begitu sulit di depan mata.

Kira-kira, kesuksesan macam apa yang bakal kita peroleh jika kita terlampau mudah menyerah..? 

Saturday, 29 April 2017

Kunci Kebahagiaan Nomer Wahid

“Success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful.” — Herman Cain

Untuk merasa bahagia, mau tidak mau harus dimulai dari diri sendiri dulu. Karena kalau menanti suntikan kebahagiaan dari orang lain wah bisa keburu lebaran kuda baru bahagia. Itu pun kalau kudanya ngerti perihal lebaran.

Dari pernyataan Herman Cain di atas, jika menggunakan silogisme, maka kunci kebahagiaan adalah mencintai apa yang sedang kita kerjakan. Atau bisa jadi bermakna juga mencintai pekerjaan kita sekarang.

Lantas, apakah kunci kebahagiaan nomor wahid..? 

Sebenarnya sih kunci kebahagiaan nomer wahid itu enggak ada, karena kebahagiaan seringkali berbentuk kondisional. Seperti halnya orang lapar, maka kebahagiaanya adalah ketika bertemu dengan makanan.

Pemuda yang sedang jatuh cinta, maka kebahagiaannya adalah ketika cintanya diterima. Pelajar yang menempuh UN, maka kebahagiaannya adalah lulus ujian dengan nilai memuaskan.

Ibu yang sedang hamil, merasa bahagia ketika bayinya kelak lahir dengan selamat dan sehat. Seorang pedagang merasa bahagia ketika barang dagangannya laris manis.

Begitu juga dengan orang yang menyesali perbuatan salahnya, maka kebahagiaannya terletak pada pintu maaf.

Memang sih beberapa petuah bijak yang pernah saya dengar mengatakan bahwa kebahagiaan tidak membutuhkan syarat. Karena ketika syarat atau kondisi yang diharapkan tidak sesuai harapan, biasanya akan muncul kekecewaan.

Lantas timbullah pertanyaan dalam diri saya, apakah tidak boleh berbahagia jika harapan terpenuhi, dan apakah tidak boleh merasai kecewa ketika harapan tidak terpenuhi..? 

Entahlah saya juga bingung menghadapi pertanyaan ini, yang jelas selama di dalam perjalanan dengan kereta kali ini, kebahagiaan saya terletak pada kerinduan bertemu dengan keluarga. Sebuah perjalanan dengan rentang waktu 16 jam antara Jakarta – Malang yang lumayan rutin saya jalani. Perjalanan mengurai rindu.

Salam..
DiPtra

Tuesday, 25 April 2017

Silau

Ketika cahaya yang menghampiri mata begitu kuat intensitasnya, maka secara reflek kita akan memicingkan mata atau bahkan menutup mata.

Sama halnya dengan orang yang menolak kebenaran. Sering kali karena cahaya kebenaran itu terlalu kuat sehingga menyilaukan mata hatinya. Menutup mata hatinya walaupun di sekitarnya diselimuti oleh cahaya.

Maka doa perlindungan yang senantiasa dilantunkan sepanjang hidup adalah doa perlindungan dari ketidaktahuan dan ketidakmauan. Ketidaktahuan ketika berada dalam kegelapan sehingga tersesat jalan. Ketidakmauan mengikuti jalan yang bermandikan cahaya karena terlalu silau.

Salam.
Pengeja Cahaya…