Monday, 17 April 2017

Flavo

Pemilihan warna adalah hal yang cukup urgent dalam hal branding. Warna yang menjadi ciri khas suatu produk. Seperti halnya Whatsapp dengan warna hijaunya, Facebook dengan warna birunya, ataupun Gojek dan Grab yang sama-sama memiliki ciri khas warna hijau.

Berangkat dari dasar pemikiran itu, saya bereksperimen dalam pemilihan warna untuk blog ini. Saya menggunakan aksen merah untuk link dan title website. Sedangkan untuk featured image masih suka random dalam pemilihan warnanya. Begitu juga desainnya masih ngacak suka-suka hati.

Kali pertama membuat featured image saya menggunakan Canva1, tahun lalu. Canva adalah sebuah aplikasi berbasis web, sehingga kita tidak perlu meng-install aplikasi kedalam komputer. Cukup mengedit featured image melalu brower yang sudah ter-install di komputer. Aplikasi Canva sudah tersedia di Apps Store untuk Ipad2. Walaupun bisa di-install iPhone, penggunaannya agak sedikit rikuh.

Namun saat ini, saya menggunakan aplikasi Typorama3 untuk membuat featured image. Aplikasi yang menyediakan desain beragam. Tersedia beragam fitur yang sangat memanjakan penggunanya.

Adapun fitur dari Typorama yang sering saya gunakan adalah stock photo, filter untuk gambar, design font, transparency dan shadow. Sebenarnya masih banyak fitur ampuh lainnya yang disediakan, namun untuk pembuatan featured image kebutuhan blog, fitur-fitur dasar itu sudah lebih dari cukup.

Pemilihan warna pun saya menemukan warna kuning yang saya sukai dari color pallete yang disediakan oleh Typorama. Hampir semua design featured image dalam tulisan di blog ini menggunakan design beraksen warna kuning.

Karena sudah terlanjur suka dengan warna kuning yang digunakan, saya sampai mencari kode heksa4 untuk warna kuning ini. Dalam hal design, komposisi warna sangatlah penting sehingga enak untuk dilihat. Maka saya memadukan warna kuning dari design featured image dengan filter grayscalenamun intensitas grayscale-nya tidak sampai 100%. Diatur sedemikian rupa hingga terasa ngeblend dengan warna kuning.

Alasan saya memilih warna kuning sebagai warna khas feature image blog ini karena secara psikologis, warna kuning menandakan keceriaan5. Ketika saya telisik lebih mendalam makna warna kuning secara psikologis berarti juga warna untuk kecerdasan pikiran, rasa optimis dan keceriaan. Namun daripada itu, warna kuning secara psikologis juga memiliki makna ketaksabaran, kritik dan pengecut. Hihihi kampreeeet juga yaak ternyata. Tak apalah kan sesekali saya juga menuliskan kekampretan-kekampretan pemikiran saya di blog ini.

Salam..
Dia si lelaki kampret

note: flavo dalam bahasa latin berarti kuning


  1. https://www.canva.com/ 
  2. https://about.canva.com/ipad/ 
  3. http://www.apperto.com/typorama/ 
  4. Kode heksa warna kuning untuk design featured image blog ini adalah #ffd459  
  5. http://www.empower-yourself-with-color-psychology.com/color-yellow.html 

Saturday, 15 April 2017

Mengurangi Interaksi Media Sosial

Lebih kurang sebulan sudah interaksi saya dengan media sosial berkurang secara drastis. Bukannya dikejar-kejar penagih hutang ataupun penggemar, tapi tindakan saya ini dipengaruhi oleh pemikiran Cal Newport1 tentang media sosial.

Dalam banyak kesempatan, baik itu dalam bentuk tulisan maupun kuliahnya, Cal Newport memberikan saran untuk berhenti menggunakan Media Sosial.

Cal Newport adalah seorang penulis buku dan scientist di MIT. Hingga saat ini dia mengaku belum pernah memiliki akun media sosial.

Seperti tayangan Youtube Cal Newport pada acara TED di akhir tulisan ini, dia memaparkan berbagai argumen untuk berhenti menggunakana media sosial.

Akan tetapi, saya tidak menelan mentah-mentah saran dari Cal Newport. Tidak serta merta saya menghapus semua akun media sosial yang saya miliki. Saya hanya mengurangi interaksi dengan media sosial.

Menghapus aplikasi media sosial di handphone adalah langkah paling sederhana yang dapat saya lakukan untuk mengurangi interaksi di media sosial.

Lalu apakah dampak yang saya rasakan selama mengurangi interaksi denga media sosial?

Lebih kurang ada tiga hal yang saya rasakan ketika mengurangi interaksi dengan media sosial.
Hal yang pertama adalah, saya merasa lebih tenang. Selama ini secara langsung ataupun tidak, kegalauan kerap dipicu oleh informasi yang saya dapatkan dari media sosial.

Kedua, serasa ada waktu tambahan untuk mengerjakan hal lain. Alokasi waktu yang sebelumnya habis untuk bermain media sosial kini dapat saya isi dengan aktivitas lain.

Kudet atau kurang update terhadap informasi adalah hal ketiga yang saya rasakan. Saya jadi telat tahu mengenai berita apa yang sedang hangat dibahas oleh masyarakat.

Tapi walaupun telat mendapatkan update informasi, saya merasa biasa saja. Tak ada lagi FOMO yaitu, kekhawatiran ketinggalan berita.

Dan lagi, informasi yang sedang menjadi trending topic sering kali dibagikan dengan senang hati oleh teman-teman. Baik dibagikan dalam obrolan biasa maupun melalui aplikasi chatting.

Sekian pengalaman saya selama sebulan mengurangi penggunaan media sosial. Apakah kamu ingin mencoba mengurangi penggunaan media sosial, atau kamu merasakan banyak waktu terbuang sia-sia karena media sosial? Bisa deh kamu coba tips yang saya lakukan dalam tulisan ini.

Friday, 14 April 2017

Mereduksi Kemalasan

Desidiam recesseras, adalah bahasa Latin yang bermakna kemalasan. Tulisan kali ini masih setali tiga uang dengan tulisan sebelumnya. Masih membahas penyebab kemalasan.

Seperti pembahasan sebelumnya, penyebab pertama kemalasan adalah distraksi oleh hal remeh temeh yang lebih mudah dilakukan daripada hal utama. Hal utama yang menjadi tujuan.

Kali ini masuk pada pembahasan penyebab kedua kemalasan. Pada artikel sebelumnya, jika dibaca dengan lebih jeli, saya sudah sedikit menyinggung penyebab kedua dari kemalasan ini.

Penyebab kedua rasa malas yang saya maksud adalah rasa takut. Nantinya rasa takut inilah yang akan menghalangi seseorang untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan. Terjadilah penundaan.

Semasa kuliah dulu, saya memiliki ketakutan berlebihan terhadap monster bernama skripsi. Sehingga menunda-nunda pengerjaannya. Belum lagi ketika berjodoh dengan dosen pembimbing yang terkenal sangar, makin ciutlah nyali ini menghadapi monster skripsi.

Tapi untunglah saya berhasil melewati monster skripsi itu. Berhasil mengalahkannya layaknya Ultraman yang sudah berkedipan alarm di dada tanda kehabisan waktu ketika melawan monster. Setelah dihadapi, apa yang ditakutkan tidak semenyeramkan kenyataannya.

Paling tidak saya bersyukur sekali pernah mengalami masa-masa kritis itu, hmm lebay banget sih yaak, cuman skripsi ini hihi. Eeehh tapi jangan salah, sekali dua kali mimpi buruk ketika ujian skripsi hadir dalam tidur saya. Entahlah mungkin ada emosi yang belum release.

Mengerjakan skripsi adalah salah satu pengalaman paling berkesan dalam menghadapi rasa takut yang pernah saya alami.

Dari pengalaman itu, saya mengambil pelajaran bahwa rasa takut sering kali menjadi muslihat. Muslihat yang menghalangi dari tindakan yang seharusnya dilakukan.

Padahal sering kali ketakutan-ketakutan dalam pikiran yang terlintas, tak semengerikan kenyataan yang terjadi.

Lalu bagaimanakah metode untuk mengatasi rasa takut berlebihan sehingga berujung pada kemalasan..? 

Kali ini saya tak akan bersikap nggapleki. Saya akan memberitahu apa yang saya lakukan dalam mengatasi rasa takut.

Untuk mengatasi rasa takut yang kerap saya alami maka saya perlahan-lahan belajar tentang mindfulness. Tak hanya belajar, tapi juga harus dipraktikkan agar mendapatkan hasil maksimal.

Apakah itu mindfulness dan bagaimanakah cara melatihnya..? 

hmmm, untuk perkara penjelasan tentang mindfulness in, saya akan kembali bersikap nggapleki. Karena sedang maleeees bangeeeet. Bihihihi…

Capek juga yaa ternyata ngeblog melalui aplikasi di handphone.

Salam
dia yang sedang beradaptasi dengan aplikasi wordpress di handphone.

Thursday, 13 April 2017

Membedah Kemalasan

Dicuplik dari Kamus Besar Bahasa Indoneisa (KBBI), malas memiliki arti tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Sedangkan kemalasan adalah kata benda yang bermakna perihal malas atau berada pada keadaan malas1.

Masih bertalian dengan tulisan sebelum ini2, kali ini saya gemes banget ingin membahas alasan-alasan mendasar yang menimbulkan kemalasan. Memberantas rasa malas yang menghalangi kemauan untuk menulis.

well, setelah menimbang-nimbang ada dua alasan mendasar yang melatarbelakangi rasa malas. Khususnya kemalasan yang sedang saya alami saat ini. Kemalasan yang berhasil mengeluarkan aktivitas menulis dari keseharian saya.

Alasan pertama yang melatarbelakangi rasa malas adalah adanya hal yang lebih menarik dan lebih mudah dilakukan daripada aktivitas yang seharusnya dilakukan. Alasan ini berlaku umum di setiap jenjang usia.

Menonton televisi tentu lebih menarik daripada mengerjakan PR dari Sekolah. Apalagi kalau serial Upin dan Ipin mulai mengudara. Hal ini umum terjadi kepada anak atau remaja di usia sekolah.

Nongkrong ngobrol ngalor-ngidul di kafe atau sekedar bermain game online tentu lebih menarik daripada mengulang kembali pemahaman atas penjelasan dosen di ruang kuliah. Lebih kurang godaan ini kerap terjadi kepada mahasiswa.

Mengerjakan skripsi amatlah sangat tidak menarik jika dibandingkan dengan pacaran atau keluyuran tak jelas di mall. Ini sudah pasti dirasakan oleh mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung beranjak dari bab latar belakang skripsinya. Apalagi ketika mengingat kumis tebal nan sangar milik dosen pembimbing yang terkenal galak, kemalasan makin membesar porsinya.

Pacaran memang terasa lebih nikmat daripada memberanikan diri melamar sang pujaan hati guna melanjutkan ke jenjang pernikahan. Kekhawatiran akan masa-masa setelah menikah kerap kali menghantui sepasang kekasih, sehingga terjadilah penundaan untuk menikah. Apakah mau menunggu “kecelakaan” haaah..? hah..? haaah..? 

Begitu juga yang terjadi pada pekerja nine-to-five macam saya ini. Rasanya lebih enak kerja dibarengi berselancar di internet dan chatting di media sosial daripada fokus menyelesaikan tugas-tugas. Padahal pekerjaan yang kurang fokus dikerjakan, biasanya menghasilkan kualitas pekerjaan yang kurang baik. Akibat lainnya adalah beberapa tugas meleset dari target waktu yang sudah ditetapkan.

Beberapa contoh yang saya kemukakan di atas adalah jenis-jenis distraksi yang sering dialami oleh kebanyakan orang. Televisi, bermain game, ngobrol ngalor-ngidul, pacaran, berselancar internet, bermain sosial media, chatting dan sebagainya kerap menjadi penyebab timbulnya kemalasan.

Dengan kata lain, distraksi lebih mudah dilakukan dan dirasa lebih asyik daripada mengerjakan pekerjaan utama.

Maka dari itu, salah satu langkah untuk membedah kemalasan adalah dengan menyadari distraksi-distraksi yang berpotensi terjadi. Kemudian menyingkirkan penyebab distraksi yang dialami.

Contoh sederhana yang saya lakukan agar fokus dalam bekerja adalah dengan mematikan notifikasi di handphone dan meletakkannya di meja dengan posisi layar menghadap bawah. Hal ini saya lakukan karena menyadari handphone merupakan salah satu sumber distraksi dalam bekerja. 

Tapi bukan berarti kalau pacarnya yang menjadi sumber distraksi kemudian menggunakan solusi yang sama lho yaa. Bukan dengan menelungkupkan pacarnya di meja, kan enggak asik banget hihi.

hmm solusi untuk menyingkirkan distraksi yang bersumber dari pacar adalah mengajak sang pacar plesiran ke KUA dengan membawa bekal berupa persyaratan lengkap untuk ijab qobul.

Lalu alasan kedua yang menimbulkan rasa malas apaan dong..?

Kalo itu sih saya sedang malas membahasnya kali ini, di tulisan selanjutnya saja lah yaa. Distraksi perut lapar ini agak susah untuk dinegosiasi. Hahahahahalesaaan…!!!

Salaaam…
dia lelaki pemalas yang tak kunjung rajin

Thursday, 9 March 2017

WordPress.com for Google Docs

Ini adalah sebentuk percobaan menulis untuk WordPress via Google Docs. Tulisan kali ini akan diterapkan ke situs diptra.com. Setelah dapat informasi dari Matt Mullenweg bahwa Automattic membuat add-ons untuk melakukan posting melalui Google Docs.

Well mari kita coba save as draft di WordPress. Apakah nantinya text editor WordPress akan native di Google Docs atau akan dibuat integrated seperti halnya Ghost atau Medium. Hmm entahlah saya penasaran dan sangat tertarik akan hal ini.

WordPress Add ons for Google Docs

Lebih kurang seperti di atas tampilan add ons WordPress untuk Googe Docs. Judul dokumen akan menjadi judul artikel pada WordPress. Sampai saat ini hanya tersedia opsi Save Draft dan Update Draft, dan Preview tampilan tulisan di halaman blog.

Add ons dari WordPress ini sangat cocok untuk menulis konten secara kolaboratif. File pun bisa disimpan di Google Drive. Selain itu, format tulisan untuk WordPress yang sudah kita buat di Google Docs bisa disimpan dalam berbagai format seperti pdf, docx, rtf dan lain sebagainya. Sangat menarik.

Lalu, bagaimana cara untuk mengaktifkan WordPress add ons for Google Docs..? klik saja tautan berikut ini untuk mengaktifkan add ons, WordPress.com for Google Docs. Add ons ini baru bisa berjalan di browser Google Chrome.

Untuk tutorial lebih lanjut mengenai add-ons WordPress.com for Google Docs bisa merujuk pada sumber aslinya, Introducing WordPress.com for Google Docs: A New Way Forward for Collaborative Editing.

Sekian, semoga bermanfaat.

Salam..
DiPtra

Wednesday, 1 March 2017

Secangkir Kopi Pahit

Awal tahun 2017, sudah mencoba tantangan tidak minum minuman berpemanis.1 Efek sampingnya adalah berat badan turun 1,5 kilogram. Selain itu sensitifitas lidah terhadap gula meningkat. Saat ini minuman macam teh botol Sosro terasa terlalu manis.

Beberapa hari lalu, teman saya ngajakin ngopi di kafe baru di sekitar kosan. Selama ini terbiasa minum kopi dengan gula, kebiasaan yang terbawa dari rumah. Nah ketika ngopi di kafe baru itu saya nekat nyobain kopi pahit tanpa gula.

Kopi yang diseduh berasal dari bijih kopi yang langsung digiling di tempat. Pantas saja waktu tunggu penyajiannya cukup lama. Selama ini seringnya minum kopi dari kopi sachet-an yang gosipnya sudah dicapur dengan jagung.

Dua cangkir kopi sudah tersaji di meja kafe. Teman saya karena sudah terbiasa minum kopi setiap hari, selow saja ketika meneguk kopi pahit. Sedangkan saya harus beradaptasi dulu dengan rasa pahit dari kopi tanpa gula.

Awalnya memang enggak enak, pahit. Tapi lama-lama aroma khas kopi terasa nikmat di lidah. Ada sensasi rasa ringan di lidah. Padahal selama ini ketika minum kopi, mulut akan terasa masam.

Dari peristiwa minum kopi pahit kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa selama ini yang membuat mulut terasa masam adalah gula yang dicampur dalam secangkir kopi, bukan karena kopinya. Hal yang sama juga saya rasakan ketika minum secangir teh manis

Kini saya sudah bisa sedikit memahami alasan para pecinta kopi untuk meminum kopi tanpa gula. Mereka selalu beralasan hanya orang-orang yang pernah merasai pahitnya hidup yang bisa menikmati pahitnya secangkir kopi.

Oookkaaayyy demi kesehatan mari kita mulai mereduksi konsumsi gula sehari-hari.

Salam..
DiPtra

Tuesday, 28 February 2017

Ilusi Terkait Makan

Dengan mengamati pertumbuhan Raffii saya mulai menyadari bahwa makan adalah sebuah kebiasaan. Hal ini saya sadari ketika Raffii mulai makan bubur sebagai asupan gizi selain ASI.

Kali pertama makan bubur, ada penyesuaian yang dialami Raffii. Belum terbiasa mengunyah bubur. Lidahnya masih terbiasa oleh rasa dan tekstur ASI yang berupa cairan. Kini dia sudah terbiasa makan nasi dan lauk pauk seperti halnya orang dewasa. 2,5 tahun sudah usianya, mulai doyan makan yang manis-manis semacam permen.

Lalu saya perhatikan lagi, Raffii mulai dibiasakan makan tiga kali sehari di rumah. Sarapan, makan siang lalu makan malam. Padahal ketika hanya minum ASI, dia bakal nangis kalo merasa haus atau lapar. Momen nangisnya enggak peduli pagi, siang atau malam. JIka merasa lapar, dia langsung ajah teriak, menangis dengan kencang.

Ketika sudah merasa kenyang oleh ASI, Raffii yaa berhenti sendiri. Hmm saya kepikiran kok bayi ini nyunnah banget ya, mengikuti sunnah Nabi Muhammad. Makan hanya ketika lapar, berhenti sebelum kenyang. Nah poin berhenti minum ASI sebelum kenyang ini saya belom menanyakan langsung kepada Raffii. Tapi percuma juga sih kalo ditanyain, dia pasti lupa.

Dari pengamatan terhadap perkembangan pola makan Raffii, saya mulai mengelaborasi dengan pengamatan pola makan ketika puasa dan pola makan sehari-hari yang tiga kali sehari. Saya mulai mafhum bahwa interkoneksi otak dan perut itu terbentuk karena kebiasaan. Kebiasaan yang terbentuk sedari kecil.

Karena rutin makan tiga kali sehari, maka akan menjadi heran ketika mendapati orang-orang yang kuat makan satu kali sehari dan sehat-sehat saja. Kisah ini pernah saya dengar dari seorang teman tentang orang yang hanya makan satu kali sehari. Menurut teman saya pokok persoalannya ada pada mindset.

Saya pernah melanggar kaidah keumuman tentang makan 3 kali sehari, kaidah yang entah dari mana asalnya. Alhamdulillah tidak ada keluhan sakit maag hingga saat ini.

Semenjak itu saya sangat yakin bahwa sinyal lapar yang kerap dikirimkan perut (lambung) ke otak adalah sebentuk ilusi. Metode puasa, seperti puasa pada bulan Ramadhan, adalah sebuah metode untuk mengenali lapar karena ingin yang merupakan sebuah ilusi dan lapar yang merupakan kebutuhan tubuh.

salam..
DiPtra

Saturday, 25 February 2017

Minimalism, Sebuah Perjalanan Kedalam Diri

Padahal kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Tak bisa disamakan antara satu dengan yang lainnya. Lebih kurang kalimat-kalimat seperti itulah yang terlintas di benak saya ketika berjalan menuju kantor, melihat lalu-lalang kendaraan.

Selftalk yang saya lakukan tadi, menjadi semacam pengingat terhadap diri sendiri. Pengingat bahwa dalam menjalani hidup minimalis tak perlu melihat keluar diri, melihat orang lain.

Aseliii laah ini saya alami, ketika mulai menerapkan ide-ide tentang hidup minimalis yang sudah dipelajari, ada gelitikan nakal untuk memberikan penilaian terhadap hidup orang lain. Penilaian bahwa seseorang masih terlalu berlebihan dalam menjalani hidupnya. Padahal yaa belum tentu juga karena kebutuhan tiap orang berbeda-beda.

Penilaian-penilaian terhadap apa-apa yang berada di luar diri, ternyata malah mengaburkan suara-suara untuk mengoreksi apa-apa yang berada di dalam diri. Lupa bahwa mempraktekkan hidup minimalis adalah sebuah cara untuk menggali kebahagiaan dari dalam diri.

Continue Reading

Friday, 24 February 2017

Sedikit Tentang Keseimbangan

Saya percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu mencari titik keseimbangannya. Bumi berputar pada porosnya adalah sebentuk usaha mencapai keseimbangan akibat gaya gravitasi antara bumi dan matahari. Bahkan gunung meletus pun termasuk sebentuk penjagaan alam terhadap keseimbangan ekosistem bumi.

Begitu juga halnya dengan perilaku dan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam proses ekonomi, setiap waktu selalu terjadi proses pencarian keseimbangan antara kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi. Tiga hal yang merupakan aktivitas utama perekonomian.

Sejak era revolusi industri bergulir, barang hasil produksi jadi melimpah. Dengan berlimpahnya kapasitas produksi suatu produk, mendorong peningkatan proses distribusi kepada konsumen. Salah satu unsur distribusi barang hasil produksi kepada konsumen adalah advertising atau pariwara.

Sayangnya sering saya dapati pariwara yang mencitrakan sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan menjadi seolah-olah sesuatu yang urgent. Contohnya iklan pemutih wajah, karena sawo matang itu lebih eksotis, halah.

Proses produksi yang  melimpah dan ekspansi aktivitas distribusi yang masif ternyata mampu merubah perilaku masyarakat menjadi konsumtif, konsumsi berlebihan.

Seperti obrolan Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus dalam teaser film Minimalism: A Documentary About the Important Things,

Tak ada yang salah dalam hal mengkonsumsi suatu produk, yang menjadi masalah adalah konsumsi berlebih tidak sesuai kebutuhan.

Gerakan minimalism yang mulai banyak dianut masyarakat di Amerika adalah sebentuk kesadaran akan perilaku konsumsi berlebih. Kesadaran akan muslihat advertising memikat pada suatu produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Sebuah kesadaran untuk menyeimbangkan kehidupan. Sebuah gerakan melawan kehidupan konsumtif tanpa makna.

Jadi, boleh dibilang gerakan “minimalism” adalah sebentuk tindakan untuk mencapai keseimbangan atas gaya hidup konsumtif.

Salam…
DiPtra

Tuesday, 14 February 2017

Ayo Makan Buah

Sudah 3 pekan rupanya saya tidak sempat mengisi blog ini. Lebih tepatnya bukan karena tidak sempat atau tidak ada waktu, tapi lebih karena urutan prioritas menulis di blog ini tiba-tiba terjun bebas, tergusur dari prioritas utama.

Maka dari itu saya harus membeberkan alibi atas merosotnya prioritas ngeblog. Alasan pertama, badan saya ambruk setelah menjalani aktifitas beruntun sehingga mengurangi jatah waktu istrahat tanggal 20 hingga 21 Januari 2017 lalu. Sampai-sampai saya menurunkan tulisan Time to Rest beberapa waktu lalu, saya butuh istirahat. Lebih kurang saya sakit selama sepekan.

Badan meriang dan sakit mata melanda. Mata pedih sekali rasanya ketika harus menatap monitor laptop cukup lama. Setelah konsultasi ke dokter di klinik kantor, ternyata bukan iritasi karena kurang tidur yang saya derita, namun sakit mata kerena serangan virus atau bakteri. Alhamdulillah dengan obat tetes mata yang diresepkan dokter, dalam 3 hari kondisi mata yang memerah dan berair berangsur membaik.

Ketika sakit dengan indikasi badan meriang, indera pengecap saya terasa pahit jika memakan suatu makanan. Lauk teriyaki daging made in kantin kantor yang biasanya terasa nikmat jadi terasa pahit. Bahkan, makanan kelas restoran pun terasa pahit ketika saya menghadiri acara makan malam perpisahan bos besar di bisnis unit kerja saya.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah lidah terasa pahit ketika sakit adalah sebuah sinyal dari tubuh untuk mengurangi konsumsi makanan berat..? Makanan berat yang saya maksud adalah makanan yang sudah mengalami rantai pengolahan panjang. Makanan berbasis karbohidrat, protein dan lemak.

Saya kembali teringat akan filosofi food combining yang pernah saya pelajari dan praktikkan beberapa waktu yang lalu. Filosofi tentang sarapan buah yang menyesuaikan dengan sistem sirkadian tubuh.

Ketika pagi hari tubuh membutuhkan energi yang cukup untuk membuang sisa-sisa pencernaan makanan di hari sebelumnya. Maka buah-buahan dipilih sebagai asupan energi siap pakai di pagi hari, daripada memakan makanan berat dimana tubuh membutuhkan energi lagi untuk mengolahnya.1

Dengan kata lain, memakan buah-buahan di pagi hari meringankan kerja sistem pencernaan tubuh.2

Nah, sejalan dengan filosofi sarapan buah food combining, maka saya menganalogikan ketika sakit, tubuh membutuhkan pasokan energi yang siap pakai. Nah, konsumsi buah menjadi solusi pasokan energi siap pakai ketika sakit. Ketika sakit, cadangan energi tubuh dialokasikan untuk melawan penyakit. Maka sangat masuk akal ketika sakit, tubuh membutuhkan istirahat yang cukup untuk menghemat energi.

Tak heran, terasa segar sekali dan tak terasa pahit ketika memakan buah-buahan waktu sakit 3 pekan lalu. Bahkan saya memperbanyak konsumsi buah-buahan saat itu. Mungkin jika tak mendapati buah, maka bisa mengkonsumsi madu sebagai pengganti supply energi.

Well atas kejadian lidah pahit ketika sakit 3 pekan lalu itulah, saya membuat kesimpulan bahwa ketika sakit sebaiknya memperbanyak makan buah. Kurangi konsumsi makanan yang sudah mengalami rantai proses pengolahan yang lumayan panjang. Karena memakan makanan berat akan memberatkan tubuh yang sedang sakit.

Lalu alibi selanjutnya mengapa saya tak kunjung menulis di blog ini selama 3 pekan adalah adanya urusan pekerjaan di site Surabaya. Pressure pekerjaan di site lumayan tinggi ternyata. Ketika balik ke penginapan cadangan energi untuk ngeblog sudah habis, bahkan untuk sekedar mandi lelah bener rasanya. Biasanya langsung tepar begitu sampai di pembaringan. Lebih kurang 10 hari saya merasai kerja di site.

sarapan buah
Sarapan buah babak kedua ketika di penginapan selama di site

Selepas menyelesaikan pekerjaan di site saya mengambil cuti dan pulang ke Malang. Muas-muasin untuk main bersama Raffii yang sedang lucu-lucunya. Praktis prioritas kegiatan ngeblog tergeser jauuuuuuh.

Naah itu dia penampakan bocah 2,5 tahun yang sedang tercadel-cadel belajar bicara. Sudah mulai banyak gaya dan sadar kamera.

Selanjutnya saya berencana untuk memulai lagi food combining di waktu mendatang sebagai pola makan sehari-hari.

Salam…
dia yang sedang kangen ngeblog