Fasting and Vegan

Photo by Martin Bisof on Unsplash

Dua hari ini lihat film dokumenter. Langsung dua film secara bergatian.

Film pertama tentang ajakan berhenti memakan produk-produk makanan dari hewan. Semacam ajakan untuk menjadi vegan. Judul film dokumenternya The End of Meat.

Film dokumenter kedua membahas tentang manfaat puasa. Menjelaskan juga macam-macam puasa yang diteliti di USA sana.

The End of Meat menjelaskan tentang efek rumah kaca akibat peternakan. Lahan yang digunakan untuk peternakan berasal dari penebangan hutan. Lebih dari itu, pakanan yang digunakan untuk ternak juga menyebabkan penggundulan hutan.

Belum lagi perlakuan yang kejam atas hewan ternak. Baik sejak lahir hingga dipanen di rumah jagal hewan. Habis lihat film itu jadi mikir ulang ketika ingin makan makanan yang berasal dari hewan.

Habis nonton film dokumenter The End of Meat, rasanya jadi ingin nyobain pola makan vegan.

Film dokumenter tentang puasa juga keren. Menyajikan testimonial para pelaku puasa. Baik itu intermitten fasting, water fasting, juice fasting dan religius fasting. Judul filmnya Fasting. Dirilis tahun 2017.

Paling menarik buat perhatian adalah seorang ibu yang menderita sakit kepala sepanjang waktu selama 16 tahun. Ibu ini kemudian melakukan water fasting selama 40 hari.

Di hari ke 40, untuk pertama kalinya dalam 16 tahun sakit kepala yang diderita si ibu reda. Setelah periode water fasting selesai, sakit kepala si ibu sembuh.

Tentu water fasting yang dilakukan si ibu dalam pengawasan dokter. Setelah dua bulan setelah melakukan water fasting, si ibu ingin melakukan kembali water fasting.

Namun dokter pendampingnya tidak memperbolehkan. Si Ibu masih dalam tahap mengembalikan cadangan makanan tubuh yang hilang selama periode puasa.

Baru boleh memulai water fasting lagi setelah 6 bulan masa restorasi. Setelah beberapa kali melakukan sesi water fasting, sakit yang diderita si ibu tak pernah kembali datang.

Menarik. Tentang water fasting ini paling menarik. Mungkin karena terlalu ekstrim.

Metoda water fasting rasanya terlalu ekstrim. Apalagi jika kita tak mengalami keluhan tentang tubuh kita. Meskipun begitu tubuh kita tetap membutuhkan puasa secara berkala.

Jika metode water fasting terlalu ekstrim, mungkin bisa mencoba metode juice fasting. Dimana komponen air diganti dengan jus buah-buahan atau pun sayuran.

Tentang protokol cara melakukan juice fasting tidak dijelaskan secara detail dalam film dokumenter ini. Sayang sekali sebenarnya, dengan durasi hampir dua jam, film dokumenter ini tak menjelaskan sama sekali protokol puasanya.

Baik itu intermitten fasting, water fasting maupun juice fasting. Owh iya, di akhir film semacam ada soft selling produk fasting mimicking diet oleh produsen ProLon.

Dari testimonial yang disampaikan sih hasilnya menarik. Ada pasien kanker ganas. Setelah melakukan metode fasting mimicking diet dalam beberapa tahap, sel-sel kankernya menghilang. Sehingga si pasien tidak perlu melakukan operasi.

Dari seluruh metode fasting yang disampaikan dalam film dokumenter itu, metode intermittern fasting lah yang rasanya paling mudah untuk dilakukan. Tinggal menyesesuaikan durasi makan dan berbuka saja.

Tentang intermitten fasting bisa dibaca lebih detail pada tautan berikut ini.

Intermittent Fasting 101 — The Ultimate Beginner's Guide

Setelah nonton dua film dokumenter yang berkaitan erat dengan makanan dan kesehatanm, jadi ingin melakukan eksperimen. Eksperimen intermitten vegan fasting. Nampaknya cukup menarik untuk dicoba.

Salam, DiPtra

Photo by Martin Bisof on Unsplash