Jungkir Balik

Orang bilang hidup itu bagaikan roda. Kadang di atas kadang di bawah. Seperti halnya susah dan senang, sedih dan gembira, susah dan bahagia silih berganti mengisi relung hati.

Pagi ini dimulai dengan helaan nafas yang cukup berat. Terbangun dengan suasana hati gloomy. Tak seperti kemarin yang terbangun dengan suasana ceria dan berlatih mindfulness sembari ditemani kicauan burung1.

Ahh betapa suasana hati tak bisa diprediksi. Sama dengan masa depan yang tak bisa sepenuhnya diperkirakan keadaannya. Jungkir baliknya suasana hati tak bisa diantisipasi.

Hingga jam 9 baru mulai latihan mindfulness itupun ketika sudah berada di kantor. Latihan dengan kondisi duduk di atas kursi, ber-tawajjuh dengan laptop yang sudah siap diajakin kerja. Oke, sepuluh menit waktu latihan kali ini.

Di dalam ruangan sudah mulai ramai rekan-rekan kerja berdatangan. Saling ngobrol satu sama lain. Kemudian suara-suara di sekitaran mulai terabaikan. Fokus pada tiap helaan nafas.

Menimbang-nimbang penyebab hati kurang nyaman di pagi hari ini. Tak kunjung ketemu juga.

Awalnya saya ingin mengusir rasa tak nyaman ini. Tapi urung saya lakukan. Karena salah satu sudut pandang dalam berlatih mindfulness  adalah mengamati dan menerima segala rasa yang muncul di hati maupun pikiran.

Lalu saya teringat puisi berjudul The Guest House2 karya Jalaluddin Rumi. Sebuah puisi indah yang mengajarkan tentang penerimaan segala rasa yang hadir di dalam hati. Juga mengajarkan rasa syukur atas segalanya.

Be grateful for whoever comes,
because each has been sent
as a guide from beyond. – Jalaluddin Rumi

Akhirnya rasa kurang nyaman di hati sedari pagi saya biarkan saja. Sesekali menikmati hal-hal yang kurang menyenangkan. Aahh benar-benar sebuah paradoks…

Salam..
DiPtra

2 thoughts on “Jungkir Balik

Share Your Thought