Kunci Kebahagiaan Nomer Wahid

“Success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful.” — Herman Cain

Untuk merasa bahagia, mau tidak mau harus dimulai dari diri sendiri dulu. Karena kalau menanti suntikan kebahagiaan dari orang lain wah bisa keburu lebaran kuda baru bahagia. Itu pun kalau kudanya ngerti perihal lebaran.

Dari pernyataan Herman Cain di atas, jika menggunakan silogisme, maka kunci kebahagiaan adalah mencintai apa yang sedang kita kerjakan. Atau bisa jadi bermakna juga mencintai pekerjaan kita sekarang.

Lantas, apakah kunci kebahagiaan nomor wahid..? 

Sebenarnya sih kunci kebahagiaan nomer wahid itu enggak ada, karena kebahagiaan seringkali berbentuk kondisional. Seperti halnya orang lapar, maka kebahagiaanya adalah ketika bertemu dengan makanan.

Pemuda yang sedang jatuh cinta, maka kebahagiaannya adalah ketika cintanya diterima. Pelajar yang menempuh UN, maka kebahagiaannya adalah lulus ujian dengan nilai memuaskan.

Ibu yang sedang hamil, merasa bahagia ketika bayinya kelak lahir dengan selamat dan sehat. Seorang pedagang merasa bahagia ketika barang dagangannya laris manis.

Begitu juga dengan orang yang menyesali perbuatan salahnya, maka kebahagiaannya terletak pada pintu maaf.

Memang sih beberapa petuah bijak yang pernah saya dengar mengatakan bahwa kebahagiaan tidak membutuhkan syarat. Karena ketika syarat atau kondisi yang diharapkan tidak sesuai harapan, biasanya akan muncul kekecewaan.

Lantas timbullah pertanyaan dalam diri saya, apakah tidak boleh berbahagia jika harapan terpenuhi, dan apakah tidak boleh merasai kecewa ketika harapan tidak terpenuhi..? 

Entahlah saya juga bingung menghadapi pertanyaan ini, yang jelas selama di dalam perjalanan dengan kereta kali ini, kebahagiaan saya terletak pada kerinduan bertemu dengan keluarga. Sebuah perjalanan dengan rentang waktu 16 jam antara Jakarta – Malang yang lumayan rutin saya jalani. Perjalanan mengurai rindu.

Salam..
DiPtra

Share Your Thought