Megakrabi Keheningan

Pilkada DKI sudah selesai, tapi residu pembakarannya masih ada. Residu berupa caci maki, kebencian, ejekan yang kesemuanya sudah memasuki tahap berlebihan. Terlalu hitam-putih ketika menyikapi politik. Bukankah lebih enak jika memandang politik merupakan gabungan rentang warna yang tiada hingga. Keriuhan politik yang peluit kick-off nya dimulai sejak 2014 atau mungkin sebelum itu.

Beneran berat banget menahan diri untuk tidak berkomentar mengenai Pilkada DKI di media sosial. Gempuran broadcast dari di Whatsapp pun sudah membuah pikiran saya kenyang tentang Pilkada DKI ini.

Setelah tanggal 19 April, semoga ketegangannya mereda. Kembali lagi kerja. Kembali lagi produktif. Tidak kembali lagi nyinyir. Bahkan nyinyir dalam balutan kesantunan malah semakin nampak memuakkan. Apakah ini sebentuk kesantunan yang dibuat-buat..? Emboh.

Entah klimaks atau antiklimaks putaran kedua Pilkada DKI periode ini. Semoga Jakarta tetap aman, pembangunan manusia dan fasilitas umumnya tetap berjalan. Cukup lah yaa menyuarakan unek-uneknya atas keriuhan selama beberapa bulan ini.

Karena menahan diri untuk tidak melontarkan komentar di media internet sepanjang Pilkada DKI ini, saya berlatih untuk diam. Diam untuk lebih memaknai keheningan. Berusaha memasukkan hati dan pikiran dalam area-area keheningan. Mengurangi interaksi di media sosial adalah salah satu hal yang saya lakukan1. Mengurangi gempuran berita-berita seputar pilkada DKI yang bersumber dari media sosial.

Ternyata dalam keheningan saya menemukan ketenangan. Sesuatu yang adem di dalam hati. Ya, mengakrabi keheningan untuk mendengarkan kejelasan suara hati.

Mengakrabi keheningan juga berarti memperbanyak diam. Saya teringat akan kisah seoarang arifin yang semakin memperbanyak diam di usia senjanya. Murid beliau entah sudah ribuan atau bahkan sudah berbilang jutaan. Tiap orang yang sowan ke kediaman beliau tak banyak diberi nasihat. Beliau malah lebih banyak mendengarkan keluh kesah para tamunya. Hanya membalas sepatah dua patah kalimat. Bagaikan lautan teduh yang mampu menerima segala apa yang dilemparkan kepadanya dan mengembalikan kepada pelemparnya berupa mutiara.

Padahal di masa mudanya, beliau terkenal alim dan zuhud. Pandai dan fasih dalam berorasi dengan alur logika yang jernih. Namun di usia senjanya, dengan ilmu yang mumpuni beliau malah lebih banyak memilih diam. Diam dalam dzikir-dzikirnya yang daim.

Tak seperti saya yang baru tau sedikit sudah banyak omong dan sering lupa berdzikir. Sudah kemrungsung tergesa-gesa memberikan nasihat. Ilmu baru serupa zarah sudah ingin menerjemahkan luasnya lautan. Pemikiran inilah yang sesekali menerbitkan ketakutan untuk menulis dan berbagi melalu blog sederhana ini2.

Apalagi semenjak mendapat 3 reminder berturut-turut dalam sepekan yang menguji keikhlasan. Khususnya keikhlasan dalam menyampaikan pemahaman dan apa yang diketahui. Seolah-olah ingin menyingkir saja, memendam pemahaman untuk diri sendiri.

Mengakrabi keheningan untuk lebih memahami lagi apa-apa yang harus dibagikan dan apa-apa yang harus disimpan untuk diri sendiri. Lebih memilah dan memilih lagi hal-hal yang esensial untuk disampaikan.

Berikut ini ada kutipan menarik dari Syekh Abdul Qodir Al-Jailani…

Pandai berkata-kata tanpa disertai amalan kalbu tak akan berarti apa-apa. Perjalanan sejati adalah perjalanan kalbu dan perbuatan hakiki adalah perbuatan yang punya arti. Hal ini harus dilakukan dengan jiwa raga tetap memerhatikan batas-batas hukum Allah seraya kalbu tetap merendah di hadapan-Nya.

Barangsiapa membuat timbangan bagi dirinya sendiri, ia tidaklah memiliki timbangan. Memperlihatkan amal di hadapan orang lain sama saja dengan tidak beramal apa-apa. Sebaiknya, kebaikan disembunyikan. Jangan perlihatkan kecuali amal wajib yang harus terlihat orang banyak.

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

Sekian nasihat untuk diri sendiri ini, semoga bermanfaat untuk semuanya…

Salam..
DiPtra

0 thoughts on “Megakrabi Keheningan

  1. Residu: zat-zat sisa 😂

    Paragraf tiga setelah tanggal beri koma, tuh.
    Kalimat ini gak enak bgt dibacanya: Kembali lagi kerja. Kembali lagi produktif.

    Itu jugak setara. Kenapa gak pakai: Kembali bekerja; produktif.

  2. Pingback: Secede – DiPtra

Share Your Thought