Membiru

Aku sendiri bingung, entah kemana hilangnya keceriaan dan rasa humor lelaki itu. Kelakarnya sering kali memecah kebekuan yang terjadi. Semenjak beberapa hari lalu, ia menjadi pendiam dan tak banyak bercerita. Aku tanya sesekali dan hanya jawaban pendek yang ia utarakan.

Seperti menyembunyikan sesuatu. Mungkin suatu hal yang kurang enak jika harus ia sampaikan. Oleh karena itu, ia simpan rapat-rapat penyebab perubahan sikapnya itu.

Aku tahu, ada beberapa peristiwa hidup yang membuatnya berubah. Menjadi pendiam dan tak asik lagi untuk diajak bertukar pikiran. Sepertinya ia menjadi dingin dan tak peduli dengan semua hal yang ada.

Padahal, terakhir berjumpa dengannya begitu banyak kisah yang ia utarakan. Dari perkara monster di kutub selatan hingga bidadari di alam antah barantah tak luput dari cerita yang ia sampaikan kepadaku.

Perihal ketuhanan hingga kedurjanaan paling durjana juga pernah ia lontarkan kepadaku. Namun, perubahan sikapnya yang nampak ekstrim dan tak biasa membuatku bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi pada dirinya.

Sebagai sahabat yang telah mengenalnya dari kecil aku khawatir dia melakukan hal yang tak semestinya. Misalnya melompat dari ketinggian gedung pencakar langit di sekitaran tempatnya bekerja.

Beberapa hari yang lalu aku bertemu lagi dengannya. Aku mencoba menyempatkan diri lagi untuk berbincang kepadanya. Semoga ada informasi yang bisa ku kais lagi perihal perubahan dirinya.

Syukurlah dia masih hidup pikirku, tak jadi bunuh diri. Dari air muka yang ia tampilkan, ku dapati sudah ada perubahan. Tak sekusut beberapa hari yang lalu. Alhamdulillah.

Berbincang beberapa saat dengannya dan hampir benar dugaanku apa yang menjadi penyebab perubahan dirinya. Ia menjawab tekanan pekerjaan yang lumayan berat beberapa pekan ini yang membuatnya menjadi pendiam. Ia merasa terhimpit dari segala penjuru.

Aku tak langsung mempercayai dugaanku dan keterangan darinya. Sebab, selama ini pekerjaan seberat apapun tak pernah mengoyak kejenakaannya. Lamat-lamat ia mulai berujar alasan sesungguhnya. Sebuah alasan yang sudah aku tunggu sejak beberapa hari lalu.

Rupanya ia muak terhadap berita-berita yang ber-sliweran di media masa. Baik media cetak maupun media elektronik. Apalagi ketika muncul berita buka-bukaan aib seorang motivator kondang.

Berita-berita gossip macam itu, menurutnya, adalah candu. Dimana ia mendefinisikan candu adalah sebuah keterikatan kuat terhadap kenikmatan yang tak disadari memiliki efek merusak.

Ia melanjutkan, tanpa disadari gossip-gossip itu lebih berbahaya daripada narkoba. Efeknya secara perlahan merusak kepercayaan antar individu.

Namun, parahnya si objek yang menjadi gossip malah sering kali sengaja berulah untuk mendapatkan popularitas. Memakan secara rakus waktu dan kebaikan-kebaikan tanpa disadari.

Menurutku cukup aneh hanya karena gossip mengenai sang motivator membuatnya berubah. Murung dan tak lagi jenaka seperti sedia kala. Owh rupanya ia juga sangat menyesali sebagian sikap masyarakat dalam menanggapi kasus ini.

Hanya berdasarkan “katanya-katanya” dimana pihak yang meluncurkan informasi ini sering kali membuat “katanya-katanya” beraroma dusta. Para pemaki dan penghujat ini begitu membahana seolah lupa keburukan diri sendiri.

Hampir mirip dengan kasus dai kondang asal Gegerkalong beberapa waktu yang lalu. Namun beliau sudah melewati masa-masa sulit itu.

Mungkin pembuktian kata-kata indah yang terlontar ketika menyampaikan motivasi, merupakan ujian terberat bagi seorang yang menempuh profesi sebagai motivator ataupun trainer.

Lantas apa penjelasan sahabat saya ini mengenai perubahan sikapnya..?

Ia berbisik kepadaku bahwa dia mengkhawatirkan ucapannya-ucapannya selama ini baik secara lisan maupun secara tertulis di media sosial tak dapat ia pertanggungjawabkan dalam perbuatan.

Maka, hingga saat ini dia lebih memilih membiru, lebih banyak diam dalam keheningan daripada berkata-kata.

salam..
dia yang sedang membiru


Tulisan di atas adalah tulisan lama, yang kerap saya baca ulang agar tak berlebihan dalam berkata-kata. 🙂

0 thoughts on “Membiru

Share Your Thought