Mendekati Allah

Mendekati untuk Meminta

Wahai hamba Allah, bila engkau meminta kepada Allah di saat dekat dengan-Nya, mintalah agar Dia memperbaiki semua yang ada pada dirimu. Berdoalah, “Ya Allah, perbaiki semua keadaanku!” Mintalah kepada Allah agar Dia memperbaiki keadaanmu disertai perasaan ridha terhadap semua ketetapan-Nya. Yakni, dengan kepasrahan dan sikap rela terhadap semua qadha dan qadar-Nya.

Engkau adalah seorang hamba yang linglung jika saat diminta kembali kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, engkau justru lari dari-Nya dengan berbuat maksiat. Lari dari Allah ditandai dengan perbuatan-perbuatan jahat, tindakan pelanggaran, keinginan menyimpang, dan niat yang salah. Bila engkau lalai dalam shalat, menyia-nyiakan puasa, mengeluhkan karunia Allah, dan mencintai dunia, berarti engkau telah lari dari Allah. Sebab, hawa nafsu telah membuatmu berani pada-Nya. Engkau sudah berpaling dari Allah kala engkau condong pada indahnya dunia, terbuai dengannya, sibuk memikirkannya, serta lupa pada dahsyatnya hari akhirat. Allah berfirman, “Janganiah kamu membelalakkan kedua matamu (terkagum-kagum) dengan apa yang Kami berikan pada mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia. Hal itu untuk menguji mereka. Sedangkan rezeki Tuhanmu jauh lebih baik dan lebih kekal.” – (Q.S. Thaha [20]: 131).

Allah telah menakdirkan sehat dan sakit, kaya dan miskin, serta senang dan sedih bagimu. Maksudnya adalah agar engkau kembali pada-Nya dan mengetahui semua sifat-Nya. Sehingga ketika lapang engkau bisa bersyukur dan ketika sulit engkau bisa pasrah dan bersabar.

Wahai manusia, berapa kali engkau hinakan dirimu dengan berdiri di hadapan makhluk, meminta bantuan dan pertolongan mereka? Berapa kali mereka merasa keberatan dengan permintaanmu, bermuka masam, serta menghinamu? Sementara engkau tidak pernah sekali pun kembali pada Majikanmu, tidak pernah meminta kebutuhanmu pada-Nya, serta tidak pernah menghadap-Nya secara khusyuk, berdoa secara jujur, dan memohon secara tulus.

Wahai hamba Allah, jika engkau menghendaki kemuliaan, janganlah berharap pada makhluk. Tetapi, tambatkan asa dan harapanmu pada Allah, serta tampakkan kebutuhanmu yang mendesak kepada-Nya. Sebab, Allah mengabulkan doa orang yang sedang terdesak. Dia bisa melenyapkan bahaya, dan merasa senang jika diminta oleh hamba-Nya. Siapa yang meminta kepada makhluk, tidak kepada Tuhan dan Tuannya, ia akan menjadi sangat hina.

Dirimu begitu setia dan terbuai dengan makhluk, sedangkan kepada Allah engkau malah acuh dan menjauh. Engkau tergolong bodoh kalau terus-menerus menemui makhluk karena ingin mendapat hartanya, sementara engkau tinggalkan pintu Zat Pemberi rezeki Yang Mahakuat dan Mahakukuh. Pantaskah engkau meminta pada makhluk yang fakir, lalu meninggalkan Allah Yang Mahakaya? Jika ingin mendapat berbagai karunia, tunjukkan kepapahan dan kebutuhanmu pada-Nya, serta jangan sekali-kali mengandalkan kekuatan siapa pun yang berada di sekitarmu.

Bila engkau ingin mendapat bagian seperti yang Allah berikan pada para wali-Nya dan bila engkau ingin hidup mulia, mintalah kebutuhanmu pada Allah, arahkan keinginanmu pada-Nya, serta sibuklah dengan-Nya. Allah berfirman, “Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” – (Q.S. al-Thalaq[65]: 3)

Ibn ‘Abbas ra. berkata, “Pada suatu hari, ketika saya berada di belakang Nabi saw. beliau bersabda, Wahai anak muda, jagalah (hak-hak) Allah, pasti Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, pasti Allah akan memperhatikanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah pada Allah. Jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah pada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat ini berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, hal itu takkan terwujud kecuali dengan takdir-Nya. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, hal itu takkan berhasil kecuali dengan takdir-Nya. Pena sudah kering dan lembaran pun sudah dilipat. (H.R. al-Tirmidzi dan menurutnya sanad hadis ini shahih).

Saya mendengar Abu al-‘Abbas al-Mursi berkata, “Demi Allah, aku tidak melihat kemuliaan kecuali saat manusia tidak membutuhkan makhluk dan saat ia bisa menjaga diri dari harta mereka.” Perhatikanlah selalu firman Allah, “Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya, serta milik orang-orang yang beriman.” – (Q.S. al-Munafiqun [63]: 8). Di antara kemuliaan yang Allah berikan kepada kaum mukmin adalah ketika ia menambatkan kebutuhan dan keyakinannya pada Allah, tidak pada yang lain.

Wahai saudaraku, Allah telah memakaikan padamu pakaian iman dan menghiasimu dengan perhiasan rnakrifat. Oleh karena itu, hendaknya engkau malu kepada Allah apabila lalai dan lupa, sehingga condong pada dunia lalu meminta kebaikan orang.

Alangkah buruk andai seorang mukmin meminta kebutuhannya pada makhluk padahal ia mengetahui keesaan Allah dan mendengar firman-Nya, “Bukankah Allah mencukupi hamba-Nya.” – (Q.S. al-Zumar [39]: 36)

Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman penuhilah janjimu.” Di antara janji yang engkau buat adalah bahwa engkau tidak akan meminta kebutuhanmu kecuali kepada Allah, serta tidak akan bertawakal kecuali kepada-Nya. Allah berfirman, “Hanya kepada Allah hendaknya kaum mukmin bertawakal.” (Q.S. Al ‘Imran [3]: 160).

Sebaik-baik permintaan seorang hamba kepada Tuhannya adalah memohon agar diberi sikap istikamah bersama-Nya. Allah berfirman, “Tunjukilah kami jalan yang lurus (istikamah).” – (Q.S. al-Faatihah [1]: 6).

Mintalah selalu petunjuk dan sikap istikamah. Yaitu, dengan senantiasa bersama Allah di setiap keadaan dalam naungan ridha-Nya. Yaitu dalam naungan ajaran Nabi saw., seperti yang Allah firmankan, “Terimalah semua yang diajarkan Rasul dan jauhilah semua yang dilarangnya. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh hukuman Allah sangat hebat.” – (Q.S. al-Hasyr [59]: 7).

Orang yang sedang berjalan menuju Allah dan mendekatkan diri dengan ibadah ibarat orang yang sedang membuat sumur di dalam tanah sedikit demi sedikit hingga menemukan lubang. Setelah melakukan usaha dan perjuangan panjang, akhirnya sumur itupun memancarkan air. Adapun orang yang ‘ditarik mendekat’ seperti orang yang sedang menginginkan air lalu tiba-tiba awan dari langit menurunkan hujan sehingga ia pun mengambil air tersebut sesuai dengan kebutuhannya tanpa harus bersusah payah. Artinya, Allah telah menarik orang tersebut kepada-Nya.

Syekh Abu al-Hasan al-Syadzili bercerita, “Pada suatu saat, aku tinggal di pedalaman selama tiga hari. Ketika itu, tak ada makanan yang bisa disantap. Tiba-tiba beberapa orang Nasrani lewat di depanku. Mereka melihatku sedang bersandar. Lalu mereka berucap, ‘Orang ini ulamanya kaum muslim’. Kemudian mereka letakkan di atas kepalaku sepotong makanan lalu pergi. “Sungguh ajaib. Bagaimana mungkin rezekiku datang lewat perantaraan musuh, bukan lewat perantaraan para kekasih,” kataku ketika itu. Tiba-tiba ada suara menjawab, “Orang yang hebat bukanlah yang diberi rezeki lewat para kekasih, tetapi lewat musuh.”


Mendekati untuk Mencinta

Wahai hamba Allah, sering kali engkau menunjukkan rasa cinta dan kedekatanmu pada makhluk. Tetapi, engkau sangat jarang menunjukkan rasa cinta pada Allah Swt. Seandainya dibukakan bagimu pintu untuk mencintai Allah, pasti engkau akan menyaksikan berbagai keajaiban dan mendapat ridha-Nya. Rasa cinta kepada Allah dapat dibuktikan dengan menunjukkan ketaatan pada-Nya, melaksanakan shalat dua rakaat di malam hari, membaca Al-Quran, menjenguk orang sakit, menyalatkan jenazah, bersedekah kepada fakir miskin, membantu saudara muslim lainnya, mengadakan kegiatan yang baik, menyebarkan ilmu, ataupun membuang duri dari jalan.

Pedang tak bisa dipakai berperang kecuali dengan bantuan lengan yang kuat. Demikian pula amal saleh. Ia membutuhkan seorang mukmin yang ikhlas dalam mengerjakannya. Ibadah paling ringan yang bisa kau pakai guna menunjukkan rasa cinta kepada Allah adalah berzikir secara tulus. Sebab, zikir itu bisa dikerjakan meskipun oleh orang yang sudah tua, oleh orang sakit yang tak bisa berdiri, rukuk dan sujud, oleh pekerja yang sibuk dengan tugasnya, ataupun oleh orang malas yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Allah berfirman, “Apabila kalian telah menunaikan shalat, berzikirlah kepada Allah, dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berbaring.” (Q.S. al-Nisa [4]: 103).

Ketahuilah bahwa siapa yang mengarahkan cintanya pada Allah, Allah juga akan menebarkan kemurahan padanya, “Orang-orang yang berbuat baik akan mendapat kebaikan (yang setara) pula bahkan melebihi.” Tetapi, aneh bila seseorang lebih bersahabat dan lebih mencintai hawa nafsunya, padahal ia merupakan sumber malapetaka, ketimbang bersahabat dan mencintai Allah. Padahal Allah merupakan sumber kebaikan. Siapa yang benar-benar ingin berjalan menuju Allah, hendaknya mempunyai tekad yang kuat.

Bila muncul pertanyaan, bagaimana caranya bersahabat dengan Allah? Jawabannya, bersahabat dengan siapa pun ada kiatnya. Bersahabat dengan Allah adalah dengan mengerjakan perintah-Nya, menghindari larangan-Nya, dan bertawakal kepada-Nya dalam setiap urusan. Bersahabat dengan kedua malaikat (Raqib dan ‘Atid) adalah dengan mendiktekan berbagai amal kebaikan. Bersahabat dengan Al-Quran dan sunnah adalah dengan mengamalkan isinya. Bersahabat dengan langit adalah dengan merenungkannya. Serta bersahabat dengan bumi adalah dengan mengambil pelajaran dari yang ada di dalamnya. Persahabatan tidak harus dengan melihat dan menyaksikan.

Jadi, makna persahabatan dengan Allah adalah bersahabat dengan semua karunia dan nikmat-Nya. Bersahabat dengan nikmat-Nya adalah bersyukur. Bersahabat dengan ujian-Nya adalah bersabar. Bersahabat dengan perintah-Nya adalah menghorrnati dan menunaikan. Bersahabat dengan Iarangan-Nya adalah menjauhi. Bersahabat dengan ketaatan adalah bersikap ikhlas. Dan bersahabat dengan Al-Quran adalah merenungkan. Kalau seorang hamba melakukan hal itu, berarti ia telah menjalin persahabatan dengan Allah. Bila persahabatan terwujud, kedekatan pun akan didapat.

Oleh karena itu, wahai saudaraku jangan sampai matahari terbit lagi sementara engkau belum mem-perlakukan Allah sebagaimana teman yang tulus, setia, dan cinta. Oleh karena itu, bersedekahlah setiap hari walaupun dengan seperempat dirham sehingga Allah mencatatkanmu dalam kelompok orang yang senang bersedekah. Bacalah Al-Quran setiap hari walaupun hanya satu ayat agar Allah mencatatkanmu dalam kelompok orang yang senang membacanya. Serta lakukanlah shalat malam walaupun hanya dua rakaat agar Allah mencatatmu dalam kelompok orang yang senang mengisi malam (qiyam al-layl).

Jangan sampai berbuat salah dengan berkata, “Bagaimana mungkin orang yang mempunyai makanan pas-pasan akan bersedekah?” Allah berfirman, “Hendaklah orang yang mampu, memberi infak menurut kemampuannya. Adapun orang yang terbatas rezekinya, hendaklah mengeluarkan infak dengan apa yang Allah berikan. Allah tak memaksa seseorang kecuali sesuai kadar kemampuannya. Kelak Allah akan memberi kemudahan seusai kesulitan.” – (Q.S. al-Thalaq [65]: 7).

Orang miskin yang diberi sedekah tak ubahnya seperti binatang yang sedang membawa perbekalanmu menuju akhirat. Oleh karena itu, mintalah mereka untuk membawakan beban yang engkau kehendaki agar pada hari kiamat engkau bisa mendapatkannya.

Kadangkala seseorang dikirim untuk memberimu berbagai nikmat. Hanya saja, engkau sedang bingung, tidak sadar dan tidak bersyukur. Engkau seperti bayi dalam buaian yang setiap kali diayun ia tertidur. Sebab, setiap kali ditambah rezekimu, engkau tambah berpaling. Andaikata seorang penguasa mengirim baju untukmu, mungkin engkau hanya berterima kasih dan memujinya. Oleh karena itu, engkau harus cepat berpindah kepada Tuan yang telah menganugerahkan segala kenikmatan. Tinggalkanlah mereka yang tak sanggup memberi manfaat kepada yang lain.

Makna persahabatan dengan Allah adalah bersahabat dengan semua karunia dan nikmat-Nya. Bersahabat dengan nikmat-Nya adalah bersyukur. Bersahabat dengan ujian-Nya adalah bersabar. Bersahabat dengan perintah-Nya adalah menghormati dan menunaikan. Bersahabat dengan larangan-Nya adalah menjauhi. Bersahabat dengan ketaatan adalah bersikap ikhlas. Dan bersahabat dengan Al-Quran adalah merenungkan.


diterjemahkan dari kitab Bahjat Al-Nufus, karya Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari