Menjadi Pendiam

Menjadi pendiam itu ternyata menyenangkan juga. Semacam mengurangi interaksi dengan orang lain. Mengurangi interaksi dengan orang lain, secara tidak langsung juga mengurangi potensi salah paham. Salah paham ini nantinya memunculkan potensi masalah yang cukup runyam. Macam kesalahpahaman Nabi Musa A.S terhadap perilaku Nabi Khidir A.S.

Berkurangnya potensi masalah berkorelasi dengan meningkatnya ketenangan hidup. Hidup ayem tentrem tanpa banyak gonjang-ganjing.

Bahkan ketika memutuskan untuk memperbanyak diam saja, masalah masih satu persatu datang menghampiri. Apalagi jika memperbanyak ucap dalam interaksi dengan sesama.

Dengan pemikiran agak nyeleneh ini, saya selama dua pekan ini berangsur-angsur mulai mengurangi interaksi di dunia maya. Untuk media sosial sudah cukup lama saya kurangi intensitas penggunaanya. Namun, untuk aplikasi chatting khususnya pada macam-macam grup Whatsapp yang saya ikuti, interaksi yang saya jalani masih cukup intens.

Maka, selama dua pekan ini saya benar-benar mengurangi interaksi chatting dalam grup Whatsapp. Sejak 2015 sudah cukup banyak grup Whatsapp yang saya ikuti. Apalagi dengan model grup Whatsapp dengan lalu lintas obrolan yang begitu padat. Saya kerap kehilangan jejak pada obrolan Whatsapp dengan lalu lintas yang begitu padat. Mau ikut nimbrung kadang sungkan juga. Apalagi kalo dicuekin, rasanya pedih haha.

Tapi untunglah semenjak baligh dan mulai tertarik dengan lawan jenis, saya sudah biasa dicuekin oleh cewek yang sedang menjadi inceran. Yaa iyalah wong incerannya Marsha Timothy.

Memang benar sih saya sedang merasakan kenyamanan beberapa hari ini ketika memutuskan menjadi sedikit pendiam. Mengurangi banyak cakap. Lagipula saya sedang kehilangan semangat untuk berkomunikasi atau membuka komunikasi dengan orang baru.

Eh menjadi pendiam di dunia maya maksud saya nih yaa. Berlagak menjadi misterius dengan menjadi pendiam. Menjadi pendiam mungkin sering disalahartikan sebagai sifat angkuh. Padahal penyebab seseorang menjadi pendiam sangat beragam.

Tiba-tiba saya kok kepikiran menjadi pendiam ini sebagai salah satu perwujudan puasa dalam hal lisan. Teringat juga akan penyebab tergelincirnya manusia dalam debu-debu perseteruan juga diakibatkan lisan yang tidak terjaga. Lisannya ga disekolahin.
Pada tahap yang lebih parah, banyak manusia terperosok ke lembah neraka dikarenakan lisan. Lisan yang tajam menyayat hati dan perasaan. Luka di permukaan kulit boleh lah menjadi kering dan sembuh dalam jangka waktu tiga hari. Namun luka yang tergores di hati bisa sepanjang hidup menunggu kesembuhan.

Tengoklah percekcokan yang kerap terjadi dalam bahtera rumah tangga. Permasalahan ucapan lisan yang menyayat hati kerap menjadi pemicunya.
Dalam era digital seperti saat ini, lisan memiliki perpanjangan ucap pada jemari tangan. Jika kita mengamati pergerakan topik di media sosial, selalu saja ada kegaduhan yang diperbincangkan. Jika ditelusuri, penyebabnya adalah ketidakmampuan menahan jemari tangan untuk menuliskan hal-hal pedas.

Coba kita ingat-ingat kembali kisah Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq yang mengulum batu kerikil demi menjaga lisannya. Ketika hendak bercakap-cakap, Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq terlebih dahulu mengeluarkan batu kerikil yang ada di dalam mulutnya. Apa yang dilakukan oleh beliau adalah sebentuk kehati-hatian atas amanah lisan.

Entah apa kira-kira yang bakal dilakukan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq jika mendapati perilaku interaksi manusia di abad digital internet ini. Mengulum guna kerikil guna menjaga lisan tentu tidak relevan dengan kondisi komunikasi bermedium digital seperti saat ini. Puasa dari bentuk-bentuk interaksi digital di internet mungkin bisa menjadi salah satu solusinya.

Berkaitan dengan produktifitas ketika mengurangi aktifitas lisan baik secara offline maupun online, maka saya merasakan peningkatan. Waktu-waktu yang biasanya tersita untuk berinteraksi secara digital terkonversi pada kegiatan lain seperti membaca ataupun menulis. Kebetulan saja saya mempunyai hobi membaca.

Selain itu, dengan memperbanyak diam membuat saya memiliki waktu lebih luang untuk kembali bertafakkur. Sejenak beruzlah dari keriuhan, khususnya keriuhan dari media sosial.

Akhirul kalam semoga tulisan ini tidak terlalu panjang. Jika ada salah kata mohonlah kiranya dimaafkan. Dibukakan keluasan hatinya untuk memaafkan apa-apa yang sudah pernah saya tuliskan selama ngeblog beberapa waktu ini.

Salam,
DiPtra


Featured images by Claudia Soraya on Unsplash

3 thoughts on “Menjadi Pendiam

  1. tak mudah memang ketika kita sudah menjadi addict di dunia maya. bangun tidur yang pertama di cari adalah hp, sedang senggang main hp, sedang menunggu hp an, sedang dalam fasilitas publik hp an juga. ya,,, mungkin ini namanya dunia maya yang menjadi nyata. Smoga dengan puasa dunia maya yang mas ceritakan sbg pengalaman pribadinya bisa menginspirasi kami smua menjadi pengguna sosmed yang bijak ya mas. makasih mas utuk tulisannya.

    1. iya mba Berlin. ketagihan smartphone kabarnya lebih parah daripada kecanduan narkoba. Masalahnya sedikit yang menyadari ketergantungan dengan smartphonenye.

      beberapa hari ini saya malah kecanduan lagi dengan smartphone saya. hmm waktunya hibernate lagi nih.

      yuk sama-sama berlatih puasa dari dunia maya, khususnya dari smartphone kita.

      Terima kasih sudah mampir..

Share Your Thought