Mensyukuri Nafas

10 menit di pagi hari. Menarik dan menghembuskan nafas secara perlahan. Duduk dengan posisi apa pun. Kadang diawali dengan bersila, berakhir dengan selonjoran. Duduk dengan menegakkan tulang punggung, kadang bersandar di dinding, sesekali tidak. Kemudian mulai berlarianlah pikiran kesana-kemari dengan liarnya. Jangan lupa menyiapkan timer dengan alarm suara sebagai penanda waktu mulai dan akhir latihan. Lebih kurang seperti itulah proses latihan mindfulness yang sedang saya lakukan.

Pagi ini, latihan mindfulness dimulai pukul 5:53 WIB. Mulai menyadari tarikan dan hembusan nafas. Dengan rasa kantuk yang masih tersisa di pelupuk mata. Nafas, hal terdekat pada diri kita yang sering kali terlupakan. Berlatih menyadari nafas dalam mindfulness merupakan sebentuk kebersyukuran terhadap nafas.

Selama mengingati tarikan dan hembusan nafas, pikiran selalu ingin terbang kesana-kemari. Entah ada berapa macam lintasan pikiran yang tadi hadir selama latihan. Mungkin lebih dari sepuluh macam lintasan pikiran.

Salah satunya, perut ini tiba-tiba terasa lapar. Padahal tadi malam sudah menghabiskan 3/4 loyang pizza tipis di warung sebelah. Hadeeeh, selama ini rasa lapar jarang hadir di pagi hari, karena sudah terbiasa tidak sarapan. Mengamati pikiran konyol ini jadi senyum-senyum sendiri.

Tuuuung, alarm berbunyi, pertanda latihan usai.

Alhamdulillah. Selepas latihan istri saya masuk ke kamar membawakan sepiring pepaya yang sudah dipotong kecil-kecil. Hmm mensyukuri keberadaan nafas yang begitu sederhana, mampu membuat diri ini meletakkan rasa syukur yang lebih besar pada nikmat-nikmat lainnya.

Salam
DiPtra

Share Your Thought