Merelakan Lupa

Sering kali perasaan tidak nyaman timbul ketika saya kelupaan sesuatu. Misalnya ketika ingin membicarakan sesuatu, sesaat kemudian apa yang ingin dibicarakan tiba-tiba raib dari pikiran. Perasaan gemes bercampur penasaran menjadi satu, mengingat-ingat apa yang tadi hendak dibicarakan.

Peristiwa kelupaan ini juga terjadi pada ide untuk tulisan yang ujug-ujug mencungul dalam pikiran. Ujug-ujugnya gemes dan penasaran juga hadir ketika hal ini terjadi. Semakin diingat-ingat malah semakin enggak ketemu idenya yang tadi.

Apakah kamu juga pernah mengalami hal ini..? Merasa sebel bin gemes ketika ide tulisan kelupaan untuk diikat. Kalau iya berarti kita senasib.

Salah satu metode yang umum disarankan agar tidak kelupaan atas ide-ide tulisan, adalah dengan mencatatnya. Saya pun melakukan ini. Biasanya atas ide-ide yang muncul ini, saya hanya menulis kata-kata yang menjadi anchor ide tersebut.

Misalnya ketika ide tulisan Mengikhlaskan Itu hadir, anchor atau kata kunci yang saya gunakan adalah boker (maaf atas ketidaksopanan istilah ini) dan bandara Ngurah Rai. Selebihnya untuk isi tulisan saya percayakan kepada imajinasi ketika proses menulis. Seperti kata Spongebob Squarepants ini semua membutuhkan imaaaaaajinaaasiiii…


Nah, permasalahannya adalah ide-ide kreatif yang dicetuskan oleh monkey mind1 ini sering kali keluar pada waktu yang random. Contohnya ketika sedang boker (maaf atas pengulangan kata tidak sopan ini) ide kreatif untuk suatu hal muncul.

Agak riskan juga kalau belum tuntas “hajatnya” kemudian terburu-buru menuliskan idenya. Atau bisa jadi ide itu muncul ketika menjelang tidur, ujung-ujungnya bisa jadi insomnia karena memikirkan ide yang harus dituliskan.

Nah ketika berlatih mindfulness beberapa hari yang lalu, saya punya pendekatan baru atas ide-ide kreatif yang sering kali muncul. Pendekatan ini saya sebut Merelakan Ide Tulisan. 

Alih-alih sebel karena lupa atas ide yang hendak dituangkan, saya memilih jalan mengikhlaskan ide-ide itu untuk tidak dilahirkan. Saya biarkan saja mengalir apa adanya.

Dengan menerapkan metode pendekatan ini, rasa gemes dan sebel karena kelupaan perlahan sirna. Hal baru yang timbul adalah penerimaan. Malahan ada rasa plong di hati ketika saya menerapkan hal ini.

Pendapat lain yang bisa saya kemukakan adalah apabila memang ide itu layak untuk dilahirkan menjadi bentuk konkrit, maka di lain kesempatan ide itu akan muncul kembali dalam bentuk yang lebih matang. Dalam beberapa kesempatan hal ini saya alami sendiri.

Maka dari itu, dengan berlatih mindfulness yang berarti juga melatih monkey mind kita. Ketika monkey mind kita lebih terlatih untuk muncul ketika benar-benar diperlukan, maka bisa jadi monkey mind lebih maksimal mengeluarkan potensinya.

Baiklah pendekatan ini murni hasil pemikiran saya berdasarkan pengalaman empiris. Jika kamu ada pendapat lain mengenai hal ini, bolehlah kiranya mengutarakannya di kolom komentar untuk saling betukar pikiran.

Okee, untuk update latihan mindfulness hari ini, durasi waktu berlatih saya selama tiga belas menit. Jika memungkinkan ingin saya lakukan lagi menjelang tidur.

Salam..
DiPtra

10 thoughts on “Merelakan Lupa

  1. emang sebel bin nyebelin kalau lupa sama ide briliant yang muncul dan diharapkan,
    terdakang niatan untuk menuliskan dalam catatan di HP muncul namun seringkali menggampangkan dan menganggap pasti ingatt, ehhh nyatanya terdakang butuh perjuangan mengingat buat ketemu dengan Ide tersebut .. wkwkwkwk

    1. Nah itu mas Adhi, ketika berlatih mindfulness justru kita berada pada kondisi relaks. Dalam kondisi relaks monkey mind akan aktif dan menghasilkan ide-ide kreatif.
      .
      Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ide-ide yang kita anggap brilliant itu layak dieksekusi..?

  2. Saya hanya punya ide sederhana emak2, itu pun suka kelupaan.
    Begitu ingat, malah merasa basi utk ditulis, gimana mau menjadi tulisan yang layak? Harus ikut latihan juga.

    1. lhoo ketika saya blogwalking ke blognya emak-emak bahasanya itu enak-enak lho Mak. Terasa lebih mengalir, renyah dan lebih apa adanya.
      .
      Kalo menurut saya ga ada ide yang basi, lebih baik ide basi tertuang dalam tulisan (walo tidak dipublish) daripada mengendap dalam pikiran saja.

Share Your Thought