Monkey Mind

Ketika berlatih mindfulness, mau tidak mau fokus pada nafas akan mendapat gangguan dari lompatan-lompatan pikiran. Malah sering kali saya tenggelam dalam lompatan-lompatan pikiran itu sendiri.

Monkey mind adalah istilah untuk pikiran yang suka melompat-lompat ini. Salah satu tujuan berlatih mindfulness adalah untuk menjinakkan monkey mind

Untuk menjinakkan monkey mind, maka diperlukan kesadaran untuk mengamati pikiran-pikiran yang sedang terlintas. Dengan kata lain menyadari bahwa kita sedang berpikir merupakan proses untuk menjinakkan monkey mind.

Lantas apakah monkey mind ini adalah sesuatu hal yang buruk sehingga perlu dijinakkan? Hmm dari pengalaman selama ini, monkey mind bukanlah sesuatu yang buruk. Hanya saja keberadaannya perlu sedikit ditertibkan.

Monkey mind mudah sekali terdistraksi oleh satu dan lain hal. Maka kehadiran monkey mind yang tidak disadari akan mengganggu ketika saya membutuhkan fokus dalam suatu pekerjaan. Maka dalam kondisi ini, monkey mind adalah suatu hal yang buruk.

Namun, pada lain kesempatan monkey mind sangat bermanfaat. Contohnya ketika sedang membutuhkan ide-ide kreatif, maka hal yang saya lakukan adalah membebaskan monkey mind untuk berkhayal.

Bahkan, dengan berlatih mindfulness, monkey mind ini bisa dioptimalkan. Dengan menyadari keberadaan monkey mind saya kerap mengajukan pertanyaan-pertanyaan “nakal”. Jawaban yang saya dapat kadang di luar perkiraan.

Seperti halnya tulisan ini. Tadi pagi ketika berlatih mindfulness, saya ingin menulis tentang “mengikhlaskan ide tulisan”. Tapi, ujung-ujungnya saya malah menulis tentang monkey mind. Karena tulisan tentang “mengikhlaskan ide tulisan” cukup berkaitan erat dengan teori monkey mind.

Tapi ini hari Sabtu, waktunya leyeh-leyeh. Ide tentang “mengikhlaskan ide tulisan” besok-besok sajalah saya eksekusi. Anggap saja tulisan ini sebagai pengantar. Tulisan ini hanyalah sebuah pemanasan.

Hari Sabtu waktu yang tepat untuk mencuci dan beberes kamar yang mulai berantakan. Ternyata dalam menjalani hidup minimalis diperlukan kedisiplinan untuk menjaga kerapian. Heuhauahu..

Anyway hari ini saya berlatih mindfulness selama lima belas menit. Latihan dalam rasa kantuk, sesekali tadi hampir tertidur hihi.

Salam,
DiPtra

12 thoughts on “Monkey Mind

  1. Setelah membaca tulisan ini, saya jadi bisa mendiagnosa diri saya sendiri. Ternyata selama ini saya mengalami apa yang disebut sebagi Monkey Mind (Hahahaha..). Kadang, saya mengeluh karena saya yang tidak bisa ‘fokus’ pada apa yang saya kerjakan. Menyedihkan memang. Tapi, memang Monkey Mind membawa potensi untuk mendapatkan ide-ide kreatif yang luar biasa. Supaya potensi ini tidak pergi begitu saja, saya membiasakan diri untuk menuliskan setiap ide-ide yang muncul karena keadaan monkey mind saya ini. Banyak kali ide-ide ini dikemudian hari menjadi solusi dari banyak masalah yang saya hadapi.
    Saya jadi tidak sabar untuk menunggu tulisan berikutnya tentang Mindfullness.

    Salam.

    1. Iya mba Ayu, mungkin hampir kebanyakan orang mengalami hal ini. Karena memang tugas utama pikiran adalah untuk berpikir. Monkey Mind gerakannya random dan kreatif. Hanya saja perlu dilatih kehadirannya.

  2. saya beberapa kali mengalaminya atau mungkin bisa dikatakan sering mengalami lompatan lompatan dalam berpikir sehingga kadang malah tujuan awal dalam pikiran menjadi agak berubah urutan dalam penyelesaian

  3. Ternyata ada monyet ya di kepala kita hahaha…nice post mas Diptra. Karena ingin menjinakkan si monyet inilah kdg aku pilih kegiatan yg membutuhkan fokus tinggi yaitu targeting dan membidik.

    1. ho’oh mba Fib, apalagi dengan semakin membanjirnya informasi dari berbagai kanal. Untuk fokus dan deep work potensi distraksi dari sekitar begitu kuatnya.
      .
      .
      Terima kasih yaa udah mampir, tulisannya mba tentang metode Konmarinya sempat saya praktekkin lho.

Share Your Thought