Negatif

Selama ini saya mempercayai teori resonansi. Sesuatu yang sefrekuensi akan saling menggetarkan. Hingga ditariklah kesimpulan bahwa orang dengan frekuensi tertentu akan menarik orang lain yang sefrekuensi dengannya.

Misalnya, orang-orang yang gemar bermain musik memiliki frekuensi yang sama. Sehingga sering kali berkumpul dalam sebuah grup band ataupun orkestra.

Para pedagang saling berkumpul membentuk pasar. Karena mereka memiliki frekuensi yang sama dalam hal perdagangan.

Kemarin teman saya keceplosan curcol, suasana liburan bersamanya menjadi awkward. Hal ini dikarenakan ada salah satu peserta liburan yang menguar keluhan.

Akhirnya teman saya ini ketularan suasana negatif. Padahal selama ini saya mengenalnya sebagai sosok yang selalu bersemangat, dipenuhi aura positif.

Dari cerita teman saya itu, pada satu sisi, teori resonansi tidak berlaku. Teman saya yang yang beraura positif tidak selalu berkumpul dengan yang positif. Kali ini jiwa dengan aura positif menarik jiwa beraura negatif.

Tapi pada sisi yang lain teori resonansi masih berlaku. Kenegatifan salah satu peserta liburan bersama itu, hanya memancing sisi negatif yang tak ditampakkan oleh teman saya ini. 

Setiap jiwa dibekali dengan dasar-dasar yang positif dan negatif. Tergantung kepada jiwa itu akan memiliki kecenderungan ke sisi mana dan kemauan mengikuti kecenderungan itu.

Dalam teori mindfulness ada pemikiran agar melihat segala sesuatu secara netral, apa adanya. Tanpa memberikan judgement atau pun sentimental.

Namun pada beberapa kesempatan, saya mendapati bersikap netral juga harus proporsional. Beberapa kali saya mendapati teman-teman yang juga berlatih mindfulness yang mencoba bersikap netral agak kebablasan.

Ibarat mobil, jika gigi presneling tetap berada pada titik netral, maka sekancang apapun pedal gas ditekan, mobil tak akan bergerak maju.

Salam..
DiPtra

p.s. latihan mindfulness hari ini dilakukan di atas kereta. Penuh bising karena riuh roda kereta beradu dengan rel kereta. Tujuhbelas menit berlatih dalam goyangan kereta api Majapahit.

2 thoughts on “Negatif

  1. Di paragraf 4 kata “ada” sampau dua kali tuh, Bang. Trs kata dinampakan pakai ditampakan saja.

    Paragraf akhir kurang “n” tuh di kata “goyangan” hehehe

    Soal konten aku gamau koment. Coz dah kereeenlaahhh

Share Your Thought