tulisan lepas

Pertemuan Dadakan Para Ninja

Kopdar komunitas Obrolin chapter Jabodetabek

Photo by ARTHUR YAO on Unsplash

Nha sesuai yang dijanjikan pada saat Ninja Summit akhir pekan lalu, saya mulai menulis di blog lagi. Perlu diketahui ada dua hal besar yang membuat saya berhenti menulis selama beberapa waktu. Pertama, karena laptop saya rusak, dan ngeblog lewat hape itu, ide tulisannya suka macet di tengah jalan.

Kedua, karena memang ndak ada hal ataupun pengalaman menarik yang bisa saya ceritakan. Jiah ini sih bilang jha kalo hidup lu stagnan dan monoton ndak ada perkembangan. Sedih ya rasanya jadi saya. Meeeehh ndak gitu juga keleus, memang dalam beberapa pekan ke belakang pikiran nyeleneh dan absurd lebih saya ekspresikan bukan dalam bentuk tulisan. Namun lebih kepada interaksi langsung dengan teman-teman di dunia offline.

Karena lagi magabut di kantor. Kerjaan banyak tapi ndak bisa kerja. Nha bingung kan? Banyak kerjaan tapi kok malah ndak bisa kerja. Yhaa gitu dhe ada alasan teknis yang ndak bisa dijelaskan secara detail. Daripada bengong atau membaca ulang buku Para Bajingan yang Menyenangkan, maka saya putuskan saja menulis kisah khayalan tentang pertemuan dadakan sesepuh-sesepuh Ninja di sebuah planet tetangga tak jauh dari planet Jakarta.

Perjalanan Menuju Summit

Photo by Mike Kotsch on Unsplash

Berawal dari guremnya rencana-rencana Ninja Summit yang telah lalu karena over planned, maka ninja Fadhel yang asli mBatam yang sedang terdampar di pengasingan Jatinegara menginisiasi sebuah summit dadakan. Awalnya ninja Fadhel mengusulkan summit di bilangan Kota Tua mencari peta jurus-jurus ninja langka di sana.

Tapi saya lupa entah gimana ceritanya Ninja Summit akhirnya disepakati di sebuah pasar bergaya eropa di bilangan planet Bekas..iih. Rencananya peserta Ninja Summit kali ini akan diikuti sekitar 8 orang ninja. Perkiraan waktu Summit adalah menjelang sore. Karena jika Summit diadakan pagi hari, tentulah saya masih teler setelah semalaman begadang menempa ilmu dari maha guru ninja Mbah Nun di Taman Ismail Marzuki.

Hari H Ninja Summit pun sampai pada masanya. Hari Sabtu tanggal 10 Februari 2018. Pagi hari tentulah saya masih tidur pulas berkalang iler merembes di bantal. Pukul sepuluh pagi lebih kurangnya, saya baru terbangun. Membersihkan iler yang yang sudah offside dari garis bibir. Tak lama setelah itu, saya menggelar matras warna ungu hasil minjem punya Mbak Yuli.

Matras selesai digelar dan saya pun memulai rutinitas Freeletics yang sudah saya jabanin selama lebih kurang 4 pekan. Ntar dhe yaa kapan-kapan saya tuliskan pengalaman selama menjalani Freeletics.

Pemanasan dan menu latihan Metis Standart pun sukses membuat keringat berleleran dari pori-pori kulit saya. Berasa banget badan kuyup oleh keringat. Lebih kurang butuh waktu 5 menit untuk pemanasan dan 7 menit untuk menyelesaikan menu Metis Standard. Leyeh-leyeh 15 menit kemudian langsung berangkat mandi.

Lhooo ternyata udah deket waktu dzuhur selepas mandi. Jadilah sholat dzuhur dulu sebelum ngaciir menuju planet Bekas..iih.

Ke planet Bekas..iih bagi saya tak terlalu menyeramkan. Rasanya lebih menyeramkan perjalanan ke Hyderabad 3 tahun lalu.

Okay, destinasi pasar bergaya eropa sudah disepakati di Summarecon. Pasar bergaya eropa di Summarecon yang katanya bung Dea ramai ketika weekend dan sepi ketika weekday.

Kelar sholat Dzuhur, langsung siap-siap buat berangkat ke planet Bekas..iih. Tentang outfit of the day yang bakal dipake ke Ninja Summit kali ini saya ndak terlalu mikir. Seperti biasanya pakai kaos oblong saja, dan tumbenan pakai celana panjang.

Biasanya kalo jalan keluar untuk urusan non formal saya lebih suka pakai celana jeans pendek sedengkul. Bahkan dulu banget saya pernah khilaf pakai outfit kaos oblong dan celana jeans pendek sedengkul pas kali pertama nyamperin rumah calon mertua. Untuk urusan Summit kali ini saya males bawa-bawa sarung karena saya lagi males bawa tas.

Kumis, jenggot dan jambang saya biarkan tumbuh ajrut-ajrutan. Soalnya kalo wajah saya klimis bersih, jadinya bakal kelihatan macem anak kuliahan semester 7. Damn ini artinya udah tua wooii.

Perjalanan dimulai dengan naik Gojek menuju Stasion Jatinegara. Sampai Stasion, pintu KRL jurusan Bekasi sudah menganga menanti para penumpang. Sekitar 10 menit ngetem di stasion Jatinegara, KRL berangkat juga menuju Bekasi.

Cukup ramai suasana gerbong KRL siang itu. Saya berdiri bergelantungan di dalam KRL, di depan saya duduk seorang nenek. Di belakang nenek ada sesosok bocah usia 2 tahunan dengan kepala botak licin. Menggemaskan. Si nenek duduk diapit oleh dua orang wanita berjilbab yang nampak akrab dengan bocah botak licin itu. Saya tebak dua orang wanita berjilbab biru gelap itu adalah kakak sepupu dari bocah botak licin itu. Mereka berdua juga “menggemaskan” huehuehuheue.

Ternyata si bocah botak licin itu berbakat genit. Di sebelah kakak sepupunya si bocah botak licin duduk sesesok wanita berambut panjang dengan bentuk lukisan alis cukup simetris. Daaaan si bocah botak licin itu malah colek-colek dan ngedip-ngedip mata genit kepada wanita berambut panjang itu. Untunglah gaya dan penampakan bocah botak licin itu menggemaskan, sehingga ditanggapi dengan senyum-senyum genit juga dari si wanita berambut panjang itu.

Coba kalo saya yang colek-colek dan memberikan kedipan mata genit kepada wanita berambut panjang itu. Pastilah saya akan diturunkan paksa oleh Polsus KRL karena tuduhan pasal percobaan penculikan dengan modus operandi hipnosis.

Ternyata bocah botak licin itu cukup tengil. Tak berapa lama dia memberikan senyuman yang seolah mengejek kepada saya. Seolah-olah dia menyampaikan pesan kepada saya, “Haaaiii Oom iri yaaa ndak bisa godain cewek-cewek di gerbong KRL huehuehuehuehuehu…” Oookkkaay demi menghentikan imajinasi absurd ini, saya langsung memutar playlist favorit dari spotify melalui earphone sembari memperhatikan tempat-tempat yang dilalui oleh KRL.

Menuju Meeting Point

“A bright conference room with two whiteboards and a television” by Breather on Unsplash

30 menitan waktu yang diperlukan oleh KRL dari stasion Jatinegara menuju stasion Bekas..iih. Dan perut saya ternyata lapar berat. Belum makan siang. Kebetulan ada Pempek Gaby di depan Stasion Bekas..iih.

Satu kapal selam dan dua lenjer saya pesan di kasir Pempek Gaby. Aiih bau sedap Pempek yang sedang digoreng itu sukses membuat saya menjadi semakin tak sabaran.

Lama tak mengunyah pempek bercampur kuah cuko, maka temu kangen lidah saya dengan pempek kali ini terasa spesial sekali. Ennaaaak bengeet. Rasanya mau nambah satu kapal selam lagi, tapi demi pertimbangan waktu dan jumlah antrean di depan kasir kok yaa saya memutuskan langsung ngacir saja ke pasar bergaya eropa di Summarecon.

Awalnya saya berniat jalan kaki dari Stasion Bekasi menuju Summarecon. Nampaknya cuaca di Bekas..iih sedang galak-galaknya, panas menggigit kulit. Jadilah pesan ojek motor dari aplikasi Grab. Order-an pertama di-cancel sama abang Grabnya. Tanpa alasan yang jelas.

Alhamdulillah order-an kedua dipenuhi dengan lancar. Tak sampai 10 menit saya sudah mendarat di pasar bergaya eropa di Summarecon. Well pasar ini ndak jauh beda dengan pasar-pasar bergaya eropa yang ada di Jakarta.

Sekitar jam setengah tiga sampai di sana. Jalan-jalan muter di dalam gedung hingga akhirnya sampailah di bioskop XXI. Intip-intip suasana bioskop beserta jadwal tayangnya. Alhamdulillah banyak kursi kosong di ruang tunggu bioskop.

Maka saya mencari kursi kosong di pojokan yang sepi sambil main game Real Racing 3. Sesekali memantau pergerakan para ninja yang akan mengikuti Summit.

Bung Dea masih ndekem di rumah. Ninja Fadhel masih menuju Bekasi dari Kota Tua di Jakarta Utara. Heei ternyata ninja Fadhel tak sendirian berangkat dari Kota Tua, dia bersama Ziza chan beserta pengawalnya dari Semarang. Hmm kira-kira ada icir-icir apa antara Ziza chan dengan ninja Fadhel, aaheeuumm mari kita tunggu beritanya di channel Mak Lambe Turah.

Lokasi paling jauh dari tempat summit ternyata si koh Hendra. Dia harus membelah jalan dari Depok menuju Bekas..iih. Untungnya naik KRL. Dia berkilah terjebak hujan. Haeess ini pasti doi bakal telat bangeeet sampai di lokasi summit.

Waktu Ashar sudha masuk dan para ninja ini belum sampai juga di lokasi. Bung Dea pun baru berangkat setelah shalat Ashar. Aiiih untunglah saya dah terbiasa oleh penantian perjalanan kereta Jakarta-Malang selama 16 jam. Pikiran dan susana hati saya seolah bisa melipat waktu. Well, kamu benar duhai Mbah Einstein bahwa waktu itu bersifat relatif.

Tak lama bung Dea sudah sampai di lokasi summit dan menentukan meeting point di area downtown. Beuuh tempat di sebelah mana lagi ini. Saya lihat di layar peta lokasi gedung tak menemukan tempat dengan nama downtown. bung Dea melanjutkan muter-muter mencari kerudung.

Yaa sudha saya jalan-jalan aja di lantai satu sambil nyari spot pewe untuk ngelanjutin main game yang tertunda tadi. Di tengah-tengah keseruan bermain game ninja Fadhel menelpon dan dia sedang sial karena telpon darinya tidak saya angkat, saya lanjut main game. huehueuh kampret beneeerr kan saya ini.

Ada keramaian ternyata di entah sebelah mana, yang jelas ada panggung Doraemon yang sedang joged-joged. Ada bazar juga. Tak disangka-sangka sang MC di panggung mengucap lokasi di sebelah luar panggung adalah downtown. sang MC bilang bahwa nanti malam akan ada penampilan Fir’aun di areal downtown. Whaaat? Fir’aun? bakal ada pertunjukan mumi gitu kali yaa di pasar Summarecon ini. Bener-bener ajaib nih planet Bekas..iih mengekspor diktator lalim dari tanah Mesir.

Okelah, akhirnya saya ngepotret lokasi di mana saya berada saat itu. Saya menanti di sekitaran pintu gerbang Panggung Doraemon.

Panggung Doraemon

Rupanya ninja Fadhel, bung Dea, Ziza chan beserta pengawalnya sedang ada di musholla lantai tiga, menunaikan shalat Ashar. Saya pun akhirnya keluar dan melanjutkan bermain game. Huehuehue ini sih ketagihan beneerr dah main game-nya.

Tak lama bermain game, bung Dea mengabari jika mereka sudah berada di depan eskalator sebelah pintu gerbang panggung Doraemon. Terus terang, melihat icon Doraemon dengan balutan nuansa imlek ini cukup aneh. Apakah lisensi Doraemon di Jepang sudha dibeli oleh China atau ini sebentuk eksploitasi terhadap kucing dari masa depan. Ahh jangan-jangan Doraemon di masa mendatang semua peralatan ajaibnya bertuliskan made in China.

Baiklaah saya meluncur lagi ke dalam gedung dan mencari-cari sosok-sosok ninja yang selama ini hanya saya kenali melalui foto profile maupun postingan berbau narsis di WordPress dan Instagram.

Ada seorang pria jangkung beserta tiga wanita yang juga termasuk ukuran jangkung. Mereka berempat sedang menggerumbul di depan gerbang panggung Doraemon.

Kemudian dengan sok pede saya menyapa pria jangkung itu, dan memastikan bahwa dia adalah ninja Fadhel. Ternyata ninja Fadhel juga mengenali penamkan saya dan akhirnya kami saling bertegur sapa.

Selanjutnya salam-salaman macem lebaran haji dengan bung Dea dan Ziza chan beserta pengawalnya yang belakangan mengenalkan diri dengan nama Afi. Entah ini nama samaran macam agen tabung gas rahasia atau nama asli, saya ndak ambil pusing. Yang jelas dia wanita tulen.

Kemudian saya mulai minder dengan persoalan tinggi badan. Ini pastilah perkara gizi yang lebih baik yang diterima oleh generasi kelahiran tahun 90-an dan seterusnya sehingga memiliki postur tubuh yang lebih tinggi daripada saya yang lahir di era 80-an. Soalnya sepupu-sepupu saya yang lahir di tahun 90-an juga memiliki porsi badan tinggi.

Profiling Ninja

“Tourist looking through a viewfinder on a windy day in New York City” by Freddy Marschall on Unsplash

Kemudian seperti biasanya ketika saya bertemu dengan orang-orang baru, saya akan melakukan profiling berdasarkan gesture, pakaian yang diekenakan, akseosris yang menempel di tubuh, mimik muka, intonasi suara ketika berbicara, logat bahasa, lirikan mata, garis senyuman, bentuk alis, bentuk hidung, ada lesung pipit atau tidak, gigi gingsul, gigi bogang, bulu hidung yang offside hingga kulit cabe merah yang terselip di gigi biasanya tak lepas dari pengamatan saya.

Apakah kalian ingin mengetahui hasil profiling yang saya lakukan terhadap keempat ninja ini? Karena membicarakan keburukan itu bukan termasuk akhlak terpuji, maka keburukan-keburukan hasil profiling selama berinteraksi ini tak saya sampaikan di sini.

Oke ladiieess first yaa, kita mulai dengan ninja Fadhel (lho katanya ladieess dulauan?). Dari posrtur tubuh yang genter (jangkung), dia sangat cocok menjadi atlet bola basket. Di bangku cadangan pun tak mengapa. Secara logat bicara macem anak gahol Jakarte yang kekinian beut.

Tipical anak yang easy going enak diajak jalan dan nongkrong bareng. Soo bagi klean para ciwi-ciwi bisa deh ninja Fadhel ini dibooking buat diajak nemenin jalan. Penampakannya yaa ga malu-maluin lah untuk dibawa kekondangan, tinggal dikasih outfit yang pas.

Nampaknya dia lagi sedikit galau untuk penempatan kerja dari sekolah kedinasannya. Katanya di lokasi yang agak terpencil. Saya sebagai salah satu ninja perantauan juga, memberi saran agar membidik dan menuangkan dalam blognya kearifan lokal di lokasi penempatan kerjanya.

Berlanjut kepad Ziza chan. Kesan pertama yang saya dapatkan dari Ziza chan adalah ini anak polos beut. Tak beda jauh dengan apa yang saya bayangkan dari melihat tulisan-tulisan di blognya. Gesture tubuhnya kikuk-kikuk gimana gitu deh yaa.

Satu hal yang aneh adalah Ziza chan bicara pake bahasa Indonesia ke saya. Padahal dia dari Semarang dan saya asli Malang. Biasanya kalo ketemu dengan sesama orang dengan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, otomatis saya akan langsung ngomong pake bahasa Jawa. Apakah Ziza chan ingin menggunakan bahasa kromo inggil kepada saya tapi ternyata dia enggak bisa? Hmmm entahlah, kalo dirimu membaca tulisan ini harap memberikan konfirmasi ya Za, heuheuhue.

Pengawal Ziza chan sedari Semarang berwajah manis dengan bentuk kacamata bulat layaknya ilmuwan. Ahh iya saya tak banyak menginterogasi dia. Agak sedikit pemalu orangnya, bisa jadi karena baru kenal. Entah kalo sudah kenal lama. Biasanya seseorang akan mengeluarkan sisi savage-nya ketika sudah cukup lama saling mengenal.

Walaupun Ziza dan Afi tiada berada dalam satu naungan almamater, mereka berada pada garis edar nasib yang sama. Sama-sama berada pada garis edar semester akhir dengan tantangan utama bernama skripsi. Semoga klean berdua lancar menghadapi skripsi.

Ziza chan menempuh ilmu di padepokan ilmu komunikasi, sementara Afi entah di padepokan mana. Saya hanya tau tema skripsinya mengenai hak cipta. Kata si ninja Fadhel dan Ziza chan suara pengawal Afi enak. Terbukti ketika selama di taksi online dia bersenandung mengikuti musik yang sedang diputer pak driver.

Bung Dea sebagai tuan rumah sekaligus sebagai tour guide summit. Penampakannya tak jauh berbeda dengan foto-foto yang ia pajang di profile Instagramnya, monggo di kepo akun Instagramnya.

Bagi seorang lelaki single, bung Dea ini tipikal ciwi yang harus dipepet sampai dapet. Anyway, bung Dea ini seorang wanita, namun dalam tulisan ini saya kekeuh memanggil dengan sebutan “bung”.

Berparas ayu dengan senyuman ramah menawan khas orang Puwokerto (haeess emang ada gitu yaa senyuman khas Purwokerto), bisa jadi bung Dea ini ciwi idola di tempatnya kerja di sekitaran Jakarta Pusat. Tapi entahlah saya gak tau statusnya bund Dea ini, masih single atau sudah diikat oleh seorang lelaki. Coba dijelaskan perihal ini di kolom komentar yaa bung, seandainya dirimu membaca laporan summit kali ini.

Menanti Bang Tamvan Sambil Makan

Photo by Jay Wen on Unsplash

Kemudian kami berlima berjalan menyusuri area downtown yang berada di pelataran gedung. Area downtown sudha lumayan ramai, tak bisa bergerak cepat. Sudah lumayan uyel-uyelan kondisinya. Ada banyak warung bersisian di sepanjang downtown.

Atas rekomendasi bung Dea, Akhirnya kami berlima memutuskan makan di sebuah warung yang entah namanya apa saya tak hafal. Saya hanya hafal warung ini menyajikan kuliner omelete sebagai menu andalannya. Jadilah kami berlima langsung memilah dan memilih menu yang dirasa cocok di lidah dan di kantong.

Monggo Sis dipilih kosmetik dari katalog kami bulan ini

Ketika melihat range harga makanan di daftar menu cukup membuat saya geleng-geleng tripping macam orang-orang lagi ajojing. Nasi goreng dengan balutan telor dadar memiliki range harga 50 ribu hingga 80 ribu. Ini sedikit tidak masuk akal mengingat harga telur satu kilo sekitar 25 ribuan. Kyaaahahahah tapi sudah kadung duduk di dalam warung agak aaaacceeekkiewiirrr juga kalo harus keluar ndak jadi beli.

Yaaak pesanan saya datang paling terakhir. Saya lupa nama makanan yang saya pesan. Tapi untungnya, saya masih menyimpan penampakannya. Lebih kurang penampakannya semacam ini lah yaa…

Ommurice Sunny Side Up

Nhaa kok pas upload foto ini saya jadi ingat nama warungnya, seperti yang ada di bendera. Nama menu di atas adalah ommurice, tebakan saya dia berasal dari padanan kata Ommelete dan Rice. Kalo diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia tentu ommurice ini menjadi dadar gulung. Hmmm ndak keren yak namanya? halah mboh wes yaa.

Konde di atas ommurice itu bukan perkedel ternyata. Konde itu ternyata sebuah daging cincang yang digoreng dengan kulit kriuk-kriuk. Lelehan berwarna cokela di samping ommurice itu semacam bumbu curry ala Jepang.

Ketika saya icip-icip bumbu curry-nya, rasanya mirip dengan menu curry yang pernah muncul di Yoshinoya. Nah penampakan curry dari Yoshinoya semacam ini..

Curry Menu dari Yoshinoya sumbe Zomato.com

Sayangnya, menu curry dari Yoshinoya ini sudah ndak keluar lagi. Padahal kalo khilaf makan ke Yoshinoya, saya selalu memesan menu curry ala Japan ini.

Begitu semua menu makanan yang dipesan sudah tersaji kami kalap, kecuali saya. Makan bak orang-orang kesurupan ndak makan selama sebulan, awuwuwuwuwu. Tapi memang enak sih yaa padu padan curry dengan nasi goreng telor dadar gulung itu.

Bergaya dulu sebelum senep melihat bill dari warung

Ketika ommurice di piring saya tandas, saya baru menyadari mengapa harga makanan ini cukup mahal. Pasti karena membungkus nasi goreng dengan telur dadar itu sulit. Kadang kita membayar mahal untuk sesuatu bukan semata-mata karena melihat bahan penyusunnya saja. Namun kita juga membayar keahlian sang koki yang didapat dari pendidikan maupun pengalamannya. Okeee pak koki, ommuricemu enak, dapet nilai 87 dari saya.

Sampai makanan kami semua tandas, bang tamvan Hendra belum datang juga. Maka jadilah kami merencanakan untuk bermain Uno. oooneeestly saya enggak pernah dan tentu enggak ngerti juga cara main Uno. Saya merasa lebih paham memainkan hati lawan jenis, tsaaahhh…

kucluk..kucluk..kucluk seorang lelaki berkemeja abu-abu dengan celana jeans masuk ke dalam warung Sunny Side Up. Dia nampak lesu. Sepertinya orang ini baru saja melakukan perjalanan jaaaauuuuh sekali, lintas dimensi. Kami berlima berada di dimensi tiga, sedangkan lelaki berkemeja abu-abu ini dari dimensi dua. Badannya kurus kering seperti sebilah triplek.

Ooooowwwh ternyata lelaki kurus ini adalah bang tamvan peserta ninja summit terakhir. Entah pertimbangan apa yang membuat dia jauh-jauh meluangkan waktu dan tenaga menuju pasar bergaya eropa di Summarecon. Saya tahu, otak reptilianya lah yang menuntun dia memenuhi ninja summit kali ini. Menempuh jarak dari Depok menuju planet Bekas..iih.

Perlu diketahui bahwa otak reptila pada manusia merupakan pusat perilaku inderawi dan naluriah yang memiliki tugas mengatur kebutuhan mendasar seperti bertahan hidup, berkembang biak, dan perawatan diri. Coba tebak motif otak reptilia yang mana yang menuntun bang tamvan kita ini.

Oooh iyaa, bang tamvan ini sok misterius banget. Ndak banyak informasi yang bisa dikorek darinya selain hal-hal mendasar. Bila diibaratkan bahan kimia, bang tamvan kita ini memiliki gaya kohesi yang lebih besar daripada gaya adhesi dalam hal komunikasi dengan orang yang baru ditemui.

Gaya bang tamvan berbeda 150 derajat bila dibandingkan dengan gaya slengekan-nya di grup whatsapp ataupun tulisan-tulisan di blognya. Saya tahu sebenarnya dia keder dengan Haoshoku Haki yang saya miliki, huehueuehuhue.

Bermain Uno

Yhaaa setelah bang tamvan duduk dan memesan minuman, kami berenam langsung bermain Uno. Kali ini Ziza chan dengan fasih menjelaskan aturan main Uno kepada kami semua. Setelah dijelaskan dengan singkat, ternyata aturan main Uno ini ndak susah-susah amat. Tinggal geser-geser aja tuh balok dengan warna atau nomor yang sama dengan balok yang diambil oleh pemain sebelumnya.

handphone yang di atas meja itu merk Xiaomi

Nampaknya saya lagi sial. Dua kali saya kalah dalam permainan ini. Saya kalah karena merobohkan bangunan Uno ketika akan mengambil balok. Tadinya yang kalah bakal dicontreng muka dengan lipenstip yang dibawa bung Dea. Tapi untunglah bukan muka saya yang contreng dengan lipenstip ketika kalah, cukup lengan saya saja.

Yayayaya sembari main Uno kami ngobrol ngalor-ngidul layaknya orang yang sudah lama kenal. Suasana cukup cair dengan membicarakan keseharian yang kami jalani.

Perihal yang paling menyebalkan adalah ketika mereka menanyakan masa lalu saya sebagai anak band. Haeeess tiba-tiba saja saya teringat perilaku begajulan kala itu whwhwhw. I was a kampret man in the past, indeed i’m still kampret, but in elegant way. 😀

Yaak akhirnya kami kabur dari warung Sunny Side Up tentu setelah membayar dong yaa, bukan ninggal KTP. Kami kabur karena mendengar adzan maghrib, lhaa macem jin jahat aja yang kabur mendengar adzan. Eiitts jangan salah sangka dulu, kami kabur ke lantai dua downtown karena musholla terletak di lantai dua. Antrian orang berwudhu cukup panjang.

Saatnya Menonton Fir’aun

“Men and their horses in front of the Great Pyramid in Egypt” by Jeremy Bishop on Unsplash

Selesai menunaikan shalat Maghrib, kami berenam nongkrong di lantai dua downtown. Ada cukup banyak meja dan kursi yang cukup nyaman untuk ditongkrongin.

Muda-mudi bersliweran saling bercengkrama entah membicarakan apa. Nampaknya mereka sedang menanti acara utama di panggung bawah.

Udara cukup dingin malam itu disertai gerimis tipis-tipis. Untunglah gerimis tipis-tipis ini masih bisa ditoleransi karena tak serta merta membuat badan kuyup. Sesekali nampak pesawat berlalu-lalang di langit planet Bekas..iih.

Langit senja terbelah di atas Summarecon

Saya tak mengingat secara detail apa yang kami bicarakan saat itu. Pastinya malam itu menjadi salah satu malam kopdar teman-teman ninja bloger Obrolin chapter Jabodetabek.

Sejujurnya sebagai salah satu anggota komunitas obrolin pada masa-masa awal, impian saya terhadap komunitas obrolin tak terlalu muluk-muluk. Paling minim terjalin hubungan silaturahmi paling ikhlas dari teman-teman sesama bloger di seluruh kawasan Nusantara.

Minimal saling bertegur sapa di dalam karya-karya yang tertoreh di dalam blog. Sukur-sukur bisa ketemu jodoh dalam komunitas ini, seperti halnya mbak Tia dan mas Alung.

Sebenarnya ninja summit di bulan Februari ini bisa saja di hadiri oleh mba Muniroh. Tapi ketika kami kontak di grup, mba Muniroh sedang berjibaku dengan tugas akhirnya. Semoga lekas selesai ya mba tugas akhirnya. Katanya tiga bulan lagi baru bisa ikutan misal ada ninja summit lagi.

Ada juga mas Slamet beserta pasangannya yang belum kesampaian untuk hadir di ninja summit kali ini. Semoga lain waktu teman-teman Obrolin wilayah Jabodetabek bisa kopdar lagi.

Oh iyaa ternyata saya salah dengar atas ucapa MC di panggung Doraemon tadi sore. Bukan Fir’aun yang tampil mengisi acara pamuncak di pasar bergaya eropa Summarecon. Ternyata nama artis yang sedang dinanti-nanti para penonton di downtown Summarecon bernama Virgoun. Duuh maaf yaa mas, pendengaran saya kurang presisi.

Ketika bung Dea, pengawal Afi, Ziza chan, ninja Fadhel, mas Tamvan membahas Virgoun, saya hanya tertunduk diam karena tak faham siapa itu Virgoun. Sambil mengumpat ringan di dalam hati, “damn gue udah tua.”

we are the last ninja in this planet

Well sekitar jam sembilan malam kami bubar. Pulang ke kediaman masing-masing. Ziza chan dan pengawal Afi pulang ke rumah saudaranya di Bekas..iih. Bund Dea tentu pulang ke rumah orang tuanya.

Saya, ninja Fadhel dan bung Tamvan memesan grabcar menuju Stasion Bekas..iih. Tiba di stasion Bekas..iih, kami tak menunggu lama hingga KRL tiba.

Di dalam KRL kami bertiga masih melanjukan obrolan “khas lelaki”. Tiga puluh menit di dalam KRL, akhirnya kami bertiga berpisah di stasion Jatinegara.

Terima kasih sudah membaca hingga akhir tulisan yang cukup panjang ini. Gak nyangka bisa jadi sepanjang ini tulisannya.

Salam,
{: DiPtra :}

This post originally posted in diptra.id

 

Tagged: ,

6 Comments

  1. Izin ninggalin jejak komandan!
    Profilingnya cadas lah ya. Serasa mumumu dibuatnya. Apakah ini efek dari haki haoshoku yang mengalir deras dari tubuh engkau? Entahlah. Kembang kempis hidung ini membacanya, yang artinya koplak

  2. Astaghfirullah ngakak banget ga berenti sampe lupa mau komen apa 😂😂😂
    Kenapa tulisan Bangdip sama Hendra ga jauh2 dari cewek cantik di keretaa -_-
    Sedih banget pas baca bagian “pertunjukan Fir’aun” ya Allah saya hidup di jaman apaah 😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: