Thursday, 1 June 2017

Puasa Perut, Puasa Mulut

img_5835

Puasa menahan lapar dan haus termasuk dalam kasta puasa paling rendah. Sebatas puasa untuk mendidik perut agar kembali menakar ulang tentang rasa lapar. Ibarat timbangan, puasanya perut adalah sebentuk pengkalibrasian jarum timbangan agar tepat berada di titik nol ketika tanpa beban dan pergerakan jarumnya sesuai kadar bebannya.

Maka setelah beberapa hari puasa menahan lapar dan haus pengkalibrasian rasa lapar, kenyang dan cukup mulai terasa kesetimbangannya. Coba perhatikan rasa kenyang yang dirasakan oleh perut ketika memakan santapan takjil. Setelah seharian perut kosong, hanya dengan memakan sajian takjil, dahaga di tenggorokan lenyap dan keroncongan dalam perut mulai senyap.

Sajian takjil biasanya tak lebih dari minuman dan sedikit makanan ringan atau buah-buahan. Yah, sajian takjil paling umum sih berupa teh manis hangat dan beberapa butir kurma. Jika agak sedikit khilaf satu dua buah gorengan ikut menyelinap kedalam mulut.

Puasa selama lima hari ini, saya mulai merasai dampak kalibrasi antara rasa lapar dengan rasa kenyang. Betapa rasa lapar cukup dijinakkan dengan makanan serupa sajian takjil sederhana, tak perlu makanan berat. Bahkan jika berpuka puasa perut langsung dihajar dengan makanan berat, perut akan kelimpungan.

Perut jadi kelimpungan karena setelah seharian diistirahatkan, ujug-ujug disuruh bekerja berat menggiling makanan berat. Alhasil kelimpungan perut didemonstrasikan dalam wujud rasa begah yang dirasakan.

Kejadian perut yang merasa cukup dengan sajian sederhana takjil merupakan indikasi bahwa perut sebenarnya tidak terlalu banyak menuntut. Asal perut diisi, dan mulai berfungsi untuk menggiling material mentah energi. Perut tidak bisa membedakan antara makanan sederhana dengan makanan mewah.

Jadi, fungsi puasa bagi perut adalah untuk kembali mengkalibrasi takaran antara rasa lapar dengan kenyang. Juga berfungsi untuk menyadari kembali bahwa kebutuhan perut sangatlah sederhana. Asal diisi dia akan diam, tak lagi ribut berdemonstrasi.

Selanjutnya meningkat perihal puasa mulut. Puasa berfungsi untuk memperkuat jalinan kasih sayang antara perut dan mulut. Ini maksudnya bagaimana?

Jadi begini, penyebab perut buncit berlebihan gelambir lemak sebenarnya lebih disebabkan oleh mulut. Perut hanya mengolah input makanan yang diterimanya. Jadi perut yang mulai membuncit selain disebabkan oleh perlambatan kecepatan metabolisme tubuh karena faktor usia, juga disebabkan oleh miskomunikasi antara mulut dengan perut.

Perut hanya mampu menampung dan mengolah makanan dalam kapasitas tertentu. Perut memiliki batasan. Sedangkan mulut yang berfungsi sebagai pengolah awal dan pintu masuk makanan tidak memahami batasan ruang. Parameter yang dikenal oleh mulut adalah rasa-rasa makanan. Rasa makanan yang diterjemahkan mulut sebagai rasa gurih, manis, asin, asam, dan pahit yang dikandung makanan adalah parameter yang dikenal oleh mulut. Rasa-rasa makanan itu didefinisikan oleh mulut kedalam logika biner enak dan tidak enak. Sesederhana itu.

Sekali lagi, mulut tidak mengenal batasan ruang. Walaupun ketika makan, mulut hanya muat menampung sesuap atau dua suap makanan dalam satu waktu. Namun, durasi makanan ada di dalam mulut cukup singkat. Kecepatan makanan di dalam mulut hanya terdiri dari beberapa orde kunyahan saja.

Sebelum berbuka puasa, kita suka lapar mata yang juga disebabkan oleh mulut. Mulut menuntut rasa-rasa makanan yang enak untuk dia rasakan. Karena mulut tidak mengenal batasan ruang, maka mulut menuntut jenis makanan enak sebanyak-banyaknya untuk disiapkan untuk berbuka puasa. Namun ketika berbuka puasa yang terjadi malah hal sebaliknya. Ketika berbuka, hanya dengan memangsa satu dua jenis sajian takjil, mulut sudah merasa cukup.

Rasa cukup ini juga dipengaruhi oleh jalur komunikasi antara perut dan mulut yang mulai lancar. Sedikit demi sedikit miskomunikasi antara keduanya direduksi. Jika mulut kalap mengunyah terlalu banyak makanan, maka perut akan berdemonstrasi kebegahan ketika berbuka.

Maka puasa juga berfungsi mengkalibrasi parameter rasa enak yang dikenalinya. Karena ketika perut lapar setelah seharian berpuasa, makanan sederhana jenis apa pun biasanya terasa sangat nikmat. Walau ketika berpuasa seolah-olah mulut mampu mengunyah segala macam makanan nikmat yang tersedia, namun pada kenyataannya tidak demikian. Jadi puasa berfungsi untuk menyederhankan rasa enak yang dikenali oleh mulut.

Jadi puasa perut dan puasa mulut merupakan sebentuk kalibrasi terhadap parameter-paremeter yang dikenalinya agar bekerja sesuai nilai nominalnya. Agar perut dan mulut bekerja dalam batas kewajarannya. Kewajaran proses kerja perut dan mulut akan menuntun kepada kondisi ideal tubuh, yaitu sehat tak kunjung disapa sakit.

Kamu boleh percaya boleh tidak terhadap bualan yang saya sampaikan ini, senyampang ini hanyalah pendapat pribadi atas pengalaman empiris ketika berpuasa. Maka bukan kewenangan saya untuk menuntut hal yang sama ketika kamu berpuasa. Namun jangan terhenti pada batasan puasa mulut dan perut. Karena dawuh Kanjeng Nabi menyatakan bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan rasa lapar dan haus.

Bahkan menurut hemat saya, puasa yang hanya mendapatkan rasa lapar dan haus itu tidak sampai kepada tahap mengkalibrasi ulang parameter perut dan mulut. Lantas apa kira-kira penyebabnya? Hmm harap bersabar yaa, insyaa Allah saya sampaikan pada tulisan berikutnya. Mengingat pagi ini organ pencernaan saya mulai memberikan alarm untuk segera mengeluarkan muatan sisa konsumsi buka puasa kemarin sore.

Demikan uraian yang agak sedikit berbau bualan dari saya terkait puasa perut, puasa mulut. Selamat melaksanakan ibadah puasa hari ke enam. Semoga berkah puasanya hingga akhir Ramadhan.

Salam..
dia si tukang bual sok ilmiah

Wednesday, 31 May 2017

Renungan Ba’da Shubuh

IMG_5673

Dari percakapan sebuah grup whatsapp, ada pesan singkat yang cukup menohok hati dan pikiran dari salah satu teman anggota grup. Renungan tentang kedekatan umat Islam terhadap Al-Qur’an. Renungan singkat yang dilakukan ba’da Shubuh. Pesan singkat dari teman tersebut seperti tulisan di bawah ini dengan redaksi yang sudah sedikit saya modifikasi.

Ada salah seorang jama’ah bertanya kepada seoarang ustadz mengenai kedekatan umat terdahulu terhadap Al-Qur’an. Kemudian ustadz tersebut menjawab bahwa kedekatan umat terdahulu terhadap Al-Qur’an seperti halnya kedekatan umat jaman sekarang dengan handphone.

Jedddueeng nasihat ini kontan saja menyentil kesadaran saya dan membuat malu semalu-malunya karena benar adanya. Interaksi saya terhadap Al-Qur’an kalah jauh jika dibandingkan interaksi saya terhadap handphone. Padahal ada aplikasi Al-Qur’an di handphone saya, namun saya lebih sering membuka Whatsapp atau aplikasi lainnya.

Benarlah nasihat yang dituliskan oleh Ibnu ‘Athaillah dalam kitab Latha’iful Minan, bahwa,

Dunia yang sedikit ini membuat kita lupa terhadap akhirat yang banyak.

Salam..
DiPtra

Tuesday, 30 May 2017

Metafora Cahaya

IMG_5670

Ketika membaca Al-Qur’an saya suka sekali ketika mendapati penggunaan metafora cahaya. Seperti metafora cahaya di atas cahaya. Tentu ada beragam tafsir mengenai metafora cahaya ini.

Metafora cahaya bisa bermakna ilmu, hidayah, pencerahan pikiran dan sebagainya. Lantas metafora cahaya di atas cahaya itu seperti apa kira-kira maknanya? Hmm entahlah, saya tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menafsirkannya.

Ilmu fisika modern menemukan bahwa cahaya memiliki sifat dualitas1. Teori Dualitas Partikel-Gelombang, di mana cahaya dianggap sebagai partikel sekaligus sebagai gelombang.

Lalu kembali kepada metafora cahaya di atas cahaya, jika cahaya tampak yang kita lihat memiliki sifat dualitas, maka bisa jadi cahaya di atas cahaya bukan termasuk dalam partikel ataupun gelombang. Cahaya yang melewati ruang-ruang dimensi materialisme. Pencerahan-pencerahan.

Salam..
DiPtra

Monday, 29 May 2017

Esensi Membaca

IMG_5669

Beberapa pekan lalu ada event  bazar buku yang dilangsungkan dan mendapat sambutan meriah dari masyarakat. Ada Islamic Book Fair dan Big Bad Wolf Book Sale yang menyajikan buku-buku berkualitas kepada masyarakat.

Dulu saya gemar mendatangi event-event pameran buku semacam ini. Namun belakangan ini tidak. Terakhir, saya mendatangi event Islamic Book Fair di bilangan Senayan Jakarta beberapa tahun lalu.

Manusia menyemut, memadati tiap-tiap stand penjual buku. Bahkan untuk bergerak saja sulit. Bagi saya, membeli dan berburu buku dalam kondisi terlalu ramai dan penuh sesak terasa kurang nyaman.

Sejak saat itu, saya tidak lagi mendatangi event bazar buku hingga saat ini. Rutinitas membeli buku pun juga saya kurangi. Saya mulai memikirkan efek dari aktivitas membaca yang saya lakukan selama ini.

Sering kali ketergesaan membaca dalam rangka menamatkan sebuah buku membuat saya kurang menikmati apa yang sedang saya baca. Saya mulai mempertanyakan apa esensi membaca, baik itu membaca buku atau pun artikel online.

Poin ke lima dari tulisan Milena di Medium1, cukup beresonansi dengan apa yang saya rasakan terkait esensi dari membaca. Bahwa selama ini saya merasa tergila-gila mencari hal baru yang menarik dari apa yang saya baca. Ketika menyelesaikan suatu bacaan yang menarik dan menerima pesan yang disampaikan tak lama kemudian saya mencari-cari lagi bacaan yang lebih menarik. Apa yang saya rasakan ini semacam kehausan intelektual tak berujung.

Hal ini saya rasakan ketika membaca banyak sekali tips-tips menarik dalam artikel. Berpindah dari satu artikel ke artikel lainnya. Berpindah dari artikel motivasi ke artikel motivasi lainnya. Berpindah dari satu novel ke novel lainnya.

Tapi kemudian saya mempertanyakan apakah saya sudah merenungkan dengan tenang apa yang sudah saya baca? Apakah saya sudah mengimplementasikan segudang tips-tips menarik dari artikel atau buku yang sudah saya baca? Ataukah hasrat banyak membaca ini hanya sebentuk kompulsif terhadap pengetahuan? Sangat mungkin banyak-banyakan membaca ini menjadi semacam perlombaan tanpa disadari.

Praktik, praktik, praktik inilah hal yang ingin saya garis bawahi. Kurangnya praktik dari apa–apa yang sudah saya baca. Jadi, untuk saat ini esensi membaca bagi saya adalah mendapatkan sudut pandang baru dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, menuliskan mindfulnote dalam blog ini adalah sebentuk pengimplementasian dari buku Zen Habits: Mastering The Art of Change yang sedang saya baca.

Frantic reading makes us encounter an interesting idea, saying: “Hmm, this is interesting,” and move on in the search of next shiny solution for our problems. However, when we read slowly, carefully, when we highlight, contemplate on what we’ve read, when we try the ideas from the books ourselves, that’s when the books have the biggest potential to transform us.

Salam..
DiPtra

Sunday, 28 May 2017

Digonggong Anjing

IMG_5666

Terlepas dari kontroversi terhadap latihan mindfulness yang katanya ada keterkaitan dengan ajaran Zen, ada teman yang menanyakan apa manfaat yang saya rasakan ketika berlatih mindfulness.

Sebenarnya perihal manfaat berlatih mindfulness ini sudah saya sampaikan di tulisan sebelumnya. Namun ketika menjawab pertanyaan teman saya itu, saya memberikan jawaban yang berbeda dari apa yang pernah saya sampaikan sebelumnya.

Kepadanya saya memberikan jawaban bahwa sejak berlatih mindfulness, saya merasa lebih kalem, tidak gampang kaget. Contoh kasus yang saya alami adalah ketika digonggong oleh anjing.

Hari itu saya melewati sebuah rumah menggunakan motor, tiba-tiba ada gonggogan anjing lumayan nyaring dari balik pagar rumah itu. Dalam keadaan seperti itu, biasanya saya akan kaget lantas mengumpat. Namun kejadian hari itu lain cerita, ketika digonggong oleh anjing di balik pagar rumah itu, saya tetap selow saja naik motor sambil senyum-senyum.

Mungkin ceritanya akan menjadi lain jika anjing tersebut mengejar saya, pasti saya lari daripada digigit anjing galak hihii.

Salam..
DiPtra

Saturday, 27 May 2017

Yang Tak Kasat Mata

IMG_5667

Mata saya tertuju kepada surat Shad ayat tujuh puluh enam. Sebuah ayat yang menceritakan penyebab keengganan iblis menolak perintah Tuhan. Iblis menolak untuk memberikan penghormatan kepada Nabi Adam dengan alasan bahwa dia merasa lebih mulia daripada Nabi Adam. Merasa lebih mulia karena diciptakan dari api sedangkan Nabi Adam diciptakan dari tanah. Singkat cerita, pembangkangan iblis disebabkan oleh kesombongan. Kesombongan yang membuat dirinya terusir dari surga.

Penyebab kesombongan Iblis dikarenakan merasa lebih mulia. Unsur api dirasa lebih mulia daripada unsur tanah menurut Iblis. Dalam hal ini saya menarik kesimpulan bahwa Iblis melihat kemuliaan hanya sebatas bungkus materi yang menyelubunginya.

Jadi, boleh dibilang saya menyamakan paham materialisme sebagai pahamnya Iblis. Karena paham materialisme menganggap unsur kebendaan yang kasat mata adalah penentu kemuliaan dan kesuksesan. Orang berpakaian perlente dan berpakaian necis kemudian mengendarai mobil mewah, tentulah dianggap lebih disegani daripada pengamen di pinggir jalan. Padahal sama-sama manusianya, sama-sama ciptaan Tuhan.

Maka dari itu, puasa di bulan Ramadhan dihadiahkan kepada umat manusia agar manusia melepaskan diri dari paham materialisme ini. Dengan puasa, diharapkan manusia mampu melepaskan potensi-potensi keiblisan dalam dirinya sehingga mampu melihat nilai-nilai yang tak kasat mata. Nilai-nilai esensial yang Malaikat rela melakukan sujud penghormatan kepada Nabi Adam.

Salam..
DiPtra

p.s  terinspirasi dari kitab Sirrul Asrar

Friday, 26 May 2017

Ramadhan Tiba

IMG_5671

Ketika tulisan ini dibuat, saya belum mengetahui kapan penetapan tanggal satu Ramadhan oleh pemerintah di tahun ini. Tulisan ini saya tuliskan mendekati bulan Ramadhan.

Teringat tahun lalu saya membuat tantangan untuk menulis setiap hari selama bulan Ramadhan. Sebuah tantangan yang cukup menarik dan menguras tenaga mengingat tahun lalu saya belum terbiasa ngeblog setiap hari.

Ramadhan tahun ini tantangan menulis blog setiap hari tidak saya lakukan. Mengingat sudah sedari pertengahan April lalu, saya melazimkan diri menulis di blog ini. Menjadi lebih rutin ketika saya membuat hashtag baru di awal bulan ini, yaitu hashtag mindfulnote. Hashtag mindfulnote saya tujukan sebagai catatan latihan mindfulness.

Memasuki bulan Ramadhan tahun ini, maka melalui tulisan ini saya menghaturkan maaf jika ada tulisan dalam blog ini maupun interaksi di kolom komentar yang kurang berkenan. Mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya. Semoga ibadah puasa Ramadhan tahun ini membukakan pintu-pintu berkah dalam keseharian kita. Amin.

Salam..
DiPtra

Thursday, 25 May 2017

Kualitas Album Lagu

IMG_5672

Saya pernah membaca tulisan Pak Budi Rahardjo tentang kualitas tulisan. Tulisan Pak Budi Rahardjo di tahun dua ribu sembilan itu mempertanyakan “Haruskah tulisan kita di blog berkualitas?”1. Jenis pertanyaan ini cukup nakal namun menggugah nalar untuk berpikir.

Dari tulisan Pak Budi Rahardjo tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa agar menjadi blog yang populer tulisan tidak perlu terlalu berkualitas. Mantra yang didengungkan Pak Budi Rahardjo adalah “kuantitas lebih menentukan daripada kualitas”.

Hal ini merupakan sudut pandang baru  yang cukup segar bagi saya. Pak Budi Rahardjo menganalogikan jika tulisan kita berkualitas tapi hanya ada satu tulisan dalam satu bulan, maka pengunjung blog hanya akan datang sebulan sekali. Jika blog kamu diperbaharui setiap hari, maka kemungkinan orang untuk mengunjungi blog kamu setiap hari semakin besar. Menurut saya hal ini berlaku untuk blog-blog baru yang mulai merangkak. Untuk blog yang sudah memiliki ratusan konten dan memiliki banyak pembaca setia sebenarnya tak perlu memperbaharui tulisan di blog setiap hari.

Akan tetapi ada juga saran dari bloger lain agar menulis dengan kualitas yang bagus dan tidak perlu setiap hari, namun terjadwal. Hal ini juga bagus dilakukan jika kamu merasa energi ngeblog-mu bakal terkuras habis jika harus ngeblog setiap hari.

Dua paradigma yang saling bertolak belakang ini tak perlulah dipertentangkan atau diperdebatkan. Silahkan saja memilih salah satu yang dirasa cocok. Saya sendiri penganut aliran album lagu dalam ngeblog.

Maksudnya begini, saya menganalogikan ngeblog setiap hari seperti sebuah grup band atau seoarag penyanyi yang mengeluarkan album lagu. Memang grup band atau seorang penyanyi tidak mengeluarkan album setiap hari. Namun saya mengambil analogi bahwa tidak semua lagu enak dalam satu album musik. Atau setiap orang memiliki lagu favorit yang berbeda-beda dari satu album musik.

Mulai mengerti benang merahnya? Satu tulisan dalam blog ini, saya analogikan sebagai sebuah lagu. Kategori dan hashtag, bahkan blog ini saya analogikan sebagai album musik. Maka sangat mungkin satu tulisan saya disukai dan tulisan lainnya tidak. Selera setiap pembaca berbeda-beda. Saya hanya memperbesar peluang agar tulisan saya dibaca dan ada manfaat yang bisa dituai.

Kembali tentang tulisan berkualitas, kira-kira apa saja sih kriteria sebuah tulisan disebut berkualitas. Apakah dari panjang dan pendek tulisan, atau dari rangkaian diksi yang apik atau kah dari alur berpikir dan bertutur yang jernih. Menurut saya, tulisan yang berkualitas adalah tulisan yang menyampaikan pesan dan pesan itu bisa diterima dengan baik oleh pembacanya. Tak peduli apakah tulisan panjang atau pendek, diksinya sederhana atau akrobatik, alur lugas jernih atau berliku.

Maka dari itu, untuk tulisan-tulisan selanjutnya di blog ini, kemungkinan akan saya buat pendek-pendek, hanya beberapa paragraf saja. Harapannya hikmah atau pesan dalam tulisan-tulisan pendek itu nantinya tetap tersampaikan.

Alasan lainnya adalah padatnya jadwal pekerjaan mendekati bulan Ramdhan tahun ini. Maka ada rutinitas yang perlu saya mampatkan alokasi waktunya. Menulis konten untuk blog menjadi salah satu rutinitas yang saya mampatkan waktunya. Semoga berkenan.

Salam..
DiPtra

Wednesday, 24 May 2017

Revolusi Industri 4.0

IMG_5663

Komoditas baru dalam revolusi industri volume empat adalah data. Sebagian orang menyatakan bahwa data merupakan nilai tukar mata uang baru. Sebagai contoh, perusahaan seperti Facebook, menjual data penggunanya untuk disaring untuk kemudian dijual kepada pengiklan. Data pengguna yang sudah disaring ini sangat diperlukan oleh pengiklan untuk mendapatkan calon pembeli atau pelanggan secara lebih spesifik.

Iklan yang diterima oleh setiap orang ketika mengaskses Facebook maupun media sosial lainnya menjadi lebih relevan dan tepat sasaran. Seorang yang memiliki minat terhadap fashion akan menerima iklan yang berbeda dengan orang yang memiliki minat terhadap teknologi. Kasus di atas hanyalah salah satu contoh pemanfaatan data sebagai komoditas baru.

Saat ini merupakan era transisi antara revolusi industri ketiga dengan revolusi industri keempat. Revolusi Industri antra ini kita sebut saja sebagai revolusi industri ketiga setengah (three point five). Revolusi industri ketiga setengeh ini merupakan jalan penghubung otomasi peralatan dengan data yaitu era informasi.

Era informasi ini ditengarai dengan perkembangan internet di awal millenium kedua. Perkembangan teknologi telekomunikasi selular yang begitu pesat beberapa tahun ini mempercepat proses transformasi menuju revolusi industri volume empat.

Salah satu grand design revolusi industri volume empat adalah pemanfaatan internet of thing (IoT). Grand design ini berambisi menginterkoneksikan segala perangkat yang ada dengan internet. Misalnya AC di dalam suatu gedung bisa dikontrol dari tempat yang jauh. Pada tingkatan yang lebih advance, bisa jadi industri di masa depan tidak ada lagi campur tangan manusia dalam proses produksinya.

Jika semua proses produksi untuk kebutuhan manusia bisa dikerjakan semuanya oleh mesin-mesin digital yang sudah terotomatisasi dan terintegrasi secara global besar kemungkinan taraf kebahagiaan hidup manusia akan meningkat.

Namun dari perkembangan revolusi industri dari volume ke volume lainnya, tingkat ketergesaan dan kebahagiaan manusia saya perhatikan semakin menipis. Contohnya di jalanan kota-kota besar yang penuh sesak dengan kendaraan dan polusi udara, kesabaran manusia makin menipis.

Waktu untuk bercengkrama dengan keluarga semakin sempit. Obrolan hangat antar kolega diganggu oleh notifikasi smartphone yang tiada henti menimpali obrolan. Hingga saya mengambil kesimpulan bahwa istilah smartphone memiliki arti gadget yang kita miliki, sangat pintar sekali mencuri perhatian kita dengan notifikasi sehingga melalaikan hal-hal terpenting dalam hidup.

Humans are starting to live for documenting life events with photos and online posts, instead of actually living for the event.

Salam..
DiPtra

Tuesday, 23 May 2017

Revolusi Industri 3.0

IMG_5662

Revolusi industri volume tiga ditengarai oleh perkembangan semikonduktor dan proses otomatisasi industri. Dengan kata lain, dunia sedang bergerak memasuki era digitalisasi. Industri manufaktur, industri kesehatan, industri pertanian dan sebagainya.

Otomatisasi peralatan industri menggantikan peran manusia dalam prosesnya. Pada satu sisi perkembangan teknologi digital ini mempermudah pekerjaan manusia. Akan tetapi pada sisi yang lainnya ada resistensi dari para pekerja yang merasa pekerjaannya terancam tergantikan oleh peralatan yang mampu bekerja secara otomatis.

Perkembagan perangat komputer yang begitu pesat hingga awal millenium kedua juga membawa perubahan signifikan dalam kehidupan manusia. Ragam aktifitas sebagian besar manusia mulai terintegrasi dalam perangkat komputer.

Jika ditelaah lagi, semestinya kemajuan teknologi digital ini mempermudah pekerjaan manusia. Sehingga pada gilirannya nanti potensi-potensi terpenting  manusia untuk berpikir, berkarya, mendidik, memimpin dan menelusuri jejak spiritual akan menjadi lebih optimal.

Namun pada kenyataannya, revolusi Industri volume tiga ini malah semakin menebalkan dinding-dinding materialisme di hati anak manusia. Apakah ini sebentuk modernisasi yang salah kaprah..?

Satu hal yang perlu kembali ditekankan, perkembangan teknologi digital dengan cepat mengubah sejarah manusia bagaikan sebilah pisau. Jika digunakan pada hal yang tepat maka akan dirasakan manfaatnya. Begitu juga jika terjadi penyalahgunaan perkembangan teknologi maka kerusakanlah yang ditimbulkan.

Salam..
DiPtra