Minimalism, Sebuah Perjalanan Kedalam Diri

Padahal kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Tak bisa disamakan antara satu dengan yang lainnya. Lebih kurang kalimat-kalimat seperti itulah yang terlintas di benak saya ketika berjalan menuju kantor, melihat lalu-lalang kendaraan.

Selftalk yang saya lakukan tadi, menjadi semacam pengingat terhadap diri sendiri. Pengingat bahwa dalam menjalani hidup minimalis tak perlu melihat keluar diri, melihat orang lain.

Aseliii laah ini saya alami, ketika mulai menerapkan ide-ide tentang hidup minimalis yang sudah dipelajari, ada gelitikan nakal untuk memberikan penilaian terhadap hidup orang lain. Penilaian bahwa seseorang masih terlalu berlebihan dalam menjalani hidupnya. Padahal yaa belum tentu juga karena kebutuhan tiap orang berbeda-beda.

Penilaian-penilaian terhadap apa-apa yang berada di luar diri, ternyata malah mengaburkan suara-suara untuk mengoreksi apa-apa yang berada di dalam diri. Lupa bahwa mempraktekkan hidup minimalis adalah sebuah cara untuk menggali kebahagiaan dari dalam diri.

Kebahagian rasanya tak bisa didapat dengan mengkoreksi apa yang dilakukan oleh orang lain. Kalaupun didapat, kebahagiaan yang didapatkan ketika mengkoreksi orang lain adalah kebahagiaan semu. Kebahagiaan semu karena secara tidak sadar menilai orang lain lebih buruk daripada diri sendiri. Padahal kenyataanya tidaklah seperti itu.

Tak mengherankan rasanya jika salah satu pionir hidup minimalis dari Amerika, yaitu Leo Babauta menekankan pentingnya mindfulness.1 Sebuah latihan untuk menumbuhkan kesadaran. Kesadaran yang tumbuh dengan lebih banyak melihat kedalam diri. Kesadaran untuk memilah dan memilih hal-hal yang penting dan memberikan makna.

Maka, perlu kiranya ditanamkan kesadaran bahwa dalam praktek hidup minimalis tak perlu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Banyak-banyak melihat jauh kedalam lubuk hati mengenali kekurangan diri agar lebih mawas diri.

Jadi, pepatah gajah di pelupuk mata tak nampak dan kuman di seberang lautan nampak, masih relevan hingga kapan pun.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat.

salam..
DiPtra..

0 thoughts on “Minimalism, Sebuah Perjalanan Kedalam Diri

Share Your Thought