Puasa Nafsu, Puasa Jiwa

040617

Bulan Ramadhan, bulan puasa, bulan untuk mendidik jiwa. Sebelumnya sepemahaman saya, nafsu dan jiwa memiliki definisi yang sama. Hanya saja, ketika berbicara tentang nafsu maka akan lebih memiliki kecenderungan bermakna ego yang memiliki konotasi negatif. Ketika berbicara jiwa maka sepemahaman saya, jiwa memiliki makna yang netral. Bergantung kata sifat yang melekatinya seperti jiwa yang sehat, jiwa yang tenang, jiwa yang sakit.

Setelah membahas puasa mulut, puasa perut dan puasa otak, puasa pikiran maka macam-macam puasa itu memiliki kaitan dengan puasa nafsu atau puasa jiwa. Pada fase pertama puasa mulut, puasa perut bertujuan untuk melemahkan dan menakar ulang kebutuhan akan jasad terhadap makanan.

Penakaran ulang terhadap makanan yang berbentuk pengurangan asupan makanan, ternyata mampu meningkatkan kinerja otak untuk mengingat dan berpikir. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya melalui penelitian yang dilakukan oleh Matt Mattson.

Seperti yang kita ketahui bersama, secara garis besar keinginan nafsu yang berkaitan dengan badan terbagi menjadi tiga macam. Nafsu untuk merasai makanan yang enak, nafsu untuk selalu merasa kenyang dan nafsu untuk melakukan hubungan biologis terhadap lawan jenis.

Ketika puasa, ketiga macam keinginan badani ini dibatasi, dikekang sedemikian rupa. Karena nafsu kerap memperalat tiga macam keinginan ini untuk memuaskan hasratnya hingga melebihi batas. Ketika nafsu tidak dikekang maka dia tidak akan pernah puas menuntut makanan-makanan yang nikmat. Maka rasa kenyang pun menjadi melebihi batas yang semestinya. Perut yang kenyangan akan mendorong kepda kemalasan dan biasanya berujung pada keinginan untuk melakukan hubungan biologis terhadap lawan jenis.

Maka melalui pendidikan terhadap badan dengan puasa, sebenarnya adalah cara untuk melatih nafsu agar menjadi jiwa yang tenang. Selanjutnya dengan nafsu atas keinginan badani yang dibatasi, maka efek yang dirasakan adalah peningkatan kemampuan berpikir dan mengingat. Peningkatan kemampuan berpikir ini akan membuat kita mampu berpikir secara lebih jernih dan obyektif. Sehingga pikiran mampu menuntun jiwa untuk melakukan kebaikan dan memperhalus rasa.

Pada gilirannya nanti, jasad yang sehat disertai dengan pikiran yang sehat sehingga menghasilkan jiwa yang tenang merupakan produk yang diharapkan selepas puasa Ramadhan usai. Karena puasa Ramadhan semata-mata bukanlah puasa yang parsial. Namun puasa Ramadhan adalah puasa yang bersifat holistik yang mampu merangkul kebutuhan manusia akan jasad yang sehat, pikiran yang jernih dan jiwa yang tenang. Sehingga di penghujung Ramadan nanti kita bisa beridul fitri dengan ketakwaan, insyaa Allah.

Oh iya,beberpa waktu lalu sebelum memasuki bulan Ramadhan, ada yang bertanya kepada saya tentang target Ramadhan saya tahun ini. Saya berpikir keras apa gerangan target Ramadhan saya tahun ini. Target Ramdhan pada umumnya sih seperti mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali, shalat taraweh berjama’ah selama bulan Ramadhan, berinfaq senilai sekian rupiah, i’tikaf di sepuluh malam terakhir dan sebagainya.

Well, saya tak kunjung menjawab pertanyaan teman saya ini. Karena target puasa Ramadhan saya tahun ini receh sekali, yaitu mencapai bobot badan lima puluh delapan kilogram. Halah, receh bingiiits kan terget Ramadhan saya walau sudah menulis macam-macam jenis puasa yang ndhakik-ndhakik dari tanggal satu kemarin.

Heuheuheu tunggu saja, masih ada postingan ndhakik-ndhakik di hari-hari selanjutnya. Jadi jangan terlalu percaya dengan apa yang saya tuliskan.

Salam..
DiPtra lelaki ndhakik-ndhakik

4 thoughts on “Puasa Nafsu, Puasa Jiwa

  1. nice posting mas.
    Karena puasa Ramadhan semata-mata bukanlah puasa yang parsial. Namun puasa Ramadhan adalah puasa yang bersifat holistik yang mampu merangkul kebutuhan manusia akan jasad yang sehat, pikiran yang jernih dan jiwa yang tenang. 🙂

    dan dapet satu suku kata baru, ndhakik-ndhakik? artinya? 😀

Share Your Thought