Secede

Sering kali saya temui fase menepi, baik secara suka rela maupun terpaksa, yang dialami oleh tokoh-tokoh terkenal. Contoh yang paling terkenal adalah kisah Kanjeng Nabi Muhammad ketika menepi dari keriuhan kota Makkah. Beliau menepi di gua Hiro hingga momen terkenal itu terjadi. Momen ketika beliau didaulat menjadi pengemban mandat penyampai risalah keesaan melalui perantara Malaikat Jibril.

Syekh Abdul Qodir Jailani sebelum memasuki kota Baghdad juga mengalami fase menepi. Menepi untuk pematangan lahir dan batin sebelum memasuki area dakwah di kota Baghdad.

Buya Hamka pun dipaksa untuk menepi. Sebuah keterpaksaan atas fitnah keji. Fase menepi Buya Hamka ini menghasilkan karya fenomenal tafsir Al-Qur’an 30 juz yang dikenal dengan tafsir Al-Azhar.

Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno, pun kenyang mengalami fase pengasingan. Justru dalam pengasingan semangat juangnya untuk nusantara semakin bergelora.

Muhammad Ainun Nadjib juga memilih jalan sunyi. Sebuah langkah menepi dari hiruk pikuk media. Beliau fokus menyatukan hati-hati manusia Indonesia dalam nuansa cinta.

Sama halnya dengan Ustadz Yusuf Mansur, beliau juga dipaksa menepi di balik jeruji penjara selama beberapa waktu hingga datang cahaya hidayah untuk melanjutkan dakwah.

Dalam kisah pewayangan pun juga terjadi hal yang sama. Kisah Gatotkaca dilemparkan kedalam kawah Candradimuka untuk meningkatkan level kesaktian adalah sebentuk fase menepi. Begitu keluar dari kawah Candradimuka, Gatotkaca menjadi kesatria sakti tanpa tanding di palaga Baratayudha.

Fase menepi merupakan sebentuk fase untuk mengakrabi keheningan1. Sebuah fase untuk meningkatkan kapasitas diri. Fase untuk memperjelas suara hati nurani. Fase terpenting untuk menguatkan tekad.

Maka dari itu, menyediakan waktu untuk menepi guna meningkatkan kapasitas diri adalah sebuah keniscayaan.

vale est tempus secede…

Share Your Thought