Sekularisasi Pekerjaan dengan Identitas Kehidupan Digital

Perlu enggak sih memisahkannya?

Merunut tulisan mba Windi tentang pemisahan dunia kerja dengan identitas di dunia maya, saya jadi ikutan latah ingin menulis juga.

Tapi sebelum memulai cuap-cuap singkat kali ini saya bubuhkan dulu quote dari mba Windi,

If We Have no identity apart form our jobs, We are truly vulnarable — mba Windi

Jadi beberapa waktu saya sempat ngomelin teman saya yang keprucut menyebut merk tempat saya bekerja di sebuah grup Whatsapp yang beranggotakan kalangan umum. Sudah gitu lengkap pula dengan menyebut jobdesk saya di tempat kerja. Haeeesss lebay.

Ketika itu saya merasa sebal. Yaa saya tahu niat teman saya itu pasti bercanda, tapi entah kenapa saya merasa sensitif saat itu. Hal ini dikarenakan masalah pekerjaan merupakan ranah privasi bagi saya.

Saya saja mati-matian menjaga tidak menyebutkan perusahaan tempat saya bekerja, eh ini malah sekonyong-konyong teman saya yang tahu tempat kerja saya membeberkannya di muka umum.

Iya peristiwa ini sebenarnya bukan 100% salah teman saya itu, tapi salah saya 100% persen. Karena sebelumnya saya tidak pernah memberi tahu kepada siapa pun jika saya penganut paham sekuler antara dunia kerja dengan dunia digital maya.

Walaupun di LinkedIn bakal ketahuan saya bekerja di mana, namun di dunia digital maya ini, saya menggunakan nama akronim. Jadi enggak bakal ketahuan di LinkedIn.

Salah satu senior di tempat kerja berpesan sebaiknya tidak membawa-bawa atribut identitas tempat kerja untuk hal-hal personal.

Beliau memberi contoh saat aksi 212 tahun lalu. Jika ingin ikut aksi tersebut, sebisa mungkin tidak membawa atribut identitas tempat kerja. Semacam ada aturan tidak tertulis dari tempat kerja saya, bahwa untuk aktifitas individu sebaiknya tidak membawa-bawa nama perusahaan.

Misalnya di kemudian hari ada apa-apa terkait aktivitas individu yang dijalani, nama perusahaan jangan diikut-ikutkan.

Saya rasa hal ini ada benarnya juga.

Contoh paling sederhana adalah ribut-ribut turunan dari aksi 212 tahun lalu. Sari Roti yang sebelumnya santai-santai saja, begitu membuat klarifikasi malah membuat publik heboh. Misalkan grobak Sari Roti tidak mejeng di viralnya lini massa, pasti tak akan terjadi ricuh lanjutan yang sebenarnya tak perlu terjadi.

Alasan-alasan memisahkan pekerjaan dengan identitas digital

Alasan lain melakukan sekulerisasi pekerjaan dengan dunia digital maya adalah demi menghindari jobdesk tambahan sebagai customer service.

Maksudnya begini, menjadi sosok yang cukup aktif di dunia digital berpotensi membuat kita terkenal. Nah jika embel-embel nama perusahaan menempel pada identitas dunia digital maya kita, serasa ada beban tersendiri.

Secara tidak langsung, kita menjadi PR dunia digital maya dari tempat kita bekerja. Padahal bagian PR itu ada bagiannya sendiri pada sebuah perusahaan.

Misal kita melakukan tindakan yang tidak terpuji di dunia maya, karena embel-embel nama perusahaan terlanjur nempel, maka hal ini bisa menimbulkan image buruk kepada perusahaan tempat kita bekerja.

Salah satu contoh kasus yang saya ingat adalah kasus bullying terhadap salah satu reporter stasiun televisi yang berucap kasar di Twitter. Kebetulan twit si reporter meluncur ketika kondisi jagat maya sedang memanas.

Jadilah akun Twitter si mba reporter itu menjadi bulan-bulanan warganet, haeeess saya kok merasa geli yaa menulis istilah warganet.

Alasan terakhir saya melakukan sekulerisasi identitas kerja dan dunia maya adalah, nama perusahaan tempat saya bekerja, menurut artikel-artikel yang kurang jelas dari mana sumbernya terindikasi mendukung gerakan illuminati.

Kalau dipikir-pikir benar juga sih lha wong tempat kerja saya salah satu produk yang dijual itu berupa lampu, tentu saja dia mendukung illuminati — baca menerangi.

Jadi, menurut kamu yang nyasar, kemudian tak sengaja membaca artikel ini, apakah sekulerisasi identitas itu perlu?


image source by Štefan Štefančík on Unsplash

8 thoughts on “Sekularisasi Pekerjaan dengan Identitas Kehidupan Digital

  1. Wah aku sama deh kayak mas Dipt,, kalo di dunia maya gak mau nyebut2 saya kerja di mana atau sebagai apa karena emang masalah privasi aja sebenarnya. Kecuali kalo ngomong langsung ke si penanya, mungkin saya blg tpi kalo udah percaya aja hahah.. Kukira aku aja yg lebay, wkwkk… kata orang aku lebay,

  2. Sepertinya perlu, karena bagaimanapun juga dunia nyata adalah dunia yg benar2 sedang dihadapi,
    kecuali teman dunia mayanya sudah menjadi bagian dunia nyata. Harusnya, kalau sudah saling kenal di dunia nyata, paham sendiri kalau temannya tetap butuh privasi jika hal2 tertentu dikehidupan nyatanya tidak pernah di umbar ke publik.
    Dulu, awal2 ngeblog sy sempat agak bingung dgn urusan media sosial ini, secara bukan orang yg mudah bercerita sama yg belum dikenal, kecuali BW dan membahas tulisan. Akhirnya, FB personal dan blog dipisah, tp di medsos lain kecampur lagi.
    Ya sudahlah, memang hidup di dua dunia *lagian, siapa juga emak2 ini 😀

  3. Pilihan masing-masing kali ya. Dan tergantung kasus. Kan ada juga kasus dimana kedua dunia itu saling sinergi. Kalau memang jadi ranah privasi itu dikarenakan kebutuhan kebebasan lebih dalam sebuah persona yang lain. Ya. Kita manusia biasa menampilkan persona yg berbeda dalam setiap bentuk pergaulan. Normal. Kecuali memang kita ingin menampilkan persona yg ditempat lain tdk selalu diterima utk menampilkannya. Biasanya ini yang menjadikan sebuah identitas disembunyikan betul…

Share Your Thought