Sudah Sebulan Tanpa Media Sosial

Calendar

Sudah mendekati sebulan tidak utak-atik media sosial. Tidak login. Hanya sesekali mendapat tautan menuju media sosial dari sejawat.

Tahun-tahun lalu juga sudah menerapkan detox media sosial. Tapi selalu terjadi relaps. Kembali lagi bermain media sosial setelah fase detox selesai.

Bahkan, dosis bermainnya ketika relaps malah meningkat. Well untuk mengatasi kecanduan saja sudah menghabiskan energi sendiri.

Lebih kurang dua pekan lalu, dorongan untuk membuka media sosial melalui browser menguat. Tak ada aplikasi di handphone, otak mencari jalan untuk meredakan efek candunya.

Nekat. Saya buka Facebook dan Instagram. Kemudian masuk ke menu settings untuk deaktivasi akun Facebook dan Instagram.

Tersisa Twitter. Twitter saya tetap aktif akunnya. Soalnya akun Twitter jika di-deaktivasi lebih dari 30 hari, maka akun akan dihapus secara permanen. Semacam masih ada kaitan hati dengan Twitter.

Dan sekarang, setelah proses menghapus aplikasi dan deaktivasi akun, dorongan untuk mengativasi akun media sosial kembali menguat.

Untunglah selama proses detox ini, saya mendapat alternatif kegiatan lain. kegiatan yang jauuuh lebih bermanfaat dan menyenangkan daripada sekedar scrolling layar handphone. Scrolling Feeds Instagram, Facebook dan Twitter.

Selama detox media sosial kali ini, saya menjadi rutin mendengarkan pengajian dari Gus Baha'. Kegiatan mendengarkan rekaman pengajian dari Gus Baha' layaknya oase yang selama ini saya cari. Oase dalam beragama dengan hati yang gembira.

Selama mendengarkan rekaman pengajian Gus Baha' saya malah mendapat banyak inspirasi. Salah satunya inspirasi untuk tak muncul ke permukaan. Khususnya dalam mencari ketenaran di media sosial.

Insight lainnya. Tak mengetahui kabar orang lain di media sosial ternyata jauh membuat hati dan hidup lebih tenang. Apalagi mendekati masa-masa pemilu, haaadddeeeeehhhh.

Pikiran juga menjadi lebih jenak. Ketika masih aktif bermedia sosial, pikiran ini rasanya selalu terdorong untuk membuat status update, instagram story, cuitan di twitter dari waktu ke waktu. Rasanya apa yang dipikirkan, dilihat, didengar, dialami harus tumpah di media sosial. Sekarang tak lagi seperti itu.

Bahkan, hasrat untuk menulis blog pun terjun bebas. Ini pun rasanya enggan untuk menulis di blog ini. Tapi yaa sudah kadung tertulis. Lagian, rasanya seru juga kok memindahkan pikiran yang akan ditulis di status update di blog ini.

Teruuuus, kalo enggak bermain media sosial artinya memutus silaturahmi dong? hiyaa hiyaa hiyaaa konyol sekali jika sampai ada pemikiran “tidak menggunakan media sosial sama dengan memutus silaturahmi”.

Faktanya adalah iri, dengki, hasud dan percek-cokan yang berujung pada pemutusan silaturahmi sering kali bermula dari status update di media sosial kok. Apalagi di Twitter.

Karena salah satu slogan anak Twitter adalah “Kami suka keributan”.

Salam, DiPtra