Early Bad

Bertahun-tahun saya terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Kini, lebih kurang sejak 1 Januari 2017, saya memaksakan diri untuk tidur lebih awal. Jam 10 malam saya usahakan sudah rebah di pembaringan memejamkan mata untuk menyegerakan tidur.

Iya memang merubah kebiasaan tidur itu bukan perkara mudah bagi saya. Boleh dibilang saya mengalami insomnia. Efek buruknya selalu lesu dan kurang bersemangat di pagi hari.

Apalagi saya menganut mindset bahwa lelaki itu tidurnya harus malam dan kuat begadang. Hadeuuh, mindset kampret dari mana lagi ini yang meracuni saya.

Lebih parahnya, ketika sedang penasaran terhadap suatu hal, misal ngoprek smartphone, menamatkan novel atau marathon nonton film serial kecuali drama korea :D, saya bisa begadang sampai pagi. Hmm kebiasaan buruk yang harus segara dieliminasi.

Untuk menyelamatkan diri dari derita insomnia berkepanjangan ini, maka saya menerapkan beberapa langkah untuk mengatasinya. Ada 5 langkah sederhana yang saya lakukan untuk mengatasi insomnia yang saya alami.

1. Mematikan Lampu

Ayah saya suatu hari memberi tahu jika ketika tidur sebaiknya dalam kondisi lampu dimatikan. Ketika saya mencari informasi lebih lanjut, ternyata memang benar, tidur dalam kondisi lampu kamar dimatikan akan membuat sekresi hormon pertumbuhan lebih baik.1 Dari percobaan mematikan lampu ketika tidur yang saya lakukan selama hampir dua pekan ini, badan menjadi lebih segar ketika bangun pagi.

2. Tidak Minum Kopi

Semenjak melakukan Sugar Challenge, praktis saya tidak minum kopi hampir dua pekan. Dari info yang saya dapat, kafein dalam kopi akan menghambat “sinyal lelah” yang dikirimkan otak ke tubuh. Tak heran ketika masih rutin minum kopi setiap hari, apalagi ketika malam menjelang, hingga pukul 12 malam rasa kantuk belum juga menghampiri. Puasa kafein.

3. Tidak Terlalu Kenyang

Makan malam apalagi jika terlalu banyak sering kali membuat perut saya terasa begah. Maka untuk menggantikan makan malam, saya menggantinya dengan makan buah atau makanan ringan. Terkadang juga makan roti satu hingga dua lembar. Dulu saya juga sering melakukan makan malam satu atau dua jam sebelum tidur, ternyata makan terlalu larut malam kurang baik bagi kesehatan dan bisa berdampak mengurangi kualitas tidur.2

4. Menjauhkan Gadget

Bermain game atau membaca melalui gadget sebelum tidur kerap kali memicu rasa ingin tahu yang berlebih. Nah hal inilah yang kerap saya alami sebelum ini. Tidur dengan kondisi smartphone ada di sebelah bantal. Saat ini ketika tidur, smartphone saya letakkan di meja dan tak menyentuhnya ketika menjelang tidur. Cahaya radiasi dari smarphone juga bisa membuat susah tidur.3

Apalagi kalau sudah membaca web Malang Citizen atau mengikuti rentetan chat di grup Whatsapp-nya. Bisa ga tidur-tidur nanti hihihi.

5. Sholat Isya’ di Awal Waktu

Nah, salah satu hal yang kerap membuat begadang adalah sholat Isya’ sebelum tidur, alias menunda shalat Isya’. Iya ini memang tidak baik dari segi adab beragama. Ketika melaksanakan shalat Isya’ di awal waktu ada perasaan tenang sepanjang malam. Serasa enteng begitulah. Jadi ketika tidur atau ketiduran dalam kondisi “aman” sudah menunaikan shalat Isya’.

Hal yang ingin saya lakukan beberapa hari kedepan adalah melakukan adab atau sunnah sebelum tidur.4


Oh iya judul tulisan ini sengaja saya namai Early Bad. Bagi penganut paham grammar nazi pasti sudah gemeeess dengan kesalahan vocab yang saya gunakan. Tujuan kedua adalah menguji ketelitian pembaca. Tujuan ketiga saya memang lagi iseng saja karena bahagia, insomnia sudah berlalu, alhamdulillah. Sekarang saya sudah early bad bed.

salam..
dia yang sudah sembuh dari insomnia

Cara Melipat dan Menata Baju yang Efektif

Setiap saya mengambil pakaian dari lemari, selalu saja pakaian yang menumpuk di atasnya menjadi berantakan. Kondisi berantakan menjadi semakin parah ketika pakaian yang saya ambil adalah pakaian yang berada di tumpukan paling bawah. auuuchh, kalau kondisi lemari sudah berubah menjadi berantakan tingkat kecamatan, rasanya males banget untuk merapikan kembali.

Bisanya kondisi berantakan itu saya biarkan hingga beberapa hari. Baru di akhir pekan saya rapikan kembali dengan helaan nafas yang begitu berat. Dari sini saya memahami pekerjaan beberes, baik itu rumah ataupun kamar, adalah satu hal yang menguras energi dan waktu. Namun, ketika selesai beberes ada perasaan lega dan nyaman mendapati kondisi ruangan yang rapi.

Maka dari itu, saya harus mencari metode untuk mengatasi kejadian lemari berantakan setelah mengambil pakaian seperti yang saya paparkan di atas. Sebuah metode yang efektif dan efisien untuk menata pakaian di lemari.

Alhamdulillah, dari hasil berselancar di internet, saya menemui metode Konmari yang digagas oleh Marie Kondo. Seorang wanita Jepang yang mendedikasikan hidupnya sebagai konsultan beberes rumah, hihih ada yaa ternyata konsultan untuk genre seperti ini.

Sebenarnya metode Konmari sudah mendunia, saya ajah yang kuper dan baru tau metode ini belakangan. Bahkan untuk menyewa jasa Marie Kondo untuk membantu menuntaskan kondisi rumah yang berantakan, para client harus rela berada di daftar tunggu selama 3 bulan. Hmmm mantap jaya sekali tanteMarie Kondo ini yaa..

Nah, untuk kasus saya kali ini saya membutuhkan cara menata pakaian yang efektif. Ternyata untuk bisa menata pakaian secara efektif, haruslah didahului dengan cara melipat yang tepat. Berikut ini saya sajikan video cara melipat baju yang efektif menggunakan metode dasar Konmari dari web Marie Kondo langsung…

Metode sederhana dari Marie Kondo ini tak pernah terpikirkan sebelumnya. Sedari kecil sudah diajari cara melipat baju secara konvensional. Setelah metode melipat secara efektif ala Konmari sudah saya praktekkan, selanjutnya adalah mempraktekkan cara menata pakaian yang efektif. Sebuah metode yang tidak membuat berantakan ketika hendak mengambil pakaian.

Saran yang diberikan oleh Marie Kondo dalam bukunya The Life-Changing Magic of Tidying Up adalah menata dengan model vertikal, bukan menumpuk. Menurut Marie Kondo, menata barang dengan model vertikal akan menghemat tempat dan menjadi indikator ketika kita mulai menimbun barang.

Dengan menata secara menumpuk, sering kali pakaian yang ada pada bagian bawah terlupakan. Dampak buruknya adalah seperti paparan saya di awal artikel, ketika mengambil pakaian di lapisan bawah, maka pakaian bagian atasnya sering kali ikut terburai.

Secara sederhana menata model vertikal dapat diilustrasikan seperti penataan buku pada rak buku. Buku ditaruh secara berdiri dan berjajar. Pada metode Konmari, pakaian yang sudah dilipat sedemikian rupa ternyata bisa diposisikan vertikal.

Masalah yang saya hadapi adalah lemari yang ada di kamar kosan saya tidak memiliki drawer. Jika pakaian ditaruh dengan model vertikal dalam lemari, nantinya saya akan mengalami kesulitan ketika akan mengambil pakain di bagian dalam, bagian terjauh dari pintu lemari.

Untunglah kardus bekas blender yang saya beli tahun lalu belum saya buang. Dengan melakukan sedikit modifikasi, saya menyulap kardus bekas blender menjadi drawer untuk pakaian di dalam lemari. Lebih kurang penampakannya seperti gambar di bawah ini..

drawer ala-ala
Menata Baju Model Vertikal dalam Drawer ala-ala

Yak lebih kurang hanya sejumlah itu kemeja dan t-shirt yang saya miliki dan gunakan selama di Jakarta. Untuk celana, kebetulan belum saya buatkan drawer-nya, lagian jumlahnya hanya 5 lembar.

Sebagai penutup, pada halaman-halaman berikut ini ada live preview metode melipat Konmari yang didemonstrasikan oleh mba Lavendaire, seorang youtuber. Di kanal Youtube-nya mba Lavendaire mendokumentasikan kesehariannya menjalani hidup minimalis.

Sugar Celeng

Semenjak melakukan sweetless challenge di tahun 2015, perilaku saya dalam konsumsi minuman berpemanis berubah. Namun seiring berakhirnya periode challenge, di tahun 2016 perlahan-lahan mulai lagi mengonsumsi minuman berpemanis walau tak seintens sebelum malakukan challenge.

Di tahun 2016, mulai ketergantungan meminum minimal segelas kopi setiap hari. Walau takaran gula hanya sesendok teh tetap saja namanya ketergantungan itu tak baik. Apalagi ketergantungan terhadap butiran-butiran berasa manis itu, tsaaah..

Untuk me-reset kembali hubungan percintaan terhadap segelas kopi, maka di bulan Januari ini saya ingin mengulang kembali sweetless challenge terhadap cairan yang saya konsumsi sehari-hari.

Mari kita beri nama challenge atau tantangan kali ini dengan nama Sugar Celeng. Tak ada yang berbeda dengan sweetless challenge di tahun 2015 yang lalu. Hanya merubah nama tantangannya saja biar keliatan lebih norak. Bukankah yang lebih norak itu lebih mudah diingat..?

Periode sugar celeng selama 30 hari di bulan Januari 2017. Dalam kurun waktu 30 hari hanya mengonsumsi air putih. Gak ada kopi, teh manis, kopiko 78, teh pucuk, susu hazelnut, macchiato, latte, susu kuda lumping, kopi gayo, kopi luwak, setarbak, milo, ovaltine dan sebaginya yang mengandung gula.

Tulisan kali ini tidak terlalu pajang. Pendek saja, yang penting pesan utamanya tersampaikan. Jikalau tertarik mengikuti sugar celeng bulan Januari tahun ini silahkan saja, dengan senang hati saya temani. Jika tidak, bisa dicoba di bulan-bulan berikutnya.

Ngomong-ngomong sudah 3 hari ini sugar celeng saya lakukan. Yeeay, 27 hari lagi tersisa, hmmm..

salam..
dia yang sedang melakukan sugar celeng