Friday, 28 July 2017

Media Sosial dan Mati Kendat

Istilah mati kendat kali pertama saya dengar ketika pindahan rumah puluhan tahun lalu, di Malang. Saya lupa siapa orang yang menginformasikan perihal mati kendat ini. Di depan rumah baru yang saya tempati itu terdapat sebuah gang kecil. Desas-desus tetangga yang saya dapatkan bahwa gang kecil itu angker karena pernah ada yang mati kendat di sekitaran situ.


Kematian Chester Bennington dengan cara bunuh diri pada 20 July lalu kembali mengingatkan saya akan ingatan horor mati kendat di gang kecil itu. Chester mati kendat di kediamannya, Los Angles.

Padahal belum mengering berita tentang kematian gantung diri Chris Cornell bulan Mei lalu. Gara-gara berita itu, saya jadi tahu siapa itu Chris Cornell. Ternyata dia adalah pentolan grup rock band terkenal, Audio Slave. meeehh selama ini saya cuman tau teriakan khasnya di lagu Like a Stone tapi enggak tahu nama yang nyanyi.

Dari berbagai informasi yang saya dapatkan, Chester dan Chris mati bunuh diri dikarenakan oleh depresi. Dr. Christine Moutier yang bekerja di American Foundation for Suicide Prevention menyatakan bahwa 90 persen orang yang melakukan percobaan bunuh diri memiliki gangguan kejiwaan.

Masih menurut Dr. Christine Moutier, musisi yang meninggal bunuh diri karena depresi memiliki kesamaan karakter, yaitu sama-sama perfeksionis. Saya baru tahu jika perfeksionis bisa menuntun pada kondisi depresi secara kejiawaan.

Sebagai orang dengan tipikal thinking introvert saya juga memiliki kecenderungan untuk perfeksionis. Karena sudah secara bawaan lahir saya cukup rese’ terhadap detail. Tapi entahlah, rasa-rasanya saya pernah mengalami gejala depresi.


Belum lama ini ada berita viral tentang orang yang melakukan live show bunuh diri melalui Facebook. Untunglah saya tak sempat melihat tayangan itu dan pihak Facebook bergerak cepat menghapus rekamannya.

Ada Amanda Todd yang meninggal bunuh diri karena depresi akibat bullying di media sosial. Yaa, belakangan ini perihal bullying ini semakin menguat terjadi di media sosial.

Media sosial yang ditujukan sebagai wadah untuk bersosialisasi malah menjadi wadah untuk saling mem-bully. Media sosial malah menjadi tempat yang kurang nyaman untuk ditinggali.

Media sosial jika tidak disikapi dengan bijaksana malah menimbulkan keresahan dan kecemasan. Di mana keresahan dan kecemasan ini nantinya akan menuntun pada depresi.

Manusia memiliki tendensi untuk membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Sehingga sering kali tidak merasa puas dengan kehidupan yang ada di genggamannya sekarang. Maka, media sosial yang cenderung meng-ekspose kehidupan pribadi menyuburkan kecenderungan suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Merasa kehidupan yang sedang dijalani tidak sempurna.

Rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijau, apalagi jika si tetangga kerap memamerkan rumput hijaunya di media sosial. Pemaparan kehidupan pribadi yang terus-menerus ini tentu akan memicu kecemburuan sosial. Karena di media sosial kita cenderung hanya menampilakan hal yang enak-enak saja.

Dari tulisan di Psychology Today menerangkan bahwa kecemburan terhadap teman atau orang yang ada di media sosial akan menuntun pada depresi. Melalui beberpa studi yang dilakukan bahwa orang-orang yang menutup atau berhenti menggunakan Facebook merasa bahwa mereka telah membuang waktunya. Mereka merasa kurang produktif akibat media sosial.

Saya pun merasakan hal yang sama ketika memutuskan untuk berhenti sejenak menggunakan media sosial. Ada rasa lega ketika mendapati diri terbebas dari scrolling tanpa henti newsfeed atau timeline media sosial. Lega kerena menyadari durasi waktu yang terbuang karena terlalu asik berinteraksi di media sosial.

Hal lainnya, media sosial yang saya anggap sebagai tempat untuk bersosialisasi malah sesekali menghadirkan kesepian yang kurang disadari. Entahlah apakah orang lain juga merasakan hal yang sama.

Memang media sosial sangat berguna untuk tetap menjaga silaturrahim dengan keluarga dan teman-teman saya. Namun pada beberapa kesempatan ketika terlalu asik bermain media sosial tiba-tiba ada rasa kesepian menghampiri. Bagaimana pun aktifitas fisik tidak bisa digantikan oleh aktifitas maya.

Menurut terawangan saya, rasa kesepian memiliki potensi yang kuat untuk membuat depresi. Karena perasaan depresi yang berujung pada tindakan bunuh diri, sering kali akibat tidak adanya pihak yang bisa dan mau mendengar kepedihan jiwa orang yang depresi.

Dalam tulisannya, mas Endri menyebutkan bahwa kasus percobaan bunuh diri pada lelaki memang lebih sedikit, namun persentase kematian akibat bunuh diri pada lelaki cenderung lebih besar. Lelaki lebih cenderung diam ketika sedang ada masalah.

Maka bila kamu seorang lelaki, maka tak perlu malu untuk bercerita atau bahkan menangis jika sedang ada masalah. Atau jika mulai merasakan kesepian, keresahan dan kegalauan akibat media sosial maka berceritalah. Minimal menulis di buku harian untuk menumpahkannya. Atau bisa juga menulis di blog, karena dari pengalaman saya menulis memiliki manfaat terapi mental.

Jika media sosial terlalu meracuni keseharianmu dan mulai terpikirkan untuk mati kendat, maka lebih baik kamu kendatin saja akun media sosialmu untuk sementara.

Semoga bermanfaat.

salam,
DiPtra

originally published on diptra.id