Secangkir Kopi Pahit

Awal tahun 2017, sudah mencoba tantangan tidak minum minuman berpemanis.1 Efek sampingnya adalah berat badan turun 1,5 kilogram. Selain itu sensitifitas lidah terhadap gula meningkat. Saat ini minuman macam teh botol Sosro terasa terlalu manis.

Beberapa hari lalu, teman saya ngajakin ngopi di kafe baru di sekitar kosan. Selama ini terbiasa minum kopi dengan gula, kebiasaan yang terbawa dari rumah. Nah ketika ngopi di kafe baru itu saya nekat nyobain kopi pahit tanpa gula.

Kopi yang diseduh berasal dari bijih kopi yang langsung digiling di tempat. Pantas saja waktu tunggu penyajiannya cukup lama. Selama ini seringnya minum kopi dari kopi sachet-an yang gosipnya sudah dicapur dengan jagung.

Dua cangkir kopi sudah tersaji di meja kafe. Teman saya karena sudah terbiasa minum kopi setiap hari, selow saja ketika meneguk kopi pahit. Sedangkan saya harus beradaptasi dulu dengan rasa pahit dari kopi tanpa gula.

Awalnya memang enggak enak, pahit. Tapi lama-lama aroma khas kopi terasa nikmat di lidah. Ada sensasi rasa ringan di lidah. Padahal selama ini ketika minum kopi, mulut akan terasa masam.

Dari peristiwa minum kopi pahit kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa selama ini yang membuat mulut terasa masam adalah gula yang dicampur dalam secangkir kopi, bukan karena kopinya. Hal yang sama juga saya rasakan ketika minum secangir teh manis

Kini saya sudah bisa sedikit memahami alasan para pecinta kopi untuk meminum kopi tanpa gula. Mereka selalu beralasan hanya orang-orang yang pernah merasai pahitnya hidup yang bisa menikmati pahitnya secangkir kopi.

Oookkaaayyy demi kesehatan mari kita mulai mereduksi konsumsi gula sehari-hari.

Salam..
DiPtra

Ilusi Terkait Makan

Dengan mengamati pertumbuhan Raffii saya mulai menyadari bahwa makan adalah sebuah kebiasaan. Hal ini saya sadari ketika Raffii mulai makan bubur sebagai asupan gizi selain ASI.

Kali pertama makan bubur, ada penyesuaian yang dialami Raffii. Belum terbiasa mengunyah bubur. Lidahnya masih terbiasa oleh rasa dan tekstur ASI yang berupa cairan. Kini dia sudah terbiasa makan nasi dan lauk pauk seperti halnya orang dewasa. 2,5 tahun sudah usianya, mulai doyan makan yang manis-manis semacam permen.

Lalu saya perhatikan lagi, Raffii mulai dibiasakan makan tiga kali sehari di rumah. Sarapan, makan siang lalu makan malam. Padahal ketika hanya minum ASI, dia bakal nangis kalo merasa haus atau lapar. Momen nangisnya enggak peduli pagi, siang atau malam. JIka merasa lapar, dia langsung ajah teriak, menangis dengan kencang.

Ketika sudah merasa kenyang oleh ASI, Raffii yaa berhenti sendiri. Hmm saya kepikiran kok bayi ini nyunnah banget ya, mengikuti sunnah Nabi Muhammad. Makan hanya ketika lapar, berhenti sebelum kenyang. Nah poin berhenti minum ASI sebelum kenyang ini saya belom menanyakan langsung kepada Raffii. Tapi percuma juga sih kalo ditanyain, dia pasti lupa.

Dari pengamatan terhadap perkembangan pola makan Raffii, saya mulai mengelaborasi dengan pengamatan pola makan ketika puasa dan pola makan sehari-hari yang tiga kali sehari. Saya mulai mafhum bahwa interkoneksi otak dan perut itu terbentuk karena kebiasaan. Kebiasaan yang terbentuk sedari kecil.

Karena rutin makan tiga kali sehari, maka akan menjadi heran ketika mendapati orang-orang yang kuat makan satu kali sehari dan sehat-sehat saja. Kisah ini pernah saya dengar dari seorang teman tentang orang yang hanya makan satu kali sehari. Menurut teman saya pokok persoalannya ada pada mindset.

Saya pernah melanggar kaidah keumuman tentang makan 3 kali sehari, kaidah yang entah dari mana asalnya. Alhamdulillah tidak ada keluhan sakit maag hingga saat ini.

Semenjak itu saya sangat yakin bahwa sinyal lapar yang kerap dikirimkan perut (lambung) ke otak adalah sebentuk ilusi. Metode puasa, seperti puasa pada bulan Ramadhan, adalah sebuah metode untuk mengenali lapar karena ingin yang merupakan sebuah ilusi dan lapar yang merupakan kebutuhan tubuh.

salam..
DiPtra

Ayo Makan Buah

Sudah 3 pekan rupanya saya tidak sempat mengisi blog ini. Lebih tepatnya bukan karena tidak sempat atau tidak ada waktu, tapi lebih karena urutan prioritas menulis di blog ini tiba-tiba terjun bebas, tergusur dari prioritas utama.

Maka dari itu saya harus membeberkan alibi atas merosotnya prioritas ngeblog. Alasan pertama, badan saya ambruk setelah menjalani aktifitas beruntun sehingga mengurangi jatah waktu istrahat tanggal 20 hingga 21 Januari 2017 lalu. Sampai-sampai saya menurunkan tulisan Time to Rest beberapa waktu lalu, saya butuh istirahat. Lebih kurang saya sakit selama sepekan.

Badan meriang dan sakit mata melanda. Mata pedih sekali rasanya ketika harus menatap monitor laptop cukup lama. Setelah konsultasi ke dokter di klinik kantor, ternyata bukan iritasi karena kurang tidur yang saya derita, namun sakit mata kerena serangan virus atau bakteri. Alhamdulillah dengan obat tetes mata yang diresepkan dokter, dalam 3 hari kondisi mata yang memerah dan berair berangsur membaik.

Ketika sakit dengan indikasi badan meriang, indera pengecap saya terasa pahit jika memakan suatu makanan. Lauk teriyaki daging made in kantin kantor yang biasanya terasa nikmat jadi terasa pahit. Bahkan, makanan kelas restoran pun terasa pahit ketika saya menghadiri acara makan malam perpisahan bos besar di bisnis unit kerja saya.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah lidah terasa pahit ketika sakit adalah sebuah sinyal dari tubuh untuk mengurangi konsumsi makanan berat..? Makanan berat yang saya maksud adalah makanan yang sudah mengalami rantai pengolahan panjang. Makanan berbasis karbohidrat, protein dan lemak.

Saya kembali teringat akan filosofi food combining yang pernah saya pelajari dan praktikkan beberapa waktu yang lalu. Filosofi tentang sarapan buah yang menyesuaikan dengan sistem sirkadian tubuh.

Ketika pagi hari tubuh membutuhkan energi yang cukup untuk membuang sisa-sisa pencernaan makanan di hari sebelumnya. Maka buah-buahan dipilih sebagai asupan energi siap pakai di pagi hari, daripada memakan makanan berat dimana tubuh membutuhkan energi lagi untuk mengolahnya.1

Dengan kata lain, memakan buah-buahan di pagi hari meringankan kerja sistem pencernaan tubuh.2

Nah, sejalan dengan filosofi sarapan buah food combining, maka saya menganalogikan ketika sakit, tubuh membutuhkan pasokan energi yang siap pakai. Nah, konsumsi buah menjadi solusi pasokan energi siap pakai ketika sakit. Ketika sakit, cadangan energi tubuh dialokasikan untuk melawan penyakit. Maka sangat masuk akal ketika sakit, tubuh membutuhkan istirahat yang cukup untuk menghemat energi.

Tak heran, terasa segar sekali dan tak terasa pahit ketika memakan buah-buahan waktu sakit 3 pekan lalu. Bahkan saya memperbanyak konsumsi buah-buahan saat itu. Mungkin jika tak mendapati buah, maka bisa mengkonsumsi madu sebagai pengganti supply energi.

Well atas kejadian lidah pahit ketika sakit 3 pekan lalu itulah, saya membuat kesimpulan bahwa ketika sakit sebaiknya memperbanyak makan buah. Kurangi konsumsi makanan yang sudah mengalami rantai proses pengolahan yang lumayan panjang. Karena memakan makanan berat akan memberatkan tubuh yang sedang sakit.

Lalu alibi selanjutnya mengapa saya tak kunjung menulis di blog ini selama 3 pekan adalah adanya urusan pekerjaan di site Surabaya. Pressure pekerjaan di site lumayan tinggi ternyata. Ketika balik ke penginapan cadangan energi untuk ngeblog sudah habis, bahkan untuk sekedar mandi lelah bener rasanya. Biasanya langsung tepar begitu sampai di pembaringan. Lebih kurang 10 hari saya merasai kerja di site.

sarapan buah
Sarapan buah babak kedua ketika di penginapan selama di site

Selepas menyelesaikan pekerjaan di site saya mengambil cuti dan pulang ke Malang. Muas-muasin untuk main bersama Raffii yang sedang lucu-lucunya. Praktis prioritas kegiatan ngeblog tergeser jauuuuuuh.

😁 #nocaption

A post shared by DiPtra (@diptra) on

Naah itu dia penampakan bocah 2,5 tahun yang sedang tercadel-cadel belajar bicara. Sudah mulai banyak gaya dan sadar kamera.

Selanjutnya saya berencana untuk memulai lagi food combining di waktu mendatang sebagai pola makan sehari-hari.

Salam…
dia yang sedang kangen ngeblog