Don’t Give Up

“…if you really look closely, most overnight successes took a long time.” — Steve Jobs

Dalam penelitiannya, Dr. Angela Duckworth menemukan bahwa, keteguhan dan passion atas tujuan jangka panjang adalah kunci terpenting untuk meraih keberhasilan. 1

Menjadi masuk akal, orang yang tidak gampang menyerah sering kali mendapatkan tujuan yang diinginkan.

Namun sayangnya, kebanyakan dari kita begitu gampang menyerah ketika menghadapi tantangan yang begitu sulit di depan mata.

Kira-kira, kesuksesan macam apa yang bakal kita peroleh jika kita terlampau mudah menyerah..? 

Sibuk yang Baik

Atas pernyataan selengekan di sebuah grup, salah seorang teman saya memberikan nasihat yang membuat saya terdiam. Awalnya sih sempat beper juga karena mendapat reminder di area publik itu tidak menyenangkan. Tapi yaa apa mau dikata, sudah terlanjur terjadi.

Maka jangan heran jika sesorang dinasihati di tempat umum sering kali tidak terima dan melakukan pembelaan-pembelaan, apalagi jika penyampaian nasihatnya frontal. Hal ini juga yang kerap saya temui di media sosial. Perdebatan panjang di media sosial atas suatu hal karena tidak terima atas sebuah kritik atau saran.

Jika tidak disibukkan dengan kebaikan, maka dirimu akan disibukkan dengan keburukan.

Lebih kurang seperti itulah nasihat yang disampaikan oleh teman saya. Ternyata nasihat itulah yang kembali menyuntikkan semangat untuk kembali mengisi konten di blog ini.

Pada khutbah Jum’at yang lalu di masjid tempat saya bekerja, Khatib menutup khutbah dengan menyampaikan tiga nasihat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. Ketiga nasihat itu adalah sebagai berikut:

  1. Dari sekian banyak nikmat dunia, cukuplah islam sebagai nikmat bagimu.
  2. Dari sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagimu.
  3. Dari sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.

Aktifitas menulis di blog, bagi saya adalah suatu kesibukan yang baik. Menulis menjadi sebentuk proses penuangan pikiran guna mengukur sudah sampai sejauh mana pemahaman yang dikuasai. Karena, jika tidak menyibukkan diri dengan menulis blog, maka waktu luang saya lebih banyak saya habiskan untuk mendengkur. Plaaaaak

Salam..
DiPtra

Demi Al-Baqarah

Di era millenial ini, siapa sih yang tidak memiliki akun Facebook atau media sosial lainnya..? Apalagi pada generasi Y dan Z yang lahir pada rentang tahun 1980-2000, kebanyakan pasti memiliki minimal satu akun media sosial.

Akan tetapi saya mendapati kenyataan bahwa salah seorang teman baik saya tidak memilik akun mendia sosial. Dari jaman Friendster memuncaki kelasemen permediasosialan, hingga media sosial didominasi oleh Facebook, tidak pernah saya temui jejak teman baik saya ini di ranah media sosial.

Saya penasaraan apa alasan yang melatarbelakangi keputusan teman baik saya ini tidak memiliki akun media sosial. Hingga suatu ketika, teman saya membeberkan alasannya tidak memiliki akun media sosial. Ketika itu, dia mengutarakan alasannya tidak memiliki akun media sosial adalah untuk menjaga hafalan surat Al-Baqarah. Sebuah jawaban singkat yang mebutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Saat itu saya tidak mengetahui apa kaitan tidak memiliki akun media sosial dengan menjaga hafalan surat Al-Baqarah. Ternyata ketika bermain media sosial, potensi godaan atas pandangan mata begitu intens. Di media sosial bertebaran foto-foto wanita cantik dengan alis simetris yang begitu mempesona.

Teman saya ini seorang lelaki tulen dengan seorang istri dan sudah memiliki anak. Adalah sebuah tindakan bijaksana ketika dia memutuskan tidak memiliki akun media sosial guna menjaga pandangan mata. Tanpa bermain media sosial pun, godaan pandang mata ini sudah begitu menjamur di sekeliling kita.

Seperti kisah Imam Syafi’i yang kehilangan sebagian hafalannya ketika tanpa sengaja melihat aurat wanita. Maka menjadi masuk akal ketika teman saya tidak memiliki akun media sosial dengan alasan menjaga pandangan mata.

Penjagaan atas pandangan mata ini sebagai sebentuk penjagaan atas hati. Pandangan mata yang tidak terjaga berpotensi mengeruhkan kejernihan hati. Keruhnya hati akan membuat hafalan Al-Qur’an mudah luntur.

Bila ditelisik lebih jauh, sesungguhnya teman baik saya ini tidak menyentuh dunia media sosial guna menghindari kesia-siaan. Kesia-siaan atas kemungkinan hilangnya hafalan surat Al-Baqarah karena pandangan yang tak terjaga.

Mungkin sebagian kita menganggap apa yang dilakukan oleh teman baik saya ini adalah sesuatu yang ekstrim. Kemudian mengajukan pernyataan-pernyataan bahwa media sosial itu banyak manfaatnya kok. Media sosial itu menambah pergaulan kok. Atau mungkin pernyataan tendensius bahwa dianya saja yang tidak bisa jaga pandangan.

Untuk pernyataan terakhir, maka saya akan menggunakan pernyataan terkenal dari Bang Napi, bahwa kejahatan bukan saja bisa terjadai karena ada niat, tapi juga bisa terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah…! Wapadalah..!!

Salam..
DiPtra