Demi Al-Baqarah

Di era millenial ini, siapa sih yang tidak memiliki akun Facebook atau media sosial lainnya..? Apalagi pada generasi Y dan Z yang lahir pada rentang tahun 1980-2000, kebanyakan pasti memiliki minimal satu akun media sosial.

Akan tetapi saya mendapati kenyataan bahwa salah seorang teman baik saya tidak memilik akun mendia sosial. Dari jaman Friendster memuncaki kelasemen permediasosialan, hingga media sosial didominasi oleh Facebook, tidak pernah saya temui jejak teman baik saya ini di ranah media sosial.

Saya penasaraan apa alasan yang melatarbelakangi keputusan teman baik saya ini tidak memiliki akun media sosial. Hingga suatu ketika, teman saya membeberkan alasannya tidak memiliki akun media sosial. Ketika itu, dia mengutarakan alasannya tidak memiliki akun media sosial adalah untuk menjaga hafalan surat Al-Baqarah. Sebuah jawaban singkat yang mebutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Saat itu saya tidak mengetahui apa kaitan tidak memiliki akun media sosial dengan menjaga hafalan surat Al-Baqarah. Ternyata ketika bermain media sosial, potensi godaan atas pandangan mata begitu intens. Di media sosial bertebaran foto-foto wanita cantik dengan alis simetris yang begitu mempesona.

Teman saya ini seorang lelaki tulen dengan seorang istri dan sudah memiliki anak. Adalah sebuah tindakan bijaksana ketika dia memutuskan tidak memiliki akun media sosial guna menjaga pandangan mata. Tanpa bermain media sosial pun, godaan pandang mata ini sudah begitu menjamur di sekeliling kita.

Seperti kisah Imam Syafi’i yang kehilangan sebagian hafalannya ketika tanpa sengaja melihat aurat wanita. Maka menjadi masuk akal ketika teman saya tidak memiliki akun media sosial dengan alasan menjaga pandangan mata.

Penjagaan atas pandangan mata ini sebagai sebentuk penjagaan atas hati. Pandangan mata yang tidak terjaga berpotensi mengeruhkan kejernihan hati. Keruhnya hati akan membuat hafalan Al-Qur’an mudah luntur.

Bila ditelisik lebih jauh, sesungguhnya teman baik saya ini tidak menyentuh dunia media sosial guna menghindari kesia-siaan. Kesia-siaan atas kemungkinan hilangnya hafalan surat Al-Baqarah karena pandangan yang tak terjaga.

Mungkin sebagian kita menganggap apa yang dilakukan oleh teman baik saya ini adalah sesuatu yang ekstrim. Kemudian mengajukan pernyataan-pernyataan bahwa media sosial itu banyak manfaatnya kok. Media sosial itu menambah pergaulan kok. Atau mungkin pernyataan tendensius bahwa dianya saja yang tidak bisa jaga pandangan.

Untuk pernyataan terakhir, maka saya akan menggunakan pernyataan terkenal dari Bang Napi, bahwa kejahatan bukan saja bisa terjadai karena ada niat, tapi juga bisa terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah…! Wapadalah..!!

Salam..
DiPtra

Mengurangi Interaksi Media Sosial

Lebih kurang sebulan sudah interaksi saya dengan media sosial berkurang secara drastis. Bukannya dikejar-kejar penagih hutang ataupun penggemar, tapi tindakan saya ini dipengaruhi oleh pemikiran Cal Newport1 tentang media sosial.

Dalam banyak kesempatan, baik itu dalam bentuk tulisan maupun kuliahnya, Cal Newport memberikan saran untuk berhenti menggunakan Media Sosial.

Cal Newport adalah seorang penulis buku dan scientist di MIT. Hingga saat ini dia mengaku belum pernah memiliki akun media sosial.

Seperti tayangan Youtube Cal Newport pada acara TED di akhir tulisan ini, dia memaparkan berbagai argumen untuk berhenti menggunakana media sosial.

Akan tetapi, saya tidak menelan mentah-mentah saran dari Cal Newport. Tidak serta merta saya menghapus semua akun media sosial yang saya miliki. Saya hanya mengurangi interaksi dengan media sosial.

Menghapus aplikasi media sosial di handphone adalah langkah paling sederhana yang dapat saya lakukan untuk mengurangi interaksi di media sosial.

Lalu apakah dampak yang saya rasakan selama mengurangi interaksi denga media sosial?

Lebih kurang ada tiga hal yang saya rasakan ketika mengurangi interaksi dengan media sosial.
Hal yang pertama adalah, saya merasa lebih tenang. Selama ini secara langsung ataupun tidak, kegalauan kerap dipicu oleh informasi yang saya dapatkan dari media sosial.

Kedua, serasa ada waktu tambahan untuk mengerjakan hal lain. Alokasi waktu yang sebelumnya habis untuk bermain media sosial kini dapat saya isi dengan aktivitas lain.

Kudet atau kurang update terhadap informasi adalah hal ketiga yang saya rasakan. Saya jadi telat tahu mengenai berita apa yang sedang hangat dibahas oleh masyarakat.

Tapi walaupun telat mendapatkan update informasi, saya merasa biasa saja. Tak ada lagi FOMO yaitu, kekhawatiran ketinggalan berita.

Dan lagi, informasi yang sedang menjadi trending topic sering kali dibagikan dengan senang hati oleh teman-teman. Baik dibagikan dalam obrolan biasa maupun melalui aplikasi chatting.

Sekian pengalaman saya selama sebulan mengurangi penggunaan media sosial. Apakah kamu ingin mencoba mengurangi penggunaan media sosial, atau kamu merasakan banyak waktu terbuang sia-sia karena media sosial? Bisa deh kamu coba tips yang saya lakukan dalam tulisan ini.

Alis Tak Simetris

Di sela-sela makan siang di kantin bersama Mas Karso, terselip pembahasan mengenai media sosial. Mas Karso berkelakar bahwa hidupnya menjadi lebih tenang semenjak aplikasi Facebook hilang secara tak sengaja dari handphone-nya. Terlalu banyak hate speech korban politik katanya.

Hampir sama dangan yang saya alami, namun saya secara sengaja menghapus aplikasi Facebook dari handphone. Lebih ekstrim lagi, saya meng-unfollow semua yang ada di daftar pertemanan Facebook.

Walau tidak memasang aplikasi Facebook di handphone, sesekali saya masih mengaksesnya melalui browser di laptop. Jadi, ketika membuka Facebook dari browser, enggak peduli artis terkenal, artis abal-abal, anak alay, anak robot, hijaber cantik, hijaber cabe-cabean, mastah asli, mastah aspal, mastah penghisap darah newbie, ustadz beneran, ustadz karbitan semuanya saya babat habis. Saya unfollow dengan bantuan plugin script browser Google Chrome.

Akibatnya Newsfeed Facebook jadi sepi macam kuburan ditinggal mudik lebaran. Malah iklan-iklan dari Facebook keluar membanjiri newsfeed. Walaah podho ae tibake. Maka daripada dicekoki iklan melulu oleh Facebook, saya kembali memilih akun-akun yang oke untuk di-follow dari daftar pertemanan Facebook.

Terkait dengan urusan follow mem-follow ini, saya melalukukan kesalahan pada media sosial lain yang masih ada di bawah naungan Facebook, yaitu Instagram. Entah bagaimana ceritanya, di kolom suggestion Instagram muncul wajah-wajah bening tertutup hijab di foto avatar-nya.

Hmm, sebagai lelaki normal ini adalah godaan yang maha berat. Jempol dan akal menjadi tak sejalan. Jempol mejadi lebih patuh kepada hasrat untuk mem-follow akun-akun bening itu. Sekali kumat bisa lebih dari lima juta akun Instgram bening yang saya follow.

Lamat-lamat beranda Instagram saya dipenuhi akun-akun bening berhijab. Sorot mata teduh dan pakaian warna-warni yang menarik perhatian. Riasan wajah pun tak mau ketinggalan, tampil modis penuh gaya.

Alis kanan dan alis kiri memiliki ketebalan yang sama dan bentuk yang simetris. Kesimetrisan bentuk pinsil alis itu menambah keanggunan wajah yang memang sudah cantik dari sononya. Tapi kemudian saya mulai berfikir, jika alis yang asli perlu dipermak dengan alis pinsil, besar kemungkinan alis aslinya tipis dan segaris.

Selama bermain Instagram sesekali saya temui wanita dengan bentuk alis pinsil terlalu tebal, jadinya malah mirip alis Sinchan. Ada juga bentuk pinsil alis yang tak simetris. Antara alis kanan dan kiri entah tebal sebelah atau panjang sebelah. Tapi saya lebih sering menemui bentuk pinsil alis yang tak proporsional ketika jalan-jalan di mall. Tapi belum pernah menemui bentuk pinsil alis yang menutupi sepertiga jidat, haha.

Ahh betapa tren lukis alis ini begitu menjamur sekarang. Tutorial-tutorial make up bertebaran di Youtube. Membuat para wanita berlomba mempercantik diri untuk tampil di muka publik. Padahal kecantikan alami tanpa make up menurut saya lebih menarik. Kalaupun perlu ber-make up-ria tak perlu lah berlebihan.

Kembali kepada bahasan akun-akun bening berhijab di Instagram. Nah, saya cukup menyesal mem-follow akun-akun bening berhijab di Instagram. Mereka memang cantik mempesona tapi hanya bisa dilihat. Ini kan namanya ilusi. Semacam melakukan hal yang sia-sia.

Kebanyakan akun bening berhijab yang saya follow adalah brand ambassador atau pun meng-endorse sebuah produk. Jadi semacam kesia-siaan juga produk yang mereka rekomendasikan untuk saya, karena kebanyakan produk-produk untuk wanita.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka satu persatu saya unfollow massal akun-akun bening berhijab dari daftar pertemanan Instagram. Ternyata proses unfollow lebih lama daripada proses follow, karena membutuhkan konfirmasi ulang.

Alhamdulillah akun-akun bening berhijab beralis simeteris sudah kelar saya unfollow. Tak lama saya mengunggah sebuah doa’a di Instagram. Doa yang agak sedikit konyol sebenarnya. Tapi semoga dikabulkan, haha..

Do'a yang sama dan terucap amin yang mendalam…

A post shared by DiPtra (@diptra) on

Sekian semoga menghibur..

Salam..
Dia yang sedang berlindung dari akun-akun instagram bening…