Mindfulnote

Dari buku Zen Habits: Mastering The Art of Change, Leo Babauta menyarankan untuk mengambil satu habit atau kebiasaan yang ingin dicapai. Dari beberapa contoh habit yang dia tawarkan untuk dibiasakan, saya memilih habit berlatih mindfulness. Karena berlatih mindfulness merupakan fondasi yang kuat untuk mencapai kebiasaan-kebiasaan lain yang diinginkan.

Secara sederhana, berlatih mindfulness adalah berlatih mengamati pergerakan pikiran dengan cara memfokuskan diri pada aliran nafas. Dengan kata lain, mindfulness adalah seni untuk mengelola pikiran. Ada banyak manfaat yang bisa diambil dari latihan mindfulness, salah satunya adalah bisa meredakan stres.

Untuk mengingatkan saya agar berlatih mindfulness di pagi hari, maka saya memasang wallpaper bertuliskan “Just Breath” di  handphoneWallpaper yang saya pasang di handphone  saya adalah sebagai berikut.

Just Breath Wallpaper

Pada bab 10 buku Zen Habits: Mastering The Art of Change, salah satu tugas yang harus dilakukan adalah membuat jurnal harian tentang perkembangan habit yang ingin dicapai. Lebih baik lagi jika jurnal harian yang dibuat, dituangkan kedalam media blog dan diketahui orang banyak.

Tujuan membuat jurnal secara online atau blog adalah untuk membangun akuntabilitas. Dengan membuat pernyataan dan laporan perkembangan secara online, maka mau tidak mau kita akan terpicu untuk mempertahankan kebiasaan baik yang sedang ingin kita capai.

Pada mulanya, Leo Babauta membuat blog Zen Habits dengan tujuan sebagai jurnal online tentang perkembangan habitnya. Selain itu, dia juga berbagi tentang bagaimana cara merubah kebiasaan dan menyederhanakan hidup. Selama ini, Leo juga menyarankan pembaca blognya untuk membuat blog mengenai kebiasaan yang ingin mereka capai.

Berdasarkan pemikiran itulah, saya memberanikan diri untuk membuat jurnal online tentang perkembangan kebiasaan yang ingin saya capai, yaitu berlatih mindfulness. Sebenarnya sudah 15 hari ini saya rutin berlatih mindfulness. Tentang waktu yang saya tetapkan untuk berlatih mindfulness adalah sekitar jam 6 pagi.

Oh iya mengenai bagaimana metode latihan mindfulness yang saya lakukan selama beberapa hari ini akan saya ceritakan pada jurnal esok hari. Satu hal yang pasti, hasil latihan mindfulness hari ini adalah perenungan kembali motivasi awal membuat blog ini, yaitu berbagi pengalman seputar gaya hidup minimalis.

Untuk selanjutnya, saya ingin kembali menulis secara lebih sistematis dan rutin mengenai gaya hidup minimalis. Mengingat tagline blog ini kembali mengusung tentang gaya hidup minimalis. Semoga dimudahkan jalannya menuliskan tentang hal ini.

salam..
DiPtra

Alasan-Alasan Menggunakan Mapping Domain pada WordPress.com

Sambil menanti propagasi1 name server kelar, ada baiknya saya nulis tentang alasan-alasan menggunakan mapping domain pada WordPress.com. Karena beberapa waktu yang lalu saya kepikiran untuk memindahkan konten di hosting server lama. Saya ingin menggunakan subdomain yang sudah saya gunakan di WordPress.com terhubung dengan domain yang sudah saya miliki..

Ada beberapa alasan yang membuat saya pingin menggunakan mapping domain untuk blog diptra.com. Selama ini menggunakan beberapa hosting lokal, bahkan sempat nyobain platform Ghost dengan mengorbankan tulisan-tulisan di tahun 2015-2016. Demi percobaan pindah paltform, tulisan saya amblas , lebih tepatnya sih bukan amblas yaa, tapi lebih ke males repost ke blog wordpress lagi.

Oke paling tidak ada 4 alasan yang membuat saya ingin menggunakan mapping domain untuk blog diptra.com, antara lain:

1. Plugin Jetpack

Plugin Jetpack yang berfungsi untuk menghubungkan selfhosted WordPress dengan WordPress.com sering kali ngadat. Mungkin karena koneksi antara hosting yang saya sewa dengan plugin Jetpack kurang bagus.

Selain itu, traffic dan komentator blog ini kebanyakan berasal dari wordpress.com. Mapping domani sebagai sarana mempermudah proses interaksi.

2. Hosting

Ongkos sewa hosting yang selama ini saya pakai, lebih mahal daripada ongkos mapping domain. Memang dengan menggunakan hosting sendiri, akan lebih bebas dalam pengaturannya. Namun, dengan harga yang lebih murah, fitur mapping domain dari wordpress.com saya rasa lebih baik. Sebagai contoh, dengan menggunakan mapping domain makan kita akan mendapatkan space sebesar 3GB. Sedangkan dengan harga yang lebih kurang sama di hosting lokal yang saya gunakan, saya hanya mendapat space 500MB

Selain itu kecepatan akses server dengan menggunakan fitur mapping domain lebih cepat. Terutama jika saya akses wordpress dari aplikasi. Ketika masih menggunakan hosting sendiri, jika mengakses blog dari aplikasi terasa sekali lambatnya.

3. Kepraktisan

Dengan meggunakan mapping domain, maka urusan install wordpress di hosting, perawatan hosting, otomatis tidak saya alami. Belum lagi kalau hosting tiba-tiba down huehue menangislah saya.

Selain itu kebutuhan saya saat ini hanya ingin ngeblog dengan menggunakan TLD. Saya membutuhkan kepraktisan yang ditawarkan oleh wordpress.com2

4. Backup

Urusan backup sebenarnya bisa dilakukan di hosting sendiri, namun ini relatif ribet. Selain itu, saya ingin menghindari kekhilafan. Misalkan saya khilaf untuk memperpanjang sewa hosting atau domain, maka tulisan-tulisan yang pernah saya buat akan tetap ada di wordpress.com. Tulisan saya akan tetap ada di subdomain wordpress.com3 yang saya mapping ke diptra.com.

Memang sih bakal ada kelemahan ketika menggunakan mapping4 domain. Karena saya hanya menggunakan fitur mapping domain maka akan muncul iklan jika blog saya dibuka melalui browser. Tapi jika dibuka melalui aplikasi wordpress.com, iklan tidak akan muncul.

Kebebasan untuk meng-install plugin dan custom themes juga menjadi sebuah keterbatasan. Khususnya untuk themes yang tidak tersedia di wordpress.com. Tapi hal ini tidak menjadi masalah karena free themes yang disediakan oleh wordpress.com sekaran sudah relatif bagus dan sesuai kebutuhan saya.

Oh iya berikut ini pricing atau daftar harga yang ditawarkan oleh wordpress.com ketika kita ingin meng-upgrade layanan..

cutom domain
pricing layanan wordpress.com

Loh kok tidak ada fitur mapping domain dari gambar layanan di atas..? Iya nampaknya WordPress.com menyembunyikan fitur mapping domain pada daftar harga layanannya. Padahal, sebelumnya fitur mapping domain ini secara default tersedia pada daftar layanan yang ditawarkan. Bahkan, dulu sekali fitur mapping domain ini gratis.

Saya sudah mencari dan menelisik link-link yang ada di wordpress.com guna mencari fitur mapping domain ini, dan tidak ketemu juga. Membaca help di forum pun tidak saya temukan. Namun dengan sedikit trik yang lumayan ehem-ehem akhirnya saya menemukan secara tidak sengaja fitur mapping domain yang dihilangkan ini.

Nampaknya, wordpress.com sengaja mengarahkan user yang ingin meng-upgrade layanannya agar menggunakan fitur Personal ataupun Premium. Padalah untuk layananmapping domain ini hanya membutuhkan biaya sebesar 13 USD per tahun.

Lantas bagaimanakah trik ehem-ehem yang saya lakukan sehingga menemukan juga fitur mapping domain yang hilang ini..?

Hmmm sudah malam, saya harus pulang. Karena sejak laptop saya rusak, saya ngeblog menggunakan notebook kantor. heuhehueh dasar enggak professional.

Salam..
Dia si manusia tengil


  1. Propagasi domain adalah waktu yang diperlukan sebuah domain untuk tersambung dengan server hosting. Masa propagasi ini bervariasi, mulai dalam hitungan menit maupun hari. Biasanya Domain Propagation Period dapat berlangsung 1×24 jam. Tetapi kadang bisa mencapai 1×48 jam tergantung ISP yang digunakan. 
  2. https://wordpress.com/com-vs-org/ 
  3. subdomain wordpress.com yang saya mapping adalah https://artpid.wordpress.com 
  4. Mapping domain adalah mengarahakan suatu domain menuju server hosting yang sudah ditentukan sebelumnya 

Bye ThinkPad

Sedih..? Pastinya. Notebook Lenovo ThinkPad seri Edge 120 yang sehari-hari saya gunakan akhirnya menemui ajalnya. Notebook 11,6 inch berwana hitam yang saya beli bulan Oktober tahun 2011. Layarnya tidak mau menyala.

Mungkin karena engsel sebelah kiri notebook ini agak sedikit somplak. Baut penguat engselnya sudah tidak bekerja dengan baik. Jadinya ketika layar monitor dibuka, engsel sebelah kiri yang somplak itu mengaga. Bisa jadi ada kabel putus di jalur kabel yang melewati engsel somplak itu.

Dari segi fitur, notebook ini sudah ketinggalan jaman. Belum lagi bobotnya yang lumayan berat, berasa antep waktu ditenteng dalam tas ransel. Tapi, walau sudah masuk kedalam golongan udzur, notebook ini masih kuat untuk diajak berlari dan menari lincah menulis kata-kata. Tapi kalo diajakin bermain game berat dari sisi grafis, maka notebook ini akan dengan cepat mengalami dehidrasi kecepatan berhitung secara grafis. Modar istilahku sing aneh-aneh metu.

Dari hasil evaluasi penggunaan notebook selama ini, saya menarik kesimpulan bahawa saya sebenarnya tidak membutuhkan laptop. Akan tetapi yang saya butuhkan adalah belaian kasih sayang all in one desktop computer (AIO PC). AIO PC adalah PC Desktop dengan desain monitor dan CPU yang menjadi satu. Desain AIO PC Desktop nampak ringkas dan tidak memakan tempat dalam ruangan

Contoh AIO PC Desktop source Dell.com
Selama masa baktinya, notebook ini sangat jarang sekali saya bawa jalan-jalan. Jadi fitur utama notebook yang seharusnya luwes untuk mobile kesana-kemari tidak maksimal. Padahal, di awal membeli notebook ini saya beharap bakal sering jalan-jalan sambil menenteng notebook, melakukan aktivitas bersama notebook sambil ngupi-ngupi gitulah. Apa hendak di kata, ternyata saya merasa kurang praktis dan nyaman menenteng notebook kemana-mana.

Saya lebih merasa nyaman mengerjakan aktivitas bersama notebook di dalam kamar kosan. Merasa lebih fokus daripada melakukan akivitas bersama notebook di area publik.

Bisa jadi notebook ini tidak akan saya servis agar bisa berfungsi lagi. Untuk urusan ngeblog dan browsing informasi di internet, maka sementara ini saya mengandalkan notebook fasilitas dari kantor saja. Selain itu saya ingin memfungsikan kamar kosan benar-benar hanya untuk istirahat dan membaca buku.

Mengurangi kuantitas paparan layar elektronik dalam keseharian. Karena dari pagi hingga sore, bahkan malam, pekerjaan saya mau tidak mau mengaruskan saya terpapar oleh radiasi layar monitor secara intens. Masak sih waktu untuk istirahat di rumah masih mau terganggu dan terpapar oleh layar monitor..?

Memfungsikan kembali kamar sebagai tempat beristirahat.

Salam…
DiPtra

Secede

Sering kali saya temui fase menepi, baik secara suka rela maupun terpaksa, yang dialami oleh tokoh-tokoh terkenal. Contoh yang paling terkenal adalah kisah Kanjeng Nabi Muhammad ketika menepi dari keriuhan kota Makkah. Beliau menepi di gua Hiro hingga momen terkenal itu terjadi. Momen ketika beliau didaulat menjadi pengemban mandat penyampai risalah keesaan melalui perantara Malaikat Jibril.

Syekh Abdul Qodir Jailani sebelum memasuki kota Baghdad juga mengalami fase menepi. Menepi untuk pematangan lahir dan batin sebelum memasuki area dakwah di kota Baghdad.

Buya Hamka pun dipaksa untuk menepi. Sebuah keterpaksaan atas fitnah keji. Fase menepi Buya Hamka ini menghasilkan karya fenomenal tafsir Al-Qur’an 30 juz yang dikenal dengan tafsir Al-Azhar.

Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno, pun kenyang mengalami fase pengasingan. Justru dalam pengasingan semangat juangnya untuk nusantara semakin bergelora.

Muhammad Ainun Nadjib juga memilih jalan sunyi. Sebuah langkah menepi dari hiruk pikuk media. Beliau fokus menyatukan hati-hati manusia Indonesia dalam nuansa cinta.

Sama halnya dengan Ustadz Yusuf Mansur, beliau juga dipaksa menepi di balik jeruji penjara selama beberapa waktu hingga datang cahaya hidayah untuk melanjutkan dakwah.

Dalam kisah pewayangan pun juga terjadi hal yang sama. Kisah Gatotkaca dilemparkan kedalam kawah Candradimuka untuk meningkatkan level kesaktian adalah sebentuk fase menepi. Begitu keluar dari kawah Candradimuka, Gatotkaca menjadi kesatria sakti tanpa tanding di palaga Baratayudha.

Fase menepi merupakan sebentuk fase untuk mengakrabi keheningan1. Sebuah fase untuk meningkatkan kapasitas diri. Fase untuk memperjelas suara hati nurani. Fase terpenting untuk menguatkan tekad.

Maka dari itu, menyediakan waktu untuk menepi guna meningkatkan kapasitas diri adalah sebuah keniscayaan.

vale est tempus secede…

Megakrabi Keheningan

Pilkada DKI sudah selesai, tapi residu pembakarannya masih ada. Residu berupa caci maki, kebencian, ejekan yang kesemuanya sudah memasuki tahap berlebihan. Terlalu hitam-putih ketika menyikapi politik. Bukankah lebih enak jika memandang politik merupakan gabungan rentang warna yang tiada hingga. Keriuhan politik yang peluit kick-off nya dimulai sejak 2014 atau mungkin sebelum itu.

Beneran berat banget menahan diri untuk tidak berkomentar mengenai Pilkada DKI di media sosial. Gempuran broadcast dari di Whatsapp pun sudah membuah pikiran saya kenyang tentang Pilkada DKI ini.

Setelah tanggal 19 April, semoga ketegangannya mereda. Kembali lagi kerja. Kembali lagi produktif. Tidak kembali lagi nyinyir. Bahkan nyinyir dalam balutan kesantunan malah semakin nampak memuakkan. Apakah ini sebentuk kesantunan yang dibuat-buat..? Emboh.

Entah klimaks atau antiklimaks putaran kedua Pilkada DKI periode ini. Semoga Jakarta tetap aman, pembangunan manusia dan fasilitas umumnya tetap berjalan. Cukup lah yaa menyuarakan unek-uneknya atas keriuhan selama beberapa bulan ini.

Karena menahan diri untuk tidak melontarkan komentar di media internet sepanjang Pilkada DKI ini, saya berlatih untuk diam. Diam untuk lebih memaknai keheningan. Berusaha memasukkan hati dan pikiran dalam area-area keheningan. Mengurangi interaksi di media sosial adalah salah satu hal yang saya lakukan1. Mengurangi gempuran berita-berita seputar pilkada DKI yang bersumber dari media sosial.

Ternyata dalam keheningan saya menemukan ketenangan. Sesuatu yang adem di dalam hati. Ya, mengakrabi keheningan untuk mendengarkan kejelasan suara hati.

Mengakrabi keheningan juga berarti memperbanyak diam. Saya teringat akan kisah seoarang arifin yang semakin memperbanyak diam di usia senjanya. Murid beliau entah sudah ribuan atau bahkan sudah berbilang jutaan. Tiap orang yang sowan ke kediaman beliau tak banyak diberi nasihat. Beliau malah lebih banyak mendengarkan keluh kesah para tamunya. Hanya membalas sepatah dua patah kalimat. Bagaikan lautan teduh yang mampu menerima segala apa yang dilemparkan kepadanya dan mengembalikan kepada pelemparnya berupa mutiara.

Padahal di masa mudanya, beliau terkenal alim dan zuhud. Pandai dan fasih dalam berorasi dengan alur logika yang jernih. Namun di usia senjanya, dengan ilmu yang mumpuni beliau malah lebih banyak memilih diam. Diam dalam dzikir-dzikirnya yang daim.

Tak seperti saya yang baru tau sedikit sudah banyak omong dan sering lupa berdzikir. Sudah kemrungsung tergesa-gesa memberikan nasihat. Ilmu baru serupa zarah sudah ingin menerjemahkan luasnya lautan. Pemikiran inilah yang sesekali menerbitkan ketakutan untuk menulis dan berbagi melalu blog sederhana ini2.

Apalagi semenjak mendapat 3 reminder berturut-turut dalam sepekan yang menguji keikhlasan. Khususnya keikhlasan dalam menyampaikan pemahaman dan apa yang diketahui. Seolah-olah ingin menyingkir saja, memendam pemahaman untuk diri sendiri.

Mengakrabi keheningan untuk lebih memahami lagi apa-apa yang harus dibagikan dan apa-apa yang harus disimpan untuk diri sendiri. Lebih memilah dan memilih lagi hal-hal yang esensial untuk disampaikan.

Berikut ini ada kutipan menarik dari Syekh Abdul Qodir Al-Jailani…

Pandai berkata-kata tanpa disertai amalan kalbu tak akan berarti apa-apa. Perjalanan sejati adalah perjalanan kalbu dan perbuatan hakiki adalah perbuatan yang punya arti. Hal ini harus dilakukan dengan jiwa raga tetap memerhatikan batas-batas hukum Allah seraya kalbu tetap merendah di hadapan-Nya.

Barangsiapa membuat timbangan bagi dirinya sendiri, ia tidaklah memiliki timbangan. Memperlihatkan amal di hadapan orang lain sama saja dengan tidak beramal apa-apa. Sebaiknya, kebaikan disembunyikan. Jangan perlihatkan kecuali amal wajib yang harus terlihat orang banyak.

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

Sekian nasihat untuk diri sendiri ini, semoga bermanfaat untuk semuanya…

Salam..
DiPtra

Minimalism, Sebuah Perjalanan Kedalam Diri

Padahal kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Tak bisa disamakan antara satu dengan yang lainnya. Lebih kurang kalimat-kalimat seperti itulah yang terlintas di benak saya ketika berjalan menuju kantor, melihat lalu-lalang kendaraan.

Selftalk yang saya lakukan tadi, menjadi semacam pengingat terhadap diri sendiri. Pengingat bahwa dalam menjalani hidup minimalis tak perlu melihat keluar diri, melihat orang lain.

Aseliii laah ini saya alami, ketika mulai menerapkan ide-ide tentang hidup minimalis yang sudah dipelajari, ada gelitikan nakal untuk memberikan penilaian terhadap hidup orang lain. Penilaian bahwa seseorang masih terlalu berlebihan dalam menjalani hidupnya. Padahal yaa belum tentu juga karena kebutuhan tiap orang berbeda-beda.

Penilaian-penilaian terhadap apa-apa yang berada di luar diri, ternyata malah mengaburkan suara-suara untuk mengoreksi apa-apa yang berada di dalam diri. Lupa bahwa mempraktekkan hidup minimalis adalah sebuah cara untuk menggali kebahagiaan dari dalam diri.

Continue reading “Minimalism, Sebuah Perjalanan Kedalam Diri”

Sedikit Tentang Keseimbangan

Saya percaya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu mencari titik keseimbangannya. Bumi berputar pada porosnya adalah sebentuk usaha mencapai keseimbangan akibat gaya gravitasi antara bumi dan matahari. Bahkan gunung meletus pun termasuk sebentuk penjagaan alam terhadap keseimbangan ekosistem bumi.

Begitu juga halnya dengan perilaku dan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam proses ekonomi, setiap waktu selalu terjadi proses pencarian keseimbangan antara kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi. Tiga hal yang merupakan aktivitas utama perekonomian.

Sejak era revolusi industri bergulir, barang hasil produksi jadi melimpah. Dengan berlimpahnya kapasitas produksi suatu produk, mendorong peningkatan proses distribusi kepada konsumen. Salah satu unsur distribusi barang hasil produksi kepada konsumen adalah advertising atau pariwara.

Sayangnya sering saya dapati pariwara yang mencitrakan sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan menjadi seolah-olah sesuatu yang urgent. Contohnya iklan pemutih wajah, karena sawo matang itu lebih eksotis, halah.

Proses produksi yang  melimpah dan ekspansi aktivitas distribusi yang masif ternyata mampu merubah perilaku masyarakat menjadi konsumtif, konsumsi berlebihan.

Seperti obrolan Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus dalam teaser film Minimalism: A Documentary About the Important Things,

Tak ada yang salah dalam hal mengkonsumsi suatu produk, yang menjadi masalah adalah konsumsi berlebih tidak sesuai kebutuhan.

Gerakan minimalism yang mulai banyak dianut masyarakat di Amerika adalah sebentuk kesadaran akan perilaku konsumsi berlebih. Kesadaran akan muslihat advertising memikat pada suatu produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Sebuah kesadaran untuk menyeimbangkan kehidupan. Sebuah gerakan melawan kehidupan konsumtif tanpa makna.

Jadi, boleh dibilang gerakan “minimalism” adalah sebentuk tindakan untuk mencapai keseimbangan atas gaya hidup konsumtif.

Salam…
DiPtra