Mengikhlaskan Itu

Tulisan lama saya yang berjudul “Mengikhlaskan Itu” entah hilang kemana jejaknya. Seingat saya sudah berubah menjadi mode page ketika menggunakan platform Ghost bulan lalu. Padahal ingin saya posting ulang di blog ini.

Hmmm… akhirnya tulisan itu benar-benar harus diikhlaskan juga. Sebenarnya saya suka dengan alur tulisan itu. Apalagi ketika sampai pada punch line eek kotoran yang enggan masuk ke dalam saluran pembuangan akhir. Kemudian kotoran itu bisa ngomong “belum ikhlas yaa kakaaaak…” Ahh itu kenangan manis yang bikin geli-geli nyoi hehe..

Tapi saya harus move on dan ikhlas merelakan tulisan itu hilang. Jadi bukan sekedar dalam ucapan atau tulisan, namun juga langsung “didudukkan” untuk merasai ikhlas ketika tulisan hilang.

Anyway saya kemarin juga kembali dipaksa “didudukkan” dalam kondisi ikhlas menerima. Pasalnya, tripod yang hendak saya gunakan untuk merekam time lapse lalu lintas udara di Bandara Ngurah Rai, tidak bisa masuk ke dalam kabin pesawat.

Petugas bandara melarang saya membawa tripod. Mau tidak mau harus dititipkan melalui bagasi. Air muka saya langsung berubah ketika petugas bandara melarang saya membawa tripod masuk ke dalam kabin pesawat. Iya saya langsung bete.

Padahal penerbangan keberangkatan dari bandara Soekarno-Hatta ke bandara Ngurah Rai, tripod tetap bisa dibawa ke kabin pesawat. Mungkin pada kesempatan kali ini saya kurang beruntung.

Sebenarnya saya tak perlu bete, tapi seperti biasa, bete itu terjadi karena kenyataan tak sesuai dengan perkiraan. Ada tiga hal yang membuat saya bete saat itu.

Pertama saya berharap bisa merekam time lapse lalu lintas pesawat di bandara Ngurah Rai, akhirnya gagal. Padahal view dari ruang tunggu bandara bagus sekali untuk diabadikan dalam mode time lapse. Sebenarnya bisa disiasati dengan merekam manual tanpa tripod. Tapi karena sudah terlanjur bete yaa sudahlah, kesempatan merekamnya harus diikhalskan.

Kedua, saya paling malas jika harus menitipkan barang di bagasi ketika check in di bandara. Alasannya sederhana, proses antri ambil bagasi di bandara sering kali lama. Padahal penerbangan saya sekitar maghrib. Agak kurang nyaman jika harus sampai di kosan kemalaman hanya karena antri ambil bagasi.

Alasan ketiga adalah triod yang saya bawa cukup ringkih, karena didesain dari aluminium ringan khusus untuk smartphone. Saya khawatir tripod saya rusak jika dititipkan kedalam bagasi.

Selama di ruang tunggu, saya mencoba mengikhlas-ikhlaskan jika tripod di dalam bagasi nantinya mengalami cacat. Juga mengikhlaskan waktu yang terbuang untuk antri mengambil bagasi, sehingga sampai di kosan kemalaman.

Alhamdulillah, dengan mengurai pikiran mengenai hal-hal yang membuat saya bete, bisa mengurangi rasa bete itu sendiri. Ketiga hal di ataslah yang ternyata membuat saya bete. Tak bisa mengambil video time lapse lalu lintas bandara, tripod yang kemungkinan rusak, dan antri mengambil bagasi.

Setelah itu saya malah mengejek diri saya sendiri, “Halah hanya karena hal sepele mengenai tripod saja bete, cupu banget dah lu..” yak lebih kurang begitu bunyi ejekan terhadap diri sendiri. Dengan melakukan candaan terhadap diri sendiri ternyata bisa membuat rasa bete mereda. Dengan menertawakan keadaan dan kenyataan bisa meredakan rasa jengkel di hati.

Secara sederhana penyebab utama bete adalah kenyataan yang tak sesuai harapan dan kekhawatiran-kekhawatiran di masa mendatang. Padahal kekhawatiran itu belum tentu terjadi. Sering kali kita tertipu oleh ilusi yang dihadirkan oleh pikiran kita sendiri. Pikiran bukanlah kenyataan.

Dan benar, ternyata kekhawatiran yang saya perkirakan tidak terjadi. Tripod yang saya titipkan di bagasi sampai di tangan saya tanpa cacat dan tak sampai 5 menit antri mengambil bagasi. Saat itu hati saya sudah pasrah.

Saya cukup beruntung hari itu, karena tak sampai menunggu terlalu lama bus Damri arah Rawamangun yang menjadi bus tumpangan saya menuju kosan datang. Lebih kurang hanya menunggu selama 7 menit. Lalu lintas tol dari bandara menuju Rawamangun juga sangat lancar, alhamdulillah

Ternyata ketika hati dalam kondisi ikhlas dan nerimo, kenyataan yang terjadi di sekitar bisa disikapi dengan lebih bijak.

Oh iya mengenai kegagalan mengambil video time lapse lalu lintas bandara terobati dengan melihat video time lapse yang saya ambil ketika saya nongkrong sejenak di pantai Seminyak. Dan kali ini saya harus mengikhlaskan untuk tidak melihat bule-bule berbikini berkeliaran di sekitaran pantai seminyak. halah palsuuu

Hasil rekaman video time lapse pantai Seminyak menjelang matahari terbenam yang saya rekam, bisa disimak pada video di bawah ini…

Nah kalau video di bawah ini adalah video time lapse ketika anak saya sedang sarapan  di bibir pantai. Sarapan sambil main-main payung. Video ini sangat pendek sekali 😀

salam..
dia yang belum move on dari liburan.. :-p

Catatan-Catatan Baru

Tahun 2017 dan saya memulai catatan-catatan baru di diptra.com. Nasib tulisan lama masih available dengan status menjadi page yang tak nampak di halaman utama blog.

Setelah 14 hari terakhir di tahun 2016 ngeblog menggunakan Ghost, di awal tahun 2017 ini saya kembali lagi menggunakan WordPress. Kali ini saya sedikit melakukan sentuhan yang berbeda pada tataran teknis engine WordPress yang saya gunakan. Ghost memang sangat sederhana dan memiliki editor teks yang sangat bagus. Namun semenjak menyadari WordPress mulai melakukan pengembangan ke arah JavaScript maka saya merasa migrasi ke Ghost adalah tindakan yang cukup gegabah. Satu hal yang pasti, saya ingin meminimalisir printilan-printilan teknis ngeblog yang kerap menyita waktu karena terlalu asyik dan melupakan esensi ngeblog, yaitu menghasilkan karya berupa tulisan. Lupakan sejenak perkara migrasi platform ini dan beralih pada bahasan lain.

Tahun 2016 terasa berlalu begitu cepat. Ada banyak hal yang terjadi selama 2016. Jika didefinisikan dalam 1 atau 2 kata, tahun 2016 adalah tahun business travelling bagi saya. Pada awal tahun 2016 mendadak training ke Malaysia. Bulan selanjutnya ditodong menjadi kurir ke Singapore. Pertengahan tahun kali pertama meeting dengan client di Solo, bondho nekat. Paling mengejutkan adalah menjadi pemain cadangan untuk training ke Munchen, Jerman di awal caturwulan 3 tahun 2016. Namun, satu hal yang pasti menghabiskan waktu 15 sampai 17 jam di kereta api dari Stasion Pasar Senen sampai Stasion Malang Kota Baru adalah travelling paling rutin saya lakoni hampir setiap bulan.

Tahun 2016 secara tak sengaja berkenalan dengan komunitas blogger traveller dan salah satu dedengkot travel writer Indonesia yaitu Mas Teguh Sudarisman. Sempat tergoda juga untuk menjadi blogger traveller, tapi apa daya, pada dasarnya saya anak rumahan yang kurang suka keluyuran. Aah iyaa, travelling itu berbeda dengan keluyuran, tapi bakat travelling itu berasal dari perilaku suka keluyuran #ditabokbloggertraveller. Sialnya, saya baru tau kalau dengan menjadi blogger traveller itu membuka peluang untuk jalan-jalan gratis dengan balas jasa berupa review dalam bentuk tulisan.

30 hari menuliskan #RamadhanNotes di blog juga menjadi sebuah prestasi tersendiri selama bulan Ramadhan 1438 Hijriah yang lalu. Besar kemungkinan ritual tantangan menulis setiap hari di bulan Ramadhan juga akan saya lakukan lagi.

Tentang hidup minimalis atau minimalism, maka di tahun 2016 pakaian dan buku adalah item yang saya reduksi jumlah kepemilikannya. Salah satunya saat menjalankan project 333 yang digagas oleh Mba Courtney Carver. Tentang buku-buku sebagian saya hibahkan, sebagiannya lagi saya jual.

Visi kasar tentang minimalism di tahun 2017 yang ingin saya lakukan adalah meningkatkan efisiensi waktu bekerja di kantor. Single tasking dan mengurangi distraksi selama bekerja adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan.

Visi kasar yang lain tentang minimalism di tahun 2017 terkait kehidupan sebagai anak kost, adalah mengurangi jumlah barang yang ada di kamar kosan. Mengingat, semenjak ngekost tahun 2010 hingga 2015 saya melakukan penimbunan barang-barang yang tidak terlalu penting. Harapannya, barang-barang yang ada di kamar kosan saya nanti muat dalam satu atau dua tas saja, seperti yang dilakukan oleh Colin Wright.

Anyway, di tahun 2016 ini Raffii sudah mulai belajar berlari dan mengeja kata. Untuk anak berusia 2 tahun 4 bulan sudah lumayanlah perkembangannya. Semoga menjadi anak yang sholeh di kemudian hari. Semoga yang baca mengucap ‘amin’ walau di dalam hati :D.

Yang paling mengesankan di tahun 2016 adalah Raffi semangat jika diajak shalat jama’ah ke masjid. Alhamdulillah tidak bertaburan berlarian saat shalat jama’ah. Namun, ketika shalat jama’ah sampai pada gerakan sujud, Raffii tidak ikutan sujud, dia malah tiarap. 😀

Salam..
dia yang memulai catatan-catatan baru