Mapping Domain pada WordPress.com

Saperti sudah saya utarakan pada tulisan sebelumnya, bahwa fitur mapping domain sengaja disembunyikan oleh pihak WordPress.com. Tapi secara tidak sengaja saya menemukan fitur mapping domain dari WordPress.com. Link untuk mapping domain tidak akan ditemukan pada menu default upgrade layanan dari WordPress.com. Atau barang kali saya belum menemukannya.

Bahkan pada halaman help1 untuk maping domain, pengguna WordPress diarahkan untuk meng-upgrade layanan menjadi premium.

Berikut ini cara yang saya lakukan untuk melakukan mapping domain pada WordPress.com seharga 13 USD per tahun. Tapi sebelum memulai, ada prasyarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan mapping domain.

  1. Sudah memiliki domain yang hendak di-mapping dan memiliki akses untuk mengatur nameserver domain. Paling tidak memiliki pengetahuan sekilas mengenai nameserver2.

  2. Memiliki akun Paypal atau Credit Card. Karena WordPress.com hanya menerima dua macam tipe pembayaran itu.

  3. Akses dari browser komputer atau notebook dan koneksi internet yang lumayan kenceng.

  4. Milikilah jiwa yang selow.

Baiklah, mari saya jelaskan cara ehem-ehem yang saya lakukan untuk melakukan mapping domain.


Cara Mapping Domain Ehem-Ehem

1. Memilih Plan Personal

upgrade_1.PNG
Pilih plan upgrade personal

Pilihlah plan upgrade personal. Perlu diingat, layanan upgrade berlaku setahun. Pada gambar di atas telampir 2.99 USD per bulan. Permainan psikologis sih biar nampak murah hihihi.

2. Lakukan Pembayaran

Capture_2
Lakukan Pembayaran

Lakukan pembayaran sesuai metode yang diberikan oleh WordPress.com. Dalam hal ini, saya melakukan pembayaran via Paypal. Nampak dalam kolom total tagihan yang harus saya bayar sebesar 35.88 USD per tahun.

3. Mapping Domain

Capture_4Selanjutnya masuk pada menu domain. Kemudian pilih menu Already own a domain?. Saya lupa meng-capture proses mapping domain yang saya lakukan. Pada contoh gambar di atas untuk melakukan mapping domain akan langsung terintegrasi dengan layanan plan premium.

Namun jika sudah melakukan langkah kedua (pembayaran plan personal), maka opsi Already own a domain? akan menjadi free alias gratis. Hmm ga gratis juga sih, karena sudah terintegarasi dengan plan personal yang sudah dilakukan sebelumnya.

4. Ganti Nameserver

Langkah selanjutnya adalah merubah nameserver pada penyedia domain. Cara mengganti nameserver bisa diikuti pada tautan di footnote.

Ganti nameserver pada domain dengan nameserver milik wordpres sebagai berikut:

ns1.wordpress.com
ns2.wordpress.com
ns3.wordpress.com

Jika nameserver sudah diganti, maka harus selow bersabar menanti proses propagasi antara domain dengan nameserver selesai. Biasanya proses propagasi memakan waktu 24 jam hingga 48 jam. Selama proses propagasi ini, blog saya agak menjadi ndangdut kadang bisa dibuka, kadang tidak. Maklum masih galau.

5. Refund

Awalnya saya iseng-iseng saja memilih opsi refund layanan plan personal dari WordPress. Ternyata domain yang sudah di-mapping, tetap kena charge 13 USD. Jadi, ketika saya melakukan refund, dana yang dikembalikan hanya sebesar 22.88 USD (berasal dari 35.88 – 13). Dari sini saya berkesimpulan bahwa biaya mapping domain sebesar 13 USD masih tersedia. Hanya saja tersembunyi jauh di dalam sistem pembayaran WordPress. Bisa jadi layanan ini lama-lama akan dihilangkan. Semoga tidak.

Menu refund ada pada menu plan. Maaf saya lupa meng-capture menu refund yang saya maksud. Berikut ini bukti refund dari WordPress pada riwayat transaksi Paypal saya.

refund
riwayat transaksi paypal

Pada gambar di atas ada dua catatan refund dari WordPress.com. Hal ini saya lakukan karena sebelumnya saya salah melakukan transaksi redirect domain. Padahal redirect domain berbeda dengan mapping domain.

Nantinya, jika proses mapping domain sukses, maka pada tab domain akan muncul menu seperti ini.

Capture_3
Mapping domain sukses

Yaak lebih kurang seperti itu metode mapping domain ehem-ehem yang saya lakukan. Berita baiknya, setelah saya melakukan refund plan personal, harga untuk upgrade layanan yang ditawarkan kepada saya menjadi menurun. heuheheu blessing in disguise

upgrade_2
Diskon upgrade layanan wordpress.com

Nah, screenshot di atas adalah upgrade plan yang ditawarkan oleh WordPress setelah saya melakukan refund pada layanan sebelumnya. Lumayan kan selisihnya..?

Sekian semoga bermanfaat.

Salam..
DiPtra

WordPress.com for Google Docs

Ini adalah sebentuk percobaan menulis untuk WordPress via Google Docs. Tulisan kali ini akan diterapkan ke situs diptra.com. Setelah dapat informasi dari Matt Mullenweg bahwa Automattic membuat add-ons untuk melakukan posting melalui Google Docs.

Well mari kita coba save as draft di WordPress. Apakah nantinya text editor WordPress akan native di Google Docs atau akan dibuat integrated seperti halnya Ghost atau Medium. Hmm entahlah saya penasaran dan sangat tertarik akan hal ini.

WordPress Add ons for Google Docs

Lebih kurang seperti di atas tampilan add ons WordPress untuk Googe Docs. Judul dokumen akan menjadi judul artikel pada WordPress. Sampai saat ini hanya tersedia opsi Save Draft dan Update Draft, dan Preview tampilan tulisan di halaman blog.

Add ons dari WordPress ini sangat cocok untuk menulis konten secara kolaboratif. File pun bisa disimpan di Google Drive. Selain itu, format tulisan untuk WordPress yang sudah kita buat di Google Docs bisa disimpan dalam berbagai format seperti pdf, docx, rtf dan lain sebagainya. Sangat menarik.

Lalu, bagaimana cara untuk mengaktifkan WordPress add ons for Google Docs..? klik saja tautan berikut ini untuk mengaktifkan add ons, WordPress.com for Google Docs. Add ons ini baru bisa berjalan di browser Google Chrome.

Untuk tutorial lebih lanjut mengenai add-ons WordPress.com for Google Docs bisa merujuk pada sumber aslinya, Introducing WordPress.com for Google Docs: A New Way Forward for Collaborative Editing.

Sekian, semoga bermanfaat.

Salam..
DiPtra

Catatan-Catatan Baru

Tahun 2017 dan saya memulai catatan-catatan baru di diptra.com. Nasib tulisan lama masih available dengan status menjadi page yang tak nampak di halaman utama blog.

Setelah 14 hari terakhir di tahun 2016 ngeblog menggunakan Ghost, di awal tahun 2017 ini saya kembali lagi menggunakan WordPress. Kali ini saya sedikit melakukan sentuhan yang berbeda pada tataran teknis engine WordPress yang saya gunakan. Ghost memang sangat sederhana dan memiliki editor teks yang sangat bagus. Namun semenjak menyadari WordPress mulai melakukan pengembangan ke arah JavaScript maka saya merasa migrasi ke Ghost adalah tindakan yang cukup gegabah. Satu hal yang pasti, saya ingin meminimalisir printilan-printilan teknis ngeblog yang kerap menyita waktu karena terlalu asyik dan melupakan esensi ngeblog, yaitu menghasilkan karya berupa tulisan. Lupakan sejenak perkara migrasi platform ini dan beralih pada bahasan lain.

Tahun 2016 terasa berlalu begitu cepat. Ada banyak hal yang terjadi selama 2016. Jika didefinisikan dalam 1 atau 2 kata, tahun 2016 adalah tahun business travelling bagi saya. Pada awal tahun 2016 mendadak training ke Malaysia. Bulan selanjutnya ditodong menjadi kurir ke Singapore. Pertengahan tahun kali pertama meeting dengan client di Solo, bondho nekat. Paling mengejutkan adalah menjadi pemain cadangan untuk training ke Munchen, Jerman di awal caturwulan 3 tahun 2016. Namun, satu hal yang pasti menghabiskan waktu 15 sampai 17 jam di kereta api dari Stasion Pasar Senen sampai Stasion Malang Kota Baru adalah travelling paling rutin saya lakoni hampir setiap bulan.

Tahun 2016 secara tak sengaja berkenalan dengan komunitas blogger traveller dan salah satu dedengkot travel writer Indonesia yaitu Mas Teguh Sudarisman. Sempat tergoda juga untuk menjadi blogger traveller, tapi apa daya, pada dasarnya saya anak rumahan yang kurang suka keluyuran. Aah iyaa, travelling itu berbeda dengan keluyuran, tapi bakat travelling itu berasal dari perilaku suka keluyuran #ditabokbloggertraveller. Sialnya, saya baru tau kalau dengan menjadi blogger traveller itu membuka peluang untuk jalan-jalan gratis dengan balas jasa berupa review dalam bentuk tulisan.

30 hari menuliskan #RamadhanNotes di blog juga menjadi sebuah prestasi tersendiri selama bulan Ramadhan 1438 Hijriah yang lalu. Besar kemungkinan ritual tantangan menulis setiap hari di bulan Ramadhan juga akan saya lakukan lagi.

Tentang hidup minimalis atau minimalism, maka di tahun 2016 pakaian dan buku adalah item yang saya reduksi jumlah kepemilikannya. Salah satunya saat menjalankan project 333 yang digagas oleh Mba Courtney Carver. Tentang buku-buku sebagian saya hibahkan, sebagiannya lagi saya jual.

Visi kasar tentang minimalism di tahun 2017 yang ingin saya lakukan adalah meningkatkan efisiensi waktu bekerja di kantor. Single tasking dan mengurangi distraksi selama bekerja adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan.

Visi kasar yang lain tentang minimalism di tahun 2017 terkait kehidupan sebagai anak kost, adalah mengurangi jumlah barang yang ada di kamar kosan. Mengingat, semenjak ngekost tahun 2010 hingga 2015 saya melakukan penimbunan barang-barang yang tidak terlalu penting. Harapannya, barang-barang yang ada di kamar kosan saya nanti muat dalam satu atau dua tas saja, seperti yang dilakukan oleh Colin Wright.

Anyway, di tahun 2016 ini Raffii sudah mulai belajar berlari dan mengeja kata. Untuk anak berusia 2 tahun 4 bulan sudah lumayanlah perkembangannya. Semoga menjadi anak yang sholeh di kemudian hari. Semoga yang baca mengucap ‘amin’ walau di dalam hati :D.

Yang paling mengesankan di tahun 2016 adalah Raffi semangat jika diajak shalat jama’ah ke masjid. Alhamdulillah tidak bertaburan berlarian saat shalat jama’ah. Namun, ketika shalat jama’ah sampai pada gerakan sujud, Raffii tidak ikutan sujud, dia malah tiarap. 😀

Salam..
dia yang memulai catatan-catatan baru