Tentang Privasi yang Tak Terlalu Penting

privacy

Beberapa waktu lalu Brian Acton mengundurkan diri. Dia mengundurkan diri dari jajaran petinggi Whatsapp. Alasannya sederhana. Facebook tidak berkomitmen menjaga privasi penggunanya. Hal ini juga imbas dari skandal iklan Facebook atas pilpres di Amerika Serikat. Pilpres yang dimenangkan oleh Donald Trump.

Kabarnya Rusia ikut mendalangi proses pilpres di Amerika Serikat. Meskipun secara tidak langsung. Pihak Rusia memodali iklan di Facebook untuk kemenangan Donald Trump. Yaah semacam itulah kurang lebih.

Amerika Serikat tentu malu banget atas kejadian ini. Bagaimana negara pesaingnya ngobok-ngobok urusan demokrasinya. Malu-maluin banget ih. Hal ini tentu menjadi aib perjalanan demokrasi di Amerika Serikat.

Nah, gara-gara skandal ini Brian Acton sampai mundur. Brian Acton bersama-sama Jan Koum mendirikan Whatsapp tahun 2009. Kemudian diakuisisi oleh Facebook awal ahun 2014. Nilai akuisisinya fantastis. 19 Miliar Dolar digelontorkan Facebook untuk mengakuisisi Whatsapp.

Tentu pihak Facebook kepincut dengan jumlah pengguna Whatsapp. Per Desember 2013 saja Whatsapp memiliki 400 juta pengguna aktif. Semacam pangsa pasar yang empuk untuk dikapitalisasi.

Whatsapp begitu menjaga privasi pengguna. Hal ini ditandai dengan penggunaan teknologi end-to-end encryption pada layanannya akhir tahun 2014. Dalam penyediaan teknolgi enkripsi ini, Whatsapp bekerja sama dengan pihak Open Whisper System. Teknologi end-to-end encryption ini mencegah penyadapan pesan yang dikirimkan antar pengguna Whatsapp.

Awal tahun 2014 Whatsapp diakuisisi oleh Facebook. Akhir tahun 2014 Whatsapp menerapkan teknologi enkripsi. Saya rasa ini sebagai langkah preventif Brian Acton dan Jan Koum dalam melindungi privasi pengguna Whatsapp. Atau dengan kata lain, mereka berdua tidak percaya dengan Facebook.

Dan kini ketidakpercayaan mereka terbukti. Bahkan sangking muaknya mungkin, Brian Acton sampai ngetweet untuk menghapus Facebook.

Nah gara-gara masalah privasi ini saya mulai mengurangi penggunaan Whatsapp. Suatu hari saya cerita panjang lebar masalah privasi Whatsapp ini kepada teman-teman. Responnya datar-datar saja. Salah satu alasannya, malas pindah-pindah aplikasi. Aiiiissshhh. Rupanya perihal privasi ini bukan hal yang perlu dipermasalahkan oleh sebagian teman saya.

Entahlah. Tapi kan ada tuh kasus-kasus hukum yang menggunakan bukti screenshot percakapan Whatsapp.

Saat itu saya menyarankan penggunaan aplikasi Signal sebagai pengganti Whatsapp. Lah pendiri Whatsapp saja sampai keluar dari Whatsapp kok. Ini kan bisa jadi sebentuk ketidakpercayaan atas produknya sendiri.

Owh iya, Signal ini merupakan aplikasi chat besutan Open Whisper System. Brian Acton melakukan pendanaan untuk pengambangan Signal. Tidak tanggung-tanggung, Acton menggelontorkan pendanaan sebesar 50 juta dolar Amerika.

Saya menggunakan aplikasi Signal sebagai aplikasi default untuk SMS. Sementara itu, kepada sesama pengguna aplikasi Signal, Signal bekerja persis seperti Whatsapp. Menggunakan jaringan internet untuk lalu lintas percakapannya.

Memang cukup susah untuk move on dari Whatsapp. Tapi dengan menjadikan Signal sebagai aplikasi default SMS masa transisi move on dari Whatsapp akan terasa semakin awuwuwu.

Untuk mengunduh dan menggunakan aplikasi Signal bisa menggunakan tautan di bawah ini sesuai sistem operasi.

Android

iPhone

Windows

MacOS

Linux

Sekian, semoga bermanfaat.

#Teknologi #Sept2018