Terpaku SEO

Kebiasaan nembak keyword ala-ala SEO tetap saya lakukan pada tulisan-tulisan lama di blog ini sejak dua tahun lalu. Jumlah kata dalam tiap artikel pun tetap saya pertahankan, minimal 350 kata dalam satu artikel. Memang sih teknik-teknik SEO yang saya terapkan ada hasilnya, beberapa tulisan saya tentang hidup minimalis sempat nangkring di halaman satu pencarian. Tapi saya merasa ada sesuatu yang hilang ketika menulis.

Memang, model tulisan yang sesuai kriteria algoritma mesin pencari bakal cepat ter-index dan berpeluang besar nangkring di halaman satu pencarian. Namun jika personal blog macam ini terlalu terpaku pada aturan standart tulisan SEO, rasanya seperti memburamkan keotentikan karakter dari penulisnya.

Kemudian sejak awal tahun ini, saya bereksperimen menulis dengan lebih santai dan lepas, tidak terlalu memikirkan kaidah-kaidah SEO. Ada rasa bahagia yang hadir ketika menyelesaikan sebuah tulisan. Inilah salah satu alasan saya menggunakan tagline happiness factory, menggantikan tagline enjoying the less dan hidup minimalis yang saya gunakan sebelumnya.

Sarana berbagi dalam bentuk tulisan adalah salah satu usaha untuk memproduksi unsur kebahagiaan. Tentang mindset mematuhi kaidah algoritma mesin pencari, ada satu hal yang ingin saya robohkan, yaitu tentang aturan jumlah minimal kata sebanyak 350 per-artikel.

Jika memang sedang ingin menulis panjang, maka tulis saja sepanjang ide tulisan masih mengalir. Namun jika sedang tidak mood dan hanya ingin menulis pendek, maka tidak perlu dipanjang-panjangkan. Tulis senatural mungkin.

Lagian, dunia ini sudah penuh dengan aturan. Ngapain juga membebani diri dengan aturan-aturan lain yang dirasa memberatkan. Maka bebaskanlah jiwamu sesuai dengan fitrahmu. Begitu juga halnya jiwa dalam sebuah tulisan.

Sangat mungkin sekali isi tulisan ini mengandung kebenaran, tapi kemungkinan kandungan kesalahannya bisa jadi lebih besar. Jika ada typo mohon dimaafkan.

salam…
dia yang sedang menulis 273 kata.

0 thoughts on “Terpaku SEO

Share Your Thought