Tobat

Tobat sebagai Pembersih Kalbu

Bertobatlah kepada Allah setiap waktu, karena hal itu dianjurkan dan diperintahkan oleh-Nya. Allah Swt. berfirman, “Bertobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” – (Q.S. al-Nur [24]: 31). Tobat merupakan sarana yang mengantar hamba menjadi kekasih Allah. Allah berfirman, “Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” –  (Q.S. al-Baqarah [2]: 222)

Menurut al-A’az al-Muzanni ra., Nabi saw. bersabda, “Kadangkala timbul perasaan dalam hatiku. Maka aku beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah sehari seratus kali.” – (H.R. Muslim). Abu Hurairah ra. juga mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, dalam sehari aku beristighfar dan memohon tobat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.” – (H.R. al-Bukhari)

Oleh karena itu, usahakanlah untuk senantiasa bertafakur sepanjang hidupmu. Renungkan apa yang telah engkau perbuat pada siang hari. Apabila ternyata engkau menghabiskan siang harimu dalam ketaatan, maka bersyukurlah. Namun, apabila ternyata engkau melakukan maksiat, maka sesalilah serta cepatlah beristighfar dan bertobat kepada Allah. Tak ada majelis bersama Allah yang paling bermanfaat bagimu selain majelis tempat engkau menyesali diri. Jangan menyesali diri sambil tertawa bahagia. Namun, sesalilah dirimu dengan jujur seraya menampakkan wajah muram, disertai kalbu yang sedih, kecewa, dan perasaan hina. Apabila itu kau lakukan, pasti Allah menggantikan kesedihan dengan keceriaan, kehinaan dengan kemuliaan, kegelapan dengan cahaya, ketertutupan dengan ketersingkapan (kasyf).

Ketahuilah, seandainya engkau memiliki seorang wakil yang selalu melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap dirinya sendiri secara jujur, pastilah dirimu tak perlu lagi melakukan evaluasi terhadapnya. Tetapi, kalau ia, tak melakukan itu, engkau yang akan mengevaluasi dirinya secara detail dan rinci. Demikian pula halnya kondisimu bersama Allah. Bila engkau selalu melakukan instrospeksi dan mengevaluasi diri, Allah akan memudahkan perhitungan-Nya terhadapmu.

Oleh karena itu, hendaknya engkau tujukan semua amal perbuatanmu untuk Allah. Jangan sekali-kali menyangka bisa melakukan sebuah perbuatan yang lepas dari pengawasan dan perhitungan-Nya. Manakala seorang hamba jatuh ke dalam perbuatan dosa, bersamaan dengan itu kalbunya akan menjadi gelap gulita.

Perbuatan maksiat ibarat api sementara kegelapan ibarat asapnya. Laksana orang yang menyalakan perapian di rumah selama 70 tahun, bukankah rumah tersebut akan menjadi gelap dan hitam? Demikian pula dengan kalbu. Ia akan menjadi gelap karena tumpukan maksiat. Ia baru menjadi bersih dengan tobat kepada Allah. Kehinaan, kegelapan, dan hijab ter-kait erat dengan maksiat. Jika engkau bertobat kepada Allah, bekas-bekas dosa itu pun menjadi sirna

Ketahuilah bahwa tobat merupakan terminal (maqam) pertama. Segala bentuk ibadah baru diterima Allah jika didahului dengannya. Keadaan hamba yang melakukan maksiat sama seperti periuk besi di atas api selama beberapa saat yang makin menghitam warnanya. Jika engkau segera membersihkan periuk tersebut, warna hitam itu akan hilang. Namun, jika engkau biarkan dan justru dipakai berkali-kali untuk memasak tanpa dibersihkan, warna hitamnya akan melekat kuat hingga ia pecah dan rusak. Walaupun dicuci ia takkan bisa kembali. Rasulullah saw. bersabda, “Ketika seorang mukmin melakukan sebuah dosa akan ada bintik hitam di kalbunya. Jika ia bertobat, sadar, dan memohon ampunan, bintik tadi akan terhapus. Namun, jika ia malah menambah dosa, bertambah pula bintik hitamnya hingga menutupi kalbu. Itulah kotor yang Allah maksudkan dalam Al-Quran, “Sekali-kali jangan pernah berbuat demikian, sebenarnya perbuatan-perbuatan mereka mengotori hati mereka.” – (H.R. al-Tirmidzi dan disahihkan olehal-Nasa’i)

Tobatlah yang bisa mencuci hitamnya kalbu sehingga amal-amal saleh bisa tampak terang dan diterima. Oleh karena itu, mohonlah tobat kepada Allah selalu. Jika hal tersebut bisa dilakukan, hidup akan menjadi lebih baik. Sebab, tobat merupakan karunia Allah yang diberikan pada hamba-Nya yang dikehendaki. Kadangkala seorang budak yang kurus berhasil melakukan tobat, sementara majikannya sendiri tidak. Kadangkala si istri berhasil, sementara suaminya gagal. Kadangkala, yang muda berhasil, sedangkan yang tua gagal. Dan kadangkala pula yang bodoh berhasil, sedangkan yang alim gagal.

Jika engkau berhasil bertobat, berarti Allah telah mencintaimu. Allah berfirman, “Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan yang suka membersihkan diri.” – (Q.S. al-Baqarah [2]: 222). Di sini Allah memosisikan dirimu sebagai orang yang dicintai, bukan yang mencintai.

Orang merasa senang dengan sesuatu bila mengetahui kadar dan nilai sesuatu itu. jika engkau menebarkan intan permata kepada binatang melata, niscaya mereka lebih menyenangi gandum daripada itu semua. Maka, renungkanlah, kira-kira dari kelompok manakah engkau?

Jika bertobat, engkau termasuk orang yang dicintai Allah. Jika tidak, berarti engkau termasuk orang-orang yang zalim. Allah berfirman, “Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) kefasikan setelah iman. Dan siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.” – (Q.S. al-Hujurat [49]: 11). Siapa bertobat, ia dapat. Sebaliknya, siapa yang tidak bertobat, maka ia rugi. Allah berfirman, “Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta merasa takut dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” – (Q.S. al-Nur [24]: 52)

Janganlah engkau berputus asa terhadap rahmat Allah dengan berkata, “Sudah berapa kali aku bertobat dan insaf!” Sebab, orang yang sakit sewajarnya akan terus meminum obat, mengharap hidup, dan menginginkan sehat selama roh dikandung badan tanpa pernah merasa putus asa.

Bila seorang hamba bertobat, maka rumahnya di surga merasa gembira, demikian juga langit dan bumi, Nabi saw., serta Allah Swt. sendiri. Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh Allah jauh lebih bahagia karena tobat seorang hamba ketimbang orang yang mengendarai untanya di padang pasir, lalu tiba-tiba untanya tersesat dan menghilang darinya, padahal di atas unta tersebut terdapat makanan dan minuman kepunyaannya. Akhirnya, ia putus asa dan mendatangi sebuah pohon untuk merebahkan diri di bawah naungannya. Ia benar-benar putus asa dengan untanya. Ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba unta itu berada di hadapannya. Ia pun segera meraih tali kekangnya. Dan karena amat gembiranya, sampai-sampai ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau hambaku dan aku tuhanmu’. Ia salah ucap karena luapan kegembiraannya.” – (H.R. Muslim dan muttafaq ‘alaih)

Suatu ketika Syekh Abu al-Hasan Ak-Syadzili bercerita, “Aku pernah ditegur, ‘Wahai ‘Ali bersihkan bajumu, dengan pertolongan Allah pastilah ia akan selalu terpelihara.’ Aku pun bertanya, “Baju yang mana?” Ia menjawab, “Allah telah memberimu pakaian makrifat, lalu pakaian mahabbah, kemudian pakaian Islam. Siapa yang mengenal Allah, yang lain takkan berarti baginya. Siapa yang mencintai Allah, yang lain menjadi hina dalam pandangannya. Siapa yang mengesakan Allah, ia takkan menyekutukan-Nya. Siapa yang beriman kepada Allah pasti aman dari segala sesuatu. Serta siapa yang berserah diri pada Allah, kecil kemungkinan akan melanggar. Kalaupun melanggar, ia akan cepat memohon ampunan. Dan ketika meminta ampunan, niscaya akan dikabulkan.” Syekh Abu al-Hasan lantas berkata, “Dari sanalah aku memahami firman Allah yang berbunyi, ‘Bersihkanlah bajumu!'” – (Q.S. al-Muddatstsir [74]: 4).

Wahai manusia, saat engkau merasa berat untuk melakukan amal ketaatan dan ibadah, saat engkau merasa kerepotan dan tidak mendapat kenikmatan di dalamnya, lalu sebaliknya engkau memandang ringan maksiat dan bahkan merasa nikmat, sehingga engkau pun melakukan maksiat dengan senang; dalam kon-disi seperti itu, ketahuilah bahwa engkau belum jujur dalam bertobat. Dalam kalbumu masih terdapat penyakit. Engkau belum sampai ke tingkat orang yang ikhlas dan bertobat. Sebab, jika dasarnya benar, cabangnya juga pasti benar. Begitu pun sebaliknya.


Tobat sebagai Karunia Allah

Wahai manusia, apabila Allah bermurah hati kepadamu dengan memberikan kesempatan untuk bertobat itu adalah salah satu bentuk karunia-Nya. Allah Swt. berfirman, “Kemudian Allah menerima tobat mereka supaya mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” – (Q.S. al-Tawbah [9]: 118)

Apabila engkau telah berbuat dosa selama 70 tahun lalu engkau bertobat pada satu waktu, maka terhapuslah dosa-dosamu selama itu. Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tak mempunyai dosa.” – (H.R. Ibn Majah dan al-Thabrani)

Ketika seorang mukmin mengingat dosanya ia akan bersedih, sementara setiap kali mengingat amal ketaatannya ia bergembira. Luqman al-Hakim pernah berkata, “Seorang mukmin mempunyai dua kalbu. Yang satu berharap, yang satunya lagi merasa cemas. Di satu sisi ia berharap amalnya diterima, di sisi lain cemas kalau amalnya ditolak.” Allah berfirman, “Orang- orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang cemas, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” – (Q.S. al-Mu’minun [23]: 60)

Ada yang berpendapat bahwa seandainya rasa cemas seorang mukmin ditimbang dengan harapannya, niscaya akan seimbang. Siapa yang ingin kalbunya bersambung kepada Allah hendaknya ia melakukan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Wahai mukmin, basuhlah kalbumu dengan menyesali kesempatan yang telah hilang. Siapa yang melakukan maksiat dan terjerumus dalam perbuatan haram, meskipun ia menceburkan diri ke tujuh lautan tetap takkan bersih dirinya. Kecuali, bila ia bertobat secara tulus kepada Allah.

Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tiada berdosa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya. – (H.R. lbn Majah, al-Tirmidzi, dan al-Hakim)

Wahai manusia, apakah engkau kira obat yang engkau telan terasa manis? Jika engkau tidak bisa menahan pahitnya, engkau takkan mendapat kesembuhan. Oleh karena itu, segeralah bertobat dan jangan rnenoleh pada manisnya maksiat. Apabila hawa nafsumu mulai condong pada syahwat, harta, jabatan, dan pujian orang, hendaknya engkau bergegas lari menuju Allah dan memohon pertolongan-Nya, pasti Dia akan menyelamatkanmu. Allah berfirman, “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) seorang pemberi peringatan yang nyata untuk kalian.” – (Q.S. al-Dzariyat [51]: 50)

Wahai manusia, daripada engkau berpaling kepada manusia dan mencari-cari di mana para kiai, wali, atau tokoh berada, lebih baik engkau membersihkan kalbu dengan tobat terlebih dahulu. Lalu bertanyalah, “Di mana bashirah (mata hati) ini? Apakah ia bisa kotor dengan melihat putri raja yang berhijab?” Daripada berkata, “Cermin ini sudah berkarat,” lebih baik berkata, “Mataku berpenyakit sebab tak bisa membedakan mana yang buruk dan mana yang baik.”

Jika engkau ditanya, siapakah orang mukmin itu, jawablah bahwa orang mukmin adalah yang bisa melihat aib dirinya lalu berusaha mengobatinya serta tidak menuduh orang lain memiliki aib. Jika engkau ditanya, siapakah orang yang hina, katakan bahwa orang yang hina adalah yang menuduh orang lain bersalah serta merasa dirinya benar. Rasulullah saw. bersabda, “Berbahagialah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri sehingga lupa dengan aib orang lain.”

Mohonlah kepada Allah tobat nasuha seperti yang Allah perintahkan dalam Al-Quran, “Wahai orang-orang beriman. Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya (nasuha), mudah-mudahan Tuhan menghapus dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” – (Q.S. al-Tahrim [66]: 8)

Tobat nasuha adalah tobat yang tulus kepada Allah, bersih dari segala kotoran, dan disertai penyesalan.

Jangan sampai keputusasaan menghantui kalbumu sehingga engkau merasa dosamu yang menurnpuk tak akan diampuni Tuhan, lalu berkata, “Dosa-dosaku sangat banyak, mungkin Allah tak lagi mau menerima tobatku.” Allah melarang sikap putus asa. Bahkan, sebaliknya Dia selalu membuka pintu harapan, “Katakan, Wahai para hamba-Ku yang telah melampaui batas, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah (berkenan) mengampuni semua dosa. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” – (Q.S. al-Zumar [39]: 53)

Oleh karena itu, wahai saudaraku hendaknya engkau konsisten dalam bertobat. Jika tobatmu diterima, yang tandanya engkau merasa lapang ketika melakukan ketaatan serta cenderung pada negeri akhirat, bergembiralah dan bersyukurlah kepada Allah atas karunia-Nya. Namun, jika tobatmu belum diterima, yang tandanya engkau masih menikmati maksiat dan masih merasa senang dengannya, minta tolonglah kepada Allah dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan tidak menyayangi kami, pastilah kami termasuk golongan orang-orang yang rugi.” – (Q.S. al-A`raf [7]: 23)

Jangan menjadi orang yang lalai, seperti orang yang usianya sudah mencapai 40 tahun, tapi sama sekali belum pernah mengetuk pintu Allah dan belum pernah berdoa secara khusyuk pada Tuhan guna me-minta ampunan atas segala perbuatan yang telah melampaui batas.

Wahai saudaraku, bertobatlah kepada Allah dan bersimpuhlah kepada-Nya dengan penuh insyaf, zikir, dan rasa penyesalan. Siapa yang terus-menerus mengetuk pintu Allah, niscaya Dia membukakan pintu tersebut untuknya. Kalau bukan karena keluasan kasih-Nya, tak mungkin hal ini saya ungkapkan. Sebab, seperti yang dikatakan Rabi’ah al-‘Adawiyah, “Kapankah kiranya pintu tersebut ditutup hingga harus dibuka.”

Seseorang bertanya kepada Rabi’ah al-‘Adawiyah,”Aku telah sering berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat. Tetapi, apabila aku bertobat, akankah Allah mengampuninya?” Rabi’ah menjawab,”Tidak. Tetapi apabila Dia mengampunimu, maka engkau akan bertobat.”

Namun demikian, wahai hamba, masukilah jalan yang bisa membuatmu dekat kepada Allah. Basuhlah kalbumu dengan menyesali dosa di masa lalu. Dengan begitu, mudah-mudahan engkau termasuk dalam go-longan orang yang bertobat dan didekatkan kepada surga yang penuh nikmat. Allah berfirman, “Surga itu didekatkan dan tidak jauh dari orang-orang yang bertakwa. Inilah janji Allah bagi setiap hamba yang patuh kepada Allah dan memelihara kewajiban. Yaitu yang takut kepada Allah walaupun tidak melihat-Nya dan datang menghadap Allah dengan hati yang sangat khusyuk. Masukilah surga itu dengan damai. Itulah kehidupan yang kekal. Di dalamnya mereka bisa memperoleh apa saja yang mereka kehendaki dan di sisi Kami terdapat tambahannya” – (Q.S. Qaf [50]: 31-35)


diterjemahkan dari kitab Bahjat Al-Nufus, karya Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari